
Keesokan hari Nara sudah di perbolehkan pulang. Ia masih bersama Prasetya dan Hans. Mereka baru saja kelaur dari ruangan.
"Mas, bagaimana dengan Aska dan Emak apa mereka mencariku?" Tanya Nara.
Hans menggeleng kepala "Tidak. Aska itu anak yang pintar. Kamu nggak usah khawatirkan dia, istri ku bisa mengurusnya dengan sangat baik. Kalau Emak jelas khawatir, tapi beliau tidak tau kalau kamu masuk rumah sakit. Aku sudah pesan sama Tuti misalnya Emak tanya kamu di mana tak suruh jawab kamu butuh waktu sendiri di rumah teman. Supaya emak tidak terlalu khawatir"
"Syukurlah kalau begitu" Ucap Nara.
(Wanita ini membuat ku semakin kagum. Meski hatinya sakit tapi masih memikirkan anak dan ibu angkatnya) Kekaguman Pras tak henti di tujukan pada Nara seorang.
"Pasti Emak khawatir sama aku"
"Makanya jangan bandel kalau di bilangin. Kalau kamu sampai kenapa napa, bagaimana dengan emak dan kedua anak mu? pasti mereka ikut sedih. Mendengar kabar kalau kamu jatuh sakit saja hati ku berasa nyesek." Kedua mata Hans berkaca kaca, takut kehilangan sosok Nara.
Pras dan Hans memegang sisi kanan dan kiri badan Nara "Wah iya ya sampai lupa mau tanya anak kamu, Ra. Mereka di mana sekarang? bagaimana kabar mereka?" Bertanya soal anak membuat Pras sedikit sakit. Pasalnya di usia sekarang ini belum juga menikah apa lagi punya anak.
"Si sulung di kota yang bungsu ikut pulang kampung. Alhamdulillah mereka sehat " Jawab Nara.
"Terus sekolah anak kamu bagaimana?"
"Si bungsu terpaksa ijin beberapa hari" Sambung Hans.
Mereka lalu kembali menyusuri lorong rumah sakit.
"Pras, tolong antarkan Nara pulang ke rumah ya, kalau sama kamu dia lebih aman. Nggak mungkin kan aku bawa dia naik motor? yang ada dia malah tambah sakit" Ujar Hans.
"Iya bang beres deh pokoknya kalau ada aku" Menepuk pelan dada, seolah meyombongkan diri. Memang sifat Hans suka bergurau, tapi orangnya asik.
Kalian lebih suka lelaki banyak canda, pemarah, atau sedingin balok es? Hayo suka yang mana?
"Sampean ikut naik mobil saja, mas." Pinta Nara. Saat ini mereka berdua berada di parkiran.
Seraya memakai helm "Nggak bisa dong masa motor mau di tinggal di sini. Udah kamu ikut Pras saja, nggak usah ngeyel deh." Segera naik motor "Dah sono masuk...."
Prasetya sudah membuka pintu mobil untuk Nara. "Ayo masuk, nggak usah takut. Aku nggak gigit kok. Palingan nyolek dikit" Menyeringai senang kala bisa menggoda Nara. Sontak saja Nara mencubit lengan Pras "Nih tak colek biar tau rasa"
"Aduh, aduh, sakit. Dasar kucing betina galak sekali" Mengusap lengan bekas cubitan.
__ADS_1
"Kalian ini masih saja cubit cubitan nggak ingat umur" Ucap Hans seraya menyalakan motor. "Aku duluan ya...."
Kini tinggal mereka berdua saja.
"Silahkan masuk tuan putri" Masih saja Prasetya menggodanya.
Bersama Pras ia temukan kenyamanan yang selama ini ia cari. Sifatnya berbanding terbalik dengan Bagus. Pras bisa mencairkan suasana hati bukan seperti Bagus yang hanya bisa melukai hati.
"Pakai sabuk pengaman dulu" Memakaikan sabuk pengan dan tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Beberapa saat mereka terdiam saling berpandanga.
Tin......
Lamunan mereka pecah karena suara klakso mobil di belakangnya. Sontak Pras segera melajukan kendaraan.
Tok....tok....tok...
