
"Larut banget pulangnya😐," ujar Qesya datar, menatap dingin Aditya yang baru saja sampai di apartemennya
Ya, Qesya terbang ke Los Angeles menemui sang kekasih hatinya, Aditya. Ingin merayakan hari kasih sayang, sementara Maira di jaga oleh Maid. Qesya juga hanya sebenar di Los Angel, benar-benar hanya ingin merayakannya dengan Aditya, setelah itu dia ingin langsung pulang.
"Honey?" kaget Aditya menatap wanita pujaan hatinya, yang sangat ia cintai.
"Ini benaran kamu?" tanya Aditya masih tak percaya, dan pada saat ingin menyentuh dengan cepat Qesya mengangkat tangannya.
"Tunggu🤚🧐," ujar Qesya, dingin mentapa tajam Aditya.
Qesya memajukan kepalanya, mengendus jauh tubuh Aditya. "Bau parfum cewek?" tanya semakin menatap tajam Aditya.
Aditya menelang ludahnya dengan sangat susah, wajahnya menjadi panik, menatap manik mata pacarnya. "Mana? ( mencium bajunya sendiri ), Tidak ada kok. Ini adalah parfum yang biasa aku pakai," ujar gelagapan seakan-akan tertangkap setelah mencuri sesuatu.
"Jangan bohong. Kamu kira aku bodoh😠?, aku tau ini parfum cewek," ujar Qesya marah, menghempas lengan Aditya yang ia cium.
Aditya memejamkan matanya. "Ok, ok, ok. Aku mengaku. Aku minta maaf ...."
"🤨🤨 ...."
"... tadi saat di jalan, aku tak sengaja nabrak seorang wanita, dan aku memapah dirinya kedalam mobil, dan mengantarnya kerumah sakit," jelas Aditya jujur.
"Sampai larut malam begini?. Cih. Dasar pembohong," ujar Qesya tak percaya, langsung berlalu dari hadapan Aditya.
"Hei, Honey. Kamu mau kemana?" tanya Aditya mencegal tangan kekasihnya yang ingin meraih gagang pintu.
"Bukan urusanmu," ketus Qesya keluar dari apartemen Aditya.
"Oh my God," umpat Aditya, dan segera mengejar Qesya yang berjalan ke arah lift.
Baru ingin masuk kedalam lift, Aditya dengan cepat mencekal tangannya. "Honey, tunggu sebentar kenapa sih. Kamu itu sebenarnya kenapa sih, baru juga datang sudah main pergi-pergi saja," kesal Aditya.
Dengan wajah kesal Qesya menatap Aditya. "Bukan aku yang baru datang, kamu yang baru datang!. Dan mungkin saja aku menganggu kebahagian dirimu saat ini yang baru menyelesaikan misi dengannya kan. So lebih baik aku pulang kan?" tuding Qesya dengan ketus, kemudian dengan cepat masuk kedalam lift, namun Aditya menahan pintu lifh dengan kakinya.
"Auh ... Aditya, turunin aku gak," ujar Qesya memukuli punggung Aditya yang mengendongnya bak karung beras.
"Gak. Gak bakal. Enak saja orang baru ketemu, sudah mau pergi saja. Aku bahkan belum melepas rindu," ujar Aditya berjalan kembali ke apartemennya.
__ADS_1
"Lepaskan aku," berontak Qesya, saat Aditya sudah menurunkan dirinya.
Bruk.
"Apa yang kamu lakukan?, auh sakit banget lagi," kesal Qesya saat tubuhnya di dorong oleh Aditya ke atas ranjang.
Qesya mendongakkan kepalanya, betapa kagetnya saat melihat Aditya dengan wajah datarnya membuka kancing kemejanya satu persatu. "Adi, Adi, kamu mau ngapain?" ujar Qesya ketakutan.
"Adi, kamu jangan macam-macam. Sungguh, aku akan benar-benar membencimu, jika sampai kau melakukan hal itu.
"Adi, Adi. arrrggh ...."
......................
"Apa yang sedang kamu lakukan, Nak?" tanya Maid memegang pundak Maira, yang terlihat memikirkan sesuatu dengan menatap bulan.
"Entahlah, Maid. Tiba-tiba Maira kepikiran dengan Mas Arhand," ujar Maira lirih.
Maid memutar tubuh Maira. "Sudah, Sayang. mungkin itu hanya bawaan bayi kamu saja. Mungkin cucu Oma lagi kagen Papanya. Iyakan cucu Oma?" ujar Maid menghibur Maira, juga bertanya pada bayi yang ada di dalam perut buncit Maira.
Saat ini umur kandungan Maira sudah masuk kedalam 7 bulan, dan selama itu pun dia tinggal di tempat Qesya, dan tak pernah keluar karena larangan dari Qesya, hanya Maid yang selalu datang kesana menemui Nyonyanya yang sudah seperti putrinya.
