
"Baru kembali?" tanya Azlan menatap dingin Qesya yang baru saja masuk kedalam kamar mereka.
Awalnya Qesya ingin kembali kekamar tamu, tapi semua pakaiannya sudah tak ada, Maid memberitahu jika semua pakaiannya di bawah naik ke kamar Tuan Azlan, mau tak mau Qesya harus kembali kekamar seseorang yang sangat ia benci, sekaligus takuti sekarang, setelah kejadian membahayakan kemarin.
"Hm ..." sahut Qesya, berjalan kearah lemari, namun tangannya di cekal oleh Azlan dengan sangat kasar.
"Auh ..." rintih Qesya, menatap suaminya, yang ternayata iblis berwujud iblis.
Mata keduanya beradu, tapi tak ada pancaran cinta sama sekali, hanya ada cahaya dingin, datar. "Kuharap kau sekarang mengerti!!" ujar Azlan menekan perkataannya.
Qesya kembali menganggukkan kepalanya. "Hm ..." dehemnya, setelahnya Qesya ingin kembali melangkah kearah lemari, tapi Azlan kembali menarik tangannya dengan sangat kasar.
Tubuh Qesya kembali berputar, menghadap Azlan. "Auh ..." rintih Qesya kembali.
"Ambilkan makan untukku," suruh Azlan seenaknya.
Karena tak ingin menimbulkan keributan, Qesya langsung keluar kamar, menuju dapur mengambilkan makanan untuk suaminya.
Beberapa saat Qesya kembali kedalam kamarnya dengan di tangannya membawah nampan berisi makanan kesukaan Azlan, Qesya meletakkan piring makanan di depan Azlan, tanpa mengatakan sepata katapun, Qesya berjalan kearah lemari, membuka lemari, mengambil pakaiannya.
"Kau tidak mencampuri sesuatu ke dalamnya kan?" tanya Azlan, menatap Qesya dengan curiga.
Menerima tuduhan seperti itu, Qesya langsung merebut sendok di tangan Azlan dengan kasar, lalu memasukkan makanan kedalam mulutnya 'Hap', mengunya dengan kasar, kemudian membuka mulutnya labar, menjulurkan lidahnya, menunjukkan tak terjadi apapun padanya, tak ada racun dimakanannya.
Tak terima, dan merasa terhina dengan sikap kasar Qesya, Azlan berdiri dengan dada naik turun. "Berani kau, bersikap seperti itu!" teriaknya, mencekik leher Qesya, tapi untung saja pintu kamar di ketuk seseorang.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
"Az, Azlan ..." panggil seseorang dari luar, suara Clarisa.
Dengan cepat Azlan melepaskan cekikannya, menatap tajam Qesya, yang menghirup napas dengan kuat. "Kali ini kau lolos, ( mencengram dagu Qesya ), tapi jika kau berani mengabaikanku, bersikap kurang ajar, akan ku buat kau selamanya tidak bisa bicara, yang akan membuat semua orang hanya akan mengenang namamu saja, Paham!!!" ancam Azlan dengan dingin.
Qesya tak membalas ucapan Azlan, hanya mengangguk mengerti, patuh. Qesya masuk kedalam kamar mandi, menatap pantulan dirinya, memegang dagunya yang hampir remuk karena cengraman Azlan yang begitu kuat.
......................
"Ma, Ma, Ma ..." teriak bayi Maira terus-menerus di depan kamar mandi Maira.
Tangan mungilnya tak berhenti mengetuk, membuat Maira yang sedang menikmati acara berendamnya, buru-buru ia membilas dirinya dengan cepat. "Iya, iya, sayang, tunggu sebentar, Mama lagi mandi," sahut Maira, tapi ketukan dan teriakan tripel semakin menjadi.
"Ma, Mama, Mama ..." teriak Tripel.
Pintu terbuka, membuat malaikat kecil tertawa senang, berlomba mengangkat tangannya, meminta di gendong oleh Mamanya. Maira menagkat kedua putranya, berjalan kearah ranjang, sedangkan Arhand menahan napas menatap kaki jenjang istrinya yang basah, membuat Arhand panas dingin. "Cobaan apa lagi ini," batin Arhand menelan ludahnya dengan susah paya.
Maira meletakkan kedua putranya, lalu mengambil putrinya di gendongan Papanya. "Sini sayang."
Dengan hati-hati Maira naik keatas ranjang langsung di tindih oleh ketiga anak-anaknya. "Mas Arhand boleh keluar sekarang," ujar Maira terdengar sangat abai, cuek.
