
Ketika Nara baru saja membuka pintu kamar, dia melihat sosok wanita kuat yang menggendongnya semasa kecil dulu kala betangkat sekolah. Tubuh renta itu dulu pernah berjuang keras demi dirinya. Berjuang mengarungi sungai demi bisa mengantar sang anak sekolah. Dahulu jalan menuju sekolah tidak semudah saat ini, orang di kamoung itu duunya harus berjuang keras mengrungi sungai untuk mengantar anak anak mereka pergi ke sekolah. Tapi sekarang masyarakat di kampung itu sudah tidak perlu lagi bertaruh nyawa demi pendidikan anak mereka, sebab pembangun jalan sudah merambah sampai ke kampung mereka. Masyarakat di kampung mulai merasakan hidup tenang.
"Emak...." Saat ini beliau terbaring tak berdaya. Sontak Nara langsung bersimpuh di samping ranjang ibu Sumiati. "Maafkan Nara mak..." Lirihnya seraya menatap wajah sendu sang ibu. Baliau sedang tertidur pulas setelah minum obat.
Cup...
Mencium kening beliau sebagai tanpa cinta seorang anak kepada ibunya. Sebagai anak dia belum bisa merawat beliau dengan baik.
Air mata seorang pun anak jatuh tak tertahankan "Andai semua hal tidak di ukur dengan materi, maka dari dulu sampai nanti Nara akan selalu ada di samping emak. Bisa mewarat emak, membuat emak bahagia, pokoknya kita bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi sayang Nara harus di hadapkan dengan semua kebutuhan.(Menunduk lemas) Nara akan melakukan apa saja demi emak. Nara ingin Emak kembali seperti dulu lagi..." Mencium tangan renta ibu Sumiati.
Beliau terbangun mendengar isak tangis Nara yang semakin kencang. "Nara anak ku..."
"Emak sudah bangun, maaf ya Nara jadi ganggu tidur Emak" Melihat beliau membuka mata Nara pun langsung menyeka air mata. "Sini mak biar Nara bantu...."Memposisikan badan beliau lalu dia duduk di samping beliau.
"Sejak kapan kamu datang? terus anak anak nggak ikut pulang?"
"Mereka ikut mak. Biasalah meraka langsung main mak sama teman teman mereka..." Nara menatap wajah sang ibu dengan penuh kasih sayang. Nara tak kuasa menahan air mata sehingga langsung memeluk sang ibu "Maafkan Nara ya mak belum bisa menjadi anak yang berbakti...." Begitu dalam kasih sayang Nara terhadap beliau. Tapi rasa bersalahnya juga tidak kalah besar, sebagai anak Nara belum mampu menjadi yang terbaik. Di saat seperti ini yang paling di butuhkan seorang ibu hany anak anaknya. Namun, dunia tidak hanya berkisah tentang kasih sayang melainkan juga tentang bagaimana bertahan hidup dan berjuang untuk orang yang kita sayang.
"Seharusnya emak yang harus minta maaf sama kamu, gara gara emak sakit seperti ini jadi emak banyak merepotkan kamu dan teritama Bagus" Mnyentuh lengan Nara.Aslinya Ibu Sumiati sosok ibu yang lembut tapi dia juga bisa menjadi pemarah saat dirinya sedang tidak baik baik saja. Semenjak kepergian suami kedua beliau kala itu emosionalisme dalam diri beliau mulai sulit di kendalikan sehingga membuat beliau terkesan galak.
keduanya saling bertatap muka. Tiba tiba saja Nara langsung memeluk beliau. Air mata tak mampu terbengdung lagi, lolos begitu saja.
Setelah beberapa saat kemudian Nara melepas pelukan seraya meraih kedua tangan beliau "Tidak, emak tidak ngerepotin Nara sama sekali. Justru Nara merasa bersalah di saat emak butuh Nara tapi Nara malah tidak bisa menjaga dan merawat Emak dengan baik. Tolong maafkan Nara ya mak...." Mencium punggung tangan beliau tiga kali kemudian mencium telapak tangan.
"Eh Andra kapan datang?" Tanya salah seorang laki laki.
Andra yang baru saja turun dari motor beserta adik dan kedua temannya langsung bersalaman pada laki laki yang tidak lain adalah kakak dari temannya.
"Iya bang baru saja nyampe rumah tapi sudah melihat orang bertengkar. Jadi nggak betah di rumah...." Sembari duduk di saming Fajri(Kakak Dodit).
"Lho siapa yang bertengkar?" Wajah Fajri terlihat serius. Sangkar burung yang tadi di bangku sekarang di letakkan di bawah.
Andra melihat Aska "Tolong dong bawa Aska masuk...." Pinta Andra pada Dodit.
__ADS_1
"Oke..." Dodit, Aska dan Arbi langsung masuk ke dalam.
"Cerita deh sama abang siapa tau abang bisa bantu"
Wajah Andra menunduk "Aku malu bang kalau cerita masalah ini"
Fajri mengusap punggung Andra "Nggak usah sungkan, abang sudah menganggap kamu itu seperti adik abang sendiri."
