Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Menuju Sidang


__ADS_3

Ketika Jarwo pulang melewati depan rumah Luna,tiba tiba ia di hadang "Ada apa ini mbak Luna?" Mengerem mendadak saat kedua tangan Luna merentang tepat di depan motor. Untung saja Jarwo cekatan mengerem, kalau tidak Luna pasti tertabrak.


Luna melihat ke arah rumah Tuti "Memang ada masalah apa sih, pak? kelihatannya serius banget. Tadi aku juga lihat sampean boncengan sama Nara..." Jiwa kepo seorang wanita meronta ingin tau.


Orang paling kepo sejagad raya ialah para emak emak. Kalau berita sudah tercium sedikit saja langsung ramai di kalangan masyarakat. Heboh bukan main. Tidak hanya bergelar ratunya jalan, tapi juga bergelar ratu gosib sedunia. Iya apa iya? ya iyalah, masa enggak. Upsss....canda mak.


"Tadi di jalan tidak sengaja ketemu Nara terus tak anter sekalian ke sini, mbak. Pas juga aku mau ketemu Hans, udah lama nggak main ke sini juga" Dusta Jarwo.


Luna langsung meraih kunci motor "Bilang dulu ada masalah apa baru nanti tak kasih kunci motor ini..." Kunci itu langsung ia masukkan di sela baju bagian atas. Sontak saja Jarwo menutup mata.


(Astaga, kenapa peke ketemu nenek lampir sih. Jadi runyam ini. Kasihan sekali nasib kunci motorku, bau sesuatu)Gumam Jarwo. Sedari dulu ia kurang suka dengan sikap genit Luna. Meski masih bujang tapi ia risih dengan wanita gampangan. Seorang lelaki akan mencari pendamping hidup yang anggung tidak neko neko. Banyak dari lelaki mengincar wanita yang jual mahal, terkesan memberi mereka tantangan tersendiri.


Seorang lelaki tidak akan tertarik kepada wanita gampangan. Bukan kerena tidak normal, melainkan dia mencari yang lebih serius bukan untuk main main. Wanita gampangan sama dengan sebuah roti, pas perut lapar hanya bisa sekedar mengganjal sementara, tidak membuat kenyang. Setelah di makan bungkus pun di buang. Kasihan sekali memang. Sudah di makan, di nikmati tapi tidak di anggap.


"Ayolah lah, ada apa sih sebenarnya? atau kamu nggak boleh pulang" mengedipkan mata sembari menggelayut manja di langan Jarwo.


Jarwo turun dari motor "Oke, aku akan jawab, tapi tolong lepaskan tangan ku."


"Nak gitu dong kan enak kalau bicara sambil duduk" Sembari duduk di teras rumah.


Jarwo mengambil posisi duduk sedikit jauh darinya "Kemarikan kunci ku" Menengadahkan tangan meminta kunci motor kembali.


"Enak saja. Bilang dulu baru aku kasih"


Menghembuskan nafas berat "Huffff.....Biasa lah mbak namanya bangkai mau di tutup pakai apa pun pasti tercium juga."


"Bangkai?" memicingkan mata.


"Iya. Bangkai masyarakat. Nggak usah sok nggak tau lah mbak, kabar ini sudah menyebar sampai di pelosok kampung" Cetus Jarwo.

__ADS_1


"Oh masalah itu to. Berarti dek Nara sudah tau perselingkuhan suaminya? terus reaksinya gimana? ada dia menggugat cerai?" Tanya Luna antusias.


Mnggeleng kepala "Emang benar kata orang, juara terkepo sedunia adalah para emak emak(Sembari melempar senyum). Satu kalimat mengandung banyak pertanyaan."


Menepuk paha Jarwo "Masih gadis kaya begini di bilang emak emak. Nggak lihat nih bodi seksi, wajah cakep, kurang sempurna apa coba"


(Waduh mukai kumat dia. Berabe kalau terus dekat sama jalay(Janda alay). Mending cepet kabur deh)


"Nanti malam sampean datang saja ke balai desa. Akan ada persidangan heboh"


"Wah, kudu datang. geger geden ini" Seraya menyeringai puas. Kalau menyangkut Merry dia paling nomor satu untuk bertepuk tangan. Apa lagi kalau dia sampai jatuh seperti sekarang ini. Jempol sepuluh pun ia berikan kalau pun bisa. Entah mereka punya masalah apa sampai saat ini masih saling mendendam.


"Itulah nasib seorang selingkuhan"


Jleb...


Bagai tertusuk anak panah. Luna jadi salah tingkah, sebab ia juga wanita simpanan Bagus. Bahkan, jauh sebelum Merry, Dia sudah dulu menjalin hubungan terlarang.


"Duh yang sekarang jadi Rt sibuk sekali. Ngapain sih buru buru? toh di rumah nggaka ada yang nemenin. Mending di sini dulu sama aku" Melontarkan nada sedikit menggoda.


Jarwo semakin risih kala Luna menyentuh lengan kanan seraya mengusap berulang kali "Nggak mau ngopi dulu gitu, pak. Nanti tak buatin kopi susu special" Lemah gemulai Luna membuat Jarwo bergidik ngeri. Pasalnya Luna terkenal sebagai wanita nakal, alias suka menjual diri.


Melepas tangan Luna "Maaf ya mbak, aku nggak bisa. Lain kali saja..." Langsung menaiki motor. "Tolong kembalikan kuncinya..." pinta Jarwo lagi.


Luna pun mengeluarkan kunci dari sela baju. Segera Jarwo memalingkan muka (Nih wanita nggak punya malu kali ya. Di depan ku berani meyingkap baju) segera Jarwo mengambil kunci dari tangan Luna. Kemudian langsung ngibrit pulang.


