
"Ma, Rian juga mau," ujar Rian menyedorkan piringnya ke Clarisa.
"Tunggu ya sayang, Mama ambilkan Daddy dulu, setelah itu Rian," ujar Clarisa berdiri ingin mengambilkan makanan untuk Aditya.
Clarisa memang meminta putranya memanggil Aditya sebagai Deddy, setelah Aditya menyatakan ingin melamarnya.
Dengan perasaan senang dan bahagia Clarisa mengambil sebuah makanan dan pada saat ingin mengisi piring Aditya tangannya di tahan. "Barikan lebih dulu pada Putramu," ujar Aditya datar, lalu mengambil makanan sendiri.
Clarisa hanya tersenyum kecut melihat sikap Aditya yang sangat datar dan dingin padanya, padahal pernikahan mereka tinggal hitung bulan. Clarisa mengisi piring putranya namun wajahnya terlihat kesal dengan menatap marah putranya, sedangkan Rian hanya mampu menundukkan kepalanya, menghapus air matanya tanpa di sadari oleh semua orang. Sedangkan ibunya yang melihat hal itu cuek dan tak memperdulikan perasaan putranya.
......................
Azlan mengunci pintu kamar mandi, menatap menyalang Qesya, melihat tatapan suaminya Qesya menjadi ketakutan. "A-ap-apa ya-yang in-ingin ka-kamu la-laku-lakukan, ak-aku mi-min-minta maaf, ak-aku mohon... ak-aku ti-tidak ak-akan-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Qesya di buah terperanjat dengan teriakan Azlan yang terdengar sangat menakutkan di telinga. "Tidak akan APA?, Ha?!!!!" teriak Azlan dengan menatap tajam Qesya yang terlihat takut dan terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak wastafel,
Dengan wajah marah Azlan berjalan pelan mendekati Qesya yang sudah terpojok, dan wajah Qesya seketika berubah pucat pasih saat melihat Azlan mengeluarkan sebuah alat, dan alat itu adalah alat peredam suara. Dengan penuh ketakutan Qesya mengelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, sudah di pastikan nasibnya saat Azlan sudah mengeluarkan alat yang selalu menjadi saksi bisu penyiksaan yang di lakukan oleh Azlan padanya di manapun dan kapanpun.
Alat itu di tempelan di pintu kamar mandi, sedangkan Qesya tak henti-hentinya mengelengkan kepalanya namun Azlan hanya tersenyum smirk padanya, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya pasti merinding ketakutan.
Azlan menggulung lengan bajunya menatap Qesya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum menyeramkan bak senyum iblis yang ada di dongeng-dongeng iblis.
__ADS_1
Sementara di meja makan Maira terlihat gelisah, matanya tak henti-henti menatap ke arah dapur. " Kenapa Qesya masih belum kembali?, Ku harap iblis itu tidak menyiksanya lagi. Aku mohon Tuhan, tolong lindungi Qesya dari kekejaman suaminya yang seperti iblis itu," ujarnya berdoa penuh harap.
Maira sangat gelisah dan khawatir, dirinya sangat ingin pergi dan melihat keadaan sahabatnya tapi dia takut jika dia datang ke sana malah membuat Azlan semakin menyiksanya, sedangkan Arhan yang sedari tadi memperhatikan wajah sang istri yang terlihat begitu gelisah dan penuh khawatir, membuat dirinya ikut khawatir pada istrinya. "Sayang, ada apa?, kamu terlihat cemas," tanyanya lembut dengan mengengam tangan Maira.
Maita kembali sadar dari lamunannya, dan melihat semua orang sudah menatap ke arahnya, tak ingin membuat semuanya khawatir dan curiga yang akan berakibat pada Qesya, Maira dengan cepat mengubah raut wajahnya, lalu tersenyum pada semua orang. "Aku tidak apa- apa," ujarnya dengan menarik tangannya dari genggaman Arhand.
Sikap dingin Maira yang selalu di tunjukkan, membuat Arhand hanya mampu tersenyum kecut dan menghembuskan napas dengan kasar. Arhand memandang nanar wajah sang istrinya yang tak pernah menatap ke arah dirinya, sekalipun tak pernah. Bahkan jika tatapan mereka tanpa sengaja bertemu Maira dengan membuang muka kearah lain, lalu pergi meninggalkannya begitu saja
......................
