Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 58 Acara Lamaran


__ADS_3

"Dokter Maya. Silahkan masuk," ujar Maira ramah, mempersilahkan dokter Maya masuk kedalam rumah.


Dokter Maya tersenyum, masuk kedalam. "Terima kasih, Maira. Oiya, kemana perempuan yang mau lamaran?" tanya Dokter Maya, karena tak melihat batang hidung Qesya, padahal sudah jam berapa ini.


Dengan kesal Maira menjawab. "Dia masih tidur di atas. Entahlah bagaimana lagi aku membangunkannya padahal sebentar lagi rombongan keluarga pacarnya akan segera datang," gerutu Maira, pasalnya sedari tadi pagi banget dia terus berusaha membangunkan Qesya, tapi tak kunjung-kunjung bangun.


Dokter Maya menenangkan Maira dan meminta agar menyerahkan urusan Qesya padanya "Kamu tenang saja, biar aku yang membangunkannya," ujar Dokter Maya.


"Iya, terima kasih," ujar Maira.


"Sama-sama," balas Dokter Maya, kemudian langsung melangkah kearah kamar Qesya.


Pemandangan pertama kali yang dokter Maya lihat adalah, seorang wanita dengan posisi terlentang, kakinya terbuka lebar dengan kedua tangan di angkat keatas. Dokter Maya yang melihat semua itu tiba-tiba kepalanya manjadi pusing. "Bagaimana seseorang bisa tidur dengan posisi yang tidak baik seperti ini?" celetuknya tak habis fikir cara tidur temannya, Dokter Maya terus mengelengkan kepalanya berjalan mendekati tempat tidur.


Byuar ...


"Aiss ... Siapa yang berani menyiramku!" kesal Qesya mengusap wajahnya yang disiram air.


Qesya mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang sudah berani mengirimnya. "Kau?!" ujarnya kaget melihat Dokter Maya di depannya.


Dengan bertolak pinggang Dokter Maya menatap sahabatnya. "Iya, aku kenapa?. Cepatan bangun sudah mau nikah juga masih suka molor seperti kebo," gerutu Dokter Maya menarik selimut.


Selimutnya kembali ditarik. "Ahhh, ribut banget sih. Keluar, keluar, sana," ujarnya kembali tidur, mengibaskan tangannya meminta Dokter Maya keluar, namun Dokter Maya kembali menarik selimutnya, membuangnya ke atas lantai.


"Tidak ada yah kata bantahan, ayo bangun atau kuhancurkan semuanya," ancam Dokter Maya.


Mau tak mau Qesya bangun dari pada semuanya menjadi kacau. "Iya, iya, aku bangun. Dasar wanita ribet," umpat Qesya, terpaksa bangun duduk, tapi dengan mata tertutup.


"Qesya, yuhuuu ..." suara cemperen dari seseorang, membuat Qesya semakin lemas.


"Oh My God, ini lagi satu pakek datang teriak-teriak, kamu kira kamarku ini hutan, ha?" kesal Qesya pada Anis yang baru saja datang.


"Terserah aku donk," ujar Anis tak peduli, cuek.


"Iya, iya, terserah kalian. Sekarang katakan kalian pada ngapain kesini?" tanya Qesya menatap kedua temannya.


"Qesya!!!" ujar Dokter Maya dan Anis bersamaan.


"Iya, iya, aku hanya bercanda," ujar Qesya malas.


Tangan Qesya kembali ditarik oleh Anis. "Cepatan mandi, setelah itu aku akan menyulapmu menjadi cantik, aku akan jamin calonmu itu tidak akan berkedip saat melihatmu," ujar Anis, penuh keyakinan.


Dengan malas Qesya turun dari ranjang. "Terserah," ujarnya, masuk kedalam kamar mandi.


......................


Tok.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Ny. Arsy mengetuk pintu kamar Aditya, karena ini sudah jam berapa tetapi Aditya masih juga belum keluar-keluar, padahal dari tadi dia bersiap-siap. "Berapa lama lagi kau ingin berdandan. Ayo cepatan keluar sayang, atau seseorang akan menikungmu di belokan nanti," ujar Ny. Arsy becanda.


