
Arhand membuka kamar pribadinya, dan melihat Maira tertidur, dengan perlahan Arhand berjalan dan berdiri di samping ranjang. "Bangun," ujarnya dengan datar.
"Huem," ujar Maira menggeliat tapi tak membuka matanya.
"Bangun," ujar Arhand kembali dengan datar.
(Pov Author: Arhand boleh gak sih cara membangunkan istrinya dengan lembut, atau sedikit romantis gitu, jangan terlalu datar seperti itu. Maira juga ketiduran karena perbuatan kamu).
"Huem," geliat Maira kembali dan masih tidak membuka matanya.
Arhand duduk di tepi ranjang, menundukkan kepalanya, berbisik di telinga Maira. "Bangun atau aku buat mulutmu lebih kaku," ujarnya dan tak lupa memberikan gigitan manja di kelopak telinganya, membuat tubuh Maira bergetar, dengan cepat mata Maira terbuka lebar.
Maira menatap suaminya yang ada di atasnya, dengan segera Maira mendorong dada suaminya, dan duduk dengan segera. Arhand yang melihat hal itu terkekeh, ternyata jurusnya sebegitu ampuhnya.
Arhand berdiri dari duduknya. "Ayo bangun, kita makan siang di luar," ujarnya mengulurkan tangannya untuk membantu Maira berdiri.
Maira menerima uluran tangan suaminya dan turun dari ranjang. "Aku mau ke kamar mandi sebentar," ujarnya.
"Mau ku temani," ujar Arhand dengan senyum smirk, dan senyum ini yang akhir-akhir ini Maira takuti.
Dengan cepat Maira meleset masuk ke dalam kamar mandi. Maira tidak ingin membuat mulutnya semakin kaku, jika tidak bisa di pastikan dia tidak akan bisa makan seharian karena sakit.
Senyum dibibir se*si Arhand terbibir begitu indah, menatap kelakuan istrinya. "Kenapa semakin hari dia semakin lucu. Apa dia sengaja menggodaku?, Tapi aku suka itu," ujarnya dengan senyum tak luntur dari bibirnya.
......................
"Apa berkasnya sudah siap😑?" tanya Aditya datar.
"Sudah, Tuan," jawab Qesya.
"Baiklah. Sebentar lagi kita berangkat," ujar Aditya datar dan kembali fokus ke laptopnya.
"Iya, Tuan," ujar Qesya kembali duduk di sofa, menunggu sampai manusia datar itu selesai dengan pekerjaannya.
"Tuan," panggil Qesya.
"Huem," sahut Aditya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Qesya.
"Kalau soal kerjaan boleh kalau bukan tidak boleh," ujar Aditya.
Qesya kesal mendengar jawaban Aditya. "Ihhh, pengen ku bejat-bejat tuh muka datar," ujarnya kesal karena dia mau bertanya tentang maksud dari bunga yang di berikan oleh Rian padanya tadi.
"Apa kamu mengumpat diriku?" tanya Aditya menatap Qesya tajam.
Qesya gegalapan. "Hu?, Tidak, Tuan," ujarnya merasa horor dengan tatapan tajam Aditya.
Drttt.
Telpon Aditya berbunyi dengan nama Arhand tertera di layar ponselnya, dengan segera Aditya mengangkat ponselnya. "Iya, hallo, Tuan."
__ADS_1
" ...."
"Semua sudah beres, Tuan," ujarnya.
"...."
"Baik, Tuan."
Aditya kembali menaruh ponselnya di mejanya, dan kembali fokus pada laptopnya.
"Apa itu Tuan Arhand?" tanya Qesya menatap Aditya.
Aditya mengalihkan pandangannya menatap Qesya, membuat Qesya bingung dan canggung. "Kerjakan pekerjaanmu jangan banyak bertanya dan mengurusi pekerjaanku."
Mendengar hal itu, Qesya mengedumel. "Siapa juga yang ngurusi pekerjaannya, gak ada kerjaan bangat deh. Dia kira sespesial itu dirinya, aduh ngak deh🥴. Orang mau tau tentang Khumaira," gerutunya dengan pelan.
Aditya yang mememiliki pendengaran yang bagus masih bisa mendengar ucapan Qesya. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Aditya.
"Tidak, Tuan," ujar Qesya datar.
"Pendengarannya sangat tajam, aku bahkan berbicara dengan sangat kecil tapi ia masih bisa mendengar. Atau jangan-jangan dia bukan manusia yah. Secara ini yah, dia bekerja seperti robot tanpa henti, tak berekspresi, tidak peka, dan satu lagi dia bisa baca pikiran orang. Iihh, kok tiba-tiba aku merinding ya," ujar dalam hatinya sembari menatap Aditya yang begitu fokus pada laptopnya.
"Kamu kenapa?" tanya Aditya menatap Qesya dengan dahi mengerut.
"Hu?"
"Kenapa kamu merinding seperti itu?" tanya Aditya kembali dengan tatapan tajam menatap Qesya.
