Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 35 Istri?


__ADS_3

"Aduh. Bisa gak sih jangan main tarik aja?. Sakit tau!" ujar Qesya menatap kesal Aditya.


Aditya tak menghiraukannya dan melayangkan tatapan tajamnya, Qesya yang mendapat tetapan tajam seperti itu jadi gugup. "Ke-kenapa menatap aku se-seperti itu?" tanyanya dengan terbata-bata.


"Kamu tau apa kesalahanmu?" tanya Aditya dingin.


"Yah, gak lah πŸ˜’, kan situ belum kasih tau," ujar Qesya ketus karena masih kesal dengan Aditya yang seenaknya menarik tangannya.


"Kita ke sini buat apa?" tanya Aditya.


"Hadirin pesta," sahut Qesya singkat dan padat.


"Pesta apa?" tanya Aditya kembali.


Qesya memutar bola mata malas mendapat pertanyaan seperti itu. "Pesta perayaan tahun tahun perusahaan klien," ujarnya malas san nadanya juga masih terdengar ketus.


"Itu tau. Lalu kenapa dari tadi kamu tidak menyapa Tuan Dirga, ataupun mengatakan selamat pada Tuan Winata?" tanya Aditya menatap tajam Qesya.


"Tuan, sudah memberikan selamat jadi aku fikir itu sama saja," sahut Qesya, namun itu semua membuat Aditya marah.


"Qesya!" tegas Aditya marah.


Qesya kaget dan sontak langsung menatap Aditya yang meneriaki namanya dengan sangat lantang. Tatapan Qesya terlihat takut namun ada kemarahan juga.


"Aku ini atasanmu, jadi kalau aku sedang bicara sama kamu, tatap aku. Dan lagi pula kenapa kamu terus menatap Tuan Dirga," ujar Aditya marah.


"Karena dia tampan," ketus Qesya.


"Tu-tuan ..." ujar Qesya gugup, di karenakan Aditya mengkungkungnya di dinding, bahkan wajah mereka saling berdekatan.


......................


"Mas ..." rengek Maira saat tangan nakal suaminya berkelana kemana-mana.


"Kenapa?" tanya Arhand dengan wajah polos.


"Tangannya," ujar Maira dengan lirih, dia juga seperti menahan sesuatu.


"Iya, tanganku kenapa?" tanya Arhand lagi, seolah tidak tau apa-apa.

__ADS_1


"Mas ... aku lagi masak," rengek Maira.


"Iya udah masak saja," ujar Arhand santai dengan wajah menahan senyum.


POV: "Cie, cie,cie, yang sudah seperti perangko, nempel terusπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†."


"Ah ..."


Akhirnya suara yang memang sedari tadi di tangan oleh Maira, keluar juga karena ulah suaminya yang tak ingin diam.


"Kalian lagi ngapain?" ujar Ny. Arsy tiba- tiba, dan mengagetkan pasangan suami istri itu.


"Eh, Ma-Mama," ujar Maira malu.


"Iya, ini Mama. Kenapa kok natap Mama seperti itu?" tanya Ny. Arsy menatap dua orang itu.


Maira tersenyum canggung. "Ha, tidak ada, Ma," ujarnya malu, sedangkan seperti biasa Arhand menampilkan wajah datarnya bahkan tak ada ekspresi malu-malu gitu.


"Apa Mama membutuhkan sesuatu?" tanya Maira berusaha mengalihkan Mama mertuanya dari mereka.


"Iya, Mama mau ambil air minum dulu," ujar Ny. Arsy lalu berjalan ke arah kulkas mengambil botol air.


"Kenapa, Ma," sahut Maira cepat.


"Begini nanti hari minggu temani Mama yah," ujar Ny. Arsy.


"Kemana, Ma?" tanya Maira.


"Ke arisan Mama, dan teman-teman Mama. Bisakan?" tanya Ny. Arsy.


"Tidak! ( tegasnya ). Arhand tidak mengizinkannya," ujar Arhand menjawab pertanyaan sang Mama.


"Kamu siapa?" savage Ny. Arsy menatap putranya.


"Suaminya. Dan Arhand tidak mengizinkan istri Arhand pergi," ujar Arhand tegas.


Bibir Ny. Arsy terangkat satu. "Istri?, Istri seperti apa?, Istri yang tidak pernah di berikan nafkah batin?, atau istrinya yang tidur di sofa?, atau istri di atas kertas?, ayo jawab istri yang mana kau maksud?" tanya Ny. Arsy tegas menatap tajam putranya.


Arhand terdiam tak menjawab pertanyaan Mamahnya, Nyonya Arsy kembali terkekeh dengan sudut bibir terangkat satu ke atas. "Gak bisa jawabkan?, iyalah, kan dia bukan istri kamu," savage Ny. Arsy kembali.

__ADS_1


Arhand mengepalkan kedua tangannya, terlihat dari matanya ada sebuah kemarahan.


"Mam," panggil Tuan Blanco.


"Iya, Papa, tunggu sebentar," ujar Ny. Arsy lalu pergi meninggalkan kedua suami istri itu.


"Mas ..." panggil Maira, mengejar suaminya yang langsung pergi.


Ny. Arsy naik ke atas dan ranjang nya di mana sudah ada suaminya yang berbaring. "Apa Mama yakin dengan rencana Mama?" tanya Ny. Blanco memeluk istrinya dari belakang.


Ny. Arsy membalikkan badannya, menghadap suaminya. "Mama yakin Pa, bahkan sangat yakin," ujar Ny. Arsy penuh keyakinan.


"Arhand itu sama seperti kamu, harus di pancing dulu baru mau keluar," ujar Ny Arsy tersenyum.


"Terserah Mama lah," ujar Tuan Blanco, lalu memeluk erat istrinya, tanpa ingin menganggu rencana istrinya.


Sedangkan di kamar pasangan suami istri yang baru saja romantis. Arhand berdiri di luar balkon menghadap ke luar menatap gelapnya malam.


"Mas ..." panggil Maira berdiri di belakang Arhand.


Arhand berbalik, memegang pinda istrinya dengan tatapan matanya tertujuh di mata indah Maira. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi bersama Mama," ujar Arhand dan memeluk istrinya.


"Kenapa Mas?, Kan Mama hanya mengajak Maira menemaninya ke acara arisan bersama teman-teman Mama," ujar Maira tak mengerti.


"Aku gak peduli kamu tetap tidak boleh ikut," ujar Arhand semakin mengeratkan pelukannya, seakan tidak akan membiarkan Maira pergi kemanapun.


"Mas Arhand kenapa yah?, tak biasanya seperti ini. Pelukannya juga kenapa seperti ini, seperti sesuatu yang besar akan terjadi," batin Maira.


...#continue .......


...Enjoy the read, and see you the next episode....


...Jangan lupa:...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments. ...

__ADS_1


...Favorite. ...


__ADS_2