
"Terima kasih, Mas," ujar Maira tersenyum manis pada Arhand yang membukakan pintu mobil untuknya. Dan ini juga adalah moment pertama yang di lakukan oleh Arhand terhadap istrinya selama pernikahan mereka.
Maira masuk kedalam mobil dengan perasaan yang penuh kebahagian, pipihnya tak henti-hentinya merah merona karena sikap suaminya yang manis belakangan ini.
"Huem," sahut Arhand tetap datar namun ada sebuah senyum titip di bibir seksinya.
Arhand memutari mobilnya berjalan ke pintu kemudi, kemudian masuk ke dalam, mengemudikan mobil sendiri, dan di temani oleh sang istrinya.
POV Author: "Hem, hem, hem, sepertinya sudah ada yang mulai melunak nih😆🥳."
"Mas," panggil Maira.
"Heum," sahut Arhand menoleh sebentar melihat Maira lalu kembali fokus ke jalan.
"Kita mau makan di mana, Mas?" tanya Maira hati-hati takut membuat Arhand marah dan suasana pun jadi kacau.
"Kenapa?, Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Arhand sedikit melirik dan nada bicaranya juga sudah mulai melunak.
"Tidak, Mas," ujar Maira cepat, ia benar-benar takut membuat semuanya kacau jika mengatakan yanng sebenarnya dan keinginannya.
"Kalau ada kita akan ke sana?" ujar Arhand kembali.
Seketika Maira yang fokus ke jalan mentap tidak percaya pada Arhand. "Hu?"
"Tunjukkan jalannya," ujar Arhand lagi dengan lembut bahkan ia sudah berani menggenggam tangan istrinya yang dulu sangat ia benci dan tak sudi ia pegang.
Perasaan Maira menjadi tak karuan, jantungnya berdetak dengan sangat cepat dadanya naik turun, karena inilah moment yang begitu sangat di dambakan oleh Maira sejak dulu. Maira yang merasa bahagian dan tak ingin merusak segaalanya memilih mengalah dan tak mengatakan ke inginannya. "Tidak apa, Mas, kita makan di restoran yang Mas Arhand biasa tempati makan saja," ujarnya dengan lembut disertai dengan senyum yang begitu manis.
"Katakan di mana restoran yang ingin kamu tempati makan siang," ujar Arhand dengan kekeh.
"Tapi dari sini agak jauh, Mas," ujar Maira.
"Tidak apa, katakan saja," ujar Arhand.
"Tapi, Mas, akan terlambat kembali ke kantor nantinya," ujar Maira lagi.
"Aku Bosnya ( dengan gaya sombongnya ). Lagi pula ada Aditya yang akan menghandl semuanya," ujarnya.
"Terima kasih, Mas," ujar Maira tulus, hatinya begitu menghangat mendengar ucapan suaminya. Demi dirinya Arhand ingin meninggalkan pekerjaannya yang selama ini belum pernah ia tinggalkan.
POV Author: "Ahh, sweet🥰, mauuu. Ada gak sih kira-kira yang modelan seperti Arhand yang dingin tapi ternyata sweet. Ya walau baru sekarang sikap sweetnya terlihat, tapi setidaknya kita sudah tau ternyata Arhand yang dingin dan datar bisa sweet juga".
"Mas, belok kanan di depan," ujar Maira.
__ADS_1
"Belok kanan?"
Maira mengangukkan kepalanya dengan gemes. "Iya."
"Ke restoran pinggir pantai?"
"Iya, Mas," ujar Maira lagi dengan senyum manis yang sedari tadi tak pernah luntur.
"Kamu ingin makan di sana?" tanjja Arhand lagi melirik Maira.
Maira mentap suaminya. "Apa, Mas Arhand, tidak suka?, Kalau Mas Arhand tidak suka kita balik saja ke restoran yang biasa Mas Arhand tempati makan saja," ujar Maira tak masalah dengan tempat makannya yang penting sikap suaminya tidak berubah.
"Tidak. Kita akan makan di sana," ujar Arhand mengemudikan mobilnya, menujuh restoran tepi pantai.
......................
"Siapa yang nikahin, siapa yang di panggil suami😏, siapa yang kerja, berusaha, dari nafkah, siapa yang di perhatikan😏, nasib suami serasa bujangan," sindir Tuan Blanco pada istrinya. Pasalnya hampir setiap hari sang istri selalu sibuk dengan drakornya, lupa padanya.
