Suamiku Bukan Untukku

Suamiku Bukan Untukku
Bab 53 Kunjugan Arhand ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Ruangan Dokter Maya, di mana?" tanya Arhand pada suster yang kebetulan lewat di dekatnya.


"Silahkan, Tuan belok kiri di depan sana," tunjuk Suster itu, memberitahukan ruagan salah satu dokter kandungan terbaik di rumah sakit itu.


Suster mengelengkan kepalanya melihat sikap Arhand yang tidak sopan, langsung menyelonong pergi tanpa berkata makasih, atau apapun itu, setelah mendapat sebuah bantuan. "Dasar orang kaya," umpatnya, setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya pergi melakukan tugasnya.


"Maaf, Tuan Anda tidak bisa melakukan hal ini. Tolong lakukan antrian," cegat Asisten Dokter Maya, pada Arhand yang datang-datang ingin menerobos masuk, sedangkan masih banyak pasien yang lain dari tadi menunggu antrian.


Wajah Arhand berubah kesal, sedari tadi di tahan-tahan terus. "Minggir!" sarkas Arhand mendorong Susternya ke samping, kemudian ia langsung masuk kedalam ruagan dokter Maya.


"Baiklah, Bu ini resep obatnya, tolong di minum dengan rutin ya, karena kandungannya sedikit lemah, semoga dengan ini kandungannya bisa jauh lebih kuat," ujar Dokter Maya menyelesaikan pemeriksaannya lebih dulu, mengabaikan kedatangan Arhand.


"Iya, Dokter. Terima kasih," ujar sepasang suami istri.


"Sama-sama," ujar Dokter Maya lembut, dan ramah.


"Maaf, Dokter Tuan ini memaksa masuk," ujar Suster pada Dokter Maya.


"Tidak, apa Sus. Lanjutkan saja pekerjaanmu," ujar Dokter Maya.


Suster keluar, begitupun dengan sepasang suami istri itu pun ikut keluar dari ruangan dokter Maya, meninggalkan Dokter Maya dan Arhand.


Dokter Maya mendongakkan wajahnya, menatap Arhand yang berwajah kesal. "Maaf, Anda siapa?, dan kenapa Anda membuat keributan dengan memaksa masuk. Tolong keluar dan lakukan antrian," ujar Dokter Maya penuh ketegasan, meminta Arhand keluar melakukan antrian.


Bagai anggin lewat, Arhand hanya menghiraukan ucapan Dokter Maya. "Aku ingin menanyakan soal istriku. Apa dokter yang menangani istriku?" tanyanya.


Dotkter Maya menatap kesal Arhand. "Maaf, Tuan tapi aku tidak kenal siapa Anda, dan istri Anda. Jadi tolong keluarlah, jangan membuat keributan," tegas Dokter Maya, kembali meminta Arhand keluar dan mengantri jika ingin berkonsultasi


Trin📩.


"Jika ada seseorang menayakan tentang Khumaira, jawab saja jika Khumaira belum datang pemeriksaan dua bulan lalu, mungkin dia sudah menganti dokter kandungan baru, yah May," isi pesan di ponsel Dokter Maya.


"Apa dia suami Khumaira?" balas Dokter Maya, dengan ekor matanya melirik Arhand.


Arhand yang merasa di abaikan mengepalkan kedua tangannya, wajahnya tambah memerah menahan kekesalnya. "Apa kau mendengarkanku?!" sarkasnya, tapi Dokter Maya tak mengubrisnya, ia membaca pesannya lagi.


"Iya. Dan dia juga pria brengsek yang aku ceritakan waktu itu, dan diia juga tidak pernah mengingingkan anaknya. Jadi tolong bantu kami," isi pesannya lagi, di mana membuat Dokter Maya melirik sinis Arhand.


"Ok," balas Dokter Maya.


"Pak, tolong keruanganku sekarang, seseorang datang menganggu pemeriksaan pasien," ujar Dokter Maya menelpon keamanan, membuat Arhand menatap kesal.


