Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 20 Arhand Vs Azlan.


__ADS_3

"📩Gimana kalau kita setelah sarapan kita jalan-jalan?. Itu kalau kamu sedang tidak sibuk kalau sibuk lain kali aja," isi pesannya.


"Pesan dari siapa?" tanya Arhand datar menatap istrinya yang sedang membaca pesan.


Maira yang membaca pesan mengangkat kepalanya, dengan kening mengkerut. "Hu?"


Reaksi Maira yang kebingunan terlihat jelas tercetak di wajah cantiknya, bagaimana tidak kaget bingung, pasalnya ini juga kali pertamanya setelah sekian lama menikah suaminya itu menanyakan apa yang di lakukannya.


"Pesan dari siapa?" ujar Arhand mengulang pertanyaannya.


Maira tersadar karena suara suaminya yang sudah mulai tak bersahabat. "Oh, ini pesan dari Qesya, perempuan yang tadi di luar," jawab Maira jujur.


"Hum," dehem Arhand cuek dan kembali melanjutkan makannya.


"Mas ..." panggil Maira.


"Makan," ujar Arhand tak ingin mendengar apapun.


"I-iya," ujar Maira nurut.


"Khumaira, kok gak balas pesan aku sih. Apa dia tidak mau ya?. Sudahlah lagian dia pasti ingin bermesraan dengan suaminya," celetuk Qesya pelang dengan nada sedikit kecewa padahal dia sangat ingin bersenang-senang bersamanya.


"Woii ..." panggil Anis keras karena melihat sahabatnya ngomong sendirian dari tadi.


"Aduh, Anis biasaan deh, kagetin orang," kesal Qesya.


"Lagian kamu ngapain ngomong sendiri saja, seperti orang gila saja," celetuk Anis.


"Tapi tidak usah pakek ngangetin orang."


"Iya, iya, aku minta maaf."


"Tak semudah itu," ujar Qesya tersenyum aneh.


"Heem, perasaanku tiba-tiba tidak enak," ujar Anis yang sudah sangat hafal sifat sahabatnya yang satu ini.


"Ya sudah, kalau gak mau di maafin ... aku juga gak maksa."


"Ya sudah, katakan apa yang kau inginkan?" tanya Anis pasrah.


"Sarapan ini, kamu yang traktir," ujar Qesya langsung.


"Sudah ku duga."


"Mau gak?"


"Iya, iya, aku akan traktir," balas Anis mengalah.


"Gitu donk," ujar Qesya puas.


Qesya kembali makan dengan tersenyum puas, karena berhasil mengerjain sahabatnya.


"Oiya, setelah ini kamu pulang sendiri ke Villa tidak apa-apakan?" ujar Anis sembari memakan sarapannya.


Qesya menatap sahabatnya. "Memang kamu mau kemana?" tanyanya lalu kembali menyuapi mulutnya makanan.


"Biasa ... ketemu ayang beb," ujar Anis dengan gaya centil.


Qesya memutar bola mata malas. "Ayang beb, Ayang Beb, kamu kira pacar kamu itu chicken," ujar Qesya ketus, bosan mendengar panggilan sahabatnya itu pada pacarnya.


"Itu Ayam, ini Ayang Qes ... yang artinya Sayang, di singkat jadi Ayang," jelas Anis.


"Singkatan seperti apa itu hurufnya hanya di hilangkan satu."


"Serah luh, capek aku ngejelasinnya seperti itu. Dan lagi pula kamu jangan lupa kalau tadi kamu juga menggunakan kalimat itu memanggil itu cowok," ujar Anis saat ngingatin kalimat Qesya yang dia gunakan saat memanggil Azlan.


"Emang iya?" tanya Qesya polos, pura-pura lupa.


"Gak usah sok gak ingat," ujar Anis jengah melihat wajah polos sahabatnya yang selalu dia gunakan saat bersalah, namun pura-pura tidak bersalah.


