Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Air Mata Aska


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Nara langsung berlari ke dalam kamar. Ibu Sumiati dan Aska yang tengah menonton tv terkejut. Tiba tiba saja Nara masuk tanpa salam dengan berderai air mata.


"Mbah uti, ibu kenapa?" Aska memeluk beliau seraya melihat ke arah Nara.


Brak....


Terdengar pintu di banting dengan kencang. Tak berapa lama Bagus datang lalu berjalan melewati mereka berdua. Dari wajah Bagus jelas terlihat kalau mereka tengah bertengar lagi.


"Mbah uti...." Mendongak ke atas melihat wajah renta yang ia peluk saat ini. Aska mulai ketakutan.


Beliau mengusap kepala Aska "Bapak sama ibu kamu sedang berselisih paham. Sebentar lagi pasti mereka baikan. Aska nggak usah takut ya, mending Aska bantu mbah uti masuk kamar" Ujarnya menutupi permasalahan yang ada.


"Aska tau kalau Bapak selingkuh sama Tante Merry"


Deg...


Hati siapa tidak sakit mendengar anak sekecil Aska mengetahui permasalahan kedua orang tua. Padahal serapat mungkin pihak keluarga menutup masalah dati telinga anak anak. Tapi, Aska terbiasa mendengar pertengkaran mereka. Setiap kali bertengkar pembahasan mereka tentang perselingkuhan. Lada suatu saat Aksa mendengar kalau sang ibu membahas tentang perselingkuhan itu. Aska melihat sendiri betapa sedih jati sang ibu saat itu. Jeritan serta isak tangis terdengar nyaring di telinga.


Selagi bisa memendam permasalahan dari anak, kenapa tidak di pendam sedalam mungkin. Pertengkaran kedua orang tua hanya akan berdampak buruk pada mental sang anak. Bahkan bisa merubah karekter seorang anak. Perselisihan di depan anak justru akan membunuh karekter anak itu sendiri. Maka dari itu sedalam apa pun masalahnya, jangan sampai anak tau kalau kedua orang tua tengah bertengkar. Usahan di depan anak bersikap biasa saja seolah tidak ada masalah. Semua demi tumbuh kembamg anak anak kita juga.


"Hust....Aska tau dari siapa? bapak itu nggak selingkuh kok. Aksa salah dengar pasti. Biasalah bapak sama ibu kamu itu suka beemrtengkar, paling masalah mau makan apa...." Ucap beliau. Ibu Sumiati meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Aska. Membayangkan hal terburuk yang akan terjadi dari perselingkuhan. Ketakutan seorang ibu kala rumah tangga anaknya di masuki pihak ketiga, pasti perpecahan akan segera tiba.


"Hey....Aska nggak boleh nangis. Mensing Aska banyak doa biar ibu sama bapak nggak bertengkar lagi" Wajah polos Aska membuat beliau iba.


"Aska sudah gede, mbah. Aska bisa melihat dan mendengar, percuma mbah uti menutupi semua dari Aska. Aska sudah tau semuanya...." Dari kedua mata polos itu terlihat lolongan kesedihan. Perlahan air mata menetes membasahi pipi.


"Ya Allah cucuku...." Sontak Beliau memeluk erat tubuh Aska. "Tumbuhlah menjadi lelaki yang bertanggung jawab, nak. Lindungi serta sayangi ibumu, jangan siakan dia seperti ayahmu" Beliau sudah tidak tahan lagi memendam kesedihan dalam hati. Saat ini juga mereka meluapkan kesedihan.


Aska langsung menangis di pelukan Beliau. "Aska takut Mbah, Aska mau sama sama ibu dan bapak sampai tua nanti" Meski Aska teebilang anak manja, tapi seiring waktu dia mulai mengerti.


Kedewasaan seseorang tidak bisa di ukur dari usia. Terkadang keadaan yang memaksa mereka bersikap lebih dewasa.


"Buka baju itu....." Maki Bagus yang baru saja masuk kamar. "Aku tidak suka kamu memakai baju lelaki lain. Buka atau ku robek....."


