
Beberapa saat kemudian perhatian mereka teralihkan oleh suara klakson dari sebuah mobil.
"Woy....kalian pikir jalan ini punya nenek moyang kalian, apa? minggir, kita mau lewat" Tegur seorang pengendara mobil yang baru saja keluar lalu menghampiri mereka. Seorang lelaki tua keluar sembari memperlihatkan kemarahannya. Bagaimana tidak marah, mereka malah berdiri di tengah jalan raya. Meski jalan tidak seramai jalan kota, tetap ada bebarapa yang lewat. Kebetulan beliau baru saja pulang dari sebuah acara di kampung sebalah.
Sontak saja Nara melepas tangan Pras dari badannya. "Maaf..." Menunduk kepala. Ketika Nara berbalik hendak melangkah, tiba tiba kepala terasa pusing, pendangan mulai gelap. Hujan perlahan reda, namun hati yang luka masih membara.
"Nara...." Menopang badan Nara. Menepuk kedua pipi namum tak ada respon darinya. "Pak, tolong bantu saya angkat ke mobil" pinta Prasertya pada pengendara mobil tadi. Karena kasihan beliau pun membantu Pras. "Lagian kalian ini ngapain hujan hujan di tengah jalan? udah kaya suting film india saja. Inagt usia" Ujar bapak tadi seraya menutup pintu mobil Pras.
"Terima kasih, pak. Sekali lagi saya mohon maaf sudah mengganggu perjalanan bapak" Segera Prasetya berlari ke meja kemudi.
"Mas Hans, Nara mana?" Tanya Bagus pada Hans yang kala itu baru saja pulang. Ia melihat kiri kanan mencari kebaradaan sang istri.
Hans lengsung menghempaskan badan di sofa ruang tamu "Biarkan dia menenangkan diri dulu. Sikap kalian tadi begitu menyakiti hati adik ku" Beralih pandang menatap Hans. Dia tengah di obati oleh Tuti. "Apa itu sakit?" Tanya Hans. Luka lebam di wajah Bagus terlihat jelas sampai membengkak dan membiru.
Bagus mengangguk seraya memposisikan badan "Bustomi menghantamku tanpa ampun" Menyentuh ujung bibir.
"Begitu saja kamu sakit, apa lagi hati adik ku? Tidak hanya sakit tapi lebih dari kata sakit...." Mengingat seberapa sakit hati Nara saat ini.
Bagus segera bangkit lalu berjongkok di hadapan Hans."Aku menyesal, mas. Aku janji mulai sekarang tidak akan ku siakan Nara lagi. Dari kesalahan ini aku sadar kalau cinta ku hanya untuk Nara saja"
Hans memutar bola mata jengah "Ya kalau kamu masih dapat kesempatan memperbaiki, kalau tidak bagaimana?"Hans merasa akan sulit melunakkan hati Nara untuk saat ini. Terlalu banyak luka menancap di hatinya.
"Mas....tolong jangan bicara seperti itu. Aku butuh kesempatan kedua. Aku ingin menebus semua dosa ku" Memohon pada Hans. Tapi, kalau di lihat dari rasa sakit di hati sang adik, akan mustahil menerima kembali diri Bagus. Kecuali ada sebuah keajaiban dari Tuhan. "Bantu aku jelaskan sama Nara...."
"Bagus, Bagus, lagian kamu itu sudah di beri istri multitalenta, baik, pinter cari duit, tapi kok masih bisa kamu ke lain hati. Emang dasar kamu nggak tau malu" Jujur Tuti ikut kesal dengan sikap Bagus pada adik iparnya. Sambung Tuti seraya duduk di samping Hans.
Bagus menatap kedua orang di hadapannya dengan mata berkaca kaca "Jujur aku juga menyesal, mbak, mas."
"Emang enak banget ya jadi laki, habis selingkuh maunya di maafkan. Tapi, kalau bini yang selingkuh, apa lu mau maafin dia?" Ketus Tuti.
__ADS_1
Hans meraih sebuah gelas kosong di meja lalu menuangkan air putih setengah gelas "Sekarang kamu lihat gelas ini..."
