
"Khumaira," panggil Qesya.
"Heum ... ( menoleh ). Kenapa?" tanya Maira.
Mereka duduk di pinggir pantai dengan kaki menjulur ke depan sembari menikmati es kelapa dengan berjemur di pagi hari.
"Aku cantik gak sih?" tanya Qesya tiba-tiba.
"Iya kamu sangat cantik. Memang kenapa?" tanya Maira tak mengerti.
"Kalau begitu kira-kira Om Azlan mau gak jadi pacar aku."
Maira seketika tersedak dengan es kepalanya. "Huk, huk, huk ...."
"Astaga, Khumaira pelan-pelan donk, ayo minum dulu," ujar Qesya khawatir sembari mengucap punggung Maira.
"Sudah baikkan?"
Maira mengangukkan kepalanya. "Huem, terima kasih."
"Oiya Khumaira ( Maira menoleh ). Gimana menurutmu aku cocok gak sama Om Azlan?" tanya Qesya kembali.
"Kamu benaran suka sama Tuan Dirga?"
Qesya mengangukkan kepalanya dengan pasti. "Huem ... Kamu tau saat pertama kali aku melihatnya dia sudah mencuri hatiku, pikiranku, dan hidup ku," ujarnya dengan sedikit puitis.
"Hahahaha ..." tawa Maira.
"Lah kok ketawa sih," ujar Qesya sedikit kesal karena Miara yang tiba-tiba menertawakan dirinya.
"Maaf, maaf, tapi kamu lucu sekali," ujar Maira menghentikan tawanya.
"Lucu kenapa?"
"Kamu berkata dengan sangat puitis, tapi penampilan mu begitu terbalik dengan kata-kata mu. Seorang gadis dengan penampilan tomboy dan acak-acak berkata dengan berpuitis seperti itu," ujar Maira memperhatikan penampilan Qesya. Memang Maira akui Qesya remaja cantik dengan wajah natural dan apa adanya, namun menurutnya lucu aja saat seorang wanita tomboy berucap dengan dengan puitis, geli aja gitu mendengarnya. Biasanya cewek tomboy ucapannya seblak.
"Apa penampilan aku seburuk itu ya," ujar Qesya dengan nada sedih.
Mendengar ucapan temannya, Jadinya seketika merasa tidak enak dan merasa bersalah. "Hu?, Bukan seperti itu. Maksud aku itu ..." ujarnya panik karena hujan seperti itu maksudnya dia teetawa hanya karena geli saja.
"Hahahaha ..." tawa Qesya keras.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Maira bingun.
"Ya karena wajahmu lucu dengan ekspresi seperti itu," ujar Qesya menunjuk wajah Maira yang panik, yang terlihat lucu di mata Qesya.
"Gak lucu tau gak. Aku tadi itu takut benaran loh, takut kamu tersinggung dan salah paham dengan ucapanku. Tapi kamu malah membuat hal itu sebagai lelucon
__ADS_1
"Iya, maaf, maaf. Aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi, kecuali ..." ujar Qesya dengan mengangtungkan ucapannya.
"Kecuali apa?"
"Kecuali aku lagi ingin," ujar Qesya santai.
"Argh, kamu tuh ya ..." kesal Maira.
"Hahahaha ... Maira stop," ucap Qesya kala Maira menggelitik dirinya.
"Rasakan, makanya jangan suka jahil," ujar Maira terus menggelitik perut Qesya, sedangkan Qesya menggeliat dan tertawa keras karena geli.
"Hahahaha ...."
......................
Dengan kedua tangannya Clarisa menopang dagunya, di atas meja kerjanya sembari tersenyum-senyum sendiri. "Aditya," gumamnya.
"Dia lagi ngapain yah?"
Lama ia ngelamunin Aditya sampai ia teringat dengan sosok anak kecil, putranya Rian.
"Astaga, Clar, apa yang kamu pikirkan. Tidak!, Clar ingat kamu hanya perlu fokus sama Rian, tidak boleh yang lainnya, ingat itu. Yah, Rian," ujarnya sembari mengelengkan kepalanya.
Oh, astaga dua menit lagi kan aku ada meeting. Aduh ... ini semua karena Aditya, kenapa kamu terus saja menganggu pikiranku Aditya," celetuknya sembari bangkit dari kursinya dan pergi menuju ruang meeting.
......................
"Kamu sudah membuat cucu Mama Otw kan?" tanya Ny. Arsy langsung tanpa menjawab sapaan putra.
"Kenapa Mama selalu saja membicarakan hal itu. Arhand kan sudah bilang itu tidak mungkin," jengah Arhand.
"Kalau seperti itu, kamu harus buat jadi mungkin," ujar Ny. Arsy terdengar kesal dan sedikit memaksa.
"Sudahlah, Arhand matikan sambungannya jika tidak ada hal lain yang ingin Mama bicarakan," ujar Arhand karena jengah dan tak ingin bertengkar dengan sang Mama dengan masalah yang sama.
"Di mana, Maira?" tanya Ny. Arsy di seberang telpon.
"Dia lagi pergi," jawab Arhand singkat dan padat.
"Pergi kemana?" tanya Ny. Arsy lagi.
"Entahlah, Arhand tidak tau," ujar Arhand terdengar sedikit cuek.
"Tidak tau bagaimana?!, Kamu itu suaminya, jangan macam-macam kamu Arhand," ujar Ny. Arsy terdengar marah.
"Dia pergi dengan temannya."
__ADS_1
"Teman?"
"Huem."
"Sejak kapan Maira punya teman?" tanya Ny. Arsy.
"Mana Arhand tau," sahut Arhand dengan datar.
"Mama tidak bertanya sama kamu," savage Ny. Arsy.
"Lalu Mama bertanya sama siapa?"
"Pada diri Mama sendiri."
"Oh, jadi Mama gila donk," ujar Arhand tak kalah savage dari ucapan sang Mama.
"Iya, Mama gila. Makanya anak-anak Mama juga gila. Di kasih istri cantik, baik, dan lembut, tapi tidak tau di jaga dan di sayang. Nanti ada yang ngambil baru tau rasa," ngomel Ny. Arsy. Ia begitu geram dengan putranya yang begitu dingin dan tak tau bersyukur kala mendapat istri seperti Maira.
"Ma, Arhand tutup telponnya duly," ujar Arhand dan langsung mematikan sambungan telponnya.
......................
"Mas," ujar Maira kaget saat Arhand tiba-tiba ada di depannya.
"Pulang," ujar Arhand datar.
"Eh, tapi Mas-" ujar Maira terpotong kala Arhand menarik tangannya dan membawa dia pergi dari sana.
Sementara Qesya mematung saat melihat Maira yang di bawah pergi secara tiba-tiba oleh suaminya.
"Masuk," ujar Arhand terdengar tak ingin mendapat bantahan.
Maira masuk ke dalam mobil tanpa protes. Ia tak berani melakukan protes karena wajah suaminya yang sudah terlihat kesal.
"Mas, Arhand kenapa sih?, Kenapa di tiba-tiba datang dan menyeret aku seperti tadi. Apa aku membuat ke salahan atau apa?, wajahnya juga seperti sedang kesal. Ada apa dengan sikap Mas Arhand belakangan ini?" tanya Maira dalam hatinya sembari memperhatikan raut wajah kesal suaminya.
"Ck. Aku tidak akan pernah membiarkanmu bisa mendekati istriku, walau dari ke jauhan," ujar batin Arhand dengan kesal dan marah.
...#continue ......
...Readers jangan lupa :...
...Vote....
...Like. ...
...Comments. ...
__ADS_1
...Favorite. ...