
"Makasih ya Jri udah ngantarin pulang..." Ucap Nara. Setelah mengobati luka di lututnya, ia pun berbincang sejanak dengan Fajri di teras rumah.
"Justru saya nggak enak sama sampen...."
"Memang semua salah ku Jri karena tidak memperhatikan jalan. Oh iya kamu mau minum apa? sampai lupa nggak di kasih minum" Tanya Nara.
"Tidak usah repot bu. Kalau begitu saya mau pamit pulang dulu sekalian mampir warung pak Bustomi, mau beli rokok. Sekali lagi saya minta maaf ya bu gara gara saya sampena jadi luka seperti ini"
"Namanya musibah siapa yang tau. Bukan karena kamu, semua terjadi karena aku saja kurang berhati hati" Menepuk pundaj Fajri.
"Sampean baik sekali to bu. Kalau begitu saya pamit pulang...."Fajri pun segera meninggalkan rumah Nara lalu berbelok menuju warung Bustomi.
Belum sempat Nara beranjak dari tempat, tiba tiba saja ponselnya berdering. Nada pesan masuk, langsung membuat Nara membuka ponsel. Nomor tidak di kenal mengirim sebuah video kala Bagus dan Merry bercumbu di gubuk tadi.
"Kepar**..." Emosi mulai meluap. Ia pun segera masuk ke dalam kamar. Baru saja masuk ia melihat kasur di atas ranjang. Pikiran kotor terselip di otaknya, membuat Nara terbayang, di ranjang itu pasti mereka berdua(Merry dan Bagus) pernah melakukan zina. Emosi sudah mengasai diri sampai naik hingga ubun ubun.
"Di tempat ini kalian pernah berzina, sekarang kita lihat apa yang bisa ku perbuat. Aku benar benar geram" Kasur di kamar di seret keluar rumah. Tidak hanya kasur di kamarnya saja tapi juga di kamar Andra dan Aska. Jadi total ada tiga kasur kapuk yang di keluarkan dari rumah. Nara tidak mau memelihara tempat maksiat sang suami dalam rumahnya lagi.
"Wah...bu Nara mau ngapain itu?" Fajri melihat Nara bersusah payah menumpuk ketiga kasur. Bustomi baru saja keluar dari warungnya dengan membawa sebungkus rokok. "Ada apa Jri?" Melihat Nara menyiramkan minyak tanah ke atas tumpukan kasur.
Ketiga kasur itu langsung di bakar olehnya. Asap hitam langsung mengepul "Pakde....aku membakar tempat mesum mereka, virus menjijikkan masih nempel di kasur ku. Semoga kedepannya tidak ada virus lagi di desa kita ini" Teriak Nara.
Dari gejolak api dan asap hitam membumbung, terlihat Nara berdiri tegak sembari memegangi botol bekas mintak tanah.
Bustomi hanya mengacungkan jembol saja (Aksi Nara ini menakutkan juga. Emang dasar adik bekas ketua geng hitam. Sadis juga ternyata)
Tanpa mereka sadari Merry mendengar ucapan Nara. Ia pun mengintip dari balik jendela ruang tamu. Begitu melihat kilatan api dan asap tebal membuat selurih badan menggigil ketakutan. Keringat dingin bercucuran "Aaaaaaaa...." Seketika Merry menyentuh kepala. Rasa sakit tak tertahankan.
Teriakan Merry membuat Bustomi segera berlari. Baru saja sampai di depan pintu dia sudah melihat Merry berguling guling kesakitan.
"Kamu kenapa" Bustomi berusaha membantu Merry tapi sepertinya Merry merasa kesakitan luar biasa. Sehingga Bustomi langsung memapahnya keluar rumah. Dia juga meminta Fajri mencari mobil untuk membawa sang istri ke rumah sakit.
"Itu karma pakde, biar tau rasa" Tanpa sadar ucapan Nara seolah mengutuk Merry.
Bustomi tidak bereaksi sedikit pun. Bagaimana pun dia juga merasakan sakit yang sama seperti Nara saat ini. Dia tidak mau menambah luka di hati mereka, Lebih baik memilih diam dan biarkan Tuhan bertindak.
__ADS_1
Tanpa rasa iba Nara pun duduk di teras rumah seraya melipat kaki dan pandangan lurus ke depan, melihat kobaran api. "Api ini menjadi saksi ku lepas dia dari hidup ku"
"Allah tidak akan diam saja melihat yang buruk di atas muka bumi" Senyum sinis terlihat di wajah Nara. "Kita lihat saja pembalasan manusia tidak sebanding dengan bembalasan Allah"
Tak berapa lama Fajri datang dengan membawa mobil milik tetangga sekitar. Terlihat Mereka terburu buru masuk ke dalam mobil.
"Ayo jalan"
"Aaaa.....sakit, sakit, sakit mas" Mencengkeram rambut sampai ikat rambutnya lepas. Sejak beberapa hari lalu Merry mengeluh skait kepala sampai rasanya mau pecah.
"Sabar ya kita akan ke rumah sakit" ucap Bustomi. Segara mobil meluncur menuju rumah sakit terdekat.