Bagus pun langsung duduk dan melihat gelas di tangan Hans "Maksud sampean apa, mas?"
Kebetulan di meja itu ada sebuah kopi sisa minum Hans tadi pagi. "Kamu lihat ini" menuangkan sisa kopi hitam pekat ke dalam gelas berisi air putih "Air putih ini berubah menjadi hitam. Iya, tidak?" Menatap tajam mata Bagus.
Memicingkan mata, tidak mengerti apa yang hendak Hans sampaikan dari semua itu. "Maksudnya bagaimana?"
"Beginilah hati Nara saat ini. Hati yang bersih menjadi hitam pekat oleh dendam. Semua karena siapa? karena ulah kamu." Ketus Hans.
"Sekarang bagaimana cara kamu mengambalikan air ini menjadi jernih kembali. Kalau kamu bisa memecahkan teka teki ini, aku akan membantu mu" ujar Hans sembari meletakkan gelas di atas meja.
Bagus geleng kepala "Mustahil, semua itu mustahil. Bagaimana bisa air kopi menjadi jernih kembali?"
Tiba tiba Hans tertawa "Hahahaha....kalau begitu sama dengan hati Nara. kalau hatinya sudah hitam pekat tidak akan mudah menjadi bersih lagi" mencongdongkan badan "Kamu saja tidak bisa menjernihkan kembali air ini, lalu bagaimana cara kamu membuat adikku itu kembali menerima kamu"
"Jangan ibaratakan hati manusia dengan sebuah gelas..." Ucap Bagus.
"Coba dulu bagaimana cara kamu mengubah air kopi ini menjadi bening kembali. Harus bisa..." Ujar Hans.
Bagus meraih gelas itu lalu memutarnya "Bisa kalau isinya di buang" Langsung saja Bagus bangkit dan membuang air di gelas, kemudian mengganti dengan air putih. "Kalau begini beres, kan?"
Hans terlihat serius "Bodoh kamu" Tatapan melotot. "Kalau memang itu pemikiran kamu artinya sampai kapan pun kamu adalah manusia yang mudah meminta maaf tapi juga mudah melakukan kesalahan. Kalau kamu seorang lelaki yang baik, maka cara kamu bukan membuang air ini. Kalau kamu membuang air ini, artinya sama dengan kamu akan di gantikan oleh orang lain."Kebetulan di cangkur masih ada endapan kopi hitam. Di tungkan pada gelas yang telah di isi air menrel tadi "Perhatikan baik baik" Setelah gelas berwarna hitam, Hans meminta Tuti mengambalikan air putih sebotol penuh. Antara Guti dan Bagus sama sama tidak mengerti maksud dan tujuang Hans. Mungkin dari semua itu ada hikmah yang mereka tidak pahami. Setelah beberapa saat kemudian, Tuti membawakan sebotol air. Hans lalu membuka tutup botol seraya menatap tajam mata Bagus "Sehitam ini perilaku kamu selama ini"Menunjuk segelas air hitam campuran air dan ampas kopi.
Bagus semakin tidak mengerti (Sebenarnya apa yang ingin coba mas Hans sampaikan padaku, dari air kopi itu? kanapa aku tidak mengerti sama sekali) Tatapan beralih dari wajah Hans ke gelas di atas meja.
"Seharusnya begini cara kamu membersihkannya...." Sebotol air tadi lalu di tuang sampai meluap dari ujung gelas. Air hitam mencuat ke segala arah dan membanjiri meja serta lantai. Hans tidak perduli, ia terus menuangkan air itu. Perlahan air kopi tadi menjadi bening. Sebab, hampir seluruh isi terganti dengan air putih.
"Sekarang kamu lihat air hitam tadi sekarng masih hitam pekat atau putih bersih?" Tanya Hans semabari memgamati gelas yang masih menyisakan serbuk hitan kecil di dalam gelas.
__ADS_1
"Lumayan jernih" Ujar Bagus.
