Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 52 Menemukan Titik Maira.


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Aditya saat merasakan Qesya ingin bangkit.


"Aku harus segera pulang," jawab Qesya, melepaskan pelukan Aditya di perutnya.


Aditya kembali menarik Qesya tidur di sampingnya. "Nanti malam baru boleh pulang. Ayo tidur lagi," ujarnya kembali memejamkan matanya.


"Tidak bisa. Aku harus segera pulang, tolong lepaskan tanganmu," ujar Qesya kembali bangun. Namun tangan Aditya masih melilit di pinggangnya, Aditya mengelengkan kepalanya dengan mata tertutup. "Adi, tolong mengertilah aku harus pulang," memelas Qesya.


"No. Nanti malam saja," sahut Aditya dengan mata masih tertutup.


Sikap Aditya yang sekarang, seringkali membuat kesabaran Qesya selalu diujung tanduk. "Kalau kau tidak melepaskan aku sekarang aku bersumpah tidak akan datang lagi kemari," ancam Qesya, tak punya pilihan lain.


Aditya membuka matanya dengan alis terangkat satu. "Apa kau mengancamku, Beby?"


Qesya mengelengkan kepalanya. "Tidak. Aku serius. Jadi lepaskan sekarang atau aku tidak akan datang kemari," ujar Qesya lagi tegas.


"Kalau aku membiarkanmu pulang sekarang, kau harus berjanji besok kau datang lagi, gimana?" nego Aditya, yang membuat Qesya kesal mendengarnya.


"Apa kau gila. Kau fikir perjalanan kemari itu adalah perjalanan sebenar, ha?" kesal Qesya.


"Ya sudah," ujar Aditya cuek, kembali tidur.


Tangan Qesya mengepal, menarik napas dalam-dalam. "Ok, ok, bagaimana kalau 4 kali satu bulan?" ujar Qesya kembali membuat penawaran.


"10 kali," sahut Aditya.


"Ya sudah, kalau gitu aku akan tidur saja sekarang, dan pulang nanti malam saja, setelah itu kita hanya akan bertemu setelah kau kembali," ujar Qesya ingin kembali tidur, tapi kepalanya langsung di tahan oleh tangan besar Aditya.


"Ha, tidak, tidak. Sepertinya Honey harus pulang, aku juga harus berangkat ke kantor," ujar Aditya langusung bangun.


Qesya menatap Aditya dengan alis terangkat satu. "Benaran? Mau aku pulang sekarang?, tidak mau aku tidur dulu sebentar?" tanyanya, dengan senyum di tahan.


"Benaran. Tapi ucapanmu tadi beranankan, Honey? ujar Aditya, juga meminta kepastian dengan negosiasi yang di berikan oleh kekasihnya tadi.


Qesya tersenyum. "Itu benar. Aku akan datang kemari setiap hari weekend, jadi kita bisa menghabiskan waktu," ujar serius.


"Baiklah, sekarang ayo kita mandi," ujar Aditya menarik tangan Qesya turun dari ranjang.


"Ets, ya kamu aja dulu, ya Honey," ujar Qesya melepas tangannya.


"Tapi aku maunya-" ujar Aditya terpotong.


"Sttt ... masuk dan mandi lah dengan cepat, ok?" ujar Qesya mendorong masuk Aditya masuk kedalam kamar mandi, menutup pintu dengan cepat.

__ADS_1


Brak.


"Hufh ... Kenapa setiap kali bersama dengannya, seakan aku tuh sedang menjaga bayi, ribet banget," keluh Qesya, yang sedikit kewalahan dengan sikap manja Aditya saat bersamanya.


Drttt.


"Siapa lagi?" kesal Qesya mengambil ponselnya.


Qesya melihat siapa yang menelponnya. "Papa?, ada apa ya menelpon sepagi ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Qesya mengeser ikon hijau, di layar ponselnya. "Iya hallo, Pa, ada apa?"


"....."


"Ha iya. itu memang Qesya yang lakukan Pa. Apa dan mengapa nanti Qesya jawab. Tapi untuk saat ini Qesya mohon Papa jangan lakukan apa-apa dulu," ujar Qesya.


"....."


"Terima kasih, Pa," ujar Qesya lagi, kemudian menutup telponnya.


"Hufh ... ( membuang napas kasar ), ternyata notif itu dari ulah Papa, pantas sampai bisa menembus pertahanan yang ku buat. Untung Papa menelponku lebih dulu setelah melihat semuanya," ujar Qesya bernapas lega.


"Melihat apa?" tanya Aditya yang baru keluar dari kamar mandi, tak sengaja mendengar ucapan terakhir Qesya.


Wajah Aditya terlihat bingung. "Bayi? Bayi siapa?" tanyanya tak mengerti.