Di sisi lain Bagus yang hendak membawa Aska pulang ke rumah kedua orang tuanya. Di jalan tiba tiba saja musibah menimpa mereka. Motor yang di kendarai Bagus terguling di tengah jalan raya sebab di senggol kendaran di samping. Bagus dan Aska langsung di larikan ke rumah sakit terdekat.
Tak berapa lama pihak rumah sakit menghubungi Nara, tapi tidak di angkat olehnya. "Keluarga pasien tidak menjawab" Ujar salah satu perawat.
"Coba nomor yang lain..."
Mencoba mencari nomor telepon anggota keluarga di panggilan terakhir. Yang ada hanya nama Nara dan luna. Setelah Nara tidak bisa di hubungi otomatis pihak rumah sakit menghubungi Luna.
"Baik, sekerang juga saya ke sana" Buru buru Luna mengendarai motor menju rumah sakit yang di tuju. Sangking panik dia sampai tidak sempat memberi kabar pada pihak keluarga Bagus.
"Aduh, gawat kalau sampai dia mati. Mesin Atm Gue bisa hilang satu dong..." Ujar Luna seraya meningkatkan kecepatan.
Beberapa saat kemudian Luna sampai di rumah sakit. Baru saja hendak turun dari motor, matanya di kejutkan dengan datangnya mobil yang membawa Merry. Mereka terlihat panik lalu membawa Merry masuk ke dalam rumah sakit. "Loh dia juga sakit? pas benget si Bagus juga di rawat di sini"
"Keluarga pasien belum ada yang datang?" Tanpa seorang Dokter.
"Belum, Dok"
"Kita harus cepat ambil tindakan, kalau tidak pasien bisa kehabisan darah."
Tak berapa lama Luna datang. Pihak rumah salit langsung meminta persetujuan keluarga. "Anda istri pasien?" tanya suster.
Karena panik Luna memgangguk. Akhirnya para medis langsung mengambil tindakan cepat. Ketika Bagus keluar dari ruangan, seluruh badannya berlumur darah. "Astaga...." Membungkam mutut melihat penampakan Bagus sekarang ini membuatnya takut. "Apa ini sebuah karma...." Rasa takut mulai menyelimuti hati Luna.
__ADS_1
"Keluarga pasien di harap menunggu di luar" Para medis segera mengambil tindakan.
Saat ini Luna baru ingat sesuatu "Lebih baik aku kasih tau Nara" Menghubungi Nara tapi tidak bisa di hubungi.
"Coba Mas Hans..." Mencoba melepon Hans tapi tidak ada jawaban.
"Ini pada kemana sih" kesal Luna. Setelah berulang kali kesulitan menghubungi anggota keluarga Bagus, akhirnya Luna minta tolong kepada seseorang untuk memberitahu Nara bahwa suaminya kecelakaan.
"Apa? nggak, nggak mungin...." Sontak badan Nara lemas. Yang ia cemaskan bukan Bagus tapi Aska. "Aska ada bersama mas Bagus, sekarang bagaimana keadaan Aska?"
"Aku tidak tau Tente. Tadi tante Luna cuma bilang om Bagus kecelakaan dan di rawat di rumah sakit Medika"
"Sekarang kamu antar tante kesana sekarang juga"
Luna terlihat mondar mandir di depan pintu ruang operasi. "Kalau tau karma sekejam ini, aku nggak berani main main lagi deh. Ampun, nggak berani lagi aku" Tidak mau terkena imbas dari perselingkuhan yang menjerat mereka, akhirnya Luna memutuskan untuk pergi meninggalkan Bagus. "Nggak sudi gue kalau kena imbas kaya mereka"
Sesampainya di depan rumah sakit, Nara pun langsung berlari mencari tau di mana putranya kini berada. "Pasien atas nama Tubagus Aska Saputra, di rawat di mana sus?" Bertanya pada seorang suster.
"Oh pasien yang baru saja masuk akibat kecelakan berada di kamar mawar no 13 dan akan di pindahkan ke kamar jenazah"
"Apa? kamar jenazah?"
Deg....
Seketika dada terasa nyeri. Badan pun lemas "Tante..." Anak remaja yang membawa Nara tadi langsung menggapai badan Nara katika hampir jatuh pingsan.
"Tidak, tidak mungkin" Menjerit sekuat tenaga. "Kalian pembohong. Anak ku baik baik saja, kalian semua pembohong"
"Sabar Tante, yang tabah ya" Mengusap lengan Nara.
"Nggak mungkin, semua hanya ilusi, semua pasti sengaja mau prank, kan? iya kan kalian semua main prank"
Melihat wajah para suster menunduk lesu seolah ikut berduka, membuat Nara langaung berlari menuju kamar jenazah.
Sesampainya di depan ruangan, Nara langsung berlari memeluk sang putra "Ya Allah, Aska...." Teriak Nara.
__ADS_1
Kaki mulai melamas ketika wajah putranya tertutup kain putih. Perlahan kain di buka "Askaaaaaaa....." Menjerit sekuat tenaga. Dan tiba tiba saja Nara kehilangan kesadaran.