
Malam hari sekitar pukul delapan Bagus meminta ijin kepada ibu Sumiati untuk membeli rokok. Awalnya beliau sempat curiga, kenapa sore tadi tidak beli sedangkan di malam hari malah mau beli rokok. Tapi beliau tidak mau ambil pusing, yang terpenting saat ini beliau punya teman di rumah. Apa lagi Bagus bisa merawat beliau dengan sangat baik.
"Jangan lama lama ya Gus emak takut di rumah sendiri" Ujar ibu Sumiati.
"Nggak jauh kok mas cuma di warung bustomu"
"Oh...ya sudah kalau begitu"
Sesampainya di depan warung, Bagus mengirim pesan pada Merry kalau dia sudah di depan warung, tepatnya di sebalah rumah Merry. Merry yang tengah duduk depan tv langsung bangkit. Senyumnya melebar "Yang di tunggu akhirnya datang juga...."
Dengan memakai daster pendek dan rambut di kuncir dia berjalan mengendap endap seperti seorang pencuri. Sebelumnya dia sudah mematikan lampu depan, supaya tidak ada orang yang curiga kalau mereka hendak berbuat Zina.
"Sayang, ayo cepat masuk..." Buru buru Merry menarik tangan Bagus kemudian menutup pintu.
"Buruan masuk nanti di lihat orang" Mengintip dari dalam warung siapa tau ada yang mengintai Mereka.
"Aman kok sayang nggak ada orang" Ujar Bagus seraya meraih kedua tangan merry.
"Aku tuh masih takut lho sayang, takut si Fajri ambil keuntungan lagi"
"Tenang saja Fajri nggak bakal macam macam lagi sama kita. Kemarin aku sudah bayar satu juta untuk video itu, jdi kita bisa bernafas lega sayang ku" Setelah di rasa aman mereka pun saling bermesraan.
Salah satu tangan meraih pinggang ramping Merry "Malam ini kamu terlihat jauh lebih cantik, bahkan bulan pun kalah atas cantikmu" Membelai mesra Merry seraya menyelipkan beberapa rambut yang terurai.
Kedua tangan Merry melingkar di leher Bagus "Ih sayang kamu sweet banget sih...."
"Nggak salah aku pilih pacar secantik kamu" Laki laki kalau sudah ada maunya pasti jago ngegombal. Setiap kalimat keluar bagaikan gula, bikin candu tapi kalau kebanyakan bisa jadi penyakit juga.
Di sisi lain Nara masih sibuk di dapur. Dia tengah mengupas bawang dan menyiapkan bumbu untuk esok hari.
__ADS_1
"Aw....."
"Kenapa buk?" Eca berlari menghampiri asal suara.
Nara mengibaskan tangan "Nggak apa apa kok Ca, cuma jari saya nggak sengaja kena pisau. Mungkin karena saya lagi banyak pikiran kali ya" ujar Nara.
Langsung Eca mengambil kotak obat "Sini buk biar saya bersihin dulu lukanya...."
"Oh iya Ca, saya kok ngerasa malam ini kaya agak gimana gitu ya, rasanya itu kaya nggak nyaman. Kaya ada sesuatu yang ngeganjel di hati....Semoga cuma perasaan ku saja. Jujur saya takut kalau Emak kenapa napa.."
"Coba deh ibuk telepon bapak, biar hati ibu jadi lega...." Ujar Eca memberi saran.
"Iya juga ya....kalau gitu saya telepon mas Bagus dulu, kamu lanjut cuci piring setelah itu bantu saya potong bawang yang sudah saya kupas" Meraih ponsel di atas meja dapur kemudian menghubungi suaminya.
"Mas Bagus itu kemana sih kok nggak di angkat...." Beberapa kali menelepon suaminya masih saja tidak ada respon.
"Hus....ngawur kamu ini Ndra. Bapak kamu lagi jagain mbah uti, nggak baik berprasangka kaya gitu" Tugur Nara. Sejak kecil Andra terlihat tidak begitu suka dengan Bagus. Entah hal apa yang membuat Andra jauh dari bapaknya.
