Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Korban Keegoisan


__ADS_3

"Bagaimana cara menghubungi Abangnya Nara, sedangkan hp gue mati kaya gini" Mengibaskan ponsel berulang kali. "Kebiasaan deh kalau lagi di butuhin ada aja masalah, Kesel juga ama nih hp..." Setelah termenung beberapa saat, ia teringat kalau membawa charger di mobil. "Gue ambil dulu deh dari pada bingung nanti"


"Ya Allah, tolong lindungi adik ku" Gumam Hans. Sepanjang perjalanan merasa tidak enak hati mengingat sang adik masuk rumah sakit. "Nggak, nggak, nggak mungkin. Nara pasti baik baik saja. Dia wanita yang kuat. Tidak mungkin dia sampai berbuat hal nekat hanya demi seorang suami macam Bagus. Aku yakin Nara bukan wanita bodoh. Dia pasti akan baik baik saja" Menampik prasangka dalam hati. Meski dalam hati terlintas banyak pikiran buruk yang bisa menimpa Nara. Wajar seorang kakak khawatir terhadap adiknya. Apa lagi saat ini rumah tangga sang adik sedang di landa masalah. Dalam rumah tangga momok terbesarnya adalah perselingkuhan. Jika sudah terjebak dalam perselingkuhan, rumah tangga akan hancur. Bagaikan ombak menyapu lautan.


"Kamu harus baik baik saja demi aku dan anak anak kamu...." Tanpa di sadari air mata Hans jatuh. Namun, tersapu angin malam. Laju kendaraan semakin di percepat mengingat jarak tempuh masih lumayan jauh. Hans mempertaruhkan nyawa demi sang adik.


Di sisi lain....


Setelah mendengar Nara di bawa ke rumah sakit, Tuti merasa tidak tenang. Dia tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Beberapa kali berpindah posisi dari miring kanan sampai miring kiri, tetap saja tidak bisa memejamkan mata. Pikiran mulai kemana mana "Kenapa hati ini jadi nggak tenang...." Segera beranjak dari tempat tidur. Melihat di samping ada dua anak kecil tertidur pulas, yakni Andini dan Aska. Sejak pulang Aska tinggal bersamanya. Anak delapan tahun itu sebenarnya sudah tau apa permasalahan kedua orang tuanya. Hanya saja dia enggan memperlihatkan perasaan sedih di depan semua orang. Diam diam Aska mendengar semua hal dari orang sekitar.


"Bude...." Aska terbangun. Mendengar suara langkah kaki membuat Aska terbangun.


Tuti menoleh ke arah Aska "Lho Aska kok bangun, masih malam bobok lagi saja nak. Masih jam dua belas malam."


Aska menyingkap selimut "Bude kenapa belum tidur? Aska haus mau minum" Sembari mengucek mata.


"Bude ambilkan dulu, Aska di sini saja temani Andini. Sebentar ya sayang" Bergegas mengambilkan air minum.


Aska mengangguk.


"Melihat Aska barusan hati ku serasa sakit sekali. Jika perselingkuhan ini sampai berujung pada perceraian, lalu bagaimana dengan anak anak mereka nanti. Mereka terlalu kecil untuk menanggung beban seberat ini. Mampukah Nara menjadi dua figur sekaligus, peran ayah dan ibu. Apa dia bisa melewati semua itu sendiri? Tidak mudah hidup sebagai seorang janda." Sembari menuangkan air ke dalam gelas. Hati wanita mana tidak ikut sakit melihat seorang wanita tersakiti sebegitu kejam. Tidak hanya sekali dua kali, melainkan berulang kali di selingkuhi. Berulang kali memaafkan, dan berulang kali tersakiti lagi. Cobaan dalam hidup Nara begitu berat. Wanita lain belum tentu mampu menjadi sekuat Nara. Selama ini bertahan bukan karena cinta tapi demi kedua anaknya. Tapi, untuk kali ini tidak hanya kesabaran yang di uji tapi juga keimanan. Dulu ia hanya melihat sang suami cinta cintaan sama wanita lain, sekarang malah lebih dari sebatas itu, berzina dan di saksikan olah semua orang.


Mempertahankan memang lebih sulit dari memperjuangkan.

__ADS_1


"Apa pun keputusan itu, aku yakin semua demi yang terbaik. Kalau memang perceraian jadi solusi utama, semoga Nara bisa mendapatkan ganti yang bertanggung jawab, sayang sama kelaurga, terutama kedua anaknya."


