Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Murka


__ADS_3

"Sudah cukup aku mengerti dia selama ini, tapi dia selalu menyakiti ku terus menerus. Sakit, mas, sakit rasanya" Kembali mengingat seberapa jahat Bagus terhadapnya di kehidupan ini. Dahulu tidak hanya sekali dua kali Bagus bermain wanita, bahkan berani berbuat nekat di dalam lingkungan rumah, dengan pekerja di warung makan milik Nara sendiri. Oke, saat itu Bagus masih bisa mengelak, Namun kali ini dia kalah telak. Bukan Nara, bukan mertua, tapi Bustomi dan para warga menyaksikan tragedi memalukan saat itu.


Hans melepas pelukan seraya melihat wajah sang adik "Lihat aku, lihat mata ku" Nara masih menunduk dengan lemah. Segala rasa berkecamuk dalam diri, membuatnya seolah lemah di mata dunia.


"Hey...lihat mata mas mu ini" Seketika mereka saling menatap. Tanpa kata hanya sebuah rasa terus membuat Nara mengucurkan air mata.


"Kamu tenangkan diri dulu. Sisipkan nama Tuhan mu dalam setiap perjalanan hidup. Insya Allah pasti segala urusan akan di permudah. Sekarang kamu harus kuat. Ingat, selalu libatkan Gusti Allah dalam setiap masalah, karena sebaik baiknya penolong hanya Dia."


Tatapan mata Nara mulai melemah lagi, gempuran rasa sakit terus menusuk tanpa henti. Sekuat apa pun mencoba tenang tetap tidak bisa. "Hey.....adik ku ini wanita kuat. Jangan kalah sama Takdir. Lawan sebisa mungkin supaya Takdir mu ke depan jauh lebih baik dari sekarang." Melihat pintu kamar Nara masih tertutup rapat. Hans tau saat ini di dalam sana ada hati gelisah.


"Sekarang kamu masuk, bahas semua dengan suami kamu itu. Nanti malam akan ada sidang di balai desa membahas tentang perselingkuhan mereka. Kalau kamu lemah saat ini bagaimana kita bisa menghadapi kerasnya Bustomi di pengadilan desa nanti. Sebisa mungkin kamu harus kuat dan tabah. Jangan perlihatkan sisi kelemahanmu pada orang lain. Mas pergi dulu, biar emak ikut dengan kami (Menepuk pundak Nara) selesaikan dulu masalah kalian"


"Iya, mas. Aku titip emak sama Aska dulu ya" ucap Nara seraya mengusap lengan Hans. Setelah Hans dan yang lain pergi, Nara langsung masuk ke dalam kamar.


Brak.....


Membanting pintu dengan keras. Sontak Bagus terkejut. Melihat wajah tanpa dosa itu membuat Nara mengeratkan rahang "Dasar pendosa...." Lantang Nara.


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya..."


Pyar....


Kepalan tangan Nara meninju sebuah kaca rias di samping tempatnya berdiri saat ini. Tentu saja tangannya langsung berdarah.


"Nara..." Langkah kaki Bagus baru sejengkal handak melangkah maju menghampirinya.


"Stop! jangan pernah dekati aku." Tatapan amarah terpancar ganas dari kedua bola mata membulat itu.


"Sayang, aku mohon maaf" Tanpa aba aba Bagus langsung bersimpuh di bawah kaki Nara "Aku di jebak sayang. Semua bukan salah ku, dia menjebak ku."


Senyum sinis terkulas "Heh....di jebak? kamu kira aku anak kecil yang bisa kamu bohongi? Sorry, aku nggak sebodoh itu, paham?!" Memundurkan langkah lalu duduk di tepi ranjang. Bagus terus mengikuti kemana Nara pergi, dengan masih bersimpuh di bawah kaki Nara. "Percaya sama aku sayang. Semua itu karena dia yang memintaku melayani nafsunya. Setiap kali aku ke sana pasti dia memakai pakaian seksi, dan menggodaku dengan tubuhnya"


Ucapan Bagus membuat Nara semakin meluap.


Plak....


Tanparan keras mendarat di pipi Bagus "Setan kamu, mas. Iblis kamu. Nggak layak di panggil manusia. Jahanam kamu"


Menatap sang istri seolah mengiba. "Tampar aku sepuas kamu, sampai aku bisa menebus rasa bersalah ku"


Semakin melihat wajah suaminya semakin besar pula kebenciannya.


Plak...

__ADS_1


"Tamparan ini untuk perselingkuhan mu"


Plak...


"Yang ini untuk hati ku yang telah kamu hancurkan"


Plak...


"Dan yang ini untuk anak anak ku." Tangan Nara serasa panas akibat tamparan beruntun yang ia lakukan. Tidak di pungkiri kedua pipi Bagus terlihat merah. Jelas sekali kalau rasanya begitu panas dan sakit.


"Maafkan aku atas khilaf ku. Mulai sekarang aku bersumpah tidak akan mengulang kesalahanku ini. Aku sadar sekarang kalau semua itu salah. Aku minta ampun." Bagus hampir menciun ujung jari kaki Nara. Namun dengan sigap Nara menarik kaki ke samping. "Jangan kotori kaki ku dengan mulut busuk mu itu..." Berdiri seraya melipat kedua tangan.


