Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 23 Dapur


__ADS_3

"Mas Arhand sudah pulang?" tanya Maira terbangun saat mendengar suara pintu ke buka.


"Huem."


"Mas Arhand sudah makan?" tanya Maira lagi .


"Belum," sahut Arhand sembari melepas pakainnya.


Maira mendekati suaminya dengan ragu, ia ingin membantu melepas pakaian suaminya. "Mau aku buatkan makanan?" tanya lagi dan membantu Arhand melepas jas dan dasinya.


"Huem," ujar Arhand seperti biasa datar, dan membiarkan Miara membantu dirinya melepas pakaiannya.


Maira meletakkan pakaian kotor suaminya di keranjang, kemudian ia turun ke dapur untuk membuatkan makanan untuk suaminya. Senyum di bibirnya terlihat jelas, ia sangat bahagia akhirnya suaminya mulai ingin makan masakannya dan tadi juga suaminya sudah ingin di dekati olehnya. Kesedihan yang ia rasakan seakan terobati dengan hal kecil seperti ini.


"Aku masak apa ya?" tanya Maira pada dirinya sendiri memperhatikan bahan-bahan makanan di dalam kulkas.


"Sayang, ngapain malam malam begini di dapur?" tanya Ny. Arsy tiba-tiba membuat Maira sedikit terkejut


Maira berbalik dan melihat Mama mertuanya. "Mam?, Ini Maira ingin masak buat Mas Arhand. Dia belum makan katanya."


Ny. Arsy mengusap surai menantunya. "Kamu memang istri yang sempurna, Sayang," ujarnya tulus.


Maira tersenyum menanggapi pujian mertuanya pada dirinya.


"Tapi Mama minta maaf ya," ujar Ny. Arsy terdengar sedih dan merasa bersalah.


Maira yang mendengar kaget dan bingung. "Loh kenapa Mama?, dan buat apa?" tanyanya khawatir.


"Karena kamu harus menikah dengan anak Mama yang dingin, dan datar itu," ujar Ny. Arsy bersedih.


Maira mengelengakan kepalanya. "No, Mam. Maira senang kok," ujarnya dengan pandangan tulus.


"Kamu jangan berbohong sayang, Mama juga pernah ada di posisimu, dan itu rasanya sangat sakit," ujar Ny. Arsy.


Ny. Arsy memang dulu pernah menjalani pernikahan tanpa cinta dari suami, sampai pada akhirnya suaminya mencintainya dan sangat bucin padanya, tapi itu bukanlah perjuangan yang mudah.


"Atau Mama carikan aja penganti untuk Arhand?" tanya Ny. Arsy tiba-tiba. Matanya melirik ke arah belakang ia bisa melihat wajah kaget putranya.


"Maksudnya, Mam?" tanya Maira yang juga sedikit kaget mendengar pertanyaan sang Mama mertua.


"Iya, kamu nikah lagi gitu ( melirik kebelakang lagi). Lagi pula Mama pikir-pikir percuma kamu bertahan dengan anak Mama itu, dia mungkin saja selamanya menyimpang nama perempuan lain di hatinya, dan itu pasti sangat menyakitkan, dan Mama tidak ingin kamu teru-menerus makan hati, Sayang. Kamu mau kan Mama carikan penganti untuknya, Sayang?"

__ADS_1


"Hem," dehem keras Arhand, membuat Maira dan Ny. Arsy menoleh bersama ke arah Arhand.


"Oh, Ar," ujar Ny. Arsy pura-pura kaget padahal ia sudah dari tadi tau jika putranya itu ada di belakang mereka.


"Mama ngapain di sini?" tanya Arhand.


"Mama tadi mau ngambil minum buat Papa kamu, dan Mama liat Maira sedang masak jadi Mama menemaninya sambil ngobrol," ujar Ny. Arsy jujur.


"Oh iya, Sayang ( kembali menatap Arhand ). Mama tadi tanya sama Maira, kalau Mama ingin menikahkan Maira kembali, gimana menurut kamu?" tanya Ny. Arsy pada Arhand.


"Maksudnya?" tanya Arhand dengan wajahnya terlihat menahan emosi.


Maira tak mengeluarkan suara ia, hanya bisa menunduk dan mengaduk masakannya, ia juga ingin mendengar pendapat Arhand sebagai suaminya, apa ia mengingingkannya atau tidak


"Maksudnya mencarikan suami yang bisa membahagiakan dan mencintainya, kamu kan tidak bisa melakukannya. Jadi Mama berinisiatif melakukan hal itu, kamu setujukan?, Lagi pula dengan begitu kamu bisa terbebas dan Maira juga bisa bahagia dengan suami barunya," ujar Ny. Arsy menjelaskan rencananya.


