Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 39 Sarapan


__ADS_3

"Dari mana saja kamu?" tanya Arhand yang baru saja datang mencari Maira.


Maira yang lebih awal datang ketimbang Arhand, berpura-pura tidur, tak menghiraukan ucapan suaminya. Arhand mendekati Maira yang tertidur di sofa.


"Kamu mau kemana?" tahan Arhand saat Maira langsung bangun dan ingin keluar dari kamar.


Maira berbalik menatap Arhand dingin. "Lepaskan aku."


"Mau kemana?" tanya Arhand lagi mengabaikan ucapan istrinya.


Tangan Maira terkepal. "Aku hanya memiliki kewajiban menjawab pertanyaan dari suamiiku, bukan saudara sepupu," ujar Maira dingin, menghempaskan tangan Arhand, lalu keluar dari kamar menuju kamar tamu.


Arhand diam membisu ditempat, karena masih terkejut mendengar jawaban dingin dari istrinya.


......................


"Iya, hallo Beby," ujar Anya menjawab telpon Azlan.


"Anya!" sarkas Azlan dengan tegas dari balik ponsel.


Anya yang mendengar suara marah Azlan, segera minta maaf. "Iya, iya, maaf ( jengahnya ). Maksud aku hallo Azlan," ujarnya memperbaiki kalimatnya.


"Ada apa kamu menelpon'ku?" tanya Anya melanjutkan kalimatnya.


"Kamu jangan kelewatan menyakiti Maira, jika tidak aku akan menyeretmu keluar dari sana," ujar Azlan dengan sangat tegas memperingatkan Anya.


"Bukannya malah bagus yah, kan kamu bisa menjadi obat untuknya, dengan begitu kamu lebih gampang mendapatkan cintanya," balas Anya.


"Kamu dengarkan perkataanku saja, gak usah banyak omong. Paham kan?!" ujar Azlan tegas.


Maira memutar bola mata malas. "Iya. Aku tidak akan menyakitinya, tapi aku tidak janji," ujarnya lalu langsung mematikan sambungan telponnya.


Anya menatap keluar jendela, dengan mengoyang-goyang gelas winenya. "Az, Az, kamu benar-benar naif. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu jika kita tidak berkorban. Lagi pula ini akan menguntungkan dirimu," ujarnya menegak habis Winenya.


......................


"Arrhhgg ... beraninya dia mematikan telponnya," kesal Azlan pada Anya yang langsung mematikan ponselnya.


"Uncle, uka pintunya," teriak Rian mengedor pintu kamar Azlan.


Azlan memperbaiki raut wajahnya, lalu membuka pintu kamarnya. "Kenapa belum tidur Boy?" tanyanya mengusap kepala keponakannya.


"Lian mau tidur sama Uncle, boleh kan?" tanya Tuan menampilkan puppy eyes.


"Memangnya kamar Rian kenapa?" tanya Azlan.


"Idak apa-apa, Lian hanya ingin idul ama Uncle," jawab Rian tersenyum.


"Baiklah. (menunduk mengendong Rian ), ternyata keponakan kesanyang Uncle mau tidur dengan Unclenya," ujar Azlan membawa Tuan masuk kedalam kamarnya.


"Hahaha ... geli Uncle," teriak Rian saat Azlan mengesek dagunya yang mulai di tumbuhi rambut di leher Rian.

__ADS_1


Azlan membaringkan Rian di atas tempat tidurnya, begitu pun dirinya langsung naik dan memeluk keponakannya.


"Uncle," panggil Rian mendongakkan kepalanya menatap Azlan.


Azlan mengangkat alisnya. "Iya, Boy, kenapa?"


"Lian au celita," ujar Rian.


Azlan yang memiliki banyak fikiran menolak keinginan keponakannya. "Bagaimana kalau besok aja, ini sudah malam dan besok juga Rian harus sekolahkan?, jadi harus tidur sekarang yq," ujar Azlan lembut.


"Api Lian aunya celita cekalang, Uncle!" tegas Rian bangun dari tidurnya, kekeh ingin bercerita.


Azlan mengangkat tangannya. "Ok, ok ( mengalah ). Memangnya Rian cerita tentang apa, hem?" tanyanya sembari mengusap surainya.


"Mama," ujar Rian dengan raut wajah sedih.


"Mama?"


Rian mengangukkan kepalanya. "Iya."


"Kenapa dengan Mama," tanya Azlan.


"Lian cuka liat Mama nangis endiri," lirih Rian.


"Menangis?" tanya Azlan dengan wajah terlihat serius, ia kembali mengingat beberapa terakhir belakangan ini memang sering kali melihat wajah kakaknya murung.