Mata Andra terlihat memerah seperti menahan rasa sakit "Ibu sama Bapak bang....mereka bertengkar hebat, nggak tau salahnya di mana setiap ketemu pasti mereka bertengkar. Aku itu butuh keluarga yang harmonis bang yang bisa membuat kami (Anak) tenang bukan malah membuat kami merasa tidak nyaman"Ujar Andra seraya berkaca kaca.
"Namanya orang tua pasti mereka punya masalah. Kamu yang sabar ya..." Menepuk pundak Andra beberapa kali. "Abang mau ke luar sebentar ya mau cari rokok"
"Iya bang"
fajri pun langsung menaiki motor menuju sebuah tempat. Tidak jauh dari rumahnya Fajri menepikan motor "Kalau bu Nara pulang itu artinya cuan mendekat" Terlintas hal licik dari otak Fajri. Segera ia menghubungi Hendrik "Halo bro gue ada mangsa baru nih bro, elu intai rumah Pak Bagus jangan sampai dia keluar rumah ya"
"Oke, bos ku" Hendrik pun langsung berjalan keluar rumah melihat dari samping pekarangan rumahnya. Dari sana terlihat Bagus tengah duduk di sampibg rumah sembari merokok. Pandangan Bagus terlihat kosong dan seperti memikirkan sesuatu.
(Pak Bagus di samping rumah bro)
Fajri membaca pesan itu kemudian tersenyum lebar "Cuan, cuan, oh cuan. I Love you full" Bergegas menuju rumah Bagus.
"Nggak enak banget gue hidup sama bini kaya gitu, dikit dikit marah, dikit dikit ngambek, mending gue chat Luna deh kangen juga udah lama nggak ketenu dia" Sebuah pesan cinta di lulisnya.
(Sayang apa kabar? aku kangen kamu) Sembari tersentum senyum sendiri.
"Ehem...." Tiba tiba saja Bagus melihat Fajri sudah berdiri melipat tangan di hadapannya. Sontak Bagus langsung berdiri "Ngapain kamu ke sini?" Seraya melihat pintu.
Fajri melihat expresi ketakutan yang Bagus membuat dia merasa senang. Dengan begitu dia bisa dengan mudah meminta uang darinya "Bapak nggak suruh saya duduk dulu nih"
Bagus mulai geram dengan tingkah Fajri "Nggak usah basa basi elu mau apa ke sini?"
"Santai bos ku nggak usah ngegas.(Tanpa di persilahkan Fajri langsung duduk begitu saja) Pak bagi duit dong satu juta" Menengadahkan tangan.
__ADS_1
Tatapan mata Bagus semakin tajam "Apa kamu bilang? satu juta? Enteng sekali kamu minta duit sama saya, emangnya kamu itu siapa?"
"Eitzzz....sabar dong pak kita bicara baik baik. Gampang sih pak kalau bapak nggak mau kasih duit sama saya, tinggal video ini saya kasih tunjuk sama Bu Nara, beres, kan?" Dengan tenang Fajri terus memberikan tekanan.
Bagus meraih krah baju Fajri "Saya sudah kasih kamu uang satu juta untuk nebus video itu, sekarang kamu mau peras saya lagi"
Fajri menepis tangan Bagus "Bapak kira saya cuma punya satu video, bapak salah, saya punya banyak duplikat video itu di hp saya ini" Memperlihatkan sebuah bukti di layar ponsel milik Fajri.
"Fajri....jangam macam macam kamu" Bagus hendak mengambil ponsel itu tapi tidak bisa.
"Ada apa ini?" tiba tiba saja Nara keluar karena mendengar kegaduhan dari luar.
"Eh ibu Nara apa kabar? itu buk saya mau..."
Bagus langsung menghadang jalan bicara Fajri "Itu buk dia tadi cuma mau kasih tau kalau nanti malam ada pergemuan RT di rumahnya. Iya kan Jri?" Sembari mengedipkan mata.
Fajri paham dengan kode itu "Oh iya, buk. Saya cuma mau mengingatkan kalau nanti malam ada pertemuan di rumah saya. Kalau begitu saya pamit ya buk...."
"Benar cuma itu saja sepertinya tadi saya dengar kalian sedang ribut..." Nara masih belum percaya dengan alasan mereka.
"Siapa ya ribut ya Jri...orang kita lagi bahas acara nanti malam" Bagus merangkul Fajri seraya mencengkeram pundangnya.
fajri tersenyum" Iya buk kami nggak bertengkar kok, kita kan besti ya pak" Melemparkan senyum pada Bagus.
"Oh ya sudah kalau begitu saya mau masuk lagi. Kamu duduk dulu biar saya buatkan kopi" Ujar Nara.
"Aduh nggak usah repot repot buk, saya tadi sudah ngopi di rumah. Ini saya juga mau langsung pulng saja....oh iya pak Bagus nanti malam jangan sampai lupa ya saya tunggu di rumah" Sembari melempar senyum kemenangan.
"Sialan tuh bocah..." Kesal Nagus.
Fajri pulang membawa kemenangan.
"Gampang sekali dapat duit dari orang itu. Selama aku masih menyimpan bukti ini dia tidak akan bisa berkutik."
__ADS_1