
Doar ...
Doar ...
Pintu dikedor sangat kasar dari luar, membuat Qesya yang baru saja selesai bersiap menghembuskan napas kasar, ia begitu marah tapi ia harus menahannya sampai semua rencananya terhadap manusia berwujud iblis itu tercapai. Dengan sedikit mengangkat gaunnya iya berjalan ke arah pintu, membuka pintu sebelum di jebol oleh suami kasarnya.
Ceklek.
Qesya membuka pintu dengan kasar. "Apa tidak bisa mengetuk pintu dengan baik, tidak perlu mengedor seperti itu?" kesal Qesya, tapi Azlan seakan tak mendengarkan matanya hanya menatap wajah cantik Qesya, yang terlihat memukau.
Kedua tangan Qesya mengepal saat menyadari Azlan menatap dirinya tanpa berkedip sama sekali. Qesya sangat membenci tatapan mata suaminya, seakan akan dia ingin mencongkel kedua matanya itu saking bencinya saat di tatap oleh suaminya.
Setelah berhasil meredakan amarahnya Qesya melambaikan tangannya kedepan wajah pria yang sangat ia benci. "Hello ... Boleh kita turun?" tanya Qesya yang membuat Azlan tersadar.
Azlan memejamkan matanya sebentar setelah itu menatap dingin Qesya. "Apa kau sengaja membuatku marah?, kenapa lama sekali membuka pintu?!!" tanda Azlan dingin.
Tidak terima dengan ucapan Azlan yang menyalahkan dirinya, Qesya langsung menahan dan menjawab. "Heii ... Maaf Tuan Azlan Dirga dari meja rias ke pintu ini kita harus berjalan dan itu membutuhkan waktu, dan lagi pula karena gaun ini aku berjalan dengan lambat," telak Qesya, dan Qesya kembali berbicara saat melihat Azlan kembali ingin menyalahkannya atas pakaiannya.
"... Anda juga jangan lupa jika gaun ini anda yang membelikannya sendiri dan memintaku mengenakannya, jadi so jangan pernah menyalahkan diriku," lanjut Qesya, setelah itu langsung meninggalkan Azlan yang berdiri di depan pintu.
Setelah sadar dirinya di tinggalkan Azlan menyusul Qesya yang sudah turun ke tangga. Langkah Azlan sangatlah lebar dan cepat hingga mempu menyamai langkah Qesya.
Azlan mengambil tangan Qesya, mengandenganya. Qesya ingin melepaskan tangannya tapi tatapan maut Azlan membuatnya mengurungkan niatnya. "Jangan kau berfikir bisa menggoda dan salin memberi kode, ingatlah dia akan menjadi suami dari Kakakku itu artinya dia akan menjadi Kakak iparmu, jadi jangan berani ingin menggodanya jika tidak aku akan membunuh kalian berdua," ancam Azlan menekang ucapannya tapi dengan suara yang kecil agar tak di dengar oleh semua orang.
"Itu mereka sudah turun," seru Tuan Dirga.
Ny. Nadia mendekati mereka. "Kau sangat cantik sayang," ujarnya dengan menyentuh lembut pipi Qesya.
Qesya tersenyum menanggapi pujian dari ibu mertuanya. "Terima kasih Ma."
"Ayo sayang kamu sambut mereka masuk, katanya mereka sudah sampai di depan," ujar Ny. Nadia lembut.
Sebelum mengangukkan kepalanya Qesya terlihat menarik napas panjang setelah itu dengan perlahan menghembuskannya. perlahan mendekati pintu bersama Azlan, menyambut keluarga calon kakak iparnya yang dulunya hampir menjadi keluarganya.
Azlan mencengkeram lengan Qesya karena terus menatap Aditya, tanpa berkedip sama sekali. "Auuh ..." rintih Qesya.
Dengan tatapan horor Azlan menatap Qesya, tapi dengan senyum tipis di bibirnya. "Jaga pandanganmu, jika tidak mau matamu ku c*ngkel," ancam Azlan, membuat Qesya menekan silvanya.
Segera Qesya memperbaiki ekspresinya menyambut keluarga Blanco. "Selamat datang, Tuan dan Ny. Blanco. Silahkan masuk," ujar Qesya ramah, namun wajah Ny. Arsy terlihat tidak sangat masam.
"Terima kasih Ny. Dirga, aku sangat bersyukur putraku sangat mudah melupakan sesorang yang menghianatinya. Ya memang sih pantas seorang penghianat di lupakan dengan mudah," nyinyir Ny. Arsy.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Qesya hanya tersenyum kecut, sedangkan Tuan Blanco segera menghentikan istrinya. "Ma ..." ujar Tuan Blanco agar istrinya menghentikan ucapannya.
Qesya sekuat tenaga menahan air mata di dadanya . "Silahkan masuk," ujar Qesya kembali mempersilahkan semuanya untuk masuk.
Selepas semua orang masuk, Qesya menyeka air matanya yang jauh tanpa di minta, hatinya sangat sakit mendengar wanita yang sangat lembut dan sudah ia anggap sebagi ibunya dulu, kita sangat membencinya.
Kesedihannya di liat oleh Maira yang membuat Maira tambah merasa bersalah, dan ikut sedih. Ini semua karena dirinya hingga sahabatnya yang sangat baik padanya, hari di hina oleh mertuanya sendiri, sementara dirinya tak mampu berbuat apa-apa.
Azlan dengan kasar menarik paksa Qesya berjalan masuk kembali ke ruang keluarga. "Sekarang kau liat kan betapa dengan sangat mudahnya mantan calon suamimu itu melupakan dirimu. Itu tandanya dia tidak mencintaimu dengan tulus," ujar Azlan tanpa dosa, terlihat wajahnya sangat bahagia. Dia benar- benar berbahagia di atas penderitaan istrinya.
