Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Emak Jatuh Sakit


__ADS_3

Bebera hari kemudian...


Nara mendapat kabar dari Tuti kalau Ibu Sumiati jatuh sakit. Beliau tengah di rawat di rumah sakit tidak jauh dari rumah. Pada saat itu Nara di lundung kebingungan, kalau dia pulang bagaimana dengan warung dan kedua anaknya. Tidak mungkin Nara menyerahkan tanggung jawab ganda kepada Eca, meski Eca sudah menawarkan diri. Oke lah Eca bisa menghendle warung, tapi apa dia bisa mengurus kedua putra super susahnya itu. Sejak kecil si bungsu tidak pernah jauh dari Nara, sedangkan si sulung akan sulit menyuruhnya mengerjakan tugas sekolah atau sekedar belajar. Untuk makan saja kalau tidak dari tangan ibunya, si bungsu tidak akan makan. Kalau senadainya di bawa pulang lalu bagaimana dengan sekolahnya? serba susah memang. Jalan satu satunya adalah Nara pukang sendiri dan biarkan anak anak menjadi tanggung jawab bapaknya.


"Ibuk pulang saja nggak apa apa, biar warung aku yang jaga. Insya Allah aku bisa kok buk, asal ibu percaya sama aku." Melihat kebingungan di wajah Nara membuat Eca tidak tega. Akhirnya tanpa di minta dia menawarkan diri. Meski nantinya dia akan keteran ketika jam makan siang. Tapi dmjiwa kemanusiannya tergerak. Mana mungkin dia akan diam saja melihat majikannya kesusahan.


"Tapi kamu benar bisa jaga warung sendirian? besok juga ada pesanan banyak lho Ca. Bukan percaya atau enggaknya tapi aku takut kamu kewalahan mengurus warung (Mengusap lengan Eca) aku sangat percaya padamu, Eca." Ucap Nara. Selama ini Nara tidak mudah percaya pada seseorang, namun dengan ketekunan, kepolosan, dan kejujuran yang Eca miliki membuat Nara yakin padanya. Dahulu pernah beberapa kali Nara mengetes kejujuran Eca dengan cara menaruh uang ratusan ribu di bak mandi, tapi dia langsung mengatakan pada Nara. Pernah juga beberapa kali Nara menaruh makanan tanpa kata sedikit pun, tetap saja makanan itu utuh di tempatnya. Pernah lagi di saat mencuci pakaian sengaja Nara menaruh uang di setiap kantong celana nyatanya uang itu tetap di tampatnya. Dari semua tes kejujuran itu Eca berhasil membuat Nara percaya. Eca sendiri memegang teguh kejujuran dalam hidup. Sebelum melangkah pergi mencari nafkah demi kedua orang tua dan adik laki lakinya, dia di nasehati sang ayah kalau kunci dari kesuksesan tidak hanya terdapat pada kepandaian, tapi juga dari ke jujuran. Jika di setiap langkah kejujuran sudah tertanam, maka Allah akan melancarkan segela urusan dunia. Eca hanya berpedoman dengan nasehat sang ayah. Meski pernah beberapa kali dia di jebak oleh rekan kerjanya yang dulu adalah simpanan Bagus, janda muda beranak satu itu menfitnah dirinya dengan mengatakan bahwa Eca selalu berbuat salah dalam bekerja. Namun, Eca yakin Allah tidak akan membiarkan yang buruk menang. Benar saja tidak lama setelah itu kelakuan buruk janda muda langsung terungkap. Sangking malu atas perbuatannya, janda muda itu langsung melarikan diri dan sampai saat ini tidak ada kabar tentang dia. Setelah tertangkap basah ciuman dengan Bagus dia langsung berkrmas dan meninggalakn kosan tanpa sepatah kata pun.


Eca menarik nafas dalam dalam lalu melepas perlahan "Aku bisa kok Buk. Apa jadinya kalau Ibuk tidak pulang? di kiranya ibu tidak tanggung jawab atas beliau. lagi pula tanggung jawab ibu lebih besar, karena beliau sudah membesarkan ibu dari kecil. Meski ibu bukan darah dagingnya tapi beliau tulus menyayangi ibu...." Usia Eca memang baru enam belas tahun, tapu pemikirannya melampauai orang dewas.