Bagus melirik ponsel di sebelah Merry, melihat sang istri berulang kali menghubunginya. Saat ini Bagus tengah menuntaskan hasrat terpendam bersama kekasih gelapnya.
"Siapa sayang ganggu saja deh....? "Merry merasa terusik kala Bagus meraih ponsel.
"Itu lho sayang..... Nara telepon dari tadi paling mau tanya kabar emaknya. Emang dasar istri nggak guna, bukannya tanya kabar suami malah tanya kabar emaknya terus(Terlihat raut kekesalan). Kamu jangan cemberut dong sayang, nanti ilang lho cantiknya. Nih aku matiin ya(Seraya menonaktivekan ponsel) pokoknya aku milikmu malam ini" Kata kata manis terus mengalir dari mulut Bagus sampai membuat Merry melayang kegirangan.
"Makasih ya sayang ku" Mereka melanjutkam ritual penuh dosa itu tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tok...tok....tok..
"Mbak, mbak, mbak Merry, beli...." Seorang mengetuk pintu dari luar. Merry langsung memakai baju begitu pula dengan Bagus.
__ADS_1
"Bagaimana nih, mas?" Bisik Merry. Mereka saling menatap sebelum Merry membuka pintu warung.
"Eh Mbak Sarah mau beli apa, mbak?" Merry berusaha bersikap biasa saja di depan Sarah, tetangga serta teman dekatnya sendiri. Dengan rambut acak acakan, dahi berkeringat, Merry memaksakan senyum.
"Em....aku mau beli anu mbak" Penasaran Sarah pun melihat ke dalam warung. Benar saja dia melihat seorang laki laki duduk di dalam warung "Loh ada Pak Bagus juga to? ngapain pak di dalam, berduaaan lagi?"
"Em....anu mbak itu tadi aku minta tolong sama Merry buat kerokin badan aku rasanya kaya mau meriang" Jelas Bagus sembari kembali mengenakan baju. Sebelumnya dia sudah merencanakan sesuatu agar Sarah tidak curiga. Namun, dari keringat di dahi keduanya mana bisa Sarah percaya begitu saja.
"Masa kerokan malam malam begini sih, pak. Mana pintu di tutup lampu mati, jangan bilang kalian berbuat kotor di sini" Nada bicara sedikut meenekan.
Merry pasang badan "Ngomong apa kamu ini Mbak? kalau sakitnya sekarang masa ngeroknya nunggu besok pagi, kan nggak mungkin. Lagi pula kami nggak ngapa ngapain kok. Kalau mbak datang kesini mau beli sesuatu aku bakal layani tapi kalau cuma bicara omong kosang aku nggak ada waktu" melipat kedua tangan.
Bagus keluar dari warung "Kami nggak ngelakuin apa yang kamu pikirkan, sumpah. Nih kamu lihat sendiri mbak(membuka punggu) percaya kan sekarang" Benar saja punggu Bagus terlihat seperti habis di kerok.
(Ah masa sih mereka nggak ada niat lain selain kerokan? menurut aku nggak mungkin deh mereka nggak ada apa apa, tapi kok punggung Bagus ada bekas kerokan juga ya)Rasa penasaran Sarah mendorongnya untuk menyelidiki kecurigaan pada mereka berdua.
"Makasih ya Mer aku pamit pulang dulu" Bagus segera pergi dari sana. Sekarang tinggal Sarah dan Merry.
"Cepetan mbak mau beli apa? warung mau aku tutup udah malam"
"Beli obat nyamuk satu sekalian sama korek api satu"
"Semoga saja Sarah percaya" Sepanjang jalan Bagus terus berdoa supaya perselingkuhannya tidak terbongkar.
"Nih....(Memberikan obat nyamuk beserta korek api)" Wajah Merry terlihat tidak senang.
"Makasih ya, mbak." Sarah pun langsung pulang.
"Masa sih kerokan kok malam kaya gini, benar nggak tuh mereka tadi. Emang dasar pak Bagus itu, di suruh jaga mak Sumi malah jagain bini orang" Di sepanjang jalan Sarah masih tidak percaya dengan alasan kedua orang tadi.
__ADS_1