
"Ets ... mau kemana?" tanya Qesya, mencekal pergelangan tangan Maira dari belakang, yang membuat Maira kaget.
Qesya berbalik. "Qesya!. Ngangetin aku saja," kesalnya memukul lengan kesal.
"Hehehe ... ( cengegesan ). Maaf, maaf, maaf. Tapi tadi kamu mau kemana?" tanyanya.
"Kamu lupa?, inikan jadwal pemeriksaan kandungan aku," ujar Maira, kecewa mengira Qesya melupakan jadwal pemeriksaannya. Yah walau dia tau itu bukanlah sesuatu yang besar ataupun penting, tapi entah mengapa hatinya bersedih.
Pov Author: "Dasar Bumil. Tidak bisa ketebak mood nya,"
Qesya yang tau, hormon Maira sangatlah mudah berubah, ia dengan sengaja menambah-menambahkannya. "Oh iya, aku lupa," ujar Qesya, sengaja.
Mata Maira seketika membulat, air mata sudah ada di balik pelupuk mata, tapi raut wajahnya yang terlihat kesal. "Katanya keponakan kesayangan, tapi kok bisa lupa sama jadwal pemeriksaannya," ujar Maira judes, menyindir Qesya.
Tak tega Qesya ingin menjelaskan, bahwa ia hanya bercanda dan hanya ingin menggodanya saja. "Bukan gitu ... aku-" ujar Qesya langsung di potong oleh Maira.
"Iya, iya, aku tau. Kau hanya bercanda kok," ujar Maira seperti bisa.
"Iya, sudah aku pergi dulu, kamu masuk dan istirahatlah. Karena kamu pasti capek," ujar Maira lagi, lembut.
"Ayo Maid," ujar Maira membuka pintu mobil.
Maid memegang tangan Maira, ingin membantunya masuk kedalam mobil. "Ayo, Nak," ujar Maid.
"Tunggu sebentar," tahan Qesya, berdiri di depan pintu.
Maira mendongakkan kepalanya, menatap Qesya. "Ada apa lagi, Qes ... kita ini sudah terlambat loh," ujar Maira.
"Kamu tidak bisa pergi kerumah sakit sekarang," ujar Qesya. Maira menatap bingung Qesya, dengan kening berkerut.
"Kenapa?" tanya Maira.
"Soalnya ..." ujar Qesya, menggantung ucapannya.
"Soalnya ... ?" ujar Maira menunggu kelanjutan kalimat Qesya.
"Soalnya itu ..." ujar Qesya lagi, bingun bagaimana ia mengatakannya.
__ADS_1
Sejak kehamilannya, kesabaran Maira sangatlah tipis, setipis tissu, menjadi kesal saat Qesya terus saja berbasa-basi, menghalangi dirinya masuk kedalam mobil. "Itu apa?, katakan dengan jelas!" ujar Maira, mulai kembali badmood.
"Arhand, suami kamu ada di rumah sakit, mencari kamu," ujar Qesya cepat.
Reaksi Maira yang shock dan khawatir, yang membuat Qesya sangat sulit mengatakan hal tentang suaminya. "Maira ... you ok?" tanya Qesya khawatir, memegang pelang lengan Maira.
Maira mengangukkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Tapi Kamu tau dari mana, bahwa Mas Arhand ada di rumah sakit sekarang?" tanya Maira menatap Qesya.
"Dari Dokter Maya. Di bilang seseorang menayakan tentangmu, lalu aku mengirim foto suamimu, bertanya apa ini orangnya, dan Dokter Maya bilang dia adalah orangnya yang menayakan tentangmu," jelas Qesya, saat Dokter Maya menelponnya.
Tubuh Maira beraksi berlebihan, gemetaran. "Aku belum siap bertemu dengan Mas Arhand, Qes. Aku tidak mau," ujarnya terus mengelengkan kepalanya.
Melihat itu, Qesya memeluk Maira. menenangkannya. "Iya, iya. Kamu tenang saja, suami tukang selingkuh itu tidak akan menemukanmu, aku janji," ujarnya.
Setelah tenang Maira, melepas pelukannya. Menatap sahabatnya. "Terima kasih. Karena kau selalu menjaga kami," ujar Maira tulus.
"Kamu tidak perlu berteri makasih. Cukup masakkan aku masakan enak setiap pagi, itu sudah cukup," ujar Qesya, bercanda.
