Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Ban 56 Tiga Bocil


__ADS_3

"Satu tahun sudah berlalu, tapi aku masih belum juga menemukan kalian. Honey sampai kapan kau menghukum aku seperti ini? ... Aku mohon kembalilah ... aku merindukanmu, sangat," ujar Arhand mengusap foto wajah Maira.


Setiap saat Arhand hanya bisa menatap nanar foto istrinya, merenungi penyesalannya, mengingat semua perlakuannya pada istrinya dahulu. Sejak kepergian istrinya gairah hidup Arhand tak ada lagi, ia menjalani hidupnya hanya dengan dua kegiatan, bekerja, bekerja, dan mabuk.


Suara ketukan pintu membuat lamunan Arhand buyar, Arhand menghapus air matanya, menampilkan wajah dingin, tatapan tajam yang siap membunuh siapapun. "Masuk!" ujar dingin.


Pintu terbuka menampakkan wanita cantik. "Maaf, Tuan seseorang ingin bertemu dengan Anda," ujarnya sopan, menunduk.


"Siapa?" tanya Arhand dingin, tapi seseorang langsung masuk kedalam.


"Aku," sahutnya berdiri tegak di ambang pintu.


Arhand berdiri dari duduknya, ada sebuah senyum tipis di bibirnya yang sudah lama hilang. "Aditya," ujarnya menatap tak percaya orang yang berdiri di ambang pintu.


Aditya berjalan mendekati Arhand. "Iya, ini aku. Apa kau sudah melupakanku?" tanya, ingin menggoda sahabatnya tapi Arhand langsung memeluk sahabat sekaligus saudaranya itu.


Arhand melepas pelukannya, menatap tajam Aditya. "Kau kemana saja, ha. Kau meninggalkanku sendiri saat masa sulit, apa itu yang sering kau sebut sahabat, saudara, ha?!. Dasar penghianat," kesalnya, melampiaskan segala emosinya, tapi Aditya tak mengatakan apapun ia hanya mendengarkan dan tersenyum.


"Itu aku-, aku minta maaf," ujar Aditya, penuh penyesalan walau bagaiamana pun ia seharusnya dulu mengatakan hal itu pada Arhand sebelum pergi.


"Sudahlah, lupakan itu. Tapi kalau kau pergi lagi tanpa memberitahuku, aku tidak akan pernah memaafkanmu," ujar Arhand dengan tegas.


"Aku berjanji," tegas Aditya.


"Tapi tunggu sebentar ( menatap Arhand dari ujung rambut sampai ujung kaki ), katakan padaku ada apa dengan wajahmu ini?, Kenapa kau terlihat seperti seorang bajingan kelas kakap. Apa kau ingin bertemu dengan istrimu dalam keadaan seperti ini?" ujar Aditya mengritik tampilan Arhand yang berubah 180° ya walau dulu dia sosok yang dingin tapi tampilannya tak sampai seperti pria bajingan, hanya wajah dan tatapan tajam saja itupun masih dalam batas wajar. Tapi sekarang wajah sangat datar, dingin, pucat, mata tajam, lingkaran hitam, rambut panjang, benar-benar seperti seorang bajingan.


Seketika raut wajah Arhand berubah, matanya menatap tajam bak pedang. "Apa maksudmu?" tanya Arhand, menatap tajam Aditya, bukan marah karena Aditya mengatai dirinya bajingan, tapi ucapan Aditya tentang bertemu dengan istrinya.


"Aku tau dimana istrimu sekarang," ujar Aditya, yang membuat jantung Arhand kembali berdetak, ada sebuah harapan di wajahnya lagi.


Takut salah dengar, dean tak percaya Arhand kembali bertanya. "Kau mengatakan apa?, kau mengetahui keberadaan Maira, katakan dimana dia sekarang?" desaknya, dengan nada girang, tak sabar.

__ADS_1


"Akan kukatakan tapi, pergi dan perbaikilah tampilanmu dulu," sarkas Aditya.


Arhand menatap menyalang Aditya. "Memangnya ada apa dengan tampilanku. Aku tidak peduli dengan tampilanku, yang terpenting adalah keberadaan istriku, sekarang katakan dimana keberadaan istriku," ujar Arhand, tak peduli dengan tampilannya.


Aditya membuang napas kasar. "Ya sudah kalau kau tidak peduli dengan penampilanmu, tapi jangan salahkan aku jika Maira lari terberit-berit melihatmu nanti," sarkas Aditya balik.


"Apa maksudmu ( marahnya ). Istriku tidak akan pernah melakukan hal itu, malah aku yakin dia akan datang padaku berlari, melompat kedalam pelukan-" ujar Arhand penuh ke PD-an namun ucapannya terhenti, karena Aditya langsung menarik Arhand ke depan cermin besar yang ada di ruagan Arhand.