Bagus mengetuk pintu rumah Tuti. "Mbak, mas, buka pintunya"
Dari dapur samar samar terdengar suara pintu di ketuk. "Apa mas Hans pulang? tapi kok dia nggak masuk saja sih, kan udah bawa kunci rumah" Tuti yang tengah memasak nasi goreng langsung mematikan kompor lalu berjalan ke arah pintu.
Tuti memicingkan mata "Belum. Seharusnya kamu sadar semua terjadi karena kamu(Mendorong badan Bagus). Kalau terjadi sesuatu sama Nara, lihat saja apa yang akan terjadi padamu setelah ini."
Seketika Bagus menunduk "Aku menyesal mbak" Wajah menunduk.
Melihat Bagus memegang perut "Kenapa kamu? lapar?"
Bagus menggeleng "Perutku masih berasa sakit, mbak"
Melipat kedua tangan seraya melempar tatapan sinis "Masih untung Bustomi cuma mukul kamu, coba kalau dia nekat sampai berbuat hal yang lain. Sudah tau Bustomi bukan orang sembarangan masih nekat selingkuh sama bininya. Nggak masuk rumah sakit aja untung kamu"
Bagus terdiam membisu dengan wajah menunduk. (Kasiahan juga melihat Bagus seperti itu) "Ya sudah kamu masuk dulu, biar aku buatkan teh hangat"
Tiba tiba saja Luna keluar rumah melihat mereka berdua tengah ngibrol di depan pintu. Segera ia berjalan ke rumah Tuti "Eh ada mas Bagus, tumben mas pagi begini udah ke sini?"
Bagus menoleh mendengar suara itu "Luna..."
Melihat tatapan mereka membuat Tuti sedikit menaruh curiga. Senyum manja dan mimik muka Luna seolah menggambarkan sesuatu. Apa lagi sejak dulu Tuti mencurigai mereka berdua.
__ADS_1
"Mbak Tuti boleh ya aku numpang ngeteh di sini. Gula di rumah sudah habis. Maklum mbak nggak ada yang nyariin duit" Pandanagan Luna berlih pada Bagus.
Bagus tau isyarat apa itu. Dari tadi malam sampai sekarang ia belum sempat mengirim uang untuk Luna.
"Boleh saja, silahkan masuk" Tuti mempersilahkan mereka masuk "Tak buatin tehnya dulu ya. Kalian duduk saja dulu" Segera Tuti berjalan menju dapur.
"Apaan sih...."Menepis tangan Luna yang tiba tiba lelingkar di lengan kanannya.
"Sayang aku kangen"
Bagus melihat ke arah dapur tajut Tuti melihat "Iya aku tau. Nggak usah kaya gini ah nanti ketahuan. Masalah satu aja belum kelar malah di tambah masalah lain" melepas paksa tangan Luna.
"Aku juga kesel sama kamu, udah ada aku masih aja demen sama Merry." Berpaling badan seraya melipat kedua tangan.
Bagus menggeleng kepala "Jangan marah dong sayangku" Menyentuh lengan Luna seraya membalikkan badan wanita cantik itu. "Mau di kirim duit berapa sih, sayang ku ini? sebagai tanda permintaan maaf dariku apa pun pasti ku berikan" Mengusap lembut pipi Luna.
Luna langsung tersenyum "Dua juta"
Bagus terkejut "Dua juta?"
"Kenapa? nggak mau kasih. Oke, nggak apa apa kok" berbalik badan lagi seraya melipat kedua tangan.
"Iya deh iya nanti aku kirim sayang. Tapi tolong jangan marah ya"
"Janji?" Mengacungkan jari kelingking.
Bagus tersenyum "Nah gitu dong senyum. Kalau begini cintaku ini terlihat jauh lebih cantik" Mencubit hidung seraya mengacungkan jari kelingking "Janji sayang" Lirih bagus.
"Ehem...."
Mereka langsung kelabakan. "Sini mbak biar aku saja yang bawa" Menghampiri Tuti seraya meraih nampan berisikan dua tiga cangkir teh.
Kedua bola mata membulat sempurna "Jangan main main kamu Gus" Lirih Tuti.
Bagus tersenyum "Apaan sih mbak. Sampean duduk minum dulu"
(Gampang banget cari duit. Nggak usah repot kerja banting tulang udah banyak duit) Dalam hati Luna merasa puas bisa mengelabuhi seorang lelaki mata keranjang macam Bagus.
__ADS_1