"Iya, Ma, tunggu sebentar," sahut Aditya, tak lama pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok pria tampan, dengan kemeja bercorak batik.


"Bagaimana penampilan aku, Ma?, apa ini cocok Adi pakai?" tanya Aditya pada Ny. Arsy, dia tak PD takut batik tidak cocok dengannya, karena ini adalah kali pertamanya memakai batik, hanya demi permintaan kekasihnya.


"Sangat cocok. Kau terlihat sangat tampan, Sayang," puji Ny. Arsy membuat wajah khawatir Aditya sedikit berkurang.


"Sudah ayo cepatan, jika tidak kita bisa sangat terlambat," ujar Tuan Blanco berdiri dari duduknya.


"Tapi tunggu dulu Pa, Arhand belum turun," ujar Ny. Arsy.


"Aku di sini," ujar Arhand berdiri di ujung tangga, dengan di balut oleh kemeja batik, yang semakin menambah ketampan dan wibawanya.


Arhand berjalan mendekati keluarga, yang terlihat terbengong menatap dirinya. "Ar ..." ujar Ny. Arsy tak percaya apa yang dia lihat.


"Terima kasih," ujar Aditya, memeluk Arhand.


Aditya kemarin malam mendatangi kamar Arhand, memberinya sebuah kemeja batik, meminta pada Arhand untuk memakai itu, tetapi Aditya tak menyangka Arhand ingin memakai kemeja batik, padahal ia sangat tidak menyukainya.


"Heum," sahut Arhand hanya berdehem saja.


......................


"Qes, apa kau sudah sia-p," ujar Maira terpotong saat melihat wajah Qesya yang sudah di sulap oleh kedua sahabatnya.


Melihat ekspresi terkejut Maira, sontak Qesya langsung berdiri mendekati Maira. "Kenapa?, Apa aku terlihat seperti badut?, Aku sudah mengatakan pada mereka jangan melakukan hal itu di wajahku tapi mereka berdua-" celetuk, tapi langsung di serga oleh Maira.


Maira mengenggam tangan Qesya. "Tidak. kau sangat cantik ( menyentuh wajah Qesya ). Bahkan aku tidak bisa mengenalimu andai kau tidak berceletuk seperti ini," candanya agar suasana hati sahabatnya menjadi lebih baik, dan tidak gugup lagi, karena Maira bisa merasakan kegugupan di tangan Qesya.


"Mamud," kesal Qesya.


Melihat sahabatnya kesal, dengan segera Maira menyudahi topiknya. "Sudah, sudah, jangan marah-marah, sudah cantik juga. Ayo kita turun sekarang sebentar lagi belahan jiwamu akan datang," goda Maira lagi, Qesya hanya tersenyum agar dia tidak salting di depan kedua sahabatnya yang selalu siap meledaknya.


Mereka semua keluar dari kamar, kecuali Qesya yang tetap tinggal di kamarnya. Tak lama rombongan keluarga Blanco sudah datang. Maira kembali masuk kedalam kamar Qesya. "Mereka sudah datang. Aku doakan semoga semuanya berjalan lancar, sampai hari-H nya," ujar Maira dengan tulus, Qesya membalas dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih," ujar Qesya, setelah itu Maira masuk kedalam sebuah ruagan di mana ruagan itu adalah salah satu ruangan rahasia yang ada di rumah Qesya. Di ruagan itu juga kita bisa melihat kejadian di luar apa yang terjadi tapi orang tidak bisa melihat kedalam ruagan itu.


"Silahkan duduk Tuan, Ny. Blanco," ujar Papa Qesya, ikut duduk di sofa.


Mereka semua duduk, sedangkan mata Arhand menatap setiap sudut rumah Qesya, mencari keberadaan istrinya, tapi tak ada satupun petunjuk akan dirinya, Qesya yang melihat hal itu tersenyum mengejek.


"Warston?" kaget Tuan Blanco sesaat melihat wajah Papa Qesya.