"Sttt ... berhentilah mengoceh dan liat dirimu ( sarkasnya menunjuk pantulan Arhand di kaca ). Apa kau fikir Kakak Ipar akan mendekatimu dengan penampilanmu yang seperti bajingan ini. Cih, aku bahkan tidak ingin melihatmu jika saja aku seorang perempuan," kesal Aditya.


Arhand menatap tajam Aditya. "Kau berdecih padaku😠. Beraninya kau!!" ujarnya sangat marah.


Menyadari kesalahannya Aditya menelan ludahnya kasar, mencari cara agar dia tidak jadi mendapat amukan dari singa kelaparan di depannya. Sebuah senyum di bibirnya terlihat. "Pukul saja, tapi jangan salahkan aku mulutku ini tidak bisa bicara dan mengatakan dimana istrimu, karena sakit dipukul olehmu," ujar Aditya menggunakan kelemahan Arhand saat ini.


"Kau!!!" ujar Arhand, menahan emosi, tapi Aditya hanya tersenyum.


"Sudah sana pergi, perbaiki tampilanmu lalu kita pergi menjemput Kakak iparku, keponakan, sekaligus calon istriku," ujar Aditya mendorong masuk Arhand kedalam toilet.


Aditya mengatubkan bibirnya. "Tidak ada, kau salah dengar. Cepat masuk dan ganti pakaianmu," ujar Aditya kembali mendorong Arhand masuk kedalam kamar mandi, menutup pintu kamar mandi.


"Hufh ... hampir saja," gumam Aditya, hampir kecoplosan soal rencana pernikahannya.


......................


"Ulu ulu ulu ... keponakan Aunty kenapa pada nangis, hum?, lapar yah. Ulu ulu ... tunggu Mama ya, mandi dulu," ujar Qesya pada tiga bayi gembul di depannya.


"Heii ... Mamud, cepatlah keluar keponakan ganteng dan cantikku sudah sangat lapar," teriak Qesya.


"Iya, iya, tunggu sebentar," sahut Maira dari dalam kamar mandi. Tak lama Maira keluar dari kamar mandi, dengan memakai baju mandi saja.


Qesya menatap kesal Maira. "Lama banget ( kesalnya ). Ini cepatan berikan mereka makanannya," ujar Qesya kesal, bergeser sedikit agar Maira bisa duduk, menyusui anak-anaknya.

__ADS_1


Plak.


"Auh ... kenapa kau mengeplak kepalaku," kesal Qesya, menatap wajah kesal Maira.


Maira naik keatas ranjang mengambil salah satu bayinya. "Karena kau berisik, mereka menangis juga karena suaramu itu yang tidak mau berhenti ngoceh seperti burung beo," celetuk Maira, mulai menyusui anak-anaknya.


Bukannya marah Qesya justru mengadu pada bayi Maira. "Sayang, kamu dengarkan Mamamu sangatlah jahat, masa ia Aunty yang secantik ini dikatakan mirip burung beo, jahatkan," aduhnya pada anak-anak Maira yang lainnya, namun salah satu dari mereka tertawa sampai matanya tak terlihat.


Melihat hal itu Qesya di buah kesal, dan mencentikkan tangan di depan wajah bayi Maira. "Hei, hei, kenapa kau mala tertawa. Emang benar-benar ya kamu sangat senang melihat Aunty menderita," gerutu Qesya, karena anak kedua Maira sangat senang saat Qesya menderita.


Cuisss ...


Tiba-tiba ada air terjun hangat, membasahi wajah cantik Qesya, membuat Qesya kesal bukan main. "Aish, kau!!" ujarnya kesal menunjuk anak kedua Maira.


Maira yang melihat hal itu, tak bisa menahan tawanya bahkan kedua anaknya di pangkuannya ikut tertawa menatap Qesya. "Hahahaha ... Emang enak di kencingin," ujar Maira, tertawa puas banget.


"Mamud!!!! berhenti tertawa gak?" ujar Qesya kesal, pada Maira, tapi Maira tak bisa berhenti tertawa.


"Anggap saja kau sedang cuci muka, kau kan pasti belum cuci muka, iya kan?" ujar Maira santai.


"Aish, kau benar-benar ... mulai saat ini kita musuh," ujar Qesya kesal pada bayi gembul Maira, tapi bayinya hanya cengegesan saja.


"Sudah sana kau pergi mandi, bukankah kita harus menjemput Papa mu?" ujar Maira berhenti tertawa, meminta agar Qesya pergi bersiap untuk menjemput Papanya yang ingin datang berkunjung.


"Oiya yah ... aku lupa. Ini semua gara-gara dia ini," ujar Qesya menepuk jidatnya, lalu menyalahkan bayi kedua Maira.


Maira hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Qesya yang tidak pernah akur dengan anak keduanya.


...#continue .......


...Readers jangan lupa selalu tinggalkan jejeknya. Selamat menikmati....

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2