Suamiku Cacat Dan Lumpuh

Suamiku Cacat Dan Lumpuh
Menenangkan Diri


__ADS_3

" Baiklah, jika kamu tidak jujur padaku." Ucap tuan muda David sambil melepaskan pelukan Karen dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Karen.


" Maafkan aku, aku tidak bisa jujur karena aku sudah tahu jawaban yang akan aku terima pasti akan melukai hatiku lagi. Seperti perkataan suamiku semalam yang menyakiti perasaanku." Ucap Karen dengan nada lirih.


Tidak berapa lama air matanya keluar membasahi pipinya yang mulus.


" Aku harus kuat dan tetap menjadi istri yang baik mengurus suamiku sampai diriku benar - benar tidak dibutuhkan lagi maka aku akan pergi selamanya dari kehidupan suamiku." Ucap Karen sambil menghapus air matanya.


Karen bangun dengan tubuh polosnya dan mengambil handuk yang tadi di taruh ya di meja dekat ranjang untuk menutupi tubuh polosnya kemudian menyiapkan pakaian untuk suaminya dan diletakkan di ranjang.


ceklek


Tuan muda David membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah ranjang dan memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh istrinya sedangkan Karen berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian Karen sudah selesai mandi.


ceklek


Karen membuka pintu kamar mandi sambil memakai handuk baru. Karen melihat suaminya sudah tidak ada di kamarnya membuat Karen tersenyum hambar. Karen berjalan ke arah lemari dan memakai pakaian dress kemudian berdandan.


" Sudah selesai, semangat Karen dan berdoa semoga operasi wajah suamiku berjalan dengan lancar dan suamiku bisa pergi ke kantor seperti dulu lagi dan beraktifitas seperti dulu." Ucap Karen sambil tersenyum menyemangati dirinya sendiri.


Karen menuruni anak tangga sampai di tangga terakhir Karen melihat tuan muda David sedang berbicara dengan asisten Han. Tuan muda David melirik sekilas kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.


" Selamat pagi kak Han." Sapa Karen sambil tersenyum dan menyusul suaminya.


" Selamat pagi nyonya." Jawab asisten Han sambil berjalan mengikuti ke dua majikannya.


Asisten Han membuka pintu mobil belakang pengemudi dan tuan muda David duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan Karen tanpa menunggu asisten Han membuka pintu mobil Karen sudah membukanya terlebih dahulu dan duduk di samping tuan muda David. Asisten Han membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Asisten Han mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali semua terlarut dalam pikiran masing-masing hingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit.


Karen menemani suaminya konsultasi sedangkan asisten Han hanya menunggu mereka berdua di luar ruangan. Selesai konsultasi tuan muda David masuk ke ruang operasi sedangkan Karen dan asisten Han duduk menunggu tuan muda David selesai di operasi. Asisten Han melirik sekilas ke arah Karen dan melihat wajah Karen yang menyimpan kesedihan yang mendalam.


" Maaf nyonya, saya melihat nyonya dan tuan sepertinya ada masalah?" tanya asisten Han penasaran.


Karen menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap wajah asisten Han.

__ADS_1


" Aku tidak tahu kenapa suamiku kadang berubah baik, perhatian dan terkadang berubah menjadi dingin. Kak Han jika seandainya operasinya berhasil dan suamiku sudah menemukan penggantiku aku akan pergi dari kehidupan suamiku. Aku meminta tolong ke kak Han untuk membuatkan dokumen perceraian kami karena di saat suamiku menemukan penggantiku pasti suamiku akan menendangku jadi sebelum suamiku menendangku aku sudah menandatangani surat perceraian ku." Ucap Karen


" Apakah tuan muda David sudah tahu?" Tanya asisten Han dengan nada terkejut.


" Sudah, semalam suamiku cerita untuk menceraikan aku jika sudah menemukan penggantiku." Ucap Karen sambil menatap langit agar air matanya tidak jatuh.


" Baiklah kakak akan membuatnya dan mengenai uang kompensasi tidak bisa diberikan saat nyonya menandatangani surat perceraian karena tuan muda David harus menandatangani surat perceraian dan juga tanda tangan cek karena cek itu berjumlah sangat besar dan tidak bisa mendadak." Ucap asisten Han menjelaskan.


