Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 27 Kedatangannya.


__ADS_3

Drttt.


"Tunggu sebentar," ujar Maira pada Rara sembari merongo tasnya.


Maira melihat layar nama suaminya tertera di layar ponselnya. "Mas Arhand?" ujarnya.


Dengan segera Maira mengangkat telponnya. "Iya, hallo Mas," ujar Maira.


" ...."


"Iya, Mas," ujar Maira lalu menutup telponnya.


"Qesya aku masuk dulu ya. Nanti kita ketemu lagi," ujar Maira memasukkan kembali ponselnya.


Qesya tersenyum. "Ok . Bay," ujar Qesya.


"Bay," ujar Maira


Dengan perlahan membuka pintu ruangan suaminya.


Ceklek.


Maira masuk dan langsung di sambut dengan dagu di topang di atas meja, ekspresi wajah datar, dan tatapan tajam, yang langsung menusuk ulu hati. Maira dengan hati-hati menutup pintu ruangan, ia berjalan perlahan mendekati suaminya, jari-jemarinya ia remas karena rasa gugup di hatinya.


Suara pintu terkunci membuat Maira semakin gugup, Arhand yang sedari tadi duduk berdiri berjalan kearah Maira tanpa mengubah raut wajah datar dan tatapan tajamnya.


"Ya Allah, apa Mas Arhand akan marah karena membuatnya kesal. Ya Allah kau tau permohanan ku, ku mohon lapangkan dadanya, hilangkan rasa marah menjadi manis," doanya dalam hatinya.


Baru juga selesai memohon pada sang penguasa hati manusia, orang yang ada di dalam doanya sudah berdiri tepat di hadapannya dengan wajah datar dan tatapan tajam.


Maira semakin gugup di buatnya. "Ma-mas. Ma-maaf membuat ka-kamu me-menunggu ta-tadi ak-" ucapnya terpotong karena Arhand langsung mengangkat dagu Maira membuat Maira mendongakkan kepalanya, menatap mata Arhand.


"Mas?" ujarnya kaget.


Arhand tak menghiraukan kekagetan istrinya, yang ada hanya sebuah senyuman smirk. "Baguslah kamu menyadari kesalahanmu, dan kamu tau? ( mengangkat dagu Maira lebih tinggi ), jika orang membuat kesalahan maka harus di hukum, iya kan?" tanyanya dengan datar.


Karena takut Maira dengan cepat mengangukkan kepalanya, hatinya semakin berdebar, pikirannya kalut takut akan hukuman apa yang di berikan padanya. Sedangkan Arhand terlihat menikmati wajah ketakutan istrinya, senyum smirks di bibirnya membuat Maira semakin ketakutan di tambah tatapan tajam suaminya.


"Ma-Mas ak- ( ujarnya terputus saat Arhand langsung mencium bibir yang selalu membuatnya candu ), ueem ...."


"Balas ciumannya," ujarnya Arhand di sela permainannya.


"Hu?" tanya Maira


"Ah ...." d***hnya saat Arhand mengigit bibir bawahnya, membuatnya mau tak mau membuka mulutnya, dan tanpa lama Arhand dengan cepat mengobrak-abrik isi mulut istrinya.


......................


"Mau kemana?" tanya Aditya dingin menatap Qesya.

__ADS_1


"Masuk, Tuan. Kenapa?" ujar Qesya dengan polos.


"Di belakang?" tanya Aditya lagi.


Qesya mengangukkan kepalanya. "Iya, Tuan," sahutnya.


"Kamu kira aku supirmu?, Duduk di depan!," ujar Aditya tegas.


"Tap-" ucap Qesya namun langsung di serga oleh Aditya.


"Masuk!, Jangan membuatku mengulang perkataanku," ujar Aditya dengan sangat tegas.


Mau tak mau Qesya masuk, dengan wajah yang di tekuk mulut tak henti-hentinya berkomat kamit, Aditya yand melihat hal itu tak menghiraukannya dan langsung menjalankan mobilnya.


......................


"Silahkan, Nona," ujar Bima membuka pintu mobil untuk Clarisa.


