Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 28 Rasa Canggung.


__ADS_3

Ceklek.


Bima mengalihkan pandanganya. Bima langsung berdiri saat melihat Aditya dan Qesya.


"Tuan, Aditya, silahkan," ujar Bima menyambut kedatangan Aditya yang merupakan perwakilan dari Blanco Corporation.


Aditya duduk dan begitupun Qesya duduk di samping Aditya, meletakkkan semua berkas meeting. Aditya melihat sekeliling karena tak melihat siapapun selain asisten pribadi CEO Dirga's Corporation.


"Maaf, Tuan. Nona Muda kami sedang ke toilet sebentar," ujar Bima, Karena dia tau apa yang ada di fikiran Aditya.


"Lalu di mana Nona Dirga?, Karena kami masih ada beberapa meeting," ujar Aditya lagi karena dia masih memiliki pertemuan dengan kliennya dari singapore.


Bima belum menjawab pintu ruangan terbuka menampilkan sosok wanita cantik, langsing, dengan kulit mulus dan rok dan kemeja kerja yang begitu indah melekat di tubuhnya.


"Maaf, Tuan membuat Anda menun-" ujarnya terputus saat Clarisa melihat orang yang ada di hapannya.


"Aditya?" ujarnya.


Reaksi Aditya pun kaget melihat Clarisa ada di sana. "Nona?"


Qesya memperhatikan mereka berdua tanpa mengatakan apapun, namun tiba-tiba seseorang memeluk kakinya.


"Kakak boneka Beluang," ujar Rian mendongakkan kepalanya menatap Qesya.


Qesya menundukkan kepalanya. "Rian. Hei ...." ujar Qesya menyapa anak kecil itu dengan lembut.


"Kakak Boneka Beluang ada di sini?" tanya Rian.


"Iya, Kakak ada di sini. Rian sendiri ngapain di sini?" tanya Qesya.


"Lian nemani, Mama buat meeting," ujar Rian dengan suara cadelnya.


"Jadi Lian bolos sekolah donk?" tanya Qesya kembali.


Rian mengelengkan kepalanya. "Tidak Lian tadi cudah minta izin buat libur. Kalena di cekoal gulunya idak ada," ujar Rian.


Semua orang memperhatikan interaksi antar keduanya, terutama Aditya yang mentapa Qesya dengan tatapan lain, ada senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat cara bicara Qesya terhadap anak kecil.


"Kok bisa tidak ada gurunya?" tanya Qesya lagi.


Rian mengedikkan bahunya. "Gak tau," ujarnya.


"Ah ayo loh Lian berbohongkan?"


Rian malah cengesan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Hehehe, iya. Lian minta izin pulang pula-pula cakit pelut padahal Lian lagi alas cekolah," ujarnya polos.


"Rian, sayang, ayo duduk dulu Mama mau meeting.


"Baik, Ma," ujar Rian nurut dan duduk di kursi.

__ADS_1


"Maaf semuanya," ujar Clarisa merasa tidak enak.


"Tidak masalah. Kita lanjut meetingnya saja," ujar Aditya.


Meeting di mulai sedangkan Rian bermain bersama dengan dunianya sendiri layaknya anak kecil pada umumnya.


......................


Azlan mendongakkan kepalanya ke atas dengan posisi menyendarkan punggungnya kebelakang kursi kuasanya. "Arrhh, kenapa aku tidak bisa fokus. Kenapa hanya namanya saja yang ada di dalam fikiranku. Sudah donk Azlan, berhenti memikirkannya, dan fokus bekerja," ujarnya pada dirinya sendiri.


Dari tadi Azlan tak bisa fokus dengan kerjaannya yang ada di fikirannya hanya ada wajah Maira yang tersenyum dengan pipih merah merona. Azlan kembali tersaadar saat ponselnya berdering.


Drttt.


Azlan mengangkat telpon setelah melihat siapa yang menelponnya. "Hallo, kenapa kamu tiba-tiba menelponku?" ujar Azlan judes.


"Ayo lah beby, aku menelponmu karena merindukanmu," ujarnya dengan halus, dan manja.


Terlihat Azlan memutar bola mata malas. "Hentikan ocehanmu ( tegas Azlan ). Katakan apa yang kau inginkan, aku tau bagaimana sifatmu itu," ujar Azlan to the point.


Terdengar suara henbusan napas kasar dari seberang telpon. "Aku akan kembali 4 hari lagi, tolong jemput aku di bandara."


"Untuk apa kau kembali?, Kau tinggal saja di sana," ujar Azlan dingin.


Terdengar suara kecewa dari wanita itu. "Kau jahat sekali, Az. Aku tuh merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" ujarnya seperti wanita yang tersakiti.


"Apa lagi yang kau rencanakan?" tanya Azlan tanpa menghiraukan ucapan wanita itu.


"Aku ingin kembali padanya," lanjutnya.


Mendnegar ucapan wanita itu Alzan sudah tau apa maksud dari ucapannya dan langsung berucap, "Jangan berani meminta bantuanku, karena aku tidak akan membantumu lagi. Sudah cukup selama ini aku membantu mu," ujar Azlan tegas menolak membantu wanita itu.


