
Sesampainya di rumah sakit Nara langsung berlari menuju ruang rawat Ibu Sumiati. Sejak tadi jantungnya berdetak kencang, hati gelisah, takut terjadi sesuatu pada ibu Sumiati. Satu satunya orang yang Nara miliki setelah kepergian ibu dan ayah kandungnya hanyalah ibu Sumiati. Selepas dari itu tanggung jawab Nara Kepada Beliau sangatlah besar, meski bukan ibu kandung sendiri tapi jasa beliau melampaui seorang ibu kandung.
Sesampainya di depan pintu ruangan, kaki terasa lemas seolah tak mampu melangkah lagi"Ya Allah mbak kok emak bisa kaya gini gimana kejadiannya...?" Perlahan melangkah menghampiri Tuti yang tengah duduk menunggu Ibu Sumiati sadarkan diri. Melihat tubuh renta terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kepala di perban. Air mata Nara seketika lolos. Nara baru tau kalau ibunya mengalami luka di bagian kepala. Yang dia tau hanyalah sang ibu jatuh lalu struk. Tuti sengaja tidak memberitahu Nara bahwa kepala ibunya mengalami benturan meski tidak begitu fatal tapi harus di jahit.
"Kenapa kepala Emak di perban? sebenarnya ada apa ini, mbak?" Andai bisa Nara mau menggantikan posisi Beliau. Melihat Beliau terbaring lemah seperti itu membuatnya tersakiti.
"Aku tidak begitu tau awal mulanya.... pagi setelah bersih bersih rumah, aku langsung pulang. Tidak lama setelah itu Merry telepon katanya Emak terjatuh di kebun belakang rumah. Kabarnya sih emak mau cabut singkong di kebun belakang , tapi malah kejengkang. Dan kepalanya terbentur batu. Ada beberapa jahitan di bagian kepala tapi kata dokter lukanya tidak terlalu parah. Tapi kata dokter juga ada kemungkinan terparahnya Emak nggak bisa jalan" Jelas Tuti. Mereka duduk di depan ruang rawat. Pasien masih belum sadarkan diri pasca operasi.
"Semua ini terjadi gara gara kamu" Datanglah seorang wanita paruh baya. Beliau adalah kakak perempuan ibu Sumiati yang artinya juga kakak dari ibu kandung Nara. Beliau tinggal di desa sebelah.
"Mbok Sani?(Nara langsung menghampiri beliau seraya hendak mencium tangan) Bagaimana kabar Mbok Sani?" Belum sempat mencium tangan beliau sudah menepis tangan Nara.
"Semua ini terjadi karena kamu (Jari telunjuk Mbok Sani mengarah tepat di wajah Nara) Seharusnya sudah tugas kamu menjaga Sumiati, tapi kamu malah meninggalakn dia di usianya saat ini. Kamu itu nggak tau balas budi, ya? Dari kecil sudah di rawat dengan baik, di besarkan, di sekolahkan, kok malah sekarang kamu nggak bisa menjaga Dia" Sifat Mbok Sani ini memang pemarah. Sejak dulu beliau memang kurang begitu suka dengan Nara. Bukan tanpa alasan, dahulu kala ketika Sumiati mengadopsi Nara Beliau sempat meminta Ibu Sumiati mengadopsi anak laki lakinya juga, tapi Ibu Sumiati menolak. Dengan alasan anak laki laki itu sudah terlalu besar karena pada saat itu anak ibu Sani berkisar delapan tahunan. Sejak saat itu beliau tidak pernah lagi datang sekedar menengok sang adik atau bersilahturahmi. Di tambah lagi setelah kedua orang tua kandung Nara meninggal dunia, Ibu Sumiati memberikan sebagian harta warisan berupa sertifikat tanah dan juga rumah yang di tinggali. Semua pemberian Suamiati itu malah membuat perdebatan hebat. Semua keluarga menentang tindakan beliau. Meski demikian Ibu Sumiati tetap memberikan separuh hartanya untuk Nara. Biar bagaimana pun Nara adalah anak satu satunya ibu Sumiati.
"Jangan bicara begitu dong, Mbok. Nara itu kerja di kota juga bukan untuk dirinya sendiri, kalau dia tidak kerja di sana apa bisa mencukupi semua kebutuhan Emak. Tau sendiri kan Emak itu makan saja kalau tidak pakai daging sapi dia tidak mau makan...." Tuti membela Nara, karena memang di mata wanita tua ini Nara selalu di salahkan. Entah itu benar atau pun salah.
__ADS_1
"Diam kamu! tau apa kamu tentang keluarga kami, kamu itu cuma ipar nggak usah ikut campur urusan orang lain" ujar Mbok Sani. Perkataan beliau terkenal pedas.
"Tapi seharusnya anda menghargai perjuangan Nara bukan malah menyalahkan dia terus menerus. Coba saja anda berada di posisi Nara saat ini sanggupkah anda sekuat Nara?" Tuti mulai geram hingga kata kata menyakitkan keluar dari mulutnya.
"Sudah mbak, sudah...." Mengusap lengan kakak ipar. Nara memaklumi kemarahan Mbok Sani saat ini.
"Saya minta maaf Mbok karena tidak bisa menjaga Emak dengan baik. Tapi untuk ke depannya saya akan menjaga beliau sebaik mungkin" Ujar Nara sembari berlutut di depan beliau. Tanpa rasa iba beliau mendorong bahu Nara "Buktikan ucapan kamu itu bukan cuma janji" Beliau langsung berjalan menghampiri Ibu Suamiati. Perlahan beliau sadarkan diri.
"Wanita tua ini....." Tuti demakin geram melihat adik iparnya di perlakukan seperti itu.
Nara yang masih terduduk di lantai langsung bangkit seraya menyeka air matanya. "Emak...." Ia langsung berjalan ke arah ranjang, mencium sang ibu "Alhamdulillah..... emak sudah sadar"
Melihat air mata Nara menetes, perlahan beliau mengarahkan tangan untuk menguspa air mata putrinya. Tangan beliau terlihat gemetar. Nara langsung meraih tangan keriput itu lalu menciun telapak tangan Beliau "Emuah, emuah....maafkan Nara ya mak beluk bisa jadi anak yang berbakti"
"Kenapa kamu nangis? emak baik baik saja" Berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Halah jangan sok baik baik saja buktinya kepala kamu sampai di perban kaya gitu, semua ini jelas salah dia" Dengan Angkuh Mbok Sani terus menyudutkan Nara.
"Mbakyu, tolong jangan bilang seperti itu. Semua terjadi karena aku kurang berhati hati" Jelas beliau sembari menyentuh kepala. Ada rasa nyeri setelah operasi.
"Terus saja kamu bela dia. Sekalian aja dewakan anak angkat mu ini...." Sangking kesal beliau langsung pergi.
"Ya Allah.....kok ada sih orang seperti mbok sani itu" Tuti sampai mengelus dada.
"Mak mana yang sakit?" Air mata Nara tidak bisa berbohong kala beliau menyentuh bagian kepala.
"Aku panggilkan dokter dulu ya...."
"Tuti jangan. Emak nggak apa apa kok, cuma sedikit nyeri saja." Ujar beliau.
Nara tidak tega melihat beliau menyengir kesakitan.
__ADS_1