Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Hujan Turun


__ADS_3

Baru beberapa langkah keluar dari balai desa tiba tiba saja Bustomi muncul di hadapan mereka. Dengan menatap penuh amarah, dia langsung menarik paksa Bagus ke bahu jalan. "Gue bakal kasih pelajaran berharga buat Lo, sampai lo tau apa itu sakit" Serangan bertubi tubi membuat Bagus tidak bisa menangis pukulan itu atau hanya sekedar membela diri. "Ampun Tom, Ampun...." Merengek meminta ampunan. Namun, Bustomi sudah lepas kendali. Tidak hanya di permalukan di depan umum, tapi dia juga gagal mendapat uang denda. Itu yang membuat Bustomi semkain terbakar api emosi. Semua orang berteriak histeris ketika Bustomi mengambil sebuah batu besar di pinggir jalan hendak melempar ke badan Bagus yang saat itu sudah tergeletak di jalan "Jangan....." Merry langsung berlari melindungi Bagus dengan menelungkup di badan Bagus yang sudah terkulai di tanah.


Bustomi semakin marah. Sorot mata terlihat begitu menakutkan. "Lebih baik kalian mati bersama" Batu semakin di ayunkan dan tiba tiba...."Aaaaaaaaaaaa......" Teriak warga. Saat itu Merry pasrah sembari memeluk erat badan Bagus, andai batu besar menimpa dirinya ia pasrah yang penting bisa melindungi diri sang kekasih. Demi cinta dia rela bertaruh nyawa. Untung saja Batu itu di lempar tidak jauh dari mereka.


Akhirnya Hans turun tangan dan membalas pukulan Bustomi. Baru di saat Bustomi ambruk dia langsung meraih krah baju Bustomi "Kalau kamu mau adu kekuatan bukan di sini tempatnya. Jangan sok jadi jagoan depan ku. Aku juga bisa lebih anarkis dari kamu. Ngerti kamu?!" Dahulu semasa remaja dia juga seorang brandal, suka hidup di jalanan. Bergelut dengan pahitnya kebidupan sampai pernah juga dia di juluki preman paling di takuti. Kabar itu bukan rahasia umum lagi. Hampir semua orang tau siapa Hans dulunya. Di banding Bustomi kekuatan Hans lebih besar. Sekali mengibarkan bendera perang seluruh anggota geng hitamnya pasti akan langsung datang.


"Bangun Lo" Menyeret paksa Bustomi.


"Apa salah kalau gue emosi sama dia(Menunjuk ke arah Bagus). dia udah menggauli bini gue selama tiga tahun. Gimana perasaan Lo kalau di posisi gue?" Tegas Bustomi.


Hans semakin naik pitam "Iya gue tau Lo sakit, kecewa. Tapi, jangan bodoh bro. Hidup tidak akan berhenti dengan begitu saja hanya karena masalah cinta. Kalau Lo anarkis kaya gini nggak bakal menyelesaikan masalah. Yang ada malah semakin memperkeruh masalah" Menarik krah baju Bustomi "Di balik amarah lo ini ada hati yang paling terluka" Tatapan mata Hans mengarah ke arah sang adik.


Nara masih terkejut atas sikap Merry yang rela bertaruh nyawa untuk suaminya (Mungkin dia jauh lebih baik dari ku. Sampai dia rela bertaruh nyawa untuknya) Perlahan air mata luluh tak berbendung. Ia lari sekuat tenaga.


"Nara...." Hans melihat sang asik berlari menuju jalan raya, membuat Hans segera mengejar Nara.


"Mas, biar aku saja yang kejar dia" Ucap Tuti.


"Tidak. Biar aku saja. Sebaiknya kamu pulang bawa orang itu juga. Kasihan Emak nunggu di rumah sendirian" Hans langsung berlari sekuat tenaga.

__ADS_1


Bagus masih terbaring dan hanya bisa melihat istrinya berlari kesakitan. Dengan sedikit kesal Tuti membantu Bagus jalan lalu membawanya pulang ke rumah.


"Mungkin cintanya lebih besar dari ku. Sekarang aku sadar cinta ku tidak sebanding dengan cintanya" Dengan berderai air mata. Melihat sikap Merry tadi mambuat Nara sakit.


Langit pun mulai ikut berduka atas dirinya. Hujan turun tiba tiba, mengguyur hati nan lara. Seketika saja kaki teras lemas dan langsung bersimpuh di bahu jalan. Bertemankan sunyi malam berselimut air mata "Ya Allah, kalau memang cinta yang dia miliki lebih dari cinta ku. Rela aku melepasnya. Mungkin jodoh ku bersamanya cukup sampai di sini saja. Akan ku lepas dengan ikhlas" Air mata bercampur air hujan mengguyur hati nan pilu. Bayangan manis di masa lalu memenuhi benak. Dahulu ketika mereka masih semasa pacaran, pernah Bagus berjanji untuk selalu mencintai Nara selama sisa nafas. Di bawah naungan air hujan mereka berpegangan tangan. Kedua wajah mereka mendongak ke atas, menengadah hujan. Dahulu, meski di bawah hujan tapi mereka bahagia, seolah dunia hanya berpenghunikan mereka berdua. Namun, saat ini di bawah hujan yang sama janji beserta cinta luntur terbawa air langit.