Nara menyentuh pundak Eca "Kamu yakin, bisa?"


Eca mengangguk "Insya Allah saya bisa, buk"


"Begini saja bagaimana kalau kamu jaga warung sama mas Bagus. Nggak mungkin juga kan kalau aku pulang dengannya, gimana nanti sama sekolah Aska dan Andra." Beberapa hari lagi kedua putranya harus mengikuti ujian kenaikan kelas, jadi mau tidak mau Nara harus mengatur waktu.

__ADS_1


"Tapi buk...."


"Sebentar ada telepon masuk, nanti kita sambung lagi. Sekarang kamu tolong ambilkan tas di laci depan." Hari ini Ponselnya terus berdering.


"Jadi Emak kena struk lagi, mbak? Ya Allah bagaimana ini" air mata Nara berjatuhan mendapat kabar kalau ibu angkatnya mengalami struk sampai beliau harus menggunakan kursi roda untuk waktu yang lama.


Tidak lama kemudian Bagus datang. Beberapa saat lalu mendapat kabar dari seseorang bahwa ibu Suamiati di bawa ke runah sakit. Seseorang itu tidak lain adalah Merry. Siapa lagi kalau bukan Merry si tetangga genit simpanan Bagus. Tadinya dia masih bekerja karena mendapat kabar duka langsung saja dia pulang.


"Ca....Ibuk kemana?" dari luar Bagus terlihat panik sambil mempercepat langkah.


Bagus langsung masuk "Buk, ibuk, katanya emak di rawat di rumah sakit lho"


"Iya, aku udah tau. Baru saja Mbak Tuti telepon, katanya Emak struk..."


Melihat air mata sang istri sigap Bagus memeluknya "Sudah jangan nangis. Kalau begitu kita siap siap pulang yuk...."

__ADS_1


"Bukan kita mas tapi aku. Masa iya sih kamu tega membiarkan Eca jualan sendiri, dan lagi bagaimana dengan sekolah kedua anak kamu? Mending mas tetap di sini jaga warung dan anak anak. Masalah Emak biar aku saja" Dalam keadaan genting saja Nara masih bisa membagi waktu. Biar bagaimana pun dia selalu di tuntut siap dalam segala situasi. Nara yakin bahwa Allah akan selalu memberi jalan terbaik untuk setiap masalah.


Raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah Bagus. Harapannya sih dia bisa ikut pulah, eh malah dapat tanggung jawab ganda.


"Anak anak biar sama Eca saja, dia bisa kok. Aku mau ikut pulang saja ya biar bisa bantu kamu jaga Emak." Seokah Bagus memaksa ingin ikut. Nara yang sudah pusing di buat pening "Tolong lah mas kamu ngerti gimana posisi aku saat ini. Anak anak itu sebentar lagi tes, lalu siapa yang nanti ngajarin mereka belajar, siapa juga yang mau nyuapin Aska? harusnya mas paham dong gimana bingungnya aku saat ini. Please, jangan buat aku tambah pusing" Bentak Nara.


"Tapi kan..."


"Stop! Kalau kamu nekat mau ikut pulang silahkan, biar aku di sini saja. Terserah nanti pandangam orang bagaimana? masa iya anak menantunya yang pulang sedangkan aku tetap tinggal di sini. Sekarang terserah kamu mau pulang atau tetap di sini" Kesabaran Nara teruji ddngan sifat alot suaminya.


"Ya sudah kalau begitu kamu saja yang pulang. Biar aku lanjut cari duit...." Bagus langsung keluar kamar dan kembali ke tempat kerja.


"Lho Buk itu si bapak mau kemana?"


"Biarkan saja dia mau kemana. Pusing Ca ngurusin dia, kalau pas kondisi kaya gini malah dia bikin darah tinggi naik.... Emang tuh laki nggak bisa ngertiin kondisi dan situasi"

__ADS_1


__ADS_2