
Beberapa hari kemudian.
Ibu Sumiati di perbolehkan pulang. Setelah berkemas Nara langsung membawa sang ibu pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, Nara menyampaikan niat untuk memboyong beliau ke kota. Supaya Nara bisa lebih mudah merawat beliau. Jadi Nara bisa membagi waktu untuk ibu, anak, dan pekerjaan. Namun, beliau tidak mau.
"Kalau Emak tidak mau ikut Nara ke kota, lalu siapa yang merawat, Emak nantinya? Nara itu juga punya tanggung jawab di sana. Nara harus berdagang cari duit biar bisa kumpulin uang banyak buat biaya terapi emak nanti, biar bisa cepat sembuh ya mak, ya? ikut Nara ke kota ya" Berusaha membujuk beliau meski akan sangat sulit.
"Tidak mau. Pokoknya Emak mau tinggal di rumah, titik." Dalam kondisi beliau saat ini sangat sulit untuk di bujuk. Mungkin sebagai ibu beliau juga ingin di perhatikan, mendapat kasih sayang dari anaknya, di rawat selayaknya dulu beliau merawat Nara semasa kecil. Akan tetapi situasinya tidak memungkinkan Nara untuk sepenuhnya mengabdi pada ibu Sumiati. Dia harus bekerja keras demi menghidupi semua anggota keluarga. Kalau hanya mengandalkan hasil kerja Bagus tentu semua kebutuhan tidak akan terpenuhi. Bukan maksud menyepelekan tapi semua itu fakta.
Mengusap lengan Ibu Sumiati "Sekarang begini mak kalau emak mau tetap di rumah, sendirian, terus nanti kalau emak mau ke kamar mandi siapa yang bantuin?"
"Kan ada Tuti"
Nara dan Tuti saling bertukar pandang. "Ya nggak bisa gitu dong, mak. Di kira orang nanti Nara lepas tanggung jawab."
"Nggak usah pikirin emak lagi. Kalau mau pergi ya pergi sana..."
Membuang nafas berat "Huffff. Nggak mungkin dong mak aku tinggalin emak di saat seperti ini. Mending emak ikut Nara aja yuk."
"Dengerin tuh mak apa kata anak. Lagi pula aku nggak bisa terus nemenin sampean lho. Anak anak ku juga harus sekolah, sedangkan kalau sore aku juga kerja kupas bawang di rumah tetangga. Mending mak ikut Nara saja. Di kota nanti Emak bisa berobat ke rumah sakit terbaik di sana, supaya cepat sembuh. Bisa jalan lagi kaya dulu terus pulang lagi deh ke sini..." sambung Tuti. Sengaja bicara seperti itu supaya beliau mau ikut dengan Nara. Sebenarnya melihat Nara saat ini Tuti sangat tidak tega. Nara tidak hanya berperan sebagai seorang anak tapi juga sebagai ibu. Apa kata orang nanti jika dia tinggal di desa sedangkan kedua anaknya harus tinggal di kota. Mana mungkin dia meninggalkan tanggung jawab itu, meski sama sama berat tetap saja Nara masih belum bisa membagi waktu.
Satu satunya jalan hanya membawa ibu Sumiati ke kota, namun apa boleh buat Beliau kekeh tidak mau di ajak ke kota. Untuk sementara waktu Nara harus tinggal sejenak untuk membujuk sang ibu.
"Ya sudah kalau begitu emak juga bisa hidup sendiri kok. Toh, setiap hari emak juga sendirian"
Ucapan Beliau seolah menampar keras harga diri Nara. Sebagai seorang anak dia merasa belum mampu menjadi anak yang baik. Permintaan kecil sang ibu saja sulit di penuhi. Dalam hatinya ingin sekali berteriak sekencang mungkin untuk melepas semua beban.
(Ya Allah cobaan seperti apa lagi yang harus hamba hadapi? hamba hanyalah manusia biasa. Tolong bantu Hamba dalam masalah ini, tunjukkan jalan terbaik-Mu) Dalam hati tersemat doa harapan. Serasa habis sudah kesabaran Nara menghadapi permainan hidup ini. Dia banyak sekali di hadapkan dengan begitu banyak polemik.
Sepenjang perjalanan pulang, Nara terdiam sembari berpikir apa yang harus dia lakukan. Sampai suatu ketika terbesit pemikiran untuk mencarikan orang untuk menjaga beliau. Keputusan itu mungkin bisa meringankan bebannya, tapi itu baru pemikiran saja.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian Nara mendapat kabar kalau Aska sedang demam tinggi. Sebagai seorang ibu tentunya Nara khawatir dengan kesehatan sang putra.
"Mak....Aska lagi sakit. Kalau emak tidak mau ikut ke kota, bagaimana kalau Nara carikan orang untuk merawat Emak di sini...." Berjongkok di hadapan sang ibu yang tengah duduk di kursi roda. Beliau tengah berjemur di samping rumah.