Hans menyunggingkan senyum "Sekarang kamu harusnya sudah tau kan apa maksud ku kali ini? Dari gelas ini aku mengajarkan kamu bagaimana cara supaya Nara kembali menerima kamu sebagai suaminya. Sebanyak air ini di tuang semakin banyak pula perjuangan yang harus kamu lakukan. Meski air kopi telah tergantikan air putih, tapi kamu bisa lihat di setitar gelas, juga lantai di bawah (Menunjuk lantai bawah meja) airnya meleber kemana mana. Artinya, kamu tidak hanya berjuang untuk mendapatkan hati Nara saja, tapi luka di hati istrimu itu akan merambat ke orang sekitar mu. Contohnya, anak anak kalian."
Bagus baru paham apa yang di maksud oleh Hans. Seketika wajah Bagus pucat dan langsung menunduk malu. Tidak ada satu kata keluar dari mulutnya.
Hans bangkit "Sekarang kamu bersihkan semua noda kopi ini dengan tangan kamu itu tanpa bantuan kain pel atau sejenisnya..." Kedua tangan masuk dalam saku celana. Pandangan mengarah ke luar rumah. Hujan perlahan reda tapi Nara tak kunjung datang.
Bagus mencoba menggunakan kedua tangan untuk membersihkan air kopi di lantai, tapi dia sadar akan sangat mustahil tanpa adanya bantuan dari kain. "Apa harus pake tangan saja?" Tanya Bagus.
"Kalau kamu mau pake alat bantu silahkan saja. Itu artinya kamu juga harus banyak meminta bantuan dari orang lain untuk memulihkan hati adik ku. Mungkin dengan adanya orang lain, kamu bisa menyadari seberapa berharga Nara di hidup mu itu." Hans pun langsung keluar rumah.
Tersisa Tuti dan Bagus.
(Kena mental kan Lu..... Rasain, emang enak di buat kalah telak sama suami ku) dalam hati Tuti mengejek kondisi Bagus saat ini. Melihat Bagus susah payah memungut air di lantai, tapi semua akan sia sia. Tanpa alat bantu dia tidak akan bisa membersihkan lantai penuh noda kopi. Setelah beberapa saat melihat Bagus berjuang, akhirnya Turi mengambil sebuah kain lap meja "Sampai mati sekali pun kamu tidak akan pernah bisa membersihkan lantai ini. Sekarang terima saja nasibmu selanjutnya. Terima saja kain ini, lalu bersihkan sebersih mungkin"
"Tidak, aku tidak akan menyerah begitu cepat. Aku pasti bisa membuat lantai ini kering lagi...." Lagi lagi kedua tangan berusaha mengepel tantai. Bukannya bersih tapi malah merambat kemana mana. Bagus pun sudah lelah.
"Sekeras apa pun kamu berjuang semua akan sia sia saja. Tangan kamu itu terlalu kotor, tidak mampu membersihkan lantai yang putih" Menyodorkan kembali kain itu. Dengan tangan gemetar Bagus meraih kain itu.
"Bersihkan lantai itu sampai bersih lagi" Tuti langsung masuk ke dalam kama Ibu Sumiati.
Bagus masih berjongkok menatap kain di tangan "Tidak akan ku biarkan orang lain menyapu noda ini" Biar pun Bagus suka selingkuh, tapi dia tipe lelaki cemburuan. Sedikit saja melihat Nara ngobrol dengan lelaki lain, pasti dia akan kesal tanpa sebab. Egois, bukan? Kebanyakan mereka yang berbuat salah tidak akan rela jika seseorang melukai dirinya.
"Mas...." Menyentuh bahu sang suami. Saat ini Hans berdiri di teras rumah melihat ke ujung jalan. Berharap sang adik segera muncul dari sana.
"Hem..." Jawan Hans.
"Aku tau kamu khawatur sama Nara, tapi kamu jangan lupa kesehatan juga. Badan kamu basah kuyup seperti ini. Mensing kita pulang ganti pakaian dulu, besok pagi kita ke sini lagi" Ujar Tuti.
__ADS_1
Hans yang seharusnya kedinginan meras terbakar seluruh badan. Bukan karena api tapi dari panasnya hati.
"Abang mana yang rela melihat adiknya tersiksa seperti itu? Kalau kamu tau bagaimana tadi dia meluapkan rasa sakit, aku yakin kamu pun akan sama seperti ku. Lemah di paksa keadaan" Ujar Hans.