Qesya hanya mengedikkan bahunya cuek, dan memakan sarapannya dengan damai.

__ADS_1


......................


"Tuan ..." panggil Bima.


"Huem," sahut Azlan melirik Asistennya sekilas lalu kembali memakan makanannya.


"Sepertinya wanita tadi suka sama Tuan deh."


Azlan menatap asistennya. "Siapa?" tanya Azlan dengan cepat.


"Itu loh, Tuan yang manggil Tuan Ayang Ganteng."


Mendengar jawaban asistennya, seketika wajah Azlan kembali datar. "Aku kira Maira," gumamnya sangat lirih.


"Tuan mengatakan sesuatu?"


"Tidak. Makan makananmu atau gajimu kembali aku potong," ujar Azlan datar.


"Tuan, kebiasaan deh," kesal Bima.


Azlan tak menanggapi dan terus memakan makanannya.


"Tapi ya, Tuan, kalau di pikir-pikir wanita itu tidak buruk juga, dia cantik natural. Bukankah dia salah satu kriteria Tuan," ujar Bima mengingat kembali wajah cantik Qesya yang terlihat sangat natural.


"30%," ujar Azlan santai tanpa beban, namun benda dengan Bima yang terlihat sok, terkejut.


"Tu-" ujarnya ingin protes namun ia segera mengunci mulutnya saat mendengar kalimat Tuannya yang ingin kembali menaikkan potongan gajinya.


"Tiga Li-"


"Iya Tuan, aku diam. Tapi tolong jangan potong lagi," ujarnya cepat menyerga ucapan Azlan.


......................


"Kamu boleh pergi," ujar Arhand dengan datar.


Maira tersenyum senang mendapat izin suaminya untuk peegi bersama Qesya. "Terima kasih, Mas," ujar Maira senang.


"Aku akan mengatakannya pada Qesya dulu," ujar Maira lagi dengan senang, namun Arhand terlihat tersenyum smirk seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu.


"Sangat bagus. Baiklah kita ketemu di depan restoran," balas Qesya.


"📤Tapi aku belum selesai sarapan," balas Maira.


"📩Tidak masalah, aku juga belum selesai."


"📤Kalau kamu sudah di luar telpon aku," balas Maira lagi.


" 🆗️," balas Qesya dengan stiker 'Ok'.


Maira kembali makan dengan tersenyum terus, ia sangat senang karena akhirnya ia bisa mendapatkan teman dan jalan bersama. Sudah sangat lama ia tak jalan-jalan bersama seorang teman.


......................


"Tidak mau Ibu Guru, sakit," ujar Rian bersembunyi di bawah kolom meja.


"Ini tidak sakit kok, sayang. Ayo keluar sayang," bujuk Ibu Gurunya.


Rian tetap mengelengkan kepalanha. "Tidak mau Ibu Guru, nanti doktelnya mencabut gigi Lian, dan Lian jadi aki-aki Ua. No, Lian gak mau," ujar mengelengkan kepalanya saat membayangkan dirinya tidak punya gigi seperti kakek-kakek tua.


"Tidak kok, Lian tidak akan jadi kakek-kakek tua, kan dokternya hanya memeriksa giginya Rian," ujar Ibu Gurunya tetap sabar membujuk Rian supaya keluar dari kolom meja.


"Tidak mau Ibu Guru, Lian takut," ujar tetap mengelengkan kepalanya.


"Hahahah, Lian penakut, Lian penakut, Lian penakut," sorak teman-teman kelasnya.


"Dasar penakut," ujar seorang anak perempuan dengan nada datar.


Rian menatap kesal anak perempuan itu. "Heii ... Lian tidak takut hanya tidak mau jadi aki-aki Ua, nanti keamapana Lian hilang, agaimana?" ujarnya dengan sangat percaya diri.


"Kamu memang tidak tampan," ujar anak perempuan itu lagi datar.

__ADS_1


"Aku ampan, yah," ujar Rian marah, kesal.