" Aku tidak membutuhkan uang kompensasi karena sudah cukup suamiku memberikan uang ke ayah tiriku. Aku akan membawa pakaian yang aku pakai saat aku datang ke mansion." Ucap Karen sambil tersenyum hambar.


" Lalu rencana nyonya mau kemana?" Tanya asisten Han.


" Aku tidak tahu yang pasti aku tidak mau menjadi duri dari hubungan suamiku dengan kekasihnya." Ucap Karen sambil menahan rasa sesak di hatinya


" Kenapa nyonya tidak mempertahankan pernikahan nyonya?" Tanya asisten Han penasaran.


" Cinta itu tidak bisa dipaksakan, aku sangat bahagia jika suamiku bahagia menikah denganku tapi hatiku sangat sakit jika suamiku menikah denganku tapi tidak bahagia denganku. Jadi kebahagiaan diriku adalah melihat kebahagiaan suamiku." Ucap Karen


" Karena itulah lebih baik aku pergi dari kehidupan suamiku dan pergi sejauh-jauhnya agar hatiku tidak terlalu sakit ketika melihat kemesraan suamiku dengan kekasih suamiku." Ucap Karen sambil tersenyum kembali.


Akhirnya mereka saling diam tanpa ada yang bicara sedikitpun keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Selama dua jam mereka berdiam diri hingga asisten Han berdiri karena merasa bosan.


" Nyonya Karen, saya mau ke kantin. Nyonya mau pesan apa?" Tanya asisten Han


" Susu coklat hangat, maaf merepotkan." Ucap Karen sambil tersenyum.


" Tidak nyonya, saya tidak merasa keberatan." Ucap asisten Han.


Asisten Han berjalan ke arah kantin sedangkan Karen hanya menutup wajahnya dengan ke dua tangannya sambil memikirkan hal lain agar dirinya tidak terlalu sedih. Tidak berapa lama asisten Han datang sambil membawa susu coklat hangat untuk Karen dan kopi hitam untuk dirinya.


" Maaf nyonya, ini susu coklat hangatnya." Ucap asisten Han sambil menyodorkan gelas yang berisi susu coklat hangat karena melihat Karen sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan tidak menyadari kedatangan dirinya.


Karen membuka ke dua tangannya dan menatap tangan kanan asisten Han menyodorkan gelas yang berisi susu coklat hangat pesanan dirinya.


" Terima kasih kak." Jawab Karen sambil menerima gelas yang berisi susu coklat hangat.

__ADS_1


" Sama - sama nyonya." Jawab asisten Han sambil masih berdiri.


" Kak Han duduklah di sebelahku." Pinta Karen


" Tidak nyonya, saya tidak berani." Tolak asisten Han


" Baiklah kalau begitu aku berdiri saja." Ucap Karen


" Memangnya kenapa nyonya?" Tanya asisten Han dengan nada terkejut.


" Kalau kak Han duduk maka aku duduk tapi kalau kak Han berdiri maka aku juga berdiri." Ucap Karen menjelaskan.


" Maaf nyonya saya tidak berani." Ucap asisten Han beralasan.


" Kenapa?" Tanya Karen


" Karena saya tidak pantas duduk bersebelahan dengan nyonya." Jawab asisten Han.


" Manusia itu sama kak Han atau apakah kak Han sebaliknya aku tidak pantas kak Han duduk di sebelahku? Tanya Karen sambil menatap asisten Han dengan tatapan sendu.


" Tidak nyonya, baiklah saya akan duduk." Ucap asisten Han pasrah.


" Nah gitu donk kan lebih enak duduk. Cape lagi kalau berdiri terus." Ucap Karen sambil tersenyum


Asisten Han ikut membalas senyuman Karen.


( " Nyonya Karen memang sangat beda dengan gadis lain, sungguh sangat bodoh kalau tuan muda David mencari gadis lain." Ucap asisten Han dalam hati ).


Karen meminum susu hangat sambil menatap pintu Opera. Hingga satu jam lebih membuat Karen merasakan bosan dan susu hangatnya juga sudah habis.


" Kak Han, aku akan pergi ke taman." Pamit Karen sambil berdiri meninggalkan asisten Han sendirian.


" Baik nyonya." Jawab asisten Han.


Karen meninggalkan asisten Han sendirian karena Karen ingin menenangkan diri dari rasa sesak yang menghimpit hatinya.

__ADS_1


__ADS_2