"Tidak, pokoknya emak mau di rumah saja. Kalau kamu mau balik mending cariin emak pembantu saja" Ujar beliau.
Telepon genggam Nara tak berhenti berdering. Sedari tadi Bangus terus menelepon karena Aska terus memanggil namanya. Oke, sekarang tidak ada wakru berpikir lagi, Nara langsung menghubungi seseorang untuk di minta menjaga ibunya. Kebetulan ada seorang janda di desanya mau menjaga Ibu Sumiati.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu Bulek. Titip emak ya, kalau ada apa apa hubungi saya" Nara pun langsung pergi bersama tukang ojek.
"Ibu....ibu, ibu di mana" Dengan mata terpejam Aska terus menerus menyebut nama ibunya.
"Bagaimana ini pak demam mas Aska tidak kunjung turun? lebih baik mas Aska di bawa ke dokter saja pak" Ujar Eca.
Bagus terlihat panik. Di depan kamar dia nampak mondar mandir sembari terus menelepin Nara"Tunggu sampai ibu pukang saja Ca...."
"Nggak usah sok pinter kamu" Bukannya langsung membawa Aska ke dokter, Bagus malah marah marah.
"Loh kok bapak malah marah sih? niat Andra itu baik lho, kok Andra malah kena marah"
Begitulah sikap anak dan bapak sama sama keras kepala. Tujuan Andra memang baik tapi di anggap salah lagi. Entah kenapa keduanya tidak pernah sejalan.
"Huekkkkk...."
"Pak, Mas Aska muntah...."
Mereka segera berlari "Ya sudah sini biar saya bawa Aska ke Dokter" Kalau sudah seperti ini barulah Bagus cekatan.
"Di bilangin ngeyel sih..." Lirih Andra.
__ADS_1
"Hustt....kamu ini apa sih mas sama bapak sendiri itu nggak boleh kaya gitu, dosa tau." Tegur Eca.
Andra langsung duduk "Sebenarnya Andra itu benci banget mbak sama bapak"
Eca terkejut mendengar ucapan Andra "Ngomong apa kamu itu lho mas, nggak boleh gitu ah, nggak baik."
"Sekarang coba mbak Eca bayangin anak mana sih yang mau ibunya terus di sakitin, nggak ada kan mbak? Bapak itu aslinya bukan bapak dan suami yang baik, kalau dia memang bapak dan suami yang baik dia nggak bakal selingkuh di belakang ibu. Bahkan bukan hanya dengan satu wanita"
"Jangan ngawur deh kamu, mas. Nggak baik ah bicara kaya gitu tentang bapak sendiri."
"Loh aku itu bicara apa adanya, mbak. Beberapa hari yang lalu saat aku pulang sekolah tanpa sengaja melihat bapak boncengan sama ibu ibu mesra benget. Pas aku ikutin ternyata mereka berhenti di depan hotel. Kalau bukan selingkuh apa coba ...." Sembari menjelaskan air mata Andra berjatuhan.
Eca langsung mengambil tisu "Kamu paling cuma salah paham saja. Siapa tau bapak cuma nganterin ibu ibu itu ke sana. Kamu nggak boleh langsung mengambil kesimpulan seperti itu." Ujar Eca menjelaskan. Terkadang apa yang di lihat belum tentu kejadian sebenarnya. Apa lagi masalah sensitive seperti itu harus lebih berhati hati.
"Emangnya aku ini bodoh. Memangnya ada ya tukang ojek nganterin penumpang sampai ke dalam kamar segala, mana pas itu aku sempat membututi mereka dan yang membuat aku terkejut adalah si ibu tadi ternyata adalah tetangga ku di desa"
Eca tidak lagi bisa berkata kata. Merasa bingung bagaimana cara menyangkal apa yang di lihat Andra. Karena memang sifat Bagus aslinya seperti itu. Suka selingkuh.
"Pokoknya aku nggak akan rela kalau ibu sampai di sakiti sama bapak" Tatapan Andra di penuni amarah. Kepalan tangan terus memukul meja beberapa kali sangking kecewa dengan tindakan bapaknya.
"Mbak tau bagaimana perasan kamu saat ini, tapi mbak minta masalah ini jangan sampai ibu tau dulu. Kasian ibu banyak beban yang harus di pikul."
Andra langsung menyeka air matanya kala mengingat kesedihan itu tidak sebanding dengan beban yang ibunya pikul saat ini.
"Iya mbak aku ngerti kok."
"Ya sudah kalau begitu mbak mau buatin bubur buat mas Aska. Kalau kamu mau makan mbak tadi sudah masakin telor balado kesukaan kamu"
"Nanti saja aku belum lapar, mbak"
__ADS_1