__ADS_1


"Iya, ini aku. Kenapa kagetnya seperti itu, Blanc," ujar Papa Qesya, menatap Blanco, sahabatnya lamanya.


"Kok kau bisa ada di sini?" tanya Tuan Blanco.


"Ini adalah lamaran putriku jadi aku harus hadir donk," ujar Tuan Warston.


Bukan hanya Tuan Blanco yang kaget tapi Ny. Arsy pun ikut kaget saat Warston mengatakan Qesya adalah putrinya.


"Tunggu, putrimu? ( kaget Ny. Arsy ), Jadi Nak Qesya ini putrimu?" tanyanya menunjuk Qesya yang duduk manis di sebelah Papanya.


Tuan Warston mengangguk mengiyakan ucapan Ny.Arsy. "Iya. Dia putriku," ujar Tuan Warston.


Sementara semua orang asik berbicara tentang lamaran, seseorang balik ruangan yang tak terlihat memandang senduh pria yang duduk di ujung sofa, sembari matanya terus mencari sesuatu.


Maira kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar celetuk anak- anaknya. "Pa, Papa, Papa," ujar anak-anak Maira memukul tembok ruagan.


Rasa kaget Maira bukan karena anak-anaknya memanggil Arhand sebagai Papa, akan tetapi Maira terkejut karena berfikir bagaimana mungkin bayi umur 3 bulan lebih sudah bisa bicara. "Sayang kau sudah bisa bicara?" tanya Maira masih kaget.


"Pa, Pa, Pa," ujar anak-anaknya lagi menunjuk Arhand yang ada di luar.


Hati Maira, tercubit perih bahkan anak-anaknya yang tidak pernah merasakan sentuhan Papanya bisa dengan cepat mengenali Papanya. Otak dan fikiran Maira kembali berkecamuk apa keputusannya sudah sangat tepat atau ini hanya ke egoisannya saja, menjadikan anak-anaknya tidak bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya.


Sibuk dengan perang hati dan fikirannya, Maira tak sadar salah satu putranya tiarap keluar, menuju ke arah Arhand.


"Pa, Pa, Pa," celetuk Arkhui dengan bertepuk tangan.


Suara anak kedua Maira itu mengalihkan pandagan semua orang, begitupun Maira sangat kaget kala melihat putranya terus tiarap mendekati Arhand.


Dengan cepat Arhand berdiri mendekati dan menatap anak kecil yang sangat mirip dirinya pada saat masih bayi.


Qesya ingin keluar tapi semua orang sudah melihat putranya, bahkan Arhand sudah mengendong Arkhui. "Arkhui," ujar Qesya menatap Arkhui yang terus berceletuk.


Meta Arhand tak lepas menatap anak kaki- kaki di gendongannya, hatinya dapat merasakan bahwa dia ini adalah putranya, selain itu juga wajah anak ini bak pisang di belah dua, sama persis.


Arkhui tersenyum lebar, sembari terus bertepuk tangan menatap wajah Arhand. "Papa, Papa, Papa."


Panggilan bayi kecil itu membuat hati Arhand perih, perih saat mengingat perbuatannya pada ibu dari anaknya, tapi juga ada rasa bahagia, haru mendengar sebutan itu dari mulut kecil Arkhui. "Iya, ini Papa sayang," ujar Arhand menangis, memeluk erat Arkhui.


Puas mencium putranya, Arhand mengingat istrinya. "Mama mana, sayang?" tanya Arhand lembut.


Dengan jari kecilnya, Arkhui menunjuk tembok kamar Qesya. "Mama, Mama, Mama ..." ujarnya terus.


Dengan segera Arhand melangkah ingin mendekati kamar yang di tunjuk Arkhui, namun segera Qesya menghentikannya. "Tuan Arhand, maaf tapi itu adalah kamarku. Privasi ku, tolong jangan masuk," cegah Qesya, di saat Arhand ingin masuk kedalam kamarnya.


...#continue .......


...Selamat menikmati episodenya, semoga suka, Readers, dan jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya....

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2