"Kamu ..." ujar Maira mengelengkan kepalanya, tersenyum.
"Lalu bagaiaman dengan pemeriksaan kandungannya?" tanya Maid yang sedari tadi diam memperhatikan sikap mereka layaknya saudara saling melindungi.
Qesya merangkul Maira. "Kamu tenang saja, Dokter Maya sudah otw ke sini, agar pemeriksaan keponakan tersayangnya Aunty cantik, tidak ada yang terlewat," ujar Qesya, mengelus perut buncit Maira.
"Memangnya bisa, Qes?, kan pemeriksaan membutuhkan alat," ujar Maira.
Dengan tersenyum dengan bangga, sombong Qesya, merangkul dua wanita beda usia. "Kalian tenang saja, semuanya sudah beres. Kamu tinggal berbaring di atas ranjang melakukan pemeriksaan ok. Ayo masuk," ujarnya.
Sudah sangat percaya dengan sahabatnya, Maira menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Aku percaya padamu," ujarnya tanpa ragu.
"Itu harus," ujar Qesya, membangga diri.
......................
"Aku tau, kau berbohong. Kali ini aku akan mendapatkan mu kembali, Honey. Tunggu Papa sayang, Papa akan menjumputmu dan Mamamu pulang kerumah," ujar Arhand, yang mengikuti laju mobil Dokter Maya.
Flash Back.
__ADS_1
"Terima kasih, banyak May, kau sudah memberikan bantuan besar dengan tidak mengatakan padanya tentang Khumaira," ujar seseorang di balik telpon.
"Tidak masalah, Nam, ini hal kecil," balas Dokter Maya.
"Oiya, May. Kamu bisa tidak datang kerumah untuk melakukan pemeriksaan kandungan Khumaira?" tanya orang di seberang telpon.
"Boleh. Tapi alatnya bagaimana?" tanya Dokter Maya.
"Semuanya sudah saya siapkan, kamu hanya perlu datang kerumah," ujar orang di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan datang setelah menyelesaikan pemeriksaan pasien ku di sini," ujar Dokter Maya, karena masih harus menyelesaikan pemeriksaannya.
Arhand di ruagan Dokter Dika mengepalkan tangannya mendengar semua itu, ya pada saat Dokter Maya ke ruagan Dokter Dika, Arhand diam-diam menempelkan alat penyadap di ponsel Dokter Maya, karena dia sekilas melihat pesan saat dia menemui Dokter Maya di ruagannya. "Ternyata dugaan ku benar, dokter ini tau keberadaan Maira. Aku akan mengikutinya saja," ujar Arhand marah.
FlashOn.
Mobil Arhand melaju mengikuti mobil Dokter Maya, namun masih menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Dokter Maya.
Dokter Maya yang tidak mengetahui dirinya di ikuti oleh Arhand, memaju mobilnya ke rumah Qesya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Drttt.
Dokter Maya menekan headset di telinganya, menjawab panggilan telpon.
"Berhentilah, seseorang mengikutimu dari belakang. Dan tinggalkan ponselmu, karena ada sebuah alat penyadap dan alat pelacak yang diberikan olehnya di sana," ujar seorang di seberang telpon.
"Baiklah," ujar Dokter Maya, mengerti memberhentikan mobilnya.
Arhand ikut berhenti tak jauh dari mobil Dokter Maya. "Kenapa mobilnya malah berhenti?, Apa mobilnya mogok? atau dia menyadari kalau aku ngikutin dia?, arrhhgg ..." ujarnya memukul setir mobilnya.
Seseorang dibalik terlpon terdengar memberikan arahan. "Kamu turun perlahan, dibalik pohon besar itu ada sebuah pintu, masuklah dan sisirlah lorong di sana, nanti jalan itu akan menuntungmu sampai ke tujuanmu," ujarnya.
"Baiklah," sahut Dokter Maya, melihat kebelakang, agar saat ia keluar Arhand tidak mengetahuinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu, semudah itu purgoso menemukan istrimu. Kau akan bertemu dengannya jika dia sudah ingin jika tidak, ku pastikan kau tidak akan pernah menemukannya," ujar seseorang memandangi layar komputernya, di mana ada wajah kesal Arhand.
...#continue .......
__ADS_1
...Hai, Readers jangan lupa tinggalkan jejeknya. Dukungan kalian adalah semangat buat Author....
...See you the next episode....