"Baik, Dok," sahut orang keamanan, setelah itu telponnya pun terputus. Tak lama setelahnya datang dua orang keamanan, menarik paksa Arhand kaluar dari ruangan Dokter Maya.


Arhand memberontak. "Ada apa ini?, lepaskan aku!!, kamu tidak tau siapa aku," ujarnya dengan kesal. Akan tapi kedua tangannya kembali di cekal oleh keamanan.


"Maaf, tapi anda harus keluar, karena Anda sudah menganggu jadwal pemeriksaan Dokter Maya. Mohon kerja samanya, mari Tuan," ujar salah satu dari mereka dengan sopan. Membawah Arhand keluar dari ruangan dokter Maya, agar pemeriksaannya bisa berlanjut dengan baik.

__ADS_1


Arhand di seret paksa keluar dari ruagan Dokter Maya, dan tanpa sengaja di lihat oleh kepala rumah sakit. "Itu bukannya, Tuan Muda Blanco?, oh astaga benaran dia Tuan Arhand," gumannya, setelah itu mendekat ke arah Arhand yang di seret paksa oleh keamanan rumah sakit.


"Lepaskan dia," ujar kepala rumah sakit pada keamanan rumah sakit.


Mereka semua berbalik menatap dokter itu. "Apa yang kalian lakukan?, cepat lepaskan," ujar kepala rumah sakit.


Mereka tak melepaskan Arhand. "Maaf, Dok. Tapi orang ini sudah menganggu Pemeriksaan Dokter Maya," ujar salah satu keamanan yang di anggukki oleh temannya.


Kepala keamanan menatap mereka yang masih belum melepaskan tangan Arhand. "Apa kalian tau siapa yang kalian seret?" tanya kepalarumah sakit, yang di jawab gelengan kedua petugas keamanan.


"Kalau seperti itu cepat lepaskan karena kalian sedang menyeret anak dari pemilik rumah sakit ini," ujar kepala rumah sakit, membuat para keamanan ketar ketir, karena sikap mereka.


Dengan segera mereka melepas Arhand, dan segera meminta maaf. "Maaf, Tuan kami tidak tau. Kami hanya menjalankan tugas kami," ujar mereka ketakutan pada Arhand, apa lagi Arhand menatap tajam mereka.


Melihat Arhand yang marah, dengan cepat kepala rumah sakit menyuruh keamanan pergi. "Ya, sudah kalian pergilah dan kembali lakukan tugas, biar ini menjadi urusanku," ujarnya.


"Baik, Dok. Kami permisi lebih dulu," ujar keamanan, kepala hanya berdehem, setelah itu dengan cepat mereka meleset pergi meninggalkan tempat.


"Ada apa?, sampai kau datang kemari, Ar.?" tanya Dokter layaknya seorang teman yang bertanya ke temannya.


Arhand tak menjawab pertanyaan dari kepala rumah sakit, mala meminta agar memanggil Dokter Maya mengahadap padanya. "Suruh dokter kandungan di ruagan sana ( tunjuk keruagan Dokter Maya ), ke ruanganmu. Aku tunggu. Cepat," ujar Arhand dingin tak ingin di bantah, kemudian dia berjalan masuk kedalam lifh.


Kepala rumah sakit menatap punggung Arhand yang menghilang di balik pintu. "Ada apa yah?, tak biasanya Arhand bersikap seperti itu? ( kebingunan dengan sikap Arhand ). Ya sudahlah nanti aku tanyakan hal itu padanya, tapi sebelum dia kesal lebih baik aku lakukan yang dia minta," celetuknya, berjalan kearah ruagan dokter Maya.


"Selamat siang Dok," sapa Asisten Dokter Maya, pada kepala rumah sakit.


"Iya, Dok. Silahkan masuk," ujar Suster membukakan pintu ruagan.


"Terima kasih, Sus," ujar kepala rumah sakit dengan sangat ramah.


"Permisi, Dok," ujar kepala rumah sakit, saat sudah masuk kedalam.


Dokter Maya yang fokus dalam melakukan pekerjaannya, menunggu paseinnya, sedikit kaget mendengar suara bariton Kepala Rumah Sakit. "Eh, Dokter Dika, silahkan duduk," ujar Dokter Maya ramah.