Clarisa keluar dari mobil. "Terima kasih, Bim," ujarnya.


Bima menganguk dan tersenyum. "Sama-sama, Nona."


Mereka berjalan masuk kedalam restoran tempat mereka akan melakukan meeting.


"Bim," panggil Clarisa.


Bima dengan cepat mendekat tapi tetap berjalan di belakang Clarisa. "Iya, Nona, ada apa?" tanyanya sopan.


"Belum, Nona, karena kita datang lebih lima menit lebih cepat," sahut Bima.


"Baguslah jika seperti itu," ujar Clarisa lega, karena ia sangat tidak menyukai jika seseorang menunggu dirinya, menurutnya ia lebih ingin menunggu sebentar orang dari pada ia yang harus di tunggu.


"Iya, Nona," sahut Bima lagi.


......................


"Ah, ah, yah lebih cepat," racau Arhand mencekal pinggiran sofa dengan menekan kepala istrinya yang bermain di bawah sana.


"Arrhh ..." lenguh Arhand saat berhasil mencapai *******, Maira manggap mulutnya terasa kaku karena durasi milik suaminya yang panjang dan besar.


Arhand membantu Maira berdiri. "Capek?" tanya Arhand menghapus peluh di dahi istrinya.


Maira mengangukkan kepalanya. Walau mereka tak melakukan hal Itu secara full permainan, tapi tenaga dan cara bermain Arhand tak bisa di ragukan, sangat liar. Apa lagi membuat sosis berurat itu tertidur tidak lah mudah.


"Makanya cepat usir dia," ujar Arhand.


Maira mengerutkan keningnya. "Siapa yang di usir?" tanya Maira tak mengerti.


"Pasangannya," ujar Arhand dengan mengarahkan tangan Maira ke miliknya. Seketika Maira terkejut, pipihnya seketika memerah. "Ma-Mas," ujarnya gugup, dengan pipinya yang merah merona.

__ADS_1


Arhand yang gemes mencium pipi Miara yang membuat pipi itu semakin memerah.


Cup.


Lihat pipi istrinya yang semakin memerah membuat Arhand ingin sekali menerkam istrinya itu sekarang juga tapi masih terhalang dengan tamu tak di undang.


Cup.


Arhand hanya memberikan kec*pan hangat di atas keningnya, membuat h atti Maira membeku seketika. Setelah melakukan hal itu Arhand masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri, karena sebentar lagi dia ada pertemuan.


Maira memegangi keningnya. "Ya Allah apa ini?, Di-Dia ba-baru saja mengecup hangat kening ku?, Alhamdulillah Ya Allah," ujarnya dengan sangat bahagia.


......................


"Apa kita sudah sampai?" tanya Qesya menatap bangunan mewah di depannya, Retoran Berbintang.


"Belum," ujar Aditya datar lalu ia keluar dari mobil.


"Oh," sahut Qesya santai melihat Aditya yang sudah keluar.


"Kenapa masih di dalam?" tanya Aditya saat melihat Qesya tak bergemin dari dalam mobil.


"Kan kata, Tuan, kita belum sampai," ujar Qesya santai dan menyandarkan kepalanya kebelakang kursi.


"Keluar!" ujar Aditya dengan sangat tegas.


"Iya, iya, iya. Bawel banget sih," ujar Qesya kesal.


Qesya keluar namun mendapat tatapan horor dari Aditya.


"Di mana berkasnya?" tanya Aditya dengan dingin, dan tegas.


Qesya melihat ke tangannya, dan tak ada satupun map di tangannya membuat Qesya jadi cengesan. "Heheh, di dalam," ujarnya menunjuk kedalam mobil, dan segera masuk kembali mengambil berkas.


"Sudah?" tanya Aditya datar.


Qesya menganggukan kepalanya malu. "Iya."


"Ayo," ujar Aditya tanpa memperhatikan wajah malu Qesya, namun Aditya hanya langsung masuk kedalam hangat hyung. .


...#continue .......


...Haii, Readers jangan lupa :...


...Vote. ...


...Like. ...


...Comments....

__ADS_1


...Favorite kan....


__ADS_2