"Apaan sih, Pa," ujar Ny. Arsy yang tau sendirian itu adalah untuknya, namun pandangannya tak lepas dari tv.
Tuan Blanco membuang napas dengan kasar melihat kelakuan istrinya. "Hufh ... jika begini terus aku lebih baik ke rumah janda sebelah," celetuk Tuan Blanco yang langsung mendapat tatapan horor dari singa betina Blanco.
"Coba, Papa ulangin😤, Mama tidak dengar," ujarnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Gak ada. Papa lapar!, Mau makan," ujar Tuan Blanco berjalan ke arah meja makan.
......................
Seakan tertangkap basah, Aditya gelagapan. "Si-siapa yang liatin kamu, orang lagi fokus nyetir," elaknya.
Qesya menelisik wajah datar Aditya yang terlihat gugup. "Iyalah tuh🙃," ujarnya dengan nada mengejek.
Aditya semakin di buat bingun dan gelagapan menghadapi sikap Qesya yang terlihat gemesin di matanya. "Ka-kamu pelajari saja berkasnya jangan sampai mempermalukan aku dan perusahaan," ujarnya gugup.
"Ya'elah, Tuan, ngeles aja kayak bajai," ejek Qesya dengan menepuk lengan Aditya.
"Jaga sikap kamu!" ujar Aditya tegas.
Aditya yang memang tak biasa bersentuhan dengan perempuan, membuatnya bersikap seperti itu.
"Maaf, Tuan," ujar Qesya kaget dan langung mengalihkan pandanganya ke luar jendela mobil.
Suasana mobil jadi hening tak lagi celotehan tak bermutu dari bibir kecil Qesya, apa lagi suara cempreng saat mengikuti irama musik yang ia putar.
__ADS_1
"Astaga apa yang sudah kulakukan?, Apa tadi perkataanku terlalu kasar dan menyakitinya?" tanya Aditya pada dirinya sendiri.
Walau baru sehari Qesya kerja, tapi Aditya sudah terbiasa dengan suara cempereng Qesya yang tak henti-hentinya mengoceh.
"Kenapa kamu diam?" tanya Aditya memberanikan diri membuka suara.
"Saya sedang memeriksa berkas meeting, Tuan. Apa ada sesuatu, Tuan?" tanya Qesya formal dan berpura-pura memeriksa berkas.
"Ti-tidak. Tidak ada," ujar Aditya gugup di tatap oleh Qesya dengan serius.
Qesya kembali diam, dan berpura-pura mempelajari berkas, membuat Aditya semakin tak enak hati dan terus ke pikiran.
"Maaf," ujarnya setelah beberapa saat terdiam.
"Hu?" kaget Qesya langsung menatap Aditya.
Mata mereka seperdetik terkunci, sampai Qesya dengan cepat menarik pandangannya.
Aditya memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, menghadap Qesya dengan menatap wajah cantik Qesya. "Maaf. Maaf jika perkataan saya terlalu kasar dan menyakitimu," ujarnya tulus.
Seketika Qesya menatap aneh,Aditya, membuat Aditya kembali gugup. "Ke-kenapa ka-kamu menatap aku seperti itu?" tanya Aditya gugup.
"Tidak ada. Hanya merasa aneh mendengar kata maaf dari Tuan Aditya, setelah mendengar kabar tentang sikap Tuan dari para staff-staff lainnya," ujar Qesya dengan mulai ceplas ceplos seperti biasa.
"Memangnya apa kata mereka?" tanya Aditya kembali melajukan mobilnya.
"Katanya Tuan Aditya tidak pernah meminta maaf pada seseorang karena sikap dan sifat Anda sebelas dua belas dengan Tuan Arhand, dingin tak tersentuh," ujar Qesya santai.
"Siapa yang mengatakan hal itu?, Kamu jangan dengarkan ucapan mereka," ujar Aditya cepat.
"Tapi aku sendiri sudah melihat sikap Tuan dan Tuan Arhand, yang memang benar-benar sangat dingin."
Cittt.
...#continue ......
...Readers jangan lupa:...
...Vote....
...Like....
...Comments....
__ADS_1
...Favorite/ subscribe....
...See you the next episode....