Kepala Rumah Sakit atau Dokter Dika, spesialis Beda, duduk di kursi depan meja Dokter Maya. "Terima kasih Dok, maaf menganggu waktu Dokter," ujar Dokter Dika tak enak.


"Tidak masalah Dok ( tersenyum manis ), Tapi maaf ini sebelumnya, Dokter Dika ada keperluan apa ya, datang kemarin. Anda bisa memanggil saya, jika ada sesuatu," ujar Dokter Maya.


"Tidak apa-apa, saya kesini hanya ingin menyampaikan jika kalau anak dari pemilik rumah sakit ini, ingin bertemu dengan Dokter Maya, dan beliau sedang menunggu di ruagan saya," ujar Dokter Dika menyampaikan apa yang di katakan oleh Arhand.


"Apa itu harus sekarang, banget Dok?" tanya Dokter Maya, karena sekarang dia sedang sangat sibuk.


Dokter Dika tersenyum tak enak. "Sepertinya, iya Dok," ujarnya.


"Baiklah kalau gitu, saya segera datang kesana, menemui beliau," ujar Dokter Maya baik.


Dokter Dika tersenyum. "Kalau gitu saya permisi, Dok," ujarnya.

__ADS_1


"Silahkan, Dok," ujar Dokter Maya, membalas senyum Dokter Dika.


Setelah Dokter Dika keluar, Dokter Maya memanggil asistennya. "Sus ...."


"Iya, Dok," ujar Suster, berdiri didepan dokter Maya.


"Pasien masih ada berapa?" tanya Dokter Maya.


"Tinggal 5 orang lagi, Dok," ujar Suster.


"Baiklah. Begini tolong kamu urus dulu sebentar, aku ingin keruangan Dokter Dika," ujar Dokter Maya, membuat Susternya salah paham, lalu menggoda Dokter Maya.


"Cie ...."


"Apaan sih Sus ( tersenyum malu ). Ini saya kesana buat temuain Anak dari pemilik rumah sakit ini, beliau ingin bertemu dengan saya, jadi jangan berfikir yang tidak-tidak," jelas Dokter Maya pada asistennya.


"Oh, saya kira ..." ujar Susternya dengan nada menggoda, Dokter Maya tak menanggapi Asistennya yang selalu meledaknya dan menjadi mak comblang antar dirinya dan Dokter Dika.


......................


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk," ujar pemilik ruagan.


Dokter Maya membuka pintu, setelah mendapat izin dari pemilik ruagan. "Permisi, Dok-" ujarnya terhenti saat melihat sosok Arhand.


"Diakan orang yang sama, yang membuat kerubutan di ruanganku barusan," gumannya menatap Arhand.


"Silahkan duduk dulu, Dokter Maya," ujar Dokter Dika mempersilahkan Dokter Maya duduk lebih dulu. Lamuan Dokter Maya, buyar.


"Terima kasih, Dokter," ujar Dokter Maya duduk dikursi berhadapan dengan Arhand.


Dokter Maya menatap Arhand yang hanya diam menatap datar dirinya. "Apa aku mau di pecat ya, karena sudah melakukan hal itu tadi. Ah bodoh amat, toh dia yang melanggar aturan rumah sakit, menangaggu ketertiban," ujar batin Dokter Maya, takut tapi memilih bodoh amat, pasrah.


"Ku rasa Dokter masih ingat pertanyaanku tadi?" tanya Arhand dingin.


Sedikit terkejut dengan pertanyaan Arhand, yang di luar pemikirannya. "Iya betul, saya memang masih mengingat pertanyaan Bapak, tapi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak karena saya tidak mengetahui nama istri Bapak," ujar Dokter Maya.


"Khumaira Blanco," ujar Arhand dingin, berusaha menekan Dokter Maya dengan Aura dinginnya.


...#continue .......


...Hai, Readers, seperti biasa hanya mengingatkan, jangan lupa meninggalkan jejaknya jika suka....

__ADS_1


...See you the next episode....


__ADS_2