
Hari pernikahan Aditya dan Qesya, akhirnya telah tiba. Qesya sudah sangat cantik dengan gaun silver membalut tubuh rampinya, namun wajahnya terlihat sangat gelisa, ia menatap setiap anak-anak Maira dengan perasaan tak ingin meninggalkan.
Melihat sahabatnya yang tak kunjung beranjak pergi dari kamarnya, Maira berseru. "Ada apa?, Ayo Om Warston sudah memanggil dari tadi," ujar Maira menyentuh lengan Qesya.
Qesya tersadar dari lamunannya. Matanya menatap bayi Maira. "Aku gak tau kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini. Entah ada apa ...."
"... apa aku gak usaha hadiri pernikahan ini ya, kan bisa menikah tanpa ada mempelai perempuan di tempat," lanjut Qesya tak ingin meninggalkan kamar Maira.
Mendengar hal itu Maira merasa sedikit kesal, tapi juga gemes. "Apa yang kamu katakan. Kamu harus menghadiri pernikahanmu, ingatlah pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, bukan main-main. Lagi pula ke khawatiranmu ini hanya karena kamu lagi gugup saja, dengan pernikahanmu," ujar Maira memberikan pengertian, penjelasan pada sahabatnya yang gugup, ia tau bagaimana rasanya karena dia juga sudah pernah ada di fase itu.
Qesya menghembuskan napas kasar, sedikit setuju dengan perkataan Maira, mungkin saja ini memang hanya perasaan gugupnya karena pernikahannya. "Baiklah, tapi ingatlah jika ada sesuatu atau apapun itu yang mengancam kalian, segeralah masuk kedalam sini, dan kabur melalui lorong bawah tanah," jelas Qesya, menunjukkan sebuah jalan rahasia pada Maira.
"Iya, bawel," sahut Maira, bercanda berharap kegugupan sahabatnya bisa berkurang.
Tubuh Qesya didorong keluar oleh Maira karena tak kunjung ingin beranjak pergi, tetapi Qesya malah menahan tubuhnya sendiri, membuat Maira sulit mendorongnya keluar.
"Aku gak tau kenapa perasaan ku begitu gelisa, sepertinya aku tak ingin pergi deh," ujar Qesya, kembali mengurungkan niatnya untuk pergi.
Melihat kekhawatiran sahabatnya, membuat Maira menepuk jidatnya. " Sudah cukup ya ( mendorong punggung Qesya dengan sekuat tenaga keluar ). Aku sudah bilang ini hanya ke khawatiran seseorang pada saat hari pernikahannya, akupun dulu merasakan hal yang sama, khawatir yang berlebihan dan gelisa," jelas Maira, dengan mengusap peluhnya, habis mendorong Qesya yang tak ingin beranjak, sangat susah.
"Tapi-" ujar Qesya ingin kembali berucap tapi ucapannya langsung di potong oleh Maira.
"Sttt ( meletakkan telunjuknya di bibir Qesya ), gak ada tapi-tapian cepat pergi sana, tapi aku juga minta maaf karena tak bisa menghadiri pernikahanmu," ujar Qesya, juga meminta maaf karena tak bisa hadir di acara paling di nanti sahabatnya.
"Ayo sayang, kita hampir terlambat," ujar Tuan Warston mendekati mereka.
"Iya, Pa," ujar Qesya, berusaha tersenyum, menyingkirkan semua kecemasan di hatinya.
__ADS_1
"Aku pergi," pamit Qesya pada Maira.
"Iya, pergilah," ujar Maira tersenyum lembut.
Iringan penganting telah pergi, menyisahkan Maira dan beberapa penjaga rumah. Maira pergi kedapur untuk membuat susu menyusui, setelah itu ia kembali masuk kedalam kamarnya, bermain bersama anak-anaknya, dengan bersiap-siap menonton acara pernikahan sahabatnya melalui TV, yang sudah tersambung di tempat acara pernikahan Aditya dan Qesya.
......................