"Honey, Honey, bayi apa?" tanya Aditya mengetuk pintu kamar mandi tapi tak di sahut oleh Qesya.


......................


"Maid, pergi dulu ya, Nak. Nanti setelah makan malam Maid kembali lagi," ujar Maid pamitan pada Maira untuk kembali ke kediaman Blanco.


Maira tersenyum. "Iya, Maid. Hati-hati di jalan," ujarnya.


"Iya, Sayang. Kamu juga harus hati-hati dengan kandunganmu, dan ingat jangan terlalu capek dan mengerjakan pekerjaan berat, istirahat saja," ujar Maid menasehati Maira, yang kerap kali melakukan pekerjaan rumah.


"Iya, Maid."


"Ya sudah, Maid pergi sekarang," ujar Maid, lalu pergi meninggalkan rumah Qesya.


...****************...


"Ar, ayo duduk, ikutlah makan malam bersama kami," panggil Ny. Arsy, melihat putra akan langsung naik kekamarnya.

__ADS_1


"Arhand tidak lapar," sahut Arhand, melangkah naik keatas.


"Ikutlah makan malam dulu, karena setelah itu Papa mau bicara, ini soal istrimu," ujar Tuan Blanco angkat bicara.


Langkah Arhand terhenti saat mendengar nama istrinya. Arhand menatap Papanya, meminta Papanya segera mengatakan tentang istrinya, tapi Tuan Blanco meminta Arhand datang duduk ikut malam malam, mau tak mau Arhand duduk ikut malam malam bersama kedua orang tuanya.


Setelah makan malam Arhand mengikuti Papanya masuk ke ruang kerjanya.


Tuan Blanco menatap putranya sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Istrimu masih ada di sini, dia tidak pergi jauh?" ujar Tuan Blanco, sontak membuat Arhand menatap serius Papanya, dengan sorot mata penuh harap.


"Maksud Papa?"


"Kemarin malam, Papa berusaha mencari keberadaan istrimu, walau sempat tak menemukan sesuatu, tapi pada akhirnya Papa menemukan satu jejak keberadaan istrimu. Tapi Papa rasa orang yang menyembunyikan jejak keberadaan istrimu, sepertinya lupa atau sengaja Papa juga gak tua pasti itu, dia meninggalkan jejak saat istrimu datang kerumah sakit beberapa hari yang lalu," ujar jelas Papanya yang sempat mendapatkan titik keberadaan Maira.


"Rumah sakit?, Maira kenapa Papa?" tanya Arhand, takut, khawatir.


"Tenang dulu, Ar. Istrimu tidak apa-apa, malah ini adalah sebuah kabar gembira," ujar Tuan Blanco meminta putranya tenang lebih dulu.


"Kabar gembira?, kabar gembira apa maksud Papa?" tanya marah, tapi juga penasaran.


"Iya, sebuah kabar gembira, istrimu datang kerumah sakit untuk pemeriksaan kandungan."


"Pemeriksaan kandungan?, itu artinya Maira sedang mengandung a-anak Arhand. Semua itu benarankan Pa?" ujar Arhand bahagia, gemetar bahkan ia sampai menangis.


"Iya, Papa juga sudah meminta data istrimu di dokter kandungannya, dan memang benar data itu data istrimu, Maira," ujar Tuan Blanco memberikan data yang di berikan oleh pihak rumah sakit.


Arhand memeriksa berkas itu, namun terhenti saat mendengar ucapan Papanya. "Tapi, Papa, sedikit tak percaya dengan kandungan Maira," ujar Tuan Blanco tiba-tiba.


"Maksud Papa?" tanya Arhand tak suka.


"Iya, bisa saja itu adalah anak dari suami barunya, tak munutup kemungkinan kan jika Maira masih sendiri setelah dia pergi dari sini. Lagi pula Papa juga yakin kau masih belum melakukan hal itu dengan istrimu kan?" ujar Tuan Blanco lagi, membuat Arhand mengepalkan tangannya.


"Tidak. Arhand yakin anak itu milikku, kami sudah melakukan hal itu. Lagi pula Maira juga tidak bisa menikah karena dia masih menjadi istri Arhand."


"Bisa saja Maira dan suami barunya menikah siri, nanti pas dia resmi bercerai denganmu baru mereka meresmikan pernikahannya, bukankah istrimu juga sudah memberikan surat gugatan?" ujar Tuan Blanco, yang semakin membuat dada Arhand membara.


"Maka aku bersumpah, pria yang berani mengambil istriku akan mati di tangan ku sendiri," ujar Arhand dingin, kemudian pergi meninggalkan ruagan kerja Papanya.


...#continue ........


...Seperti biasa hanya mengingatkan jika suka jangan lupa tinggalkan jejeknya, Readers....


...See you the next episode....

__ADS_1


__ADS_2