"Iya. Dan Lian cangat cedih liat Mama cedih," ujar Rian dengan sedih.


Rian mengangkat jari kelingkinya. "Promise?"


Azlan mengakat jari kelingkin lalu mengaitkannya dengan jari kelingking Ryan. "Promise," ujar Azlan.


"Telima acih, Uncle. Lian cayang Uncle," ujar Rian memeluk perut Unclenya.


Azlan mengusap punggung Rian. "Sama-sama, Boy. Sekarang kita tidur, hum?," ujarnya, kembali menidurkan Rian.


"Ada apa denganmu Kak, sebenarnya?" gumam Azlan.


.......................


"Selamat pagi sayang," sapa Ny. Arsy, tersenyum lembut pada Maira.


Maira membalas senyuman hangat mertuanya. "Pagi, Ma," balasnya, masuk kedalam dapur.


"Pagi tante," sapa Anya yang juga baru bangun.


Wajah Ny. Arsy seketika berubah datar, bahkan ia sama sekali tak menatap dan menghiraukan ucapan Anya sama sekali. "...."


"Pagi, Maira," sapa Anya lagi pada Maira.


Maira hanya menatap Anya dengan dingin, tanpa ingin menjawab ucapan Anya. "Biar Maira bantu, Ma," ujarnya pada Ny. Arsy.

__ADS_1


Anya mengepalkan tangannya, namun ia berusaha mengendalikannya.


"Terima kasih sayang," ujar Ny. Arsy lembut.


"Kamu mau kemana?" tanya Ny. Arsy, menatap tajam Anya yang ingin masuk kedalam dapur.


Anya tersenyum dengan ekpresi wajah polos."Membantu, Tante dan Maira masak," ujar Anya.


Wajah polos Anya tidak sama sekali berpengaruh pada Ny. Arsy. "Ini adalah dapur keluarga, dan yang boleh masuk hanya anggota keluarga. Jika kamu mau masak, masak saja di dapur belakang," sarkas Ny. Arsy tegas.


"Mam!" sarkas Arhand yang baru datang.


Melihat Arhand, Anya langsung mendekatinya, memegang lengan Arhand seolah-oleh mengatakan dia tidak apa-apa. "Honey ..."


"Jangan melihat Mama seperti itu," sarkas Ny. Arsy membalas tatapan tajam putranya, bahkan jauh lebih horor.


"Hm," dehem Tuan Blanco keras, membuat ibu dan anak itu berhenti adu mata.


Ny. Arsy membawa makanya ke dapur dengan di bantu oleh Maira. Semua orang duduk di kursi meja makan, sarapan bersama.


"Oiya, sayang, hari ini boleh kamu menemani Mama?" tanya Ny. Arsy.


"Kemana?" sahut Maira.


"Ke acara arisan Mama," ujar Ny. Arsy.


Maira tersenyum. "Boleh, Mam."


"Terima kasih, sayang," ujar Ny. Arsy tersenyum lalu kembali makan.


"Oiya, sayang," ujar Ny. Arsy kembali.


"Iya, Ma," jawab Maira menatap ibu mertuanya.


"Mama ingin, nanti jika teman-teman Mama bertanya sama kamu, bahwa kamu benaran putri Mama atau bukan, jawab saja iya," ujar Ny. Arsy.


"Hu?" bingun Maira, tak mengerti.


"Dan jika nanti di sana teman-teman Mama juga ada yang ingin menjadikan-mu menantu, kamu mau kan, sayang?" ujar Ny. Arsy dengan ekor matanya menatap perubah wajah Arhand.


"Hu?" sahut Maira tambah bingung, namun ia juga menatap suaminya yang hanya diam.


Ny. Arsy mengusap rambut indah Maira. "Kamu tak perlu khawatir, anak-anak teman Mama itu ganteng dan pekerja keras, dia juga seperti KAKAK SEPUPU kamu ini ( tekannya ), seorang CEO jadi pasti sangat cocok denganmu yang cantik ini, dan yang lebih pasti dia akan lebih bisa menghargaimu dan mencintaimu," ujar Ny. Arsy menekan setiap kalimatnya.


"Honey, kamu mau kemana?, Makanannya belum habis," ujar Anya saat Arhand tiba-tiba mendorong kursi kebelakang dan bangkit.


Arhand berusaha tersenyum. "Aku lupa kalau ada meeting pagi ikut, jadi aku harus pergi sekarang," ujarnya langsung pergi dari sana.


...#continue .......


...See you the next episode, Readers. ...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan hajek yah....


__ADS_2