"Dasar Jarwo sok jual mahal sekali. Bujang lapuk aja belagu....Hih" Kesal Luna.


"Ya Allah....lindungi hambamu dari godaan setan terkutuk" Jarwo sangat tidak suka dengan wanita penggoda seperti Luna. Di usia yang hampir memasuki kepala empat, Jarwo masih betah membujang. Dahulu dia pernah trauma dalam bercinta, sehingga enggan menjalin hubungan menyakitkan itu. Baginya Cinta banyak mengandung bawang, di dalamnya ada sedikit cinta, separuh drama, dan banyak luka. Begitu arti Cinta menurut Jarwo. Bertahun yang lalu dia sempat hendak menikah dengan seorang wanita dari kampung sebelah. Tapi, nasib berkata lain. Gepat di hari pernikahan sang calon mempelai wanita kabur bersama lelaki lain yang saat ini menjadi suaminya.

__ADS_1


"Meski di dunia cuma ada satu wanita (Luna) aku nggak bakal sudi"


Tok...tok...


Hans mengetuk pintu kamar "Ra....mas boleh masuk?" Ucap Hans dari balik pintu.


"Masuk saja mas. Pintu nggak di kunci" Sahut Tuti. Ia juga ada di dalam kamar bersama Nara. Bagaimana pun Tuti paling dekat dengan Nara. Sebagai seorang wanita ia juga merasa sakit hati.


Perlahan pintu terluka. Melihat sang adik menyandarkan kepala di pangkuan Tuti, tengah menangis sejadi jadinya, membuat hati Hans ikut sakit. Semua yang terjadi bagaikan mimpi. Seketika meluluh lantahkan hati seorang manusia. Ujian tidak datang mengenal waktu dan kepada siapa. Tidak pernah terlintas dalam benaknya kalau semua akan terungkap begitu cepat.


Sembari mengusap lengan Nara, Tuti berkata "Aku tidak melarangmu menangis atau pun mengeluh. Tapi, aku mohon jangan perlihatkan kelemahan kamu di depan orang lain. Cukup kami saja yang tau. Tidak semua orang menghiba atas luka mu, banyak orang di luar sana justru menertawakan kondisi kamu saat ini "


"Sampean nggak tau sih mbak bagaimana hancurnya aku saat ini. Sakit mbak, sakit(Seraya menyentih dada). Begitu banyak beban serita yang harus aku pikul. Belum lagi pil pahit kehidupan yang berusaha ku telan mentah saat ini. Tapi, sampai saat ini belum ku temukan bahagia sedikit pun"Memposisikan badan duduk sejajar dengan sang kakak ipar. Tatapan mata Nara memancarkan luka mendalam. "Tiga kali, tiga kali mbak. Aku di selingkuhi olehnya. Sekarang keputusanku mentok mbak, mas. Aku mau pisah saja sudah nggak sanggup lagi menahan sakit." bersandardi bahu Tuti.


"Apa? jadi sebelum ini Bagus juga pernah berselingkuh?" Tuti terkejut mendengar semua kenyataan itu.


"Sudah banyak luka yang dia gores di hati ini(Menunduk lesu). Hati ini sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit. Aku menyerah nggak sanggup lagi. Sudah cukup, cukup." Kembali air mata tumpah.


Beberapa tahun lalu Bagus pernah ketahuan beberapa kali selingkuh dengan tenaga kerja di warungnya. Pertama seorang gadis muda berkisar dua puluh tahun. Bagus menyukainya sampai pesan dia tergila gila. Sering mengirim pesan kotor pada si wanita. Namun, si wanita hanya ingin duit saja bukan yang lain. Dia juga tidak serius dalam menanggapi sikap Bagus. Kedua si janda itu. Dan yang ketiga dengan Merry.


Tuti geleng kepela "Nggak nyangka di luar sok alim ternyata aslinya busuk. Laki macam dia nggak pantas mendapatkan kamu, Ra. Aku mendukung mu untuk bercerai. Untuk apa di pertahanin kalau cuma nguras emosi"


"Sudah to buk. Jangan si tambah pusing" Ujar Hans.


Hans berlutut di depan sang adik. Melihat air mata kembali tumpah, ia tau bahwa saat ini Nara kesulitan dalam mengambil keputuhan. Mulut berkata yakin tapi hati berkata lain"Perceraian memang tidak di haramkan. Tapi, Allah membencinya. Sekarang kami tidak bisa memaksa kamu dalam mengambil keputusan selanjutnya. Pikirkan matang matang sebelum melangkah. Di depan sana ada banyak rintangan. Tidak mudah hidup sebagai janda, di tambah kedua putra mu masih membutuhkan figur seorang ayah. Kalau bisa di perbaiki saja dulu, jangan langsung di tinggalkan." Seraya menyeka air mata Nara.


"Keputusanku sudah final, mas. Aku mau cerai dari dia" Memperkuat tekat. Meski begitu hati Nara tidak bisa berbohong. Sekuat tenaga minta pisah tapi air mata berkata lain. Dahulu rasa cinta itu sempat ada dalam hati, mungkin sampai saat ini rasa itu masih ada. Tapi, tidak seutuh dulu.


"Jangan buat aku berat dalam langkah..."Nara langsung memeluk Hans sembari meluapkan semua unek uneknya.

__ADS_1


"Kamu ini bisa nggak sih jangan ganggu aku dulu? saat ini aku lagi banyak masalah, bye" Bagus menutup telepon dari Luna.


"Aku harus bagaimana nanti di persidangan?"Bagus terus memikirkan cara menghadapi Bustomi. Setelah tau seberapa kejam amarah Bustomi, membuat Bagus tidak berani berhadapan langsung dengannya. Sejauh ia mengenal Bustomi tidak sekali pun melihat kemarahan begitu besar.


__ADS_2