
Kebetulan di kala Hans dan Tuti hendak pulang tiba tiba saja Bustomi menghampiri mereka "Pakde tunggu...." sedari tadi Bustomi sudah mengintai dari depan rumah Bejo (Kakak), siapa tau Bagus akan pulang dan dia akan langsung menyeretnya ke balai desa.
"Ada apa, Tom?" Hans turun dari motor lalu menghampiri Bustomi, mengajaknya duduk di sebuah tugu depan rumah. Bagaimana pun Hans tau kalau saat ini Bustomi sedang berduka hati"Aku sudah tau masalah kamu, sebagai kakak dari Nara aku mau minta maaf atas apa yang sudah terjadi" Ujar Hans seraya mengatupkan kedua tangan memohon maaf. Seorang kakak rela bertaruh harga diri demi kesalahan adik iparnya. Kalau dia tidak merendah pasti Bustomi akan semakin terbawa emosi, lagi pula Hans tidak mau menabur kebencian antara mereka karena memang bukan mereka yang bersalah paham.
"Mas Hans ngapain sih peke minta maaf seperti itu, yang salah siapa yang minta maaf siapa. Semua karena Bagus itu, jadi suami ku harus mempertaruhkan harga dirinya di depan Bustomi" Kesal Tuti. Dari kejauhan terlihat seolah Suaminya mengemis pada Bustomi yang usia jauh di bawahnya.
Bustomi menatap sejenak "Aku tidak pernah menyalahkan dek Nara, tapi semua ini kesalahan Bagus. Di mana dia sekarang pakde? Aku mau selesaikan di meja desa, di saksikan para petinggi desa beserta anggota keluarga, aku juga mau Dek Nara pulang untuk menjadi saksi perbuatan bejad suaminya itu. Semua harus di selesaikan secapat mungkin"
"Aku setuju saja tapi saat ini tidak ada yang tau keberadaan Bagus di mana? dan aku minta tolong tunggu sampai Nara pulang beberapa hari lagi"
Bustomi langsung bangkit "Oh kalau begitu nggak bisa Pakde. Masalah ku ini tidak bisa di tunda, harus segera di selesaikan saat ini juga. Aku mau dia(Bagus) masuk penjara untuk menebus perbuatannya" Kedua bola mata membulat sempurna. Dari tatapan itu sudah jelas kalau Bustomi masih dalam pengaruh ego. Hans sendiri tidak memungkiri sakit hati Bustomi, hanya saja dia menunda sidang karena tidak mau melibatkan kemarahan masing masing pihak.
Hans ikut bangkit "Kalau kamu memasukkan Bagus dalam sel penjara bisa jadi istri kamu ikut terseret. Perselingkuhan ini tidak hanya merugikan satu pihak tapi dua pihak secara langsung (Memasukkan kedua tangan di saku celana), Ya kalau sudah begini terserah kamu saja mau bagaimana. Mereka di bui atau dengan cara lain, semua tergantung kamu"
"Nggak bisa begitu dong pakde, yang pantas di penjara itu pihak lakinya, karena dia berani menyentuh bini orang"
Hans tersenyum geli, bagaimana Bustomi bisa berkata seperti itu kalau istrinya saja juga menikmati perselingkuhan ini. "Kalau Merry di peksa itu baru namanya kejahatan, lha ini mereka saling suka, saling menikmati, kenapa hanya satu pihak yang di hukum. Nggak adil dong. Kalau kamu merasa di sakiti oleh Bagus, lalu bagaimana dengan adik ku? Dia juga pasti sama sakitnya"
Bustomi kehabisan kata ketika berhadapan dengan Hans. Tidak hanya pandai tapi Hans bisa mangambil keuntungan dari celah sekecil lubang semut.
"Percuma aku bicara sama kamu" Bustomi langsung pergi.
Brak....
Terdengar Bustomi menendang motor miliknya sendiri sampai kaca spion pecah. Semua untuk melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
Tuti berlari ke arah Hans "Mas ada apa? kelihatannya Bustomi nampak marah sekali"
Hans mengerdikan bahu "Biarkan saja, lebih baik kita pulang. Nanti kita bicarakan di rumah"
"Katakan ada apa ini? kenapa kamu datang ke rumah dengan wajah babak belur seperti ini..." Seorang ibu merasa curiga atas hal buruk yang baru saja menimpa putranya. Saat ini Bagus pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Langsung Bagus bersimpuh di bawah kaki ibu Minah "Bagus minta maaf buk, Bagus khilaf" Menyentuh kedua kaki sang ibu seraya menangis tersedu.