Semua orang duduk di sofa besar di mana Tuan dan Ny. Dirga berhadapan dengan Tuan dan Ny. Blanco sedangkan Arhand dan Maira salin berhadapan dengan Azlan dan Qesya. dan Aditya berberhadapan dengan Clarisa.
Mata Maira tak hentinya menatap nanar sahabatnya yang terlihat tidak bahagia dan sedih, matanya begitu sembab. Maira sangat mengerti mengapa mata sahabatnya sampai sembab seperti itu. "Dia pasti menagis semalaman. Qes maaf ..." ujar Maira hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
Sementara semua orang berbicara, wajah Azlan terlihat begitu menyeramkan, tangannya terkepal kuat urat jarinya terlihat sangat jelas, dengan rahan yang mengeras menatap tajam Aditya yang tak berkedip menatap Qesya yang sedang menuangkan minuman ke dalam cangkir, terlihat jelas Aditya terpesona dengan kecantikan Qesya yang terlihat sangat waoh, dengan balutan gaun hitam membalut tubuh rampingnya, bak putri disney, sangat menawan.
Yang tambah membuat Azlan mengeram emosi, kala Qesya mencuri curi pandang dan tersenyum malu saat mendapati tatapan terpesona dari Aditya padanya.
Putri Maira yang melihat kejadian itu tersenyum dan bertepuk tangan. "Uncle look Aunty. Love," ocehnya dengan senang, Maira seketika menatap semua orang, dan suasanyapun berubah sedikit tegang. Semua orang menatap kearah Aditya yang menampilkan raut wajah datar.
"Maaf semuanya, putriku memang suka berbicara. Dia bilang kalau putriku sangat mencintai Uncle dan Aunty, iyakan sayang?" jelas Maira, namun langsung di bantah oleh putrinya
Suhu ruagan semakin tak biasa, suasana sangat canggung terutama wajah Clarisa sudah berubah menjadi terlihat sendu, kedua orang tua Clarisa pun terlihat menatap Tuan Blanco mengisyaratkan penjelasan.
Mendapati suasana yang semakin canggung Qesya dengan cepat mengendong Amira. "Ha, baiklah princess, sini sama Aunty," ujar Qesya.
"You love, Aunty?" tanya Qesya mencium Pipi bulat keponakannya.
"Yes," sahut Amira dengan senyum.
"Kalau gitu Aunty juga Love you more," ujar Qesya setelah itu menyelitik dada Amira dengan dagunya, membuat ruagan di penuhi tawa putri dari Maira.
"Hahahaha ... Aunty eli," celetuknya, menahan dagu Qesya.
"Geli?" tanya Qesya menghentikan gelitikan, yang di anggukki oleh Amira, setelah mendapat jawaban Qesya kembali dengan mengelitik keponakannya.
Melihat interaksi keduanya Ny. Nadia menimpali. "Dia sangat menyukaimu, sayang," ujarnya.
"Iya karena dia adalah keponakan tersayangku," ujar Qesya masih terus menggelitik Amira.
Pernyataan Qesya membuat Ny. Nadia kaget. "Hu?"
__ADS_1
"Iya, kami adalah sahabat," ujar Maira cepat.
Qesya menatap Maira dan tersenyum yang di balas senyum oleh Maira.
"Oh, berarti kamu kenal dong keluarga Tuan Blanco, sayang," timpal Ny. Nadia lagi.
"Iya, Ma," ujar Qesya tersenyum kikuk.
"Kenapa gak pernah cerita sama Mama, jika begitu kita bisa ngundang sahabat kamu buat belanja bersama kita," ujar Ny. Nadia, yaang di di jawab kekehan saja dari Qesya.
"Hehehe ...."
"Heum!!" dehem Azlan dengan keras.
"Baby, bisa ambilkan kotak yang ada di dalam kamar, kotak warna coklat," ujar Azlan dengan lembut.
Sejetika pembuluh darah Qesya memompa sangat kencang, karena ucapan lembut dari Azlan yangg terasa seperti racun buatnya.
"Baiklah," sahut Qesya datar, setelah itu ia melangkah mendekati tangga tapi Azlan kembali memanggilnya.
"Baby ..." panggil Azlan yang membuat Qesya pengen merobek mulut iblis itu.
Qesya merendam amarahnya, berbalik menatap orang yang sangat ia benci. "Hu?"
"Bukankah lebih baik bayinya di serahkan dulu ke Mamanya, biar kamunya gak terlalu capek naik tangga," ujarnya lembut, perhatian.
Baru akan menjawab Azlan sudah melototinya. "Gak ap-" ujarnya terputus.
Qesya terpaksa berjalan kembali, mendekati Maira menyerahkan Asmira ke Mamanya. "Sayang, kamu ke Mama dulu yah, Aunty mau naik keatas dulu," ujarnya, setelah itu naik keatas kamar.
Tak lama Qesya naik keatas Azlan izin naik keatas untuk melihat istrinya. "Maaf saya permisi dulu, Arhand, nikmati kopinya. Aku akan melihat istri saya sebentar, mungkin dia tidak menemukan kotaknya," ujarnya, setelah itu Azlan menyusul Qesya ke kamar.
Brack ....
Suara pintu yang di tutup dengan kasar membu at Qesya kaget. Qesya berjalan mundur saat Azlan berjalan mendekatinya dengan raut wajah dinginnya. Kaki Qesya tiba-tiba gemetar saat Azlan merengangkan otot lehernya, dan melonggarkan dasinya.
...#continue .......
...Selamat membaca, semoga suka Readers, see you the next episode....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1