Nara duduk di tepi ranjang seraya melipat kedua kaki. Ia tidak perduli apa yang di katakan suaminya itu.


"Kamu dengar aku tidak? tuli kamu ya" bentak Bagus.


Nara melempar pandang sinis "Memang aku tuli, memang aku buta. Kamu mau apa, ha....Selama ini aku Tuli karena tidak mempercayai kabar di luar sana, dan buta karena aku telah jatuh cinta sama baji**n seperti kamu"

__ADS_1


Mengepalkan kedua tangan seraya berjalan mendekat "Bilang apa kamu?" Mencengkeram dagu Nara seraya melolot "Berani sekali kamu memakai baju lelaki lain sedangkan kamu tidak mau memaafkan aku? Apa bedanya kamu dan aku. Memakai baju lelaki lain artinya kamu ada hubungan dengan dia"


"Apa kamu bilang?" Nara tidak takut akan kemarahan Bagus. Yang ia pertahankan bukan rumah tangganya tapi harga diri seorang wanita.


Dengan kasar Nara melepas tangan kekar itu sekali hentakan "Selingkuh kamu bilang? kaya gini kamu bilang selingkuh?" Beranjak dari tepi ranjang sembari mencondongkan badan. Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain.


"Lalu apa artinya jika seorang wanita tidak pulang semalaman? di tambah memakai baju lelaki lain. Siapa tau kalian habis bercinta di hotel sana...." Ucapan Bagus membuat Nara terbakar api.


Plak....


Tamparan keras mendarat di wajah Bagus "Hebat, hebar sekali kamu, mas? setelah semua yang terjadi, dengan enteng kamu memfitnah ku seperti itu. Benar benar hebat...." Tersenyum sinis sembari membuang muka


"Tidak usah ngelak kamu, buktinya kamu memakai pakaian lelaki lain" Bagus masih saja melempar kesalahan.


"Enteng sekali kamu bicara ya. Sorry, aku masih punya harga diri. Meski aku di selingkuhi tapi aku tidak akan membalas dengan cara yang sama. Selingkuh itu hanya untuk manusia tanpa iman seperti kamu itu" Jari telunjuk mengarah tepat di depan wajah Bagus.


Sontak saja Bagus geram. Hati dan pikiran telah di kuasai kecemburuan. Tidak perduli kelakuanya sendiri seperti apa.


"Sudah cukup! kamu sudah mulai berani sama suami" Menggenggam jari telunjuk Nara. Kedua mata melolot seolah hendak meloncat dari wadahnya.


"Cih...." Nara meludahi Bagus. "Jangan pernah sebut diri kamu sebagai suami. Orang seperti kamu nggak layak di sebut suami lagi oleh ku. Bahkan sampah jauh lebih berharga dari kamu...."


"Kurang ajar...." Hampir mengangkat tangan, namun terhenti sesaat kala melihat Aska sudah berdiri tegak di depan pintu. Sedari tadi ia melihat berdebatan mereka.


Nara menoleh ka arah Aska "Aska.... masuk kamar mbah uti. Jangan ikut campur urusan orang tua" Titah Nara.


Aska langsung berlari sembari menangis.


"Kamu lihat....Anak kamu manangis karena ulah mu. Jangan salahkan mereka kalau suatu hari nanti mereka hilang rasa hormat kepada mu. Kalau kamu tidak bisa menjadi suami yang baik untuk ku, setidaknya jadilah ayah yang baik untuk kedua putra mu" mendorong badan Bagus sampat terjengkang ke lantai. Hari ini emosi terkuras habis.


Bagus sudah tidak tahan lagi. "Berani sekali kamu mendorong ku"


"Aku tidak perduli" Nara semakin di luar kendali. Hatinya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit yang begitu dalam.


"Mati sekali pun aku tidak sudi menyentuh jasad mu" berbalik badan lalu melangkahkan kaki.


