
"Maaf, Mas, aku harus melakukan ini ( mengusap pipi suaminya ) Aku mencintaimu," ujarnya mencium dahi suaminya sedikit lama.
Maira menyelimuti suaminya, kemudian ia menyeret berjalan dengan sangat pelan keluar dari kamarnya yang berhasil ia ambil tanpa sepengetahuan suaminya saat mereka melakukannya tadi.
Sebelum menutup pintu Maira sekali lagi menatap nanar suaminya yang tertidur pulas, jika di pinta untuk jujur ia sama sekali tak ingin melakukan hal ini dan ingin tetap berada di samping suaminya hingga akhir, tapi apalah dayanya Arhand sendiri yang telah melanggar semuanya, membuatnya terpaksa melakukan hal ini.
"Selamat tinggal, Mas," ujar Maira menghapus air matanya, kemudian menutup pintu dengan sangat pelang.
Maira mengangkat kopernya, menurunin anak tangga tanpa membuat suara sama sekali, namun siapa sangka seseorang tersenyum puas menatap kepergiannya.
"Sebentar lagi aku menjadi, Nyonya muda Arhand Blanco," ujarnya penuh percaya diri.
......................
Pagi hari Arhand meraba samping tempat tidurnya, ingin memeluk istrinya namun tempatnya kosong, dengan cepat Arhand membuka matanya dan melihat tempat tidur benar-benar kosong, hanya menyisahkan pakaian Maira semalam sebelum mereka melakukan permainannya. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat tak ada lagi koper Maira, dengan cepat Arhand melompat turun dari ranjang, membuka pintu kamar mandi kasar, dan hasilnya nihil, Maira tak ada lagi di dalam sana.
"Mairaaaa!!!" teriak Arhand lantang.
"Itu teriakan Arhand, dia kenapa teriak seperti itu memanggil Maira," ujar Ny. Arsy kaget, kemudian langsung berlari naik ke atas.
Semua orang, berlari naik ke atas, ingin melihat apa yang terjadi sampai Arhand berteriak histeris seperti itu.
"Astaga, Arhand ..." ujar Ny. Arsy kaget, langsung mendekati putranya yang tersungkur ke lantai.
"Hei, apa yang terjadi?, kenapa kamu seperti ini?" tanya Ny. Arsy mendekap kepala putranya.
"Dia meninggalkan aku, Ma," lirihnya.
"Maira, meninggalkanku," ujarnya lagi.
"APA!!" melepaskan dekapannya menatap tajam putranya.
__ADS_1
"Honey ..." ujarnya baru datang, dan ingin mendekati Arhand tapi langsung mendapat tatapan maut Ny. Arsy.
"Diam di situ!!" sarkas Ny. Arsy pada Anya.
Tangan Anya terkepal saat Ny. Arsy membentak dirinya, namun ia harus menahan diri demi mencapai tujuannya.
"Mama, gak mau tau, kamu harus menemukan dan membawah menantu Mama kembali kerumah ini, jika tidak lupakan saja kamu masih punya Mama," tegas Ny. Arsy.
"Ma ..." lirinya menatap Mamanya.
Ny. Arsy langsung keluar dari kamar putranya. Tuan Blanco mendekati putranya, menepuk bahunya. "Berdiri, Nak. Dan kejar istrimu, sebelum tali ini semakin jauh dan berpeluang besar putus, dan jika tali ini putus maka percaya sama Papa kamu tidak akan pernah bisa menggenggam apalagi menyambung tali itu, tapi sebelum itu bersihkan dirimu," ujar Tuan Blanco memberi nasehat.
Arhand menatap Papanya. "Pa ..." ujarnya memeluk erat Papanya.
"Sudah, sudah, Boy. Kejar istrimu sekarang," ujar Tuan Blanco melepas pelukannya.
Arhand mengangukkan kepalanya, kemudian dengan cepat menghapus air matanya. Tuan Blanco tersenyum melihat hal itu, ia pun meninggalkan kamar putranya menyusul istrinya yang sedang emosi, karena rencananya tak sesuai dengan yang ia pikirkan.
"Honey, kamu mau kemana?" tanya Anya menahan lengan Arhand.
"Honey. Honey ..." teriaknya mengejar Arhand.
"Auuhh ..." rintihnya saat dirinya tersungkur ke lantai karena perbuatan Maid yang sengaja menyila kaki Anya.
"Ah, maaf, maaf, Nona Anya, Maid tidak sengaja," ujar penuh sesal, namun tidak dengan ekspresi wajahnya yang terlihat mencemooh.
"Kamu!!" tunjuk Anya penuh emosi.
Maid hanya menaikkan satu alisnya, lalu pergi sana meninggalkan Anya sendiri tanpa membantu Anya berdiri terlebih dahulu.
"Hallo, Aditya. kamu cepat suruh Daniel buat melacak keberadaan isteriku," ujarnya cepat setelah Aditya mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Memangnya, Maira pergi kemana, Ar?" tanya Aditya.
"Kamu tidak usah banyak tanya, lakukan saja apa yang ku katakan," kesal Arhand.
Mendengar nada kesal Arhand, Aditya tak lagi kembali bertanya. "Baiklah, aku akan memberitahukan Daniel untuk melacak keberadaan Maira," ujar Aditya.
"Aku ingin secepatnya," tegas Arhand.
"Iya, iya, akan ku katakan pada Daniel. Tapi sekarang katakan kamu di mana?" tanya Aditya.
"Aku sedang menuju ke rumah Daniel, aku juga akan menunggumu di sana," ujar Arhand, kemudian ia memutus sambungannya, membuat Aditya ngedumel di seberang sana.
"Kamu sudah melakukannya, dan sampai aku menemukanmu, aku berjanji aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi," ujarnya pada dirinya, dengan mencengram stir mobilnya.
"Dan aku juga akan menghukummu karena berani pergi dari diriku, tanpa izinku," cicitnya lagi.
Di mension, Ny. Arsy tak henti-hentinya menyalahkan dirinya atas kepergian menantunya.
"Ma, tenanglah ini semua bukan salah, Mama, ok?" ujar Tuan Blanco masih berusaha menenagkan istrinya yang terus menerus menyalahkan dirinya.
"Gak, Pa ... jika saja Mama tidak melakukan hal ini Arhand tidak hilang kendali," cicit Ny. Arsy menyalahkan dirinya.
"Pa ... Papa cepat lacak Maira, bukankah Papa sangat jago akan hal itu," cicit Ny. Arsy pada suaminya.
"Iya, tapi biarkan dulu Arhand berusaha dan menyadari kesalahannya, bukankah itu juga yang Mama ingin selama ini,' ujar Tuan Blanco.
"Tapi menantu kita, sendirian di luar sana, Pa," ujar Ny. Arsy khawatir.
"Maira bukan lagi anak kecil Papa percaya dia bisa menjaga dirinya sendiri, lagi pula Mama jangan lupa ia dulu hidup di jalan seorang diri dan masih bisa melindungi harga dirinya yang bahkan orang-orang yang punya penjaga saja belum tentu bisa menjaga diri sebaik menantu kita," ujar Tuan Blanco panjang lebar.
...#continue .......
__ADS_1
...Selamat menikmati episodenya, semoga suka ya, Readers....
...See you the next episode, Readers....