Dalam sebuah perceraian tidak hanya dua orang saja yang tersakiti. Tapi, juga ada anak menjadi korban keegoisan kedua orang tua. Harta paling berharga bagi seorang anak adalah keluarga yang harmonis. Jika sebuah keluarga terpecah belas pasti anak tidak akan mendapatkan ketenangan lahir mau pun batin.


"Bude kenapa nangis?" Tiba tiba saja Aska sudah berada di samping Tuti.


Segera Tuti mengusap air mata "Enggak kok siapa yang nangis? Bude cuma kelilipan. Aska kenapa ke sini, tadi kan bude suruh Aska temani mbak Andini di kamar, Kasihan dia sendirian" mengusap ujung kepala Aska.


"Aska kebelet pipis, Bude" Sembali mengapit kerua paha "Temani Aska ke kamar mandi"


"Ya sudah ayo bude temani. Tapi habis ini harus bobok lagi, oke"


"Oke Bude"


Sesampainya di rumah sakit Hans langsung di sambut oleh Prasetya yang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Di sekitar hanya tinggal beberapa orang saja sebab sudah tengah malam.


Prasetya menepuk pundak Hans "Dia baik baik saja, bang. Kata dokter dia terlalu banyak fikiran dan kurang asupan nutrisi, yang mengakibatkan dia jatuh pingsan." jelas Pras seraya berjalan menuju ruang rawat Nara.


"Tapi Nara tidak sedikit pun, kan?"


"Tidak, bang. Nara tadi hanya jatuh pingsan, mungkin efek kedinginan." Ujar Pras menjelaskan.


Hans merasa lega mendengarnya "Syukurlah...."

__ADS_1


"Mari bang aku antar ke ruangan Nara" Mereka pun langsung menyusuri lorong rumah sakit.


Tak berapa lama sampailah mereka di depan pintu ruang rawat Nara "Silahkan masuk bang, di sini ruangan Nara." Membukakan pintu lalu mereka masuk.


"Ya Allah, kamu kenapa dek?" Mengusap kepala Nara. Dan tiba tiba saja Nara membuka mata.


"Mas Hans...." Lirih Nara seraya hendak memposisikan badan. Sigap Hans membantu sang adik "Jangan banyak gerak dulu. Tiduran saja tidak apa apa"


"Begitulah adik mu iru bang susah di kasih tau. Emang dasar keras kepala. Udah tau fisik lemah malah main hujan, begitulah akibatnya" Ketus Prasetya.


Nara menatap Pras "Enak saja aku kuat kok"


Hans mengetuk dahi Nara "Dasar kamu ini di bilangin ngeyel banget. Kamu kenapa kok bisa sampai seperti ini? mas sudah bilang kan sama kamu jaga kesehatan, nggak usah pikirkan yang lain tetap saja ngeyel."


"Aku hanya kecepean saja, mas. Sampean tidak isah khawatir. Aku baik baik saja kok buktinya masih bisa senyum nih...." memaksakan senyum.


"Bang, aku keluar sebentar ya" Pras handak keluar namun Hans menghantikan langkahnya. "Terima kasih banyak atas bantuan mu" Hans merasa tidak enak hati. Dahulu pernah menolak lelaki ini hanya demi seorang Bagus. Ternyata Bagus bukan pilihan terbaik untuk Nara, justru pilihan terburuk.


Pras tersenyum "Semua hanya kebetulan saja, bang. Nggak sengaja ketemu Nara di jalan, terus aku samperin dia. Bilangin dong bang sama adiknya, udah gede masih suka main hujan. Kaya begini kan jadinya...." Beralih menatap Nara.


"Makasih banyak Pras. Kalau tidak ada kamu mungkin sekarang aku nggak tau bagaimana..." Senyum simpul terlukis di bibir manisnya. Keduanya saling bertemu muka.


(Tau akan jadi seperti ini, dulu aku akan memilih Pras untuk menjadi suami adik ku ini. Kalau saja waktu bisa ku putar kembali, aku mau adik ku menikahi lelaki ini) Hans sendiri menyesal mengapa dulu menolak lamaran Pras. Bukan karena tidak suka, melainkan sudah ada lelaki lain yang lebih dulu menyematkan sebuah cincin di jari manis sang adik.

__ADS_1


"Pras....baju kamu basah. Mending kamu pulang dulu, ganti baju. Takutnya nanti malah meriang lho" Ucap Nara.


"Tidak masalah. Aku ada baju ganti di mobil. Kalau begitu tak ganti baju dulu" Pras pun segera keluar.


__ADS_2