
"Itu hadiah dari Mertuamu," ujar Arhand datar.
Maira sedikit tidak suka saat mengatakan Ny. Arsy seperi hanya mertuanya saja. "Mama Mas Arhand."
Arhand tak menghiraukannya dan membuka laptopnya. Sementara Maira membuka hadia yang di kirim oleh mertuanya. "Mama, ngirim apa ya," gumannya membuka pembungkus kadonya.
"Ya Allah, Mama," kaget Maira langsung menutup kembali box hadiahnya. Matanya megerjap-ngarjap.
"Kenapa?" tanya Arhand karena terkejut mendengar teriakan istrinya.
Maira melihat ke suaminya, dia bingun mau bilang apa. "Hu?. Tidak," ujarnya berbohong karena malu mengatakannya.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa kamu terkejut seperti tadi?" tanya Arhand menatap istrinya penuh selidik.
Maira yang di tatap seperti itu, jadi salah tingkah. "Itu, itu, itu ..." ujarnya tidak tau mau bicara apa.
Arhand yang mendengar ucapan istrinya yang terbelit belit menjadi kesal. "Itu apa?!, Bawah kemari hadiahnya," ujar kesal dan ekspresi wajahnya mulai terlihat dingin. Namun Maira mengelengkan kepalanya membuat wajah Arhand semakin dingin dengan tatapan tajamnya menatap istrinya.
"Bawah!, Jangan membuat aku kesal," ujarnya tegas menahan emosinya.
Maira berdiri dan berjalan dengan sedikit ragu. Sampai di ranjang dengan ragu-ragu mengulurkan hadiah dari mertuanya, Arhand mengambilnya dengan sedikit kasar karena Maira tak ingin melepaskan tangannya.
Arhand menaikkan sebelah alisnya, mengangkat lingerie hadiah dari Mamanya. "Pakai," ujar Arhand menatap istrinya yang berdiri menunduk malu.
Maira mengangkat kepalanya karena terkejut dengan ucapan suaminya, yang meminta dia memakai baju terbuka seperti itu. "Ha ... Tapi, Mas- " ujarnya ingin menolak namun tak jadi saat mata elang suaminya seakan-akan ingin menebasnya.
Maira mengambil lingerie itu dan masuk ke dalam kamar mandi, melihat istrinya menghilang di balik pintu Arhand mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo, Boy," ujar orang di seberang sana, dengan suara yang terdengar kelelahan.
"Kenapa, Mama mengirimkan hadiah seperti itu?" tanya Arhand tanpa basa-basi.
"Baguskan?" tanya balik Ny. Arsy.
"Tidak," ujar Arhand datar
"Ya'elah ... kalau suka ngomong suka aja kali, boy, gak usah malu-malu seperti itu," ujar Ny. Arsy lagi dengan menggoda putra dinginnya itu.
"Sudahlah, Mam. Jangan pernah memberikan hadiah seperti itulah pada istri Arhand," ujar Arhand datar.
Mendengar kalimat terakhir putranya itu, semakin membuat Ny. Arsy di seberang telpon ingin menggodanya. "Huuu ... sudah mulai di akui," ujarnya meledek
"Mam ...."
"Iya, iya, iya, Mama tidak akan memberikan kado seperti itu lagi. Tapi kamu yang akan membelikan baju itu lagi, Mama yakin itu," ujar Ny. Arsy dengan penuh ke yakinan.
"Sudahlah, Mama Arhand tutu- " ujar Arhand terpotong saat melijat Maira berdiri di depannya dengan baju transparan, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang indah. Arhand menelan ludahnya susah payah.
Tut.
__ADS_1
Arhand mematikan telponnya, ia menatap intes istrinya dan mulai berjalan ke arah istrinya.
Maira meremas jari jarinya gugup saat suaminya menatapnya dengan tatapan berbeda. "Mas ..." panggilnya hati-hati.
"Ueemm, Mas," ujar Maira saat bibirnya mendapat serangan tib-tiba dari suaminya itu.
Arhand mendorong istrinya dari ke atas tempat tidur dan mengkungkungnya. Matanya menatap lapar istinya, dan tanpa berlama lama ia mengangkat tangan Maira ke atas dan kembali mencium bibir rabum istrinya, yang membuatnya candu.
"Ueeehmm, Mas ... aah," d***h Maira saat Arhand membuat tandanya di lehernya.
Lama mereka melakukan pemanasan, sampai Arhand tak bisa menahannya lagi dan akan membuka penutup segitiga bermuda milik istrinya.
"Mas ..." tahan Maira saat Arhand akan membuka penutup miliknya.