"Auhh ..." rintih Qesya menahan tangan Azlan yang mencengram dagunya.
Dengan penuh emosi Azlan menatap menyalang Qesya yang merintih menahan cengkramannya. "Kuharap ini menjadi hukuman yang mampu membuatmu jerah tapi jika ini belum membuatmu jera, maka buatlah kesalahan lagi karena aku masih memiliki banyak ragam hukuman untukmu," sarkasnya dengan menghempaskan dagu Qesya ke samping, hingga dahi Qesya terbentur di lantai.
Sedangkan Qesya masih bersimpuh di lantai dengan keadaan memperhatikan, dimana gaun yang tadinya sangat anggun di pakainya kini berubah menjadi gaun penuh robek dan bekas dar*h segar yang keluar dari luka bekas camb*kkan yang di berikan Azlan padanya. Terlihat mulai dari lengang hingga punggungnya memar, dan mengeluarkan dar*h segera.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Azlan membuka pintu kamar mandi, sedangkan di luar kamar mandi sudah berdiri tegak seseorang dengan pakaian ninja, yang merupakan tangan kanan rahasia Azlan. Orang itu memberikan sebuah paper bag pada Azlan, dengan segera Azlan mengambil itu lalu kembali menutup pintu kamar mandi, namun sebelum menutup, Azlan menatap tajam tangan kanannya. "Apa ada yang melihatmu datang kemari?" tanyanya menatap tajam.
Sang tangan kanan menggelengkan kepala."Tidak ada Tuan, saya masuk melalui pintu darurat," jawabnya tegas.
"Bagus. Sekarang kamu boleh pergi. dan yah tetap lewat pintu darurat," ujar Azlan setelah itu dia langsung menutup pintunya.
Sang tangan kanan yang sudah terbiasa dengan sikap Tuannya tidak mempedulikannya dan langsung pergi dari sana.
Azlan mengeluarkan sebuah gaun yang di bawah oleh Tangan kanannya tadi, melemparkannya pada Qesya yang masih terduduk di lantai. "Cepat pakai, dan perbaiki riasan wajahmu, aku tidak mau semua orang curiga, Paham!!!" tegas Azlan.
Dengan penuh emosi Qesya meremas gaunnya kuat bahkan sakin kuatnya urat jarinya sampai terlihat, sorotan mata Qesya bergitu tajam dan memerah menahan emosi, di dalam fikirannya dia sangat ingin menghabisi iblis yang berdiri tepat di hadapanya, namun dia tahan demi mencapai pembalasan yang sudah ia persiapkan untuk menghancurkan Iblis di depannya sampai dia menginggat semua rasa sakit yang sudah ia berikan padanya dan pada orang lain.
Sikap Qesya yang tak bergeming membuat Azlan kembali emosi dikiranya Qesya tak mendengarkannya dan menghiraukan ucapannya. "Apa lagi yang kau tunggu cepat berdiri dan ganti pakaianmu. CEPAT!!, sebelum kubuat kau selamanya tak bisa berdiri dan hanya mampu untuk duduk saja," sarkasnya dengan kasar.
Dengan susah payah Qesya berusaha bangkit dengan meraih wastafel sebagai pegangannya, namun pada saat ingin berdiri luka sayatan yang ada di lipatan lututnya membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. "Lepaskan," sarkas dengan menghempaskan tangan Azlan dengan sangat kuat hingga tangan Azlan terbentur ke tembok.
Tak terima sikap kasar Qesya, kedua tangan Azlan terkepal kuat menatap tajam pantulan wajah Qesya, namun Qesya juga membalas tatapan Azlan tak kalah tajam juga, pasalanya dia benar-benar jijik saat di sentuh oleh Azlan. Tatapan keduanya begitu tajam bak pesang yang siap saling menghunus ke leher mereka.
#continue ...
Kembali Update and semoga kalian semua suka dan terhibur, selamat menikmat.
__ADS_1
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