"Sayang, kamu kemana, tolong kembalilah ( racau Arhand mabuk, dengan mengusap lembut foto Maira ). Aku tidak pernah bermaksud mengatakan hal itu, waktu itu aku hanya sangat marah saat ada seorang pria yang berusaha mendekatimu, apa lagi ingin merebutmu dariku. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahku, aku mohon maafkan aku, dan kembalilah. Aku berjanji aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Aku mohon kembalilah," racau Arhand memohon agar Maira ingin kembali.
Saat kepergian Maira, di tambah kepergian Aditya, keadan Arhand sangat jauh berbeda, di malam hari dia akan minum sambil menangis sepanjang malam memanggil nama istrinya, sedangkan saat pagi datang, dia akan terus bekerja-bekerja tanpa henti sampai matahari berganti dengan bulan. Begitulah dia menjalani hidupnya setelah kepergian dua orang terdekatnya.
Di balik pintu, hati Ny. Arsy seakan-akan di hunus dengan pedang, sangat sakit. "Hiks, hiks ... maafkan Mama, Ar. Gara-gara Mama kamu jadi seperti ini. Mama janji Mama akan berusaha juga menemukan Maira dan membuat Aditya kembali lagi bersama kita," ujar Ny. Arsy penuh penyesalan.
"Apa yang Mama lakukan di sini?" tanya Tuan Blanco mengagetkan Ny. Arsy.
Dengan cepat Ny. Arsy menghapus air matanya. "Tidak ada, hanya memeriksa keadaan Arhand saja," ujar Ny. Arsy lirih.
"Ya sudah, ayo kembali ke kamar," ujar Tuan Blanco.
"Iya, Pa," jawab Ny. Arsy, mengikuti suaminya kembali kedalam kamar.
......................
__ADS_1
"Adi, tolong jangan seperti ini. Aku harus pulang," ujar Qesya berusaha bangun dari tempat tidur.
"Sttt ... diamlah, jangan banyak bergerak nanti yang di bawah bangun," ujar Aditya semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi Adi, Aku harus kembali, besok aku harus masuk kerja," ujar Qesya kembali.
"Aku akan kirim email ke Papa buat izin liburmu. Sekarang tidur atau kamu mau kita berolahraga malam dulu?" ujar Aditya membuka matanya, menatap menggoda Qesya.
"Jangan mimpi. Kalau mau halalin dulu."
"Baiklah, besok kita menikah," ujar Aditya santai, tanpa berfikir.
"Jangan gila deh," ketus Qesya, berbalik membelakangi Aditya .
"Aku memang gila olehmu, Honey," ujar Aditya dengan memberikan kecupan di celetuk leher Qesya, yang membuat Qesya menegang. Bagaimana tidak cengkuk lehernya adalah titik sensitifnya yang paling besar, bahkan jika hanya di pegang dia bisa tegang.
Merasakan reaksi tubuh kekasihnya, Aditya tersenyum puas, merasa puas sudah mengerjai kekasihnya. "Kamu kenapa, Honey?" tanya Aditya berpura-pura tidak tau, bahkan ia dengan sengaja kembali mengecup cengkuk leher Qesya, membuat Qesya benar-benar tegang seakan ia terkena sengatan listrik.
"Aditya, kamu jangan macam-macam hentikan itu," ujar Qesya, bisa gila karena kelakukan Aditya yang dengan sengaja mencium cengkuk lehernya.
"Hahahaha ... makanya tidur," ujar Aditya.
"Iya, aku tidur. Tapi hentikan itu," kesal Qesya, dan Aditya pu menghentikan kegiatannya, dan tertidur sembari memeluk pinggang ramping kekasihnya.
......................
"Siapa yang ada di balik tersembunyinya identitas Maira, sampai-sampai aku tidak bisa melacaknya," guman Tuan Blanco, tak bisa menemukan keberadaan menantunya, walau dia sudah mengerahkan seluruh sistem dan pengetahuannya akan dunia IT, tapi tetap saja tidak bisa menemukan jejak apapun keberadaan menantunya.
"Sepertinya, orang ini bukanlah orang sembarangan, aku yakin. Karena hanya orang yang memiliki keahlian khusus yang bisa melakukan hal ini. Siapa dia?" gumamnya lagi memperhatikan layar komputernya yang di penuhi titik jejak Maira yang palsu.
"Sepertinya aku memang harus menghubungi Warston," gumam Tuan Blanco lagi, mematikan komputernya, dan kembali ke atas ranjang.
...#continue ......
...Hai, Readers, jika suka ceritanya jangan lupa tinggalkan jejeknya....
...See you the next episode....
__ADS_1