Ibu Minah masih belum paham kenapa Bagus menangis dan bersimpuh seperti itu. Beliau membantu sang putra berdiri "Duduk dulu dan bicara dengan tenang, katakan apa yang terjadi sebenarnya" mengusap lengan sang putra.
Seketika Bagus menunduk lesu "Sebenarnya Bagus...."
"Sebenarnya dia ketahuan selingkuh sama tetangga depan rumah" Ujar seseorang yang baru saja membuka pintu. Orang itu tidak lain adalah ayah kandung Bagus.
"Bapak..." Ibu Minah bangkit menghampiri pak suami yang baru saja pulang dari kebun. Beliau nampak membawa beberapa singkomg dari kebun meliknya. Ketika di perjelanan ada seseorang mengnelepon bertanya tentang keberadaan Bagus. Orang tersebut adalah Hans, dia menghubungi ayah Bagus hanya sekedar memastikan bahwa dia ada di rumah beliau. Hans juga menceritakan permasalahan yang ada.
"Tanya sama anak kesayangan kamu itu..." menunjuk Bagus "Dia itu datang ke sini karena takut di habisi suami dari wanita yang ia tiduri"
Ibu Minah terperanjat dan langsung merasa sakit di bagian dada. Seraya menyentuh dada "Apa benar yang di katakan bapak mu?" menahan rasa sakit tiba tiba.
"Buk, ibuk kenapa?" Pak Darsa lasung membantu istrinya duduk.
"Pak ini..." Bagus menyodorkan segelas air mineral.
Tatapan amarah masih menyala di mata pak Darsa "Kalau ibu mu sampai kenapa napa itu semua akibat kesalahan kamu."
__ADS_1
Ibu Minah masih mengeluhkan sakit bagian dada sembari menyandarkan kepala di bahu pak suami.
Bagus berjongkok lalu membantu sang ibu minum "Minum dulu buk..."
Ibu Minah menolak air dari tangan putranya karena dia merasa kecewa atas apa yang dia lakukan. Sebagai ibu baliau meras gagal.
"Pak, ibu mau istirahat di kamar saja..." tutur beliau.
Pak Darsa membantunya berdiri kemudian hendak membawa ke dalam kamar.
"Biar aku bantu, pak..." Salah satu tangan menyentuh lengan ibu Minah, namun beliau langsung menepis tangan Bagus.
"Nggak usah sok perduli sama kami. Kalau kamu perduli harusnya kamu tidak pernah melakukan hal sekejam itu" Ketus pak Darsa seraya membuka pintu kamar. Setelah keduanya masuk langsung pintu kamar di kunci dari dalam.
"Pak, buk, tolong dengarkan Bagus dulu. Aku memang salah, aku benar benar menyesal...." Menyandar pada pintu kayu sampai perlahan dia terduduk.
"Ibu istirahat dulu, jangan banyak mikirin anak nggak tau diri itu" Membaringkan badan sang istri perlahan.
Ibu Minah menangis "Ya Allah pak bagaimana ini kok bisa Bagus selingkuh, bagaimana kita menjelaskan sama mantu kita nanti." Membungkam mulut menahan sakit luar biasa.
Pak Darsa duduk di tepi ranjang seraya menyeka air mata sang istri "Bapak juga bungung buk harus bicara apa sama Nara nanti. Dia itu menantu yang baik, selalu membantu keluarga kita, tapi kalau sudah kaya gini bapak sendiri tidak berani menghadapi Nara, buk"
"Biar bagaimana pun Bagus itu anak kita buk. Kalau dia melakukan keslahan kita juga yang malu" dalam diri kedua orang tua kelemahan terburuk mereka adalah ketika anak mempermalukan diri sendiri yang berdampak buruk pula bagi kedua orang tua.
"Kita harus bagaimana, pak"menghuyung pelan tubuh renta pak suami.
__ADS_1
Tatapan kesedihan terpancar dari keduanya, hingga mereka hanya bisa saling berduka.
Seperti peri bahasa jawa Anak Polah Bapa Kepradah. Anak yang membuat kesalahan tapi kedua orang tua menanggung malu.