"Ayolah, Az, kita ini temankan?, Masa kamu tidak ingin membantu teman. Aku berjanji deh ini yang terkahir kalinya, iya?" ujarnya memohon pada Azlan agar ingin membantu dirinya.


"Dulu juga kamu mengatakan hal itu, tapi apa?, sekarang kamu ingin kembali lagi padanya. Memangnya priamu itu ada di mana?" tanya Azlan.


Seketika mood wanita itu terdengar tidak baik. "Jangan bahas dia, aku membencinya. Az, kami mau kan membantuku, please, please, please," ujarnya kembali memohon agar Azlan ingin membantu dirinya.


Azlan yang pusing mendengar rengekan wanita itu menghembuskan napasnya kasar. "Huem. Baiklah, berhehti meregek seperti anak kecil padaku," ujar Azlan.


Wanita itu langsung terdengar kegirangan. "Terima kasih, Az, kamu memang sahabatku yang terbaik," ujarnya Denham bahagia.


"Huem," shut Azlan Azlan mematikan sambungan telponnya.


Azlan kembali menyandarkan punggungnya ke belakang kursinya. "Hufh ( menghembukan napas kasar ). Jika aku membantunya aku memiliki peluang yang jauh lebih besar mendapatkan Maira. Tapi itu sama saja memaksakan kehendak ku sendiri, sedangkan aku tau memaksakan perasaan hanya akan salin menyakiti. Arrhh ( teriaknya frustasi ).


......................


"Kamu istirahat saja di sini. Nanti setelah selesai meeting kita akan makan siang bersama di luar," ujar Azlan dengan datar namun jauh lebih lembut dari yang biasanya.

__ADS_1


Maira mengangukkan kepalanya, menurut. "Baik, Mas."


Azlan keluar dari kamar pribadi dan lalu keluar dari ruangannya menujuh ruang meeting. Maira berbaring di tempat tidur tubuhnya terasa lelah, namun mulutnya jauh lebih lelah, dan kaku karena menidurkan Cobra berurat suaminya. "Siih ( ringisnya memegang mulutnya ), sakit banget. Kenapa milik Mas Arhand sangat besar, membuat mulutku sangat kaku. Tapi kalau di fikir-fikir lebih sakit waktu itu sih," celetuknya dan kembali mengingat malam panasnya saat waktu itu.


......................


Clarisa berdiri. "Terima kasih Tuan, aku akan memberikan yang terbaik untuk perusaan Blanco Corporation. Dan semoga juga kerja sama ini akan berjalan lancar ke depannya," ujar Clarisa dengan formal walau hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Aditya tersenyum tipis. "Semoga saja. Kalau seperti itu kami permisi dulu Nona Dirga, Tuan Bima," ujar Aditya datar dan formal.


"Silahkan," ujar Nona Clarisa.


Aditya dan Qesya berjalan ke arah pintu, namun Rian menghentikan mereka. "Kakak Boneka Beluang, unggu," ujarnya sembari turun dari kursinya.


"Iya, Rian, ada apa," ujar Qesya menunduk mengusap rambut Rian dengan lembut.


"Ini," ujar memberika setangkai bunga yang mulai terlihat layu.


"Bunga?" tanya Qesya mengambil setangkai bunga itu.


Rian menganggukkan kepalanya. "Iya. Unga itu dali Uncle itu ( tunjuk Rian pada Aditya)."


Aditya seketika memalingkan wajahnya kearah lain, dengan wajah datar terlihat berpura-pura tidak melihat dan mendengar.


Qesya menoleh ke arah Aditya. "Dari Uncle ini?" tanya Qesya menelisik wajah datar Aditya.


Aditya meluhat kearah lain, dengan wajah datar terlihat berpura-pura tidak melihat dan mendengar. Sedangkan hati Clarisa terasa sesak mendengar semua itu, apalagi saat melihat senyum di bibir Aditya walau hanya sekilas dan kembali ekspresi wajah datar, dadanya semakin terasa sesak.


Rian kembali mengangukkan kepalanya. "Iya, dali Uncle Aditya. Uncle Aditya selalu memberikan bunga pada Lian untuk di belikan pada Kakak Boneka Beluang, tapi waktu itu Lian lupa memberikan unganya. Jadi Lian impang kalena Mama ialang kalau ada amana halus di campaikan," ujar Rian polos.


"Mama Rian benar. Dan terima kasih karena sudah menyampaikan amananya," ujar Qesya kembali mengusap surai Rian dengan lembut.


"Cama-cama," ujar Rian dengan senyum manisnya.


"Dan Uncle Lian inta aaf kalena Lian baru membelikan unganya pada Kakak Boneka Belauangnya," ujar Rian pada Aditya.


Aditya tersenyum canggung menatap Rian. "Tidak apa," ujarnya datar. Aditya berusaha bersikap biasa saja walau hatinya berkecamuk, karena malu.


"Permisi semuanya," ujarnya lalu keluar dari ruangan itu, begitupun dengan Qesya keluar setelah berpamitan pada Rian dan yang lainnya.


...#continue ......


...Haii, Readers jangan lupa:...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments....

__ADS_1


...Favorite. ...


__ADS_2