Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 50 Bumil


__ADS_3

"Pergi saja semuanya. Pergi!!!" teriak Arhand tak sadar.


"Arrhhgg ... Mama sama Papa kalian benar-benar jahat!" racaunya lagi, lalu kembali menegak minumannya.


Gluk.


"Sial. Apa yang kamu lakukan Ar?" kesal Daniel, mengambil gelas dari tangan Arhand.


Daniel yang tadi di telpon oleh Ny. Arsy yang mengatakan Arhand pergi dengan emosi dan sampai sekarang belun pulang juga, dengan segera mengambil kunci mobilnya dan pergi ke club langganan mereka dan benar saja Arhand sedang minum dan sudah sangat mabuk.


"Berikan itu padaku, dan kau juga pergi sana!" sarkasnya ingin mendorong Daniel menjauh.


Arhand pergi ke club setelah pertengkarannya antar Papa, Arhand yang sudah frustasi karena tak menemukan jejek keberadaan istrinya, lalu di tambah kepergian Aditya, yang merupakan sahabat sekaligus adiknya yang selalu bisa ajak berbagi dan berbicara. Fikiran Arhand yang kacau ia alihkan ke minuman, yang membuatnya mabuk berat dan tak karuan.


Melihat keadaan Arhand yang sudah sangat kacau Daniel kembali merebut gelar di tangan Arhand. "Ar, sudah. Kau sudah banyak minum. Ayo berdiri ku antar kau pulang," ujar Daniel ingin membantu Arhand berdiri.


Bukannya berdiri Arhand mala mendorong Daniel dengan keras. "Tidak. Lepaskan aku!. Kau pergi sana," ujar Arhand lagi.


Walau mendapat dari Arhand Daniel tetap membantu memapa Arhand untuk berdiri. "Lepaskan aku!!" berontak Arhand namun kekuatannya kalah jauh dari Daniel karena mabuk berat.


Daniel memapah Arhand keluar dari club ke mobilnya, tanpa menghiraukan racauan Arhand. Setelah sampai di parkiran ia segera membuka pintu penuman, kemudia membuat Arhand masuk kedalam, dan itu sedikit susah karena Arhand terus memberontak dan ingin kembali masuk kedalam Club.


Daniel memasang seat belt, dan sebelum menutup pintunya Daniel menatap nanar sahabatnya. "Dulu waktu kau di tinggal Anya, tidak pernah separah ini. Tapi kali ini saat kau tinggal oleh istrimu yang selalu kau katakan tidak mencintainya dan tidak memperdulikannya malah terlihat berbalik, dan kau sangat frustasi atas ke kepergiannya," ujar Daniel.


Daniel berfikiran bahwa keadaan Arhand ini benar-benar hanya di sebabkan atas kepergian istri Arhand, namun ia tidak tau Arhand juga melakukan hal itu karena emosi dan sedih karena tau kepergian saudaranya yang selalu ada untuknya dan selalu ada di sampingnya baik itu senang ataupun duka. Aditya tak pernah meninggalkannya dan Aditya juga selalu mendukung dirinya, dan sekarang orang itu sudah pergi.


"Buka pintu," gedor Arhand berusaha ingin membuka pintu mobil, yang sudah di kunci oleh Daniel.


Daniel masuk kedalam, memasang seat belt. "Diamlah!" kesal Daniel, karena Arhand benar-benar kacau dan terus memberontak.


Arhand langsung nurut bak anak kecil, memandangi wajah Daneil yang kesal.


Disepanjang jalan Arhand meracau dalam tidurnya, sembari menyebut nama Maira dan Aditya. Bahkan ia sesekali berucap dengan nada marah seperti yang biasa ia lakukan saat marah dan kesal pada Aditya. Kepergian dua orang itu membuat Arhand benar-benar kacau. Sedangkan Daniel hanya bisa diam menatap dan mendengarkan ocehan Arhand, yang sebenarnya dia sendiri yang menciptakan masalahnya sendiri.


......................


"Kemana aja?, Kenapa baru ngangkat telponku?" kesal seseorang di seberang sana.


"Aku-" ujar Qesya ingin menjawab tapi seseorang memanggil namanya.


"Qes ...."


"Itu seperti suara Maira?" ujar seseorang di seberang sana.


"Ah Adi-, maksudnya Sayang, sudah dulu ya, aku lupa kalau aku lagi masak dan aku juga harus mengerjakan beberapa berkas untuk di kirim ke rumah Tuan Arhand," ujar Qesya panik, dan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Tut.


Memang benar Aditya dan Qesya menjalin hubungan kekasih satu bulan terakhir, ia memutuskan menjaling hubungan dengan Aditya, karena ia menyadari hatinya terasa kosong sejak kepergian Aditya ke Los Angeles, dan itu ia yakin sebagai tanda cintanya ke Aditya.


"Hufh ..." helaan napas kasar Qesya.


"Hampir saja ..." ujarnya memejamkan matanya.


"Qes ... Qesya ayo turun, makannya sudah siap," teriak Maira dari dapur.


Iya, Maira dua bulan ini memang tinggal bersama dengan Qesya. Saat itu Qesya yang baru ingin pulang dari rumah Anis tak sengaja melihat Maira menyeret kopernya di jalan.


"Iya, tunggu sebentar," teriak Qesya dari dalam kamar.


"Kenapa ngak jawab dari tadi juga ku panggil-panggil," kesal Maira saat Qesya sudah berdiri di depannya. Mata Maira menatap tajam sahabatnya.


Qesya yang melihat tatapan tajam Maira, bukannya takut malah menjadi gemes. "Iya, iya, maaf bumil," ujarnya memberikan heartyou.


"Apa sih, Qes ..." ujar Maira malu.


