
"Aduh, duh sayang ... kenapa nagis terus, hem," ujar Maira mengendong putrinya yang terus menangis.
Ketiga bayi Maira tak berhenti menangis membuat Maira panik, kebingungan. "Jangan nagis terus donk, sayang," ujarnya bingun, khawatir. Tak biasanya bayinya menagis di tengah malam seperti ini, kecuali saat mereka demam, tapi kali ini tubuh mereka tidak hangat, itu membuat Maira semakin tak mengerti.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Maira sedikit kaget, dengan cepat Maira mendekati pintu membukanya.
"Maaf, menganggumu. Tapi aku datang karena mendengar suara tangis anak kita," ujar Arhand hati-hati, takut membuat istrinya terganggu, dan tidak nyaman.
"Aku hanya ingin tau saja, kenapa mereka terus menangis," ujar Arhand lagi.
"Aku gak tau kenapa mereka menagis, karena ini adalah kali pertama mereka menangis malam-malam seperti ini, biasanya mereka selalu tertidur dengan pulas," ujar Maira yang juga dari tadi kebingungan.
"Apa mungkin dia sakit?" tanya Arhand.
Maira mengelengkan kepalanya. "Tidak. Tubuhnya tidak hangat," ujarnya menatap anak-anaknya yang terus menagis.
__ADS_1
"Boleh, aku masuk melihat mereka?" tanya Arhand meminta izin lebih dulu. Arhand sangat berusaha keras agar Maira kembali merasa nyaman padanya, tak ingin memaksa kehendaknya, sesuai instruksi Papanya, yang sudah menebak sikap istrinya nanti dan untuk itu Tuan Blanco meminta Arhand menahan diri dan kembali mendekati istrinya secara perlahan.
Tak langsung memberikan izin untuk Arhand masuk kedalam, Maira lebih dulu merilik ke arah anak-anaknya yang terus menangis. "Silahkan Mas," ujarnya selang beberapa saat. Toh Arhand juga adalah orang tua anak-anaknya yang memilki hak yang sama dengannya.
"Terima kasih," ujar Arhand dengan nada rendah, tak lagi menggunakan nada tinggi ataupun dingin.
Dengan cepat Arhand masuk, berjalan mendekati anak-anaknya yang tak berhenti menangis. "Anak-anak Papa, kenapa menagis heum," ujarnya mengambil salah satu putranya, Arkhui.
Tak ada angin, tak ada hujan, tangisan baby Arkhui berhenti menagis, Maira sampai melongo melihat hal itu shock. Bayi Arkhui sangat tenang dan tidur pulas di dalam gendongan Papanya, tapi yang lainnya masih terus menangis, mengangkat kedua tangannya seakan mengisyaratkan meminta untuk di gendong juga oleh Arhand. Arhand tersenyum bahagia, tapi Arhand juga melirik Maira dengan ekor matanya, dimana wajah Maira kaget, sedih, tapi juga terlihat kesal. Arhand meletakkan putra keduanya Bayi Arkhui dengan sangat hati-hati, kemudian naik ke atas ranjang, memeluk ketiga anak-anaknya, ajaibnya ketiga bayi lucu mereka, seketika terdiam dan kembali tertidur pulas. Setelah merasa anak-anaknya sudah tertidur pulas Arhand dengan sangat hati-hati ingin bangkit dari tempat tidur, karena tak tega melihat Maira yang terus berdiri di samping tempat tidur, tak ingin naik ke atas ranjang.
Baru saja Arhand menurunkan salah satu kakinya ke tiga anak mereka kembali menagis dengan sangat keras, membuat Arhand kembali berbaring, memeluk ketiga putranya. "Maaf, mereka menagis lagi," ujat Arhand tidak enak.
"Tidak apa. Mas Arhand temani mereka saja dulu, sampai mereka tidur pulas," ujar Maira mengalah, toh Arhand juga Papanya, dia tidak boleh egois, karena mungkin saja anak-anaknya merindukan Papa mereka.
"Aku akan meluluhkan hatimu istriku, tidak akan ku biarkan kamu pergi meninggalkanku lagi," ujar Arhand menatap Maira yang berbaring di depannya, dan anak-anak mereka menjadi pemisah di antara mereka.
......................
"Sudah cukup. Kau sudah sangat mabuk, ayo biar ku antar pulang," ujar Clarisa mengambil teras minuman Aditya, membantu Aditya berdiri yang sudah sangat mabuk dan terus meracau menyebut nama Qesya.
Aditya memandang Clarisa, lalu tersenyum lebar. "Honey ... aku tau kau akan datang," racau Aditya memeluk Clarisa yang di anggap sebagai Clarisa.
__ADS_1
"Honey, kita akan menikah, mengucap janji itu, Aku terima nikahnya Qesya Purnama Warston binti Warston dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai, lalu nanti setelah itu semua orang akan berteriak sah. Kamu tau aku tidak akan melepaskanmu di malam pernikahan kita, aku akan membuatku susah berjalan di pagi hari karena aku ini sudah menahan semuanya agak lama ..." racau Aditya.
" ... Aku mencintaimu untuk itu aku tidak menyentuhmu, sebelum kau menjadi istriku. Jadi bersiap-siaplah, Honey," racaunya lagi, mengusap wajah Clarisa yangg di anggap Qesya.
......................
"Aku melihat tunanganmu baru saja keluar dari ... tut, tut, tut," telponnya tiba-tiba terputus.
"Lah kenapa tiba-tiba telponnya mati," celetuk Qesya menatap ponselnya. Qesya kembali menghubungi Maya karena penasaran dengan ucapan Maya tadi.
Drrttt.
Berkali-kali Qesya berusaha menelpon balik Maya namun tak bisa tersambung, dan sekarang tiba-tiba jaringannya menjadi error.
"Ada apa dengan jaringan. Bagaimana bisa error begini?" guman Qesya, memeriksa jaringannya yang tiba-tiba error.
"Ini pasti di lakukan dengan sengaja, siapa yang berani melakukan hal ini pada jaringan sistemku," kesal Qesya, tak dapat memulihkan perangkat jaringannya.
"Maya, tadi mau ngomong apa?, Tadi dia menyebut Tunangan, apa terjadi sesuatu pada Aditya ya?, Argh lebih baik aku kerumah Maya, menemuinya," lanjut Qesya, lalu kemudian dengan cepat menyambar jaketnya, keluar dari kamarnya.
...#continue ......
__ADS_1
...Hari kemenagan seluruh umat Islam telah tiba, waktunya menyambung hubungan silaturahmi, saling memaafkan. Selamat hari raya idul Fitri 1444 H. Mohon maaf lahir batin Readers๐๐๐....
...See you the next episode....