"Mama, di panggil Papa tuh," ujar Arhand.


Ny. Arsy terdiam dan mencoba mendengar apa benar suaminya memangilnya atau tidak. "Tidak ada kok," ujar Ny. Arsy tak mendengar suara suaminya.


"Kamu maukan, Sayang?" tanya Ny. Arsy kembali pada Maira.


Maira melirik suaminya, ia tak tau harus menjawab apa. Miara ingin tetap bersama Arhand tapi ia juga tidak ingin memaksa suaminya untuk tetap bersamanya.


"Kenapa?" tanya Ny. Arsy menatap putranya.


"Dia itu istri Arhand. Dan Arhand tidak akan menceraikan istri Arhand, baik Arhand mencintainya atau tidak Arhand tidak akan melepaskan yang sudah menjadi milikku, Mam," ujar Arhand dengan sangat tegas membuat hati Maira berdetak lebih lega, walau ada perasaan kecewa mendengar kalimat 'tidak mencintai'.


"Itu namanya egois, Arhand," ujar Ny. Arsy.


"Arhand tidak peduli."


"Kalau gitu Mama juga gak peduli dan akan tetap mencarikan jodoh yang cocok untuk Maira, dan kamu tidak akan pernah bisa mencegah Mama melakukan hal itu," ujar Ny. Arsy tak kalah tegas ia seperti mengibarkan bendera perang pada putranya sendiri.


Ny. Arsy pergi dari sana meninggalkan suami istri itu berdua.


"Aku akan membunuh orang itu," ujar Arhand tegas, menatap punggung sang Mama.


Ny. Arsy yang mendengar hal itu tersenyum senang. "Mama, tau di hati yang paling dalam kamu mencintai istrimu. Dan Mama akan memancing perasaanmu itu untuk keluar agar kau bisa menyadarinya."


"Papa sama Anak, sama saja. Semuanya perlu di pancing baru mau keluar," ujar Ny. Arsy berjalan sambil ngedumel saat-saat mengingat sikap suaminya dulu.

__ADS_1


"Mama kenapa lama banget. Mama ngapain saja di dapur. Papa sampai seperti jemuran kesepian," ujar Tuan Blanco wajahnya terlihat bete.


"Astaga, Pa, Mama pergi hanya sebentar loh," ujar Ny. Arsy meletakkan gelas air di meja nakas.


"Sudah sini naik, Papa mau tidur," ujar Tuan Blanco menepuk kasur di sampingnya.


Tuan Blanco bayi tua saat di dalam kamar namun saat di luar ia seperti singa tidur yang kelaparan.


"Iya, iya, Papa sayang," ujar Ny. Arsy dan merangkak naik ke atas kasur di samping suaminya, tak lupa ia mendaratkan kecupan di pipi sang suami agar wajah bete-nya hilang.


Cup.


Di meja makan Maira mengambilkan makanan untuk suaminya, sedangkan Arhand tak melepaskan pandangannya mentap sang istrinya.


"Ke-kenapa Ma-Mas menatap ak-aku seperti it-itu?" tanya dengan gugup.


Arhand mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?, apa aku tidak boleh menatap istri aku sendiri?"


Seketika wajah Maira menjadi merah kemerahan karena merona di goda oleh suaminya. Arhand tersenyum tipis melihat wajah merona istrinya yang selalu membuat Maira terlihat cantik dan menggemaskan.


"Ambil piring dan ikut makan," ujar Arhand saat Maira duduk tanpa makan.


Maira segera berdiri dan kembali masuk kedalam dapur untuk mengambil piring untuknya.


"Ya Allah hatiku kenapa?, Kenapa berdetak sangat kencang," gumamnya dengan memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang.


"Apa kamu akan berdiri terus seperti ini?" tanya Arhand tepat di belakang telinga Maira.


Maira yang terkaget langsung berbalik. "Ma-Mas," ujarnya gugup karena melihat wajah suaminya yang sangat dekat.


Arhand menatap manik mata istrinya, begitupun dengan Miara menatap manik mata suaminya, hati keduanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Maira ingin memegangi dadanya namun tubuhnya saat ini terasa sangat kaku.


...#continue ......


...Hai Readers jangan lupa:...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments. ...

__ADS_1


...Favorite. ...


__ADS_2