"Kenapa suhu Ac-nya di turunin?" tanya Qesya lagi saat Aditya menurunkan suhu Ac-nya.
"Kamu kan dingin, jadi aku kurangi," ujar Aditya datar. Qesya menatap aneh Aditya membuat Aditya merasa gugup tapi masih bisa ia kendalikan dan menampilkan muka datar.
"Gak usah berfikiran jauh. Aku turunkan suhunya bukan karena peduli, aku hanya tidak mau kamu pingsan dan membuatku susah, pekerjaan kamu masih banyak," lanjutnya dengan wajah datar dan segera kembali fokus pada laptopnya.
Qesya mengepalkan kedua tangannya, menahan kekesalannya. "Sabar, sabar, sabar."
Dengan kekesalan yang tertahan Qesya berucap, "Aku tidak berfikir jauh kok. Lagi pula aku tidak akan tertarik pada, Tuan, karena Tuan Azlan sudah mencuri sepenuh hati dan jiwaku," ujarnya tersenyum manis dan kembali membayangkan wajah tampan Azlan yang bak pahatan dewa-dewa yunani.
"Kita berangkat sekarang," ujar Aditya dan langsung berdiri keluar dari ruangannya meninggalkan Qesya.
"Lah Kenapa aku di tinggal?" tanyanya dengan ambigu.
"Tuan, tunggu," teriaknya dan cepat meleset keluar dari ruangan, karena jika sampai ia kembali membuat Aditya menunggunya pasti ia akan di hukum sama seperti tadi pagi.
"Eh, Qes," ujar Maira menahan Qesya yang menabraknya.
"Khumair-" ujarnya terhenti saat melihat tatapan tajam Arhand.
"Maksud aku. Nyonya Khumaira, maaf saya tidak melihat Anda, karena sedang terburu-buru," ujar Qesya formal.
Maira merasa tidak enak dan nyaman dengan panggilan dan cara bicara Qesya padanya, tapi ia sendiri pun takut untuk protes.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kamu harus terburu-buru seperti itu?" tanya Maira.
"Itu, Cowok bertanggung jawab ( menutup mulutnya sendiri). Maksud aku Tuan Aditya, meninggalkanku," ujarnya setelah memperbaiki kalimatnya.
"Lalu apa lagi yang kamu tunggu?" tanya Arhand dingin menatap tajam Qesya.
Bulu kuduk Qesya seketika berdiri semua. "Ha, iya. Kalau seperti itu saya permisi Tuan, Nyonya," ujarnya dan secepat kilat meleset dari hadapan Arhand yang sudah seperti hantu bagi Qesya.
"Ayo," ujar Arhand mengandeng tangan Maira.
Maira kaget menatap suaminya, namun wajah Arhand tetap datar. Mereka masuk kedalam lift dan Arhand sama sekali tak melepas gengapan tangan Maira.
"Hufh, sunggu tatapan mata suami Khumaira sangat menyeramkan. Aku fikir tatapan cowok bertanggung jawab itu sangat seram tapi ternyata tatapan mata laki Khumaira jauh lebih menyeramkan," ujar Qesya memegangi dadanya yang hampir copot karena tatapan horor Arhand.
......................
"Uncel ayo cepatan. Lian cudah lapal," rengek Rian yang sudah sangat lapar.
"Iya, iya, Boy. Tunggu sebentar Uncle beresin meja kerja Uncle dulu baru setelah itu kita pergi makan, ok," ujar Azlan sembari membereskan berkas-berkas di meja kerjanya.
"Let's go?" ujar Azlan mendekati keponakan dan Kakaknya.
"Let's go," ujar Rian dengan senang.
"Ita mau mamam dimana, Uncle?" tanya Rian yang ada dalam gendongan Azlan.
"Rian maunya di mana?" tanya Azlan.
"Di lestolan yang ada olam lenangnya," ujar Rian dengan cepat. Rian memang sangat menyukai tempat-tempat yang memiliki kolam renang, entah itu hotel, villa, ataupun restoran.
"Yang ada kolam renangnya?, Memangnya Rian mau berenang?" tanya Azlan.
Dengan semangat 45 Rian mengangukkan kepalanya. "Mau," ujarnya dengan cepat.
"Coba ulang, Mama tidak dengar," ujar Clarisa berbalik menatap horor dua pria beda usia itu.
Rian menatap Alzan begitupun Azlan menatap Rian, dari tatapab mereka tersirat, 'tamatlah hidup kita berdua.'
"Tidak ada, Mam. Lian hanya belcanda. Iyakan, Uncle?" elak Rian cepat.
"Itu benar," ujar Azlan dengan cepat membenarkan alasan keponakannya, sebelum harimau benggala mengamuk.
...#continue ......
...Haii, Readers jangan lupa:...
...Vote. ...
...Like. ...
...Comments. ...
__ADS_1
...Favorite. ...