"Sudah anak-anak jangan bertengkar," ujar Ibu Gurunya menjadi penegah dia antara siswanya.


"Pipit itu Bu. Dasal cewek galak," ujar Rian kesal menatap marah Pipit.


"Penakut, dan jelek," savage anak perempuan yang di panggil Pipit.


"Stop! ( mengangkat tangannya). Aku mau periksa dokter. Lian ampan dan tidak penakut," uiarnya dengan tegas dan berani. Ia menatap Pipit dengan penuh permusuhan.


Ibu Gurunya tersenyum senang. "Bagus. Ayo sayang," ujarnya Ibu Gurunya lalu membawa Rian ke ruang UKS.


......................


"Mueem, Mas," ujar Maira saat tiba-tiba Arhand mencium bibirnya didepan semua orang.


"Astaga kalian mengotori mataku," ujar Qesya cukup keras lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Ah," d***h Maira saat Arhand memberikan stempel di leher jenjangnya uang merupakan salah satu titik sensitive nya.


"Pergilah. Tapi ingat jangan tutupi lehermu," ujar Arhand santai setelah memberikan stempel sebanyak tiga di leher jenjang istrinya.


Maira menunduk malu, dan segera menarik tangan Qesya pergi dari sana.


"Hahahaha ..." tawa Qesya pecah melihat tanda suami Maira yang terlihat jelas.


"Qes, berhenti menertawakan aku," ujar Maira malu.


"Coba, aku liat," ujar Qesya memeriksa leher temannya.


"Woah ... karya suamimu lumayang bagus," ujarnya menggoda Maira.


"Sudah ah," ujarnya menutupi lehernya dan memalingkan wajahnya yang memerah merona karena malu di goda terus menerus oleh Qesya.


"Ets. Jangan di tutup kamu ingatkan ucapan suami posesif mu itu," ujar Qesya mengingatkan ucapan suami temannya.


"Pergilah. Dan jangan menutupi lehermu itu," ujar Qesya mencontohkan cara bicara Arhand.


"Sudah ah, aku mau pulang saja kalau seperti ini," ujarnya ngambek karena malu terus menerus di goda.


"Ett, jangan ngambek dulu donk. Kataknya kalau orang suka ngambek nanti cepat tua."


"Gak peduli."


Mereka bercanda dan tertawa bersama seperti sahabat yang sudah sangat lama, padahal hubungan pertemanan mereka baru saja mereka jalani.


......................


"Aku harap Anda melihat semuanya, Tuan Dirga," ujar Arhand dingin menatap tajam Azlan.


Azlan membalas tatapan tajam Arhand, ia sama sekali tak gentar atau merasa takut sama sekali dengan tatapan tajam Arhand.


"Iya, aku liat semuanya Tuan Blanco. Tapi aku bingung kenapa Anda melakukan hal itu di depan semua orang, bukankah itu terlalu memalukan?" balas Azlan tenang, dan datar.


"Itu memalukan jika di lakukan oleh orang yang bukan suami istri. Dan mungkin lebih memalukan menatap istri orang dengan tatapan berbeda di depan suami sahnya," ujar Arhand lagi dengan dingin.


"Aku fikir itu tidaklah salah, karena mencintai dan di cintai adalah hak penuh setiap orang," balas Azlan tak kalah dingin.


"Itu memang benar. Tapi aku harus mengatakan hal ini, mencintai milik orang itu mungkin akan membuat orang itu terbakar oleh cintanya sendiri. Apa Anda baik-baik saja?, Ku harap Anda tidak terbakar oleh cinta Anda sendiri. Permisi," ujar Arhand lalu pergi dari sana.


Sementara Azlan mengatur emosi dan perasaannya yang sempat tadi menjadi kacau.


"Tuan," panggil Bima, namun Azlan tak menjawab dan malah berjalan keluar dari restoran.


...#continue ......


...Readers jangan lupa :...


...Vote....


...Like....

__ADS_1


...Comments....


...Favorite. ...


__ADS_2