Bagus menunduk lesu "Sekarang mau kamu apa? Aku sudah tidak tahan lagi sama sikap kamu"


Tiba tiba saja langkah kaki Nara terhenti. Awalnya dia hendak mengejar Aska, tapi mendengar ucapan Bagus membuatnya memejamkan mata sejenak. Perlahan manata hati lalu "Kamu sudah tau jawabannya" Air mata perlahan menetes.

__ADS_1


"Heh.....Kamu minta cerai supaya bisa bebes pacaran sama selingkuhan kamu itu, iya kan?" Berulang kali Bagus menyalakan gejolak api dalam hati.


Jangan sekali kali bermain api kalau tidak ingin terluka. Percikan api bisa membakar habis seluruh hutan apa lagi hati manusia.


Seketika hati menanas, darah mencapai ubun ubun serasa mendidih seketika.


Segera Nara berbalik badan "Apa kata kamu?" berjalan mendekati Bagus yang masih terduduk di lantai. Meraih krah baju membawanya berdiri sejajar.


"Sekaramg aku mau tanya di mana kamu melihat ku selingkuh sama dia? hanya karena satu kemeja saja kamu sudah meledak seperti ini. Sekarang bagaimana kalau aku membalikkan semuanya. Bagaimana kamu tau aku tidur dengan Prasetya mantan pacar ku itu. Kami bercinta di depan muka kamu itu, bagaimana rasanya? jawab? ayo jawab?" Teriak Nara.


"Oh....jadi dia itu mantan pacar kamu. Pantesan pandangannya mesra banget. Sampai pake kemejanya pula" nada sindiran semakin memperburuk suasana.


Mengepal erat "Kalau waktu bisa ku beli, maka saat ini juga akan ku putar waktu di masa aku masih bersamanya. Tanpa ada kamu dalam kisah cinta kami. Jujur aku menyesal telah memilih kamu."


Bagai tersengar aliran listrik teganggan tinggi. Bagus tidak bisa berkata kata lagi. Hatinya begitu sakit saat mendengar kalimat penyesalan dari mulut Nara.


Bagus menggelengkan kepala "Sudah jelas kalau kamu ada main sama dia"


Nara sudah kehabisan akal. Tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi lelaki yang satu ini. Mungkin semasa di dalam kandungan, dia tidur di saat semua orang di beri akal pikiran. Sampai jadilan otak cetek macam Bagus.


"Terserah kamu mau menilai ku seperti apa. Terserah aku tidak perduli lagi...." Nara hendak pergi dari sana, namun Bagus meraih tangannya "Oke, aku sudah tidak tahan sama kamu. Kita bercerai saja"


Deg....


Jujur hati Nara hancur seketika. Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Bagus. Mensi itunyang dia mau tapi serasa menyayat kalbu.


"Oke, aku terima talak kamu." Nara segera meloloskan diri.


"Ibu....." Aska berlari kearah Nara. Anak kecil itu terisak sembari memeluk sang ibu.


"Sudah bu, sudah. Kalian jangan bertengkar lagi. Aska mau sama bapak sama ibu juga. Aska takut kalau ibu sama bapak teriak teriak terus....."


Betapa sakit hati seorang ibu melihat seorang anak menangis meminta hak sebagai seorang anak. Hak seorang anak ialah di besarkan kedua orang tua bersama sama. Memciptakan bahagia supaya tercapai keluarga yang bahagia.


(Ya Allah....aku harus bagaimana? bantu hamba keluar dari masalah ini) Nara berjongkok. Mengusap air mata sang putra "Aska tidak akan kehilangan ibu sama bapak. Sampai kapan pun kita tetap orang tua Aska. Sudah jangan menangis lagi, sekarang Aksa ikut ibu yuk kita ambilkan obat buat mbah uti"


Tiba tiba Aska berlari ke arah Bagus. Aska bersujud di kaki sang ayah "Aska mohon bapak jangan tinggalin kita. Aska sayang bapak dan juga ibu. Aska minta sama bapak jangan marahin ibu terus, kasihan ibu"


Orang tua mana tidak menagis melihat anak mengiba di depan orang tau demi mempersatukan kembali keluarga.

__ADS_1


__ADS_2