Menangis tersedu sembari menundukkan kepala "Dahulu di depan kedua orang tua ku, kau berjanji tidak akan membuatku terluka. Tapi, kenapa semua ucapan itu hanya dusta?(Memukul genangan air di samping kiri kanan badan) Kenapa kamu lupa semua janji itu" Air mata Nara terus mewakili rasa sakit hatinya. Dalam dekapan malam ia curahkan segala rasa yang ada. Di bawah naungan air hujan ia lepaskan cinta serta semua angan di masa tua.


Hans tidak langsung mendekat. Ia berdiri di belakang Nara seraya melihat betapa sakit hatinya saat ini. (Melihatnya selemah ini membuat ku merasa sakit. Kenapa takdir kehidupan mempermainkan hati seorang wanita seperti adikku ini. Aku sangat yakin dialah wanita hebat pilihanmu Tuhan, yang telah engkau tulis jalan ceritanya di dunia. Aku yakin di balik semua ini akan segera ada sinar terang dalam hidup adik ku) Tanpa di sadari air mata Hans jatuh perlahan.


"Aaaaaaaa......." Nara berteriak sekuat tenaga.


Nara menoleh kemudian tatapan kesedihan terlihat dari wajah manisnya. Meski terguyur air hujan tapi jelas masih terlihat kalau dia menangis deras "Sekejam apa lagi Tuhan menguji ku, mas? aku sudah tidak sanggup lagi. Katakan padaku mas keadilan seperti apa yang nantinya akan ku dapatkan" Ketika hati mulai luluh lantah. semua kepercayaan hampir punah. "Bantu aku, bantu aku kelaur dari hujan lara malam ini" memeluk sang kakak. Tanpa kata ia curahkan luka dalam hatinya. Mulut seolah bungkam dengan kentaaan yang ada.


Dari kejauhan ada seseorang tengah melihat ke arah mereka. Di dalam mobil terlihat seorang lelaki berusia hampir kepala empat. Penampilan cool dengan jas abu masih melekat di badan. Dia melihat Nara bersimpuh di bahu jalan bertemankan sepi. Kebetulan saat itu dia baru saja pulang dari kota, tempat dia mengais rejeki. Hampir empat hahun lamanya dia tidak pulang kampung. Saat ini ada kesempatan pulang.


"Andai dulu kamu tidak memilih dia, saya pastikan kamu tidak akan menderita seperti saat ini" Seraya masih melihat ke arah Nara. Mobil putih terparkir tidak jauh dari tempat Nara saat ini ternyata milik seorang lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Kita pulang saja"

__ADS_1


"Tidak, mas. Aku masih ingin di sini sebentar saja. Tolong tinggalkan aku sendiri. Beri aku sedikit waktu lagi" Pinta Nara.


Hans menggeleng kepala seraya mengusap wajahnya "Tidak, mas tidak akan membiarkan kamu sendirian"


Nara menunduk lemas "Tolong mas, mengertilah aku sedikit saja. Aku butuh waktu sendiri. Kalau mas sayang sama aku, tolong tinggalkan aku sendiri" Ujar Nara.


Hans pun langsung berbalik badan meninggalkan Nara.


Sesaat setelah itu Nara menengadahkan wajah kepada hujan "Hujan tolong hapus jejaknya malam ini juga. Hapus segala tentang dia dan kenangan kita" Memutar badan seraya menengadah wajah sampai ke tengah jalan.


"Sudah gila dia..." Langsung melepas sabuk pengaman, hendak keluar dari mobil. Tapi tiba tiba dia melihat air hujan semakin deras "Hujannya lebat sekali" Sembari mengambil payung "Dia bisa sakit" Segera turun dari mobil. Langkah kaki perlahan mendekat "Bersedih boleh tapi jangan bodoh. Bisa mati konyol kamu...." Tiba tiba saja sebuah tangan meraih pinggang ramping Nara dan air hujan terhenti menyiram wajah. Nara membuka mata dan betapa terkejutnya dia kala melihat sosok lelaki di depan mata.


"Prasetya...."


Dialah Prasetya atau lebih di kenal dengan sebutan pras. Seorang pengusaha besar.


Seketika Nara menjauhkan diri darinya sampai air hujan kembali mengguyur.


Pras kembali memberinya payung teduh "Nggak usah sok kuat. Aku tau habis ini kamu akan terserang flu dan sakit."

__ADS_1


__ADS_2