
"Bersabarlah, kita akan segera sampai....." Raut kepanikan terlihat jelas dari wajah Prasetya. Berulang kali ia menoleh ke samping melihat Nara tergeletak lemas tak berdaya, dengan badan basah kuyup.
Sedari pagi Nara tidak makan sesuap nasi pun. Pikirannya hanya tertuju pada sidang malam ini. Mungkin itu penyabab dia jatuh pingsan. Semua itu wajar bagi seorang wanita yang di selingkuhi pasangannya. Apa lagi dia harus rela manjadi tameng untuk melindungi suami, yang mana dialah sumber masalah. Dengan kondisi sakit hati Nara rela menelan pahitnya empedu demi menutup malu di depan masyarakat. Tindakan Nara bukan semata dia mencintai Bagus atau takut kehilangan, tapi dia hanya ingin menggulingkan tuntutan tidak masuk akal dari Bustomi. Dalam sebuah perselingkuhan jelas tidak hanya satu orang saja yang bersalah, melainkan kedua manusia saling berkaitan. Tapi, di kisah mereka terlihat aneh di mata umum. Bagaimana ada seorang suami meminta sejumlah denda pada lelaki selingkuhan istrinya, sedangkan perselingkuhan tersebut murni keinginan mereka berdua. Alhasil dalam tuntutan itu hanya malu yang di dapat bukan sepersen uang.
"Sepertinya aku punya kemeja di tas belakang..." Menepikan mobil sejenak demi mengambil kemeja di dalam tas untuk di pakaikan pada Nara. "Masa iya sih aku harus menggantikan pakaian dia, yang ada nanti malah timbul fitnah. Gimana ya caranya...." Melihat badan Nara saat ini saja gejolak dalam diri seorang lelaki pasti langsung memberontak. Seorang wanita sintal di kuyur air hujan sampai selutuh pakaian melekat ketat di badan. "Astagfirullah...." Menggeleng kepala lalu kembali fokus pada tujuan. Prasetya tidak mau terjdi salah paham antara mereka, akhirnya ia hanya menutup tubuh bagian depan menggunakan kemeja biru miliknya. "Melihat kamu seperti ini sungguh membuatku terluka" Membelai Wajah Nara. Bayangan masa lalu semakin menguasai diri. Momok paling mengerikan adalah saat gejolak api asmara mulai berkobar kembali. Puber tidak hanya datang sekali seumur hidup, tapi bisa berulang kali. Yang paling mengerikan saat orang mulai menginjak puber ke dua. Di masa puber kedua tidak hanya cinta saja yang menggebu tapi di iringi hawa nafsu.
(Andai kamu memilihku menjadi pendamping, pasti aku tidak akan menyiakan kamu seperti ini. Aku akan selalu menjaga mu seperti aku menjagi cinta hanya untuk mu selama ini. Andai saja.....cinta ini berlabuh di hati mu lebih dulu, maka saat ini senyum manis mu masih melebar indah ) Hampir belasan tahun Prasetya belum juga mempunyai tambatan hati. Terlalu besar rasa cintanya, sehingga membuat Pras enggan membuka hati untuk wanita lain. Sejak saat itu dia memilih membujang sampai sekarang ini.
Cinta sejati tidak akan pernah redup terkikis usia. Meski terpisah sekali pun cinta masih bersemayam di dalam hati. Cinta memang tidak harus selamanya memiliki, setidaknya melihat dia bahagia dan mengiklaskan apa yang bukan di takdirkan untuk kita, berlabuh di hati orang lain itu barulah cinta sejati. Cinta tidak pernah memaksakan kehendak harus dan dengan siapa kita bersama, tapi cinta akan berjalan sesuai rancana Tuhan.
Sesaat kemudian Ia tersadar dari lamunan masa lalu "Ya Allah, pikiran macam apa ini..." Menggeleng kepala lalu segara melajukan mobil sekencang mungkin supaya cepat sampai di rumah sakit.
Tak berapa lama sampailah mereka di depan rumah sakit. Pras segera membawa Nara masuk ke dalam Rumah sakit, menyusuri lorong panjang "Aku pastikan kamu mendapat perawatan terbaik di sini" Prasetya berlarian seraya memapah Nara. Tentu saja mereka berdua menjadi pusat perhatian orang sekitar.
"Lihat deh mereka itu kenapa ya..." Ujar salah satu orang.
Beberapa orang lagi menatap mereka dengan sinis "Paling abis berantem. Terus si wanita jatuh pingsan...." Semua orang di ssna hanya bisa mengira ira saja dari pandangan mereka masing masing.
"Sweet...." Dua orang muda mudi melihat mereka sembari terkesan. "Sayang mau dong jadi dia" Si wanita langsung menggelayut di pundak pacarnya.
"Yang tua yang bercinta" Ujar si lelaki sembari geleng kepala.