"Tapi kau akan datang kan sebelum acaranya di mulai, Ar?" tanya Aditya pada Arhand yang bersiap pergi kerumah Qesya.
Selama satu minggu Arhand menunggu, dan mendengarkan Papanya, untuk datang kembali ke rumah Qesya, mencari istrinya pada saat hari pernikahan Aditya dan Qesya, karena Tuan Blanco yakin gak mungkin Maira ikut datang dengan mereka, dan untuk itu juga lokasi tempat acara pernikahan Aditya dan Qesya sengaja di pilih agak jauh dari rumah Qesya. Agar Arhand memiliki banyak waktu menemukan istrinya nanti.
"Itu pasti. Aku akan datang bersama-sama istri dan anakku, menghadiri pernikahan Uncelnya," ujar Arhand penuh keyakinan, dan perasaan bahagia, membayangkannya.
"Baiklah. Hati-hati," ujar Aditya.
"Wahh ( hebohnya ), ini sungguh suatu kehormatan mendapat pujian dari seorang Arhand Blanco, pengusaha sukses, pria tampan di negara ini," ujar Aditya tak percaya, sangat heboh.
"Menyesal aku memujimu," ujar Aditya datar, lalu langsung meninggalkan Aditya.
Sikap Arhand yang kesal membuat Aditya tak bisa menahan tawanya. "Hahaha ... hati-hati, semoga berhasil," teriaknya di ambang pintu kamar Arhand.
"Iya, kau juga . Semoga berhasil. Jangan sampai wanitamu itu menjadi haram kau nikahi, ingat hanya tiga kali, setelah itu kau tidak akan bisa menikahinya lagi," ujar Arhand tanpa berbalik, hanya menaikkan tangannya keatas, melambai.
"Itu tidak mungkin, karena aku sudah sangat hafal kalimat ijab qabulnya, kejadianmu tidak akan terulang padaku," balas Aditya berteriak, namun Arhand sudah keluar dari pintu.
"Sudah cukup. Ayo kita pergi, jika tidak pernikahan ini akan batal," ancam Ny. Arsy datang mendekati Aditya, yang terlihat sangat gagah di balut jas putih, dengan peci di kepalanya.
__ADS_1
"Jangan sampai, Ma," ujar Aditya cepat.
"Iya, sudah Kalau gitu cepatan pergi ke mobil. Mama mau ambil ponsel Mama dulu di dalam," ujar Ny. Arsy, melangkah masuk ke dalam kamarnya, Aditya menuruti perkataan Ny. Arsy, dengan segera keluar.
......................
"I'm came, Honey," ujar Arhand melajukan mobilnya dengan cepat.
"Tunggu Papa sayang. Papa jemput kalian," lanjutnya.
Senyum di wajah Arhand begitu cerah, tak sabar bertemu dengan istri dan buah hatinya. Mobilnya terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju kerumah Qesya.
......................
Iringan pengantin perempuan telah sampai begitupun dengan iringan pengantin laki-laki. Iringan penganting perempuan dan laki-laki masuk kedalam gedung, di mana nanti akan di jadikan sebagai tempat melakukan ijab qabul, dan resepsi pernikahan, terlihat jelas di wajah penganting baik perempuan dan laki-laki terpancar kegugupan yang jelas, tapi juga wajahnya berseri di penuhi kebahagian.
Mereka semua masuk kedalam ruagan yang sudah di siapkan oleh, pihak WO memperbaiki riasan penganting sembari menunggu waktu ijab Qabolnya.
Dilain sisi Arhand sudah sampai di rumah Qesya, Arhand turun dari mobil, berlari masuk kedalam. Betapa terkejutnya melihat Maira tersungkur di lantai dengan menagis tersedu seduh, bahkan lengannya di lumuri darah.
Dengan cepat Arhand memeluk erat istrinya yang terlihat menyedihkan sangat menyedihkan, sembari terus memanggil nama seseorang. "Arsyad, Arkhui, Amira ..." ujar terus menerus, dengan lirih.
...#continue ......
...Hai, Readers selamat menikmati episodenya....
...See you the next episode....
__ADS_1