Melihat sikap sang istri yang sama sekali tak menggubris dirinya ada, hati Arhand teriris, sakit. Dengan tangan terkepal kuat, Arhand berusaha mengontrol emosinya, rasa sakit di hatinya. "Ha, iya, aku keluar," ujar Arhand setelah emosinya kembali tenang.
Arhand berjalan keluar, tapi sebelum benar-benar keluar ia sempat berbalik menatap wajah istrinya, tapi Maira sama sekali tak menatap ke arahnya, yang membuat Arhand membuang napas lesuh.
"Anak Mama lapar yah?, ululu, pelang-pelang sayang," ujar Maira tersenyum bahagia, menatap anak-anaknya yang berebut ingin meny*su.
Mata Arhand menajam menatap orang yang sudah membuat semua orang cemas karenanya. "Datang dari mana saja kau?, kenapa baru muncul sekarang?" cerca Arhand terdengar emosi. Bagaimana tidak setelah pernikahannya batal dengan Qesya, Aditya tak pernah menampakkan batang hidungnya sekalipun.
Aditya mengalihkan pandagannya, mendapati mata tajam Arhand. "Menenangkan diri?" jawab Aditya jujur.
Dari arah dapur seorwng wanita paruh baya datang mengahpiri dengan sedikit berlari. "Akhirnya kau sudah kembali, sayang ( langsung memeluk Aditya ). Mama sangat khawatir padamu," ujar Ny. Arsy, dengan perasaan yang sangat lega.
__ADS_1
Hati Aditya seketika timbul rasa bersalah atas tindakannya. "Maaf, membuat Mama khawatir," ujar Aditya, merasa bersalah.
Mendengar ucapan Aditya, Ny. Arsy melepas pelukannya. tersenyum lembut, mengusap lembut lengan Aditya. "Tidak masalah, sayang, yang penting kamu sudah kembali. Tapi Mama mau nanya, kamu kemana satu minggu ini?" tanya Ny. Arsy.
"Aku hanya pergi ke Villa keluarga, di atas pegunungan, Ma," jawab Aditya jujur.
"Oh, astaga, pada hal kami semua pada cemas mencari kamu, di mana-mana," ujar Ny. Arsy.
"Sekali lagi maaf, kerana membuat kalian khawatir, terutama Mama," ujar Aditya kembali meminta maaf, merasa bersalah pada wanita yang sangat ia sayangi.
Dari arah kamar, Tuan Blanco berjalan mendekati mereka. "Sudah, sudah, cukup. Apa Mama, hanya ingin terus ngajak mereka ngobrol, atau menyajikan makan?, Papa sudah sangat lapar ini," sahut Tuan Blanco, dengan wajah terlihat dalam mode cemburu On.
Semua orang tertawa melihmelihatnya sikap ayahnya yang selalu cemburu, dikalah sang istri perhatian pada orang lain selain dirinya, termasuk dengan anaknya sendiri, baik itu Arhand ataupun Aditya. Dan sikap itu seringkali terjadi, membuat orang sudah sangat hapal dengan semua itu.
"Dasar pria pencemburu," sindir Arhand, berjalan di belakang Mamanya, dengan tatapan melayang pada Ayahnya.
Tak terima Tuan Blanco membalas dengan tatapan sinisnya juga. "Tidak sadar diri," balas Tuan Blanco, Ny. Arsy yang mendengar perdebatan itu hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.
......................
"Cepat keluar!!!" ujar Azlan mengendor pintu dengan keras, sakin kerasnya membuat pintu hampir saja jebol.
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Qesya, dengan wajah terlihat sendu, mata Azlan menatap tajam Qesya, karna dia tau kenapa wajah sang istri terlihat begitu sendu.
Dengan sangat kasar Azlan mencengkram dagu Qesya, membuat Qesya mendongak, menatap wajah Azlan. "Aku tau, kau tadi menguping pembicaraanku dengan Kakakku. Jadi jaga sikap mu nanti, jika kau tidak ingin mendapat hukuman dari ku lagi," ancam Azlan tegas.
" ... dan satu lagi, lupakan jika kau berfikir bisa memanfaatkan ini semua dan kau bebas bertemu berduaan dengannya, karena ( menarik dagu Qesya lebih keras ), aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Azlan lagi, lalu menghempaskan dagu Qesya kembali dengan kasar, membuat kepala Qesya miring kesamping.
...#continue ......
...Semoga suka update terbarunya, selamat menikmati....
__ADS_1
...See you the next episode, Readers....