"Hus....kalian ini masih bisa bicara sembarangan di rumah sakit. Mereka itu lagi panik malah kalian ini bicara apa sih" Tegur slaah satu teman.
__ADS_1
"Minggir...." Prasetya mampu meyibakkan puluhan orang bahkan ratusan sekali pun, demi Nara seorang.
"Suster tolong......" Teriak Pras kala melihat ada beberapa suster berjalan ke arahnya.
Nara pun segera di bawa menuju ruang dokter. Dengan hati gelisah Pras menunggu di luar ruang. Badan menggigil tak lagi di hiraukan, saat ini kesehatan Nara adalah nomor satu.
Tak berapa lama dokter keluar.
"Bagaiman kondisi dia saat ini, Dok?"
"Pasien baik baik saja, hanya terlalu kedinginan. Saran saya tolong carikan pakaian hangat untuk pasien." Ujar Dokter.
"Baik, dok" Tanpa tunggu lama, Pras langsung berlari menuju parkiran. Sesampainya di sana ia baru ingat sesuatu"Jam segini mana ada toko baju yang buka..." Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Prasetya bingung mau cari ke mana pakaian malam malam begini.
"Demi kamu apa pun ku lakukan" segera tancap gas.
Di sisi lain Hans duduk di ruang tamu sembari terus menerus menghubungi Nara.
"Kenapa tidak aktif?" Berulang kali menghubungi sang adik, tetap saja tidak bisa. Han semakin panik. Lalu ia menelepon Bagus "Halo Gus, Nara sudah pulang belum?" Tanya Hans.
"Sampai sekarang dia belum juga pulang, mas. Aku kira dia ada di rumah sampean" Jawab Bagus seraya mengintip dari balik jendela.
"Kamu cari dia sampai ketemu. Jangan pulang sebelum kamu menemukan dia. Tadi aku melihatnya terakhir kali di jalan dekat pertigaan" Ucap Hans memberitahukan keberadaan akhir sang adik.
__ADS_1
Bagus langsung mematikan ponsel. Bangkit lalu berjalan seraya memegangi perut "Sial, semua ini gara gara Bustomi. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku, semua ini karenanya. Mana badan gue rasanya mau rontok....." Meraih jaket lalu keluar membuka pintu. Baru saja keluar rumah, ia terkejut dengan suara benda jatuh di rumah Bustomi. Saat di lihat ternyata sebuah koper di lempar ke luar. Tak berapa lama Bustomi menyeret Merry keluar dari rumah.
"Ampun, mas, ampun. Aku minta maaf...."Penuh derai air mata Merry di seret paksa oleh suaminya. Tepat di depan rumah, Bustomi mendorong tubuh Merry sampai terjengkang.
"Pergi kamu dari rumah ku. Jangan sekali kali kau injakkan kaki di rumah ku lagi. Mulai saat ini, detik ini, aku talak kamu...."Ucapan Bustomi menggelegar bagai gemuruh guntur di kala hujan.
"Mas.....aku tidak mau pisah dari kamu, aku mohon beri aku kesempatan" Merry berusaha menghentikan langkah Bustomi yang hendak masuk ke dalam rumah. Meraih satu kaki dengan posisi setengah memohon.
"Kesempatan hanya berlaku untuk manusia berhati, tapi tidak untuk manusia berhati besi macam kamu" Ketus Baustomi. Tangan Merry masih melingkar pada salah satu kaki Bustomi, hingga membuat Bustomi kesal lalu menendangnya. "Asal lu ingat, tanpa gue lu itu udah jadi gembel. Masih berani macam macam sama gue....Itu akibatnya. Pergi sana gue nggak sudi lihat muka comberan lu itu"
"Tolong mas beri aku satu kesempatan lagi...." Rengeknya.
"Enyah kau dari hadapan ku...." sangking kesalnya, Bustomi sampai mendorong Merry berulang kali."Harusnya kamu malu masih bertahan di rumah ku. Kucing yang gue pengut dari jalan saja tau balas budi tapi lu malah nginjak injak harga diri gue. Itulah harga yang harus lu bayar karena udah nyakitin gue.... " Ketusnya seraya berbalik badan. Tanpa sengaja Bustomi melihat sosok Bagus melihat ke arah mereka.
"Kebetulan sekali selingkuhan mu ada di sana" Menunjuk ke arah Bagus.
Sontak Bagus buru buru memakai helm dan kemudian naik motor. "Lo mau kabur? bawa sekalian wanita sampah sisa lo ini" Teriak Bustomi.
Bagus tidak menghiraukan ucapan Bustomi. Dia pun segera mengendarai motor entah kemana.
Brak.....
Bustomi menutup pintu dengan sangat keras. "Kalian manusia sampah tidak layak hidup tenang" Ketusnya seraya berjalan masuk kamar.
__ADS_1