
" Aku sudah lama tidak menghubungi sahabatku Sandra, bagaimana kabarnya sekarang? Untung aku masih ingat dengan nomer ponsel Sandra." Ucap Karen sambil menekan nomer ponsel Sandra.
Sambungan ke dua baru di angkat oleh sahabatnya yang bernama Sandra.
" Hallo dengan dokter Sandra, apa yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Sandra
" Sandra, aku Karen." Jawab Karen
" Karen." Ucap dokter Sandra mengulangi perkataan Karen
" Iya Karen, apakah kamu sudah lupa denganku?" Tanya Karen
" Tentu saja tidak, kamu kemana saja? kenapa tiba-tiba menghilang? kamu tega banget menghilang tanpa ada kabar beritanya." Tanya dokter Sandra beruntun.
" Ceritanya panjang, kamu bisakan datang ke rumah sakit Bunda Kasih?" Tanya Karen
" Kamu sakit? Sakit apa?" Tanya dokter Sandra.
" Aku mengalami kecelakaan." Ucap Karen menjelaskan.
" Apa?? terus kamu tidak apa-apa kan?" Tanya dokter Sandra dengan nada panik.
" Tidak apa-apa, datang sekarang ya? Hari ini tidak ada pasien kan?" Tanya Karen
" Tidak ada, baik aku akan ke sana." Ucap dokter Sandra.
" Ok aku tunggu. Bye." Ucap Karen
" Bye." Jawab dokter Sandra.
tut tut tut tut tut
Sambungan komunikasi langsung terputus dan Karen menyimpan ponsel milik suaminya ke meja dekat ranjang bertepatan kedatangan seorang gadis memakai pakaian serba hitam.
" Anda siapa ya?" Tanya Karen
" Maaf nyonya saya Veni, bodyguard yang diperintahkan tuan muda David untuk melindungi dan menjaga nona." Ucap Veni sambil menunduk hormat.
Karen hanya tersenyum sedangkan Veni berdiri layaknya seorang bodyguard.
" Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan kak Veni?" Tanya Karen
" Silakan nyonya." Jawab Veni
" Kak Veni duduk saja." Ucap Karen
" Maaf nyonya, saya tidak berani." Ucap Veni
" Aku akan tanggung jawab." Ucap Karen
__ADS_1
" Tapi nyonya..." Ucapan Veni terpotong oleh Karen
" Aku tidak menerima penolakan." Ucap Karen dengan nada tegas
" Baiklah nyonya." Jawab Veni pasrah sambil duduk di sofa.
" Sudah makan?" Tanya Karen
" Sudah nyonya." Jawab Veni
Karen hanya menganggukkan kepalanya dan bingung mau bicara apa lagi membuat Karen terdiam begitu pula dengan Veni. Tidak berapa lama terdengar suara keributan di luar ruang perawatan VVIP.
" Kak Veni coba di cek kenapa di luar ada suara ribut?" Pinta Karen
" Baik nyonya." Ucap Veni sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu
ceklek
" Saya sahabatnya Karen, tanyakan padanya kalau tuan tidak percaya dengan saya." Ucap dokter Sandra dengan nada kesal.
" Veni dia sahabatku, suruh masuk." Teriak Karen.
" Baik nyonya." Ucap Veni
" Silakan masuk nona." Ucap Veni dengan nada sopan.
Dokter Sandra langsung masuk ke dalam dengan wajah di tekuk.
" Hei nona, kalau bicara dengan nyonya yang sopan." Bentak Veni
" Kak Veni, jaga ucapanmu dia sahabatku. Kamu keluarlah." Ucap Karen dengan nada agak tinggi karena sahabat baiknya di bentak oleh Veni terlebih pengaruh kehamilannya sehingga tidak bisa mengontrol emosinya.
" Tapi nyonya.." Ucapan Veni terpotong oleh ucapan Karen sambil menatap dengan tatapan tajam.
" Aku bilang keluar, jika tidak aku akan menghubungi suamiku." Ucap Karen dengan nada naik satu oktaf.
" Baik nyonya."Jawab Veni sambil mengepalkan ke dua tangannya dengan kencang menahan emosinya karena baru kali ini dirinya dibentak.
Veni meninggalkan mereka berdua sedangkan dokter Sandra menatap Karen dengan tatapan bingung.