Mata Arhand seketika menajam, dadanya naik turun ada rasa marah di hatinya saat mendapat penolakan dari istrinya.
"Kamu berani menolakku?" ujarnya dengan marah.
Maira menjadi takut, dan menundukkan pandanganya ke bawah. "Ti-tidak Mas ... bu-bukan begitu-" ujarnya terpotong saat Arhand dengan paksa merobek kain penutup segitiga bermudanya.
Krek.
"Apa ini?" tanya Arhand kesal melihat ada roti melayang tertempel di nalik pakain dalam istrinya.
"Itu ..." ujar Maira sangat malu, ia membuang mukanya ke arah sampin, tak berani menatap wajah suaminya yang terlihat shock.
"Kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu sedang datang bulan," ujar Arhand kesal menatap istrinya.
"Argh ...."
......................
"Qesya ..." panggil Anis.
"Huem ..." sahut Qesya dengan mata terpejam.
"Kamu sudah tidur belum?" tanya Anis.
"Sudah," jawab Qesya tanpa membuka matanya dan menghadap temannya.
"Sudah kok masih ngomong," ujar Anis jutek.
"Karena telinga dan mulut aku belum tidur," ujar Qesya santai.
Anis kesal mendengar jawaban sahabatnya. "Bisa gitu yah?"
"Bisa."
"Argg ... ngomong sama kamu seperti ngomong sama kerbau," kesal Anis. Anis ingin bangkit dari tempat tidur dan kembali ke kamarnya, namun ia terhenti saat mendengar ngigauan Qesya.
__ADS_1
"Ganteng," ngingau Qesya dan tersenyum dalam tidurnya.
"Ini anak ngingau atau gimana sih?"
"Hei ... Qesya bangun," ujar Qesya menepuk pelang lengan sahabatnya, namun bukannya bangun Qesya malah semakin ngingau gak jelas.
"Huem. Jangan ganggu aku ( gerutunya ). Aku lagi denier sama Ayang Ganteng," ujarnya sembari membuka mulutnya.
"Ayang ganteng?" tanya Anis pada dirinya sendiri ia mengerutkan keningnya.
"Hei. Bangun. Ayo cepat bangun," ujar Anis memaksa Qesya bangun karena tangannya di gigit oleh Qesya.
"Aduh ... ada apa sih, Nis," ujar kesal Qesya bangun terduduk.
Kamu itu ada apa. Kenapa kamu mengigit tanganku, sakit tau gak?. Sudahlah sekarang katakan padaku kamu memimpikan siapa?" tanya Anis.
"Ya'elah aku kira ada apa. Udah ah, aku mau lanjut tidur lagi. Kamu juga tidur jangan ganggu aku lagi. Mimpi aku tadi sampai di mana ya. Ini semua gara-gara kamu sih, jadi lupakan," ujar Qesya kesal dan kembali tidur dan tanpa rasa bersalah pada sahabatnya.
"Idih sok-sok'an pakek mimpi segala lagi," ujar Anis memukul lengan Qesya.
Qesya hanya mengelus lengannya. "Bodoh," ujarnya dan menutup wajahnya dengan selimut.
Anis menatap Qesya yang mrmbungkus dirinya dengan rapat. "Ini anak memimpikan siapa yah?, tidak biasanya memimpikan seorang laki-laki. Siapa laki-laki itu?" celetuknya penasaran dengan sosok laki-laki yanh ada di dalam mimpi sahabat galaknya itu. Anis beranjak keluar dari kamar Qesya, ia capek memikirkan siapa laki-laki di dalam mimpi Qesya.
......................
"Heum," geliat Maira saat merasakan tubuhnya melayan.
"Stts ...."
"Ma-mas," ujar Maira terkejut.
Arhand meletakkan Maira di atas tempat tidur lalu baru dirinya naik, dan memeluk pinggang istrinya. "Tidur," ujar Arhand datar.
"Tap- "
"Sepertinya kamu sangat suka membantah aku belakangan ini," ujar Arhand kesal wajahnya berubah dingin matanya menajam.
Maira menundukkan kepalanya. "Maaf," ujarnya takut.
Arhand tak lagi menjawab dan mendekap istrinya lalu tertidur. Sedangkan Maira sangat bingung dengan perubahan suaminya yang tiba-tiba, hatinya senang tapi di hatinya juga ada begitu banyak keraguan dan ke takutan.
...#continue .......
...Hai Readers kembali lagi up, setelah 2 hari gak up. Sorry banget kemarin tidak up soalnya lagi sakit. Selamat menikmati and jangan lupa :...
...Vote....
...Like....
__ADS_1
...Comments....
...Favorite. ...