Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 36 Deal


__ADS_3

"Kamu terlambat," ujar seorang wanita cantik, dengan ketus menatap kesal Azlan.


"Masih untung aku menjemputmu," sahut Azlan dingin sembari memasukkan koper milik wanita itu.


"Iya, iya, terima kasih," ujarnya lalu masuk kedalam mobil Azlan.


"Oiya Beby kita makan siang dulu yah. Aku sangat lapar," ujarnya bergelayut manja namun langsung mendapat tatapan tajam Azlan.


"Aku sudah bilang berhenti memanggilku dengan kata itu. Aku benci!" ujar Azlan dingin menatap wanita yang di sampingnya yang merupakan teman masa kecilnya.


Wanita itu hanya memonyongkan bibirnya, mendengar ucapan tegas, dan dingin Azlan, terlihat seperti sudah terbiasa.


"Aku ada janji dengan, Mama ku," ujar Azlan lagi.


Wanita itu seketika kembali menatap Azlan. "Oh, yah udah kalau gitu aku ikut. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Tante Nadia," ujarnya dengan antusias.


Namun keingiannya itu langsung mendapat penolakan tegas dari Azlan. "Tidak!"


"Kenapa sih, kamu itu bicara seperti ini padaku. Kamu bukan Azlan teman aku yang ku kenal dulu," ujarnya lirih.


"Bu-bukan bergitu maksudku ( tak bisa melihat wanita itu menangis ). Sekarang aku sedang kesal," ujar Azlan berusaha menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu melepaskannya padaku," ujar wanita itu terlihat sedih.


"Iya, iya, maaf. Ok?. Berhenti menampilkan wajahmu seperti itu lagi," ujar Azlan datar.


"Baiklah. Tapi aku ikut dengan mu bertemu Tante Nadia," ujarnya menatap Azlan.


"Ok. Puas?" ujar Azlan terpaksa menyetujui permintaannya agar berhenti merengek.


"Sangat," ujar wanita itu tersenyum puas.


......................


"Mas, sudah belum?, Mama sudah menunggu aku loh," ujar Maira, karena suaminya tak ingin berhenti menyus*.


"Belum. Lima menit lagi," ujar Arhand masih betah dan anteng menyus* pada istrinya.


Maira memutar bola mata malas. "Dari tadi lima menit mulu," gerutu Maira.

__ADS_1


"Soalnya ini sangat enak," sahut Arhand, masih menyesap milik istrinya.


Arhand sekrang benar-benar seperti seorang bayi yang sedang menyus* pada ibunya, bedanya hanya ini bayi besar dan tua.


"Iya enak, tapi ini aku terlambat loh," ujar Maira lagi menatap dindin kamar pribadi suaminya, namun Arhand tak bergeming sama sekali.


"Begini deh, bagaimana kalau di lanjut nanti malam lagi, nanti aku kasih plus servis juga," ujar Maira memberikan penawaran pada suaminya.


Arhand menggelengkan kepalanya, membuat Maira menghirup napas dalam-dalam. "Ok, ok. Kalau Mas, membiarkan aku pergi sekarang, nanti malam aku yanng memimpin permainan and tame Mas yang tentukan," ujarnya memberikan tambahan penawarannya dan benar saja, Arhand lansung melepaskan dirinya.


"Deal," ujar Arhand langsung bangun duduk dengan wajah di penuhi senyuman.


Maira kembali memutar bola mata malas. "Kalau gitu, Mas selalu saja semangat dan cepat," ujarnya malas namun juga terlihat senang.


Arhand mengedikkan bahunya dengan senyum dan wajah berseri-seri. Maira bangkit dari ranjang masuk kedalam kamar mandi untuk memperbaiki riasan dan menganti baju yang habis di koyak-koyak oleh Arhand.


"Mas, mau kemana?" tanya Maira yang baru keluar dari kamar dan melihat suaminya sudah sangat rapi.


"Mau anterin kamu," sahut Arhand santai.


"Gak usah, Mas. Aku akan pergi sendiri saja. Lagian Mas kan tadi bilang ada meeting setelah ini," ujar Maira.


"Tapi-" ujar Maira terpotong.


"Sudah ayo. Jangan sampai aku berubah fikiran dan malah menerkammu kembali," ujar Arhand menyerga ucapan Maira.


"Iih, Mas. Mas mah selalu saja ngomong tanpa di filter," gerutu Maira, karena kesal dan malu dengan omongan suaminya yang tak pernah terfilter belakangan ini saat bersamanya.


"Terserah aku, ini kan mulut, mulut aku," ujar Arhand tanpa beban.


"Iya, iya, deh," ujar Maira mengalah.


Cup.


Mereka keluar, berjalan ke ruang Aditya, Wakil CEO. "Aditya," panggil Arhand membuka pintu ruangan Aditya.


"Iya. Tuan ( kaget langsung berdiri ). Apa ada sesuatu, Tuan? tanya Aditya menatap sang atasan.


"Kamu handel meeting nanti, aku ingin keluar," ujar Arhand dan langsung di jawab oleh Aditya.

__ADS_1


"Baik, Tuan," ujar Aditya, setelah itu Arhand kembali menutup pintu, berjalan ke arah lifh.


......................


"Hai, jeng. Maaf yah aku sedikit terlambat," ujar Ny. Arsy merasa tidak enak pada Ny. Nadia karena datang terlambat.


Ny. Nadia berdiri menyambut temanya. "Gak apa-apa kok, jeng Arsy. Aku juga baru datang. Ayo duduk Jeng," ujar Ny. Nadia.


Ny. Nadia kembali duduk begitupun dengan Ny. Arsy ikut duduk. "Oiya, jeng, putrinya kemana?" tanya Ny. Nadia saat melihat Ny. Arsy hanya datang sendiri.


"Ha itu, dia sedang menyusul kemari," ujar Ny. Arsy.


"Ha, ok," jawab Ny. Nadia tersenyum.


"Anak jeng Nadia sendiri kemana?" tanya Ny. Arsy balik.


"Dia juga sedang menyusul kemari," ujar Ny. Nadia.


Ny. Arsy mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, sudah kalau gitu gimana kalau kita pesan makannya lebih dulu," ujarnya.


"Boleh," ujar Ny. Nadia setujuh.


......................


"Ayo keluar," ujar Azlan keluar dari mobilnya.


Wanita itu keluar namun, perutnya tiba tiba ada mules karena panggilan alamnya. "Aduh ..." ujarnya memegangi perutnya yang mules.


"Kamu kenapa?" tanya Azlan menatapnya.


"Aku kebelet nih," ujarnya cengir memperlihatkan deretan giginya putihnya.


Azlan menghembuskan napas kasar. "Kamu sangat merepotkan. Sudah sana cepatan," ujar Azlan kesal.


"Tapi tunggu aku di sini," ujarnya menatap Azlan.


"Iya. Sudah cepatan pergi sana," ujar Azlan kembali.


...#continue .......

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2