" Ceritakan padaku semuanya." Pinta dokter Sandra
" Ayah tiriku menjualku dan ada seorang pria membelinya. Pria itu menjadikan aku sebagai istrinya karena menginginkan seorang keturunan karena wajahnya cacat dan lumpuh seiring berjalannya waktu kami saling mencintai. Suamiku berangkat kerja karena itulah memerintahkan dua orang bodyguardnya untuk melindungiku." Ucap Karen singkat tanpa menceritakan secara detail karena bagaimanapun dirinya tidak ingin kejelekan suaminya diketahui oleh sahabatnya terlebih sekarang suaminya sudah menyadari akan kesalahannya.
" Ya Tuhan, ayah tirimu tidak pernah berubah selalu jahat." Ucap dokter Sandra
" Lalu kenapa kamu tidak pernah menghubungi diriku? Kenapa baru sekarang kamu menghubungiku?" Tanya dokter Sandra
" Karena waktu itu aku hilang ingatan dan baru sekarang aku baru ingat sekarang karena itulah aku menghubungi dirimu." Ucap Karen sambil mengingat masa lalu.
__ADS_1
" Apa hilang ingatan? Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu bisa hilang ingatan?" Tanya dokter Sandra beruntun
" Kamu masih ingat dengan pria yang aku tolong waktu itu dan memintamu untuk mengobati pria itu?" Tanya Karen tanpa menjawab pertanyaan dokter Sandra
" Iya aku masih ingat memangnya ada hubungan apa dengan pria itu?" Tanya dokter Sandra.
" Tidak ada hubungannya hanya saja setelah aku memintamu untuk mengobati pria itu aku pergi ke ruang operasi." Ucap Karen mengingat kejadian masa lalu.
xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx
Karen berjalan ke arah ruang operasi untuk mengoperasi seorang pria tua namun ketika Karen sudah sampai di ruang operasi terdengar suara nyaring dari mesin detak jantung.
" Dokter gawat, kakeknya dokter Rizky menghembuskan nafas terakhirnya." Ucap seorang perawat.
" Apa? bagaimana mungkin?" Ucap Karen dengan wajah pucat sambil mengecek nadi kakeknya dokter Rizky itu.
Karen menghembuskan nafasnya dengan berat sambil memejamkan matanya.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah jadwal operasinya masih ada waktu lima menit lagi?" Tanya Karen.
" Maaf dok, sebelum dua menit yang lalu pasien mengalami kejang-kejang kami berusaha melakukan pertolongan pertama tapi nyawa kakeknya dokter Rizky tidak tertolong." Ucap perawat itu menjelaskan.
" Baiklah aku akan mengatakan ke keluarga pasien." Ucap Karen dengan wajah lesu.
Karen keluar dari ruangan tersebut dan melihat sepasang muda mudi berjalan mendekati dirinya.
" Dokter Karen bagaiamana keadaan kakekku?" Tanya dokter Rizky.
" Maaf dok, aku tidak bisa menyelamatkan nyawa kakek dokter?" Ucap Karen dengan lesu
" Apa?? Tidak mungkin kakekku meninggal... dokter pasti salah bukan?" Tanya dokter Rizky.
" Maafkan aku dok." Ucap Karen dengan nada lirih
plak
" Aku sangat membencimu, gara - gara kamu kakekku meninggal." Ucap gadis itu sambil menampar Karen.
" Celline sudah." Jawab dokter Rizky sambil menahan tangan adiknya agar tidak menampar Karen.
Karen hanya diam walau pipinya terasa panas dan perih tapi dirinya tidak melawan karena dirinya baru kali ini menangani pasien sampai meninggal walau Karen belum melakukan operasi tadi dirinya merasa sangat bersalah karena tidak cepat-cepat datang ke ruang operasi.
" Sekali lagi maafkan aku." Ucap Karen lirih sambil membalikkan badannya berjalan ke arah pintu lift.
" Hei dokter breng**k jangan pergi!!" Bentak Celline
" Celline sudah." Ucap dokter Rizky.
" Kakak kenapa membela dokter itu? Jelas-jelas dia yang membunuh kakek." Ucap Celline tidak terima.
__ADS_1
" Sudah jangan teriak ini sudah takdir lebih baik kita urus jasad kakek." Ucap dokter Rizky sambil menarik tangan adiknya agar tidak mengejar Karen.