"Hahaha ... kenapa setiap kali kau di puji selalu merasa malu dan pipi mu ini kenapa tidak bisa berbohong sama sekali kalau kau sedang malu," goda Qesya lagi.


"Qes. Sudah ah, ayo duduk dan makan," ujar Maira mengisi piringnya dan piring Qesya.


"Terima kasih, Bumil cantik," ucap Qesya.


"Apa itu Timud?" tanya Qesya.


"Aunty Muda," jawab seseorang yang baru datang.


"Maid ..." ujar Maira, langsung berdiri menghampiri Maid yang dulu bekerja di rumah suaminya, yang sudah seperti ibunya sendiri.


"Bagaiamana keadaanmu, sayang?" tanya Maid lembut melepas pelukannya.


"Maira baik-baik saja," ujar Maira tersenyum.


Maid yang sudah di anggap ibu oleh Miara, juga mengetahui keberadaan Maira, namun ia bungkam dan tidak memberitahukan semua orang karena permintaan Maira dan bukan hanya itu dia juga merasa marah pada Tuan Mudanya yang dengan tega menyakiti istrinya sendiri. Dan selain mereka berdua tak ada lagi orang lain yang mengetahui keberadaan Miara. Maid sering kali berkunjung ke rumah Qesya, saat hari-hari libur atau pada malam hari.


"Baguslah. Kandunganmu?" tanya Maid lagi memegangi perut Miara.


"Alhamdullilah, kandungan Maira juga baik-baik saja. Kerena Tymud nya selalu memperhatikannya, dan Grandma juga selalu memberikan arahan tentan pola makan yang sehat," ujar Maira merasa bahagia.


"Oh, itu sudah pasti. Karena ini akan menjadi keponakan kesayangannya Aunty yang paling kece badai membahana ini," ujar Qesya lebay, sekaligus memuji dirinya sendiri.


"Mulai lebay. Perasaan dulu waktu kita pertama kali ketemu kamu tidak se-lebay ini deh, Qes," celetuk Maira menatap aneh Qesya.

__ADS_1


"Terserah aku donk," ujar Qesya cuek.


"Sudah, sudah, kenapa jadi bertengkar," ujar Maid menegah pertengkaran keduanya.


"Dia ini, Maid," ujar Qesya menunjuk Maira.


Maira yang di salahkan tidak terima. "Kenapa jadi aku. Kan memang benar waktu kita pertama kali ketemu kamu gak lebay," ujarnya.


"Sudah, sudah. Jika Nak Qesya tak ingin diam maka Maid akan memberitahukan pada Tuan Aditya soal kamu mengagumi sekretaris Tuan Besar Blanco," ancam Maid, dan itu membuat Qesya tak berkutik dan memanyungkan bibirnya.


"Iyahhh, Maid mainnya mengancam. Gak seru," ujarnya.


Melihat hal itu Miara kesenangan karena merasa di bela oleh Maid, dan ia pun menjulurkan lidahnya, mengejek Qesya yang kena omelan Maid.


Blek.


Namun senyumnya itu sirna saat mendengar ucapan Maid lagi. "Dan Nyonya juga. Jika Nyonya tidak mau diam maka Maid tidak akan membuatkan cake kesukaan Nyonya saat lagi ngidam," ancam Maid, yang membuat Qesya kesenangan dan balas mengejek dirinya.


"Jangan. Maira diam sekarang," ujarnya dan melempar tatapan tajam pada Qesya, yang di balas oleh Qesya.


Persahabatan keduanya hari demi hari berubah, yang dulunya sedikit canggung dan formal, berubah layaknya persahabatan anak remaja yang seperti tom and jerry. Apa lagi hormon kehamilan Maira yang membuat sering bertingkah konyol.


"Baguslah, sekarang kalian duduk. Maid bawah sesuatu untuk kalian," ujar Maid membuka paper bag yang ia bawah.


"Apa itu Maid?" tanya keduanya.


"Kalian duduk dulu," ujar Maid yang langsung di turuti keduanya.


......................


"Az, Az, aku mohon tolong lepaskan aku. Aku minta maaf Az. Aku mohon bebaskan aku, kita ini sahabat sejak kecil," mohon Anya.


Setelah kepergian Maira, Anya di tahan oleh Azlan dan dikurung diruagan gelap yang tak bisa di jangkau oleh siapapun, sama seperti Maira yang tak bisa ia jangkau dan ia temukan.


Azlan menatap datar Anya yang terus memohon. "Iya, kita sahabat dan kau tau siapa aku. Tapi kau masih berani membangunkan aku," ujarnya dengan dingin.


Melihat perubahan aura Azlan membuat Anya kegelapan. "Ak-aku benar-benar tak tau dampaknya seperti ini. Ak-aku minta maaf, tolong bebaskan aku, aku mohon," pinta terus memohon.


Azlan mencengaram dagu Anya. "Kau akan ku bebaskan saat aku menemukan titik keberadaan Maira. Dan jika tidak maka kau akan hidup seperti ini untuk selamanya," sarkasnya dingin, menghempas dagu Anya ke samping.


Azlan meninggalkan ruangan itu. "Tidak Az. Aku mohon maafkan aku. Az, Azlannnn ..." teriaknya.


...#continue .......


...Haii, Readers seperti biasa hanya mau mengingatkan jika suka jangan lupa tinggalkan jejeknya....

__ADS_1


...Dan jangan lupa juga singga di cerita aku yang lainnya, berjudul Pembantu Manis of love, dimana wartawan cantik rela menjadi pembantu seorang Tuan Muda yang terkenal arogan demi mempertahankan pekerjaannya dan mendapatkan bonus dari perusahaan ia tempati, dan dalam penyamarannya itu ia salah paham oleh Tuan Muda, yang mengira Tuan Mudanya seseorang yang berbelok....


__ADS_2