"Sekarang kamu baru merasa bersalah?Terus nanti khilaf lagi, minta maaf lagi, di ulangi lagi? iya, itu yang kamu pikirakan?Maaf, ini hati ukan halte bus. Yang siap menerima kamu kapan mu kamu mau kembali. Kamu pikir hati ku terbuat dari balok es yang akan selalu mendingin kala di sakiti? Tidak, mas. Hatiku tercipta sama seperti wanita lain. Sakit mas, sakit rasanya. "Menangis tak bersua.


Bagus langsung berdiri memeluk Nara dari belakang "Aku tau tidak mudah memaafan orang seperti ku ini. Tapi aku tetap memohon maaf dari mu, sayang. Ampuni suami mu ini...." Mempererat dekapan.


"Lepas...." Sekali hentakan tangan Bagus lepas dari badannnya. Biar pun badan Nara tidak tinggi besar tapi di saat emosi meledak siapa pun bisa menjadi kuat.


"Suami kamu bilang? lalu kemana pengakuan kamu ini di saat kamu meniduri istri orang? di mana, ha?" Jari telunjuk mengacung tepat di wajah


Bagus "Sampai mati luka ini tetap ada di hati. Kurang apa aku selama ini? Ha, kurang apa? sebagai wanita aku tidak menuntutmu menjadi suami yang sempurna, yang bisa menafkahi aku dan kedua anak mu, aku hanya minta kamu tolong jaga emak. Tapi, nyatanya kamu juga berhasil menjaga rahim wanita lain. " Ucap Nara dengan nada Tinggi.


Lagi lagi Bagus hendak memeluk Nara, namun kembali Nara mendorongnya sampai terjatuh ke lantai.


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kehilangan kamu dan anak anak. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian"


"Cih...(membuang muka) omong kosong. Kalau emang kamu nggak bisa hidup tanpa kami, kenapa tidak saat ini juga kamu mati di hadapan ku. Aku tidak perduli. Bagiku kamu hanya sampah nggak pantas di pungut."


Jleb...


Hati Bagus bagai tercabik cabik. Belum sekali pun ia mendengar kalimat kasar dari mulut sang istri. Meski dalam pertengkaran hebat sekali pun, Nara masih menjaga harga diri Bagus. Tapi, untuk kali ini Nara lepas kendali.


"Jangan bicara begitu hati ku hancur mendengarnya"


Mengepalkan kedua tangan. Tidak perduli darah menetes di tangan kanannya. "Masih bisa kamu bicara masalah hati? masalah sakit?" Bentar Nara seraya berjongkok menatap Bagus. Air mata terus meloloskan diri "Lalu bagaimana dengan hati ini (Menyentuh dada) yang sudah kamu hancurkan menjadi abu? apa kamu tau sakitnya seperti apa? kamu tau tidak sakitnya kaya gimana?" Bentak Nara lagi.


Bagus kembali meraih kaki Nara dan saat ini dia benar benar mencium kaki seorang wanita "Aku minta maaf. tolong sayang ampuni aku"


Segera bangkit lalu melipat kedua tangan "Enteng sekali kamu bicara" Menyeka air mata.


"Sumpah demi Allah aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bisa memperbaikinya lagi, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak anak kita" Sekarang ini Bagus sudah seperti seorang pengemis. Mengiba di bawah kaki Nara dengan harapan bisa terlepas dari hukuman.


"Aku dan anak anak nggak butuh kamu lagi. Mulai dri sekarang aku minta kamu ceraikan aku" Memejamkan mata sejenak. Setiap kata yang keluar dari mulut Nara justru semakin menyakiti diri sendiri.

__ADS_1


Bagus kembali bangkit dan memeluk Nara "Tidak, aku tidak mau berpisah dari mu."


"Lepas mas, lepas (Dengan nada rendah)" Ucapan tak kunjung di gubris "LEPAS!" teriak Nara membuat Bagus terkejut. Seketika dekapan tangannya lepas dari diri Nara.


"Kamu itu tuli, bodoh, atau bagaimana? sudah ku bilang kalau aku mau kita pisah. Aku minta CERAI"Ucap dengan nada Menekan.


Deg...


Seketika saja Bagus terdiam.


"Urus perceraian kita secepatnya" Berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan semua pakaian Bagus. Pakaian berhamburan di lantai kramisk warna putih kecoklatan"Angkat kaki kamu dari rumah ini. Nggak sudi aku serumah sama sampah macam kamu"


Di sisi lain Bustomi baru saja pulang kerja. Setelah motor terparkir depan pintu, matanya tertuju pada rumah ibu Sumiati.


"Mas...." Merry sok sokan menghampiri Bustomi seraya mengulurkan tangan.


Usai melepas helm, Bustomi langsung masuk ke dalam rumah. Boro boro menjabat tangan, melihat wajahnya saja tidak sudi. Sejak kejadian itu Bustomi menganggap Merry tidak pernah ada di muka bumi.


Dengan kecewa Merry kembali meraih tangan, lalu mengekor pada Bustomi.


"Hufffff...." Melepas nafas berat. Menghempaskan diri di sofa. Keringat mengalir dari wajahnya. Cuaca hari ini begitu panas sampai membuat Bustomi berkeringat.


"Tak ambilin minun dulu ya, mas..."


(Gedeg gue lihat muka sok manisnya itu. Kalau bukan karena pengen balas dendam, udah gue buang di tengah jalan. Nggak sudi gue punya bini tapi Salome kek dia, dih jijik) Memutar bola mata.


"Ini mas tak buatin es teh biar seger" Menyodorkan segelas es teh. Tetap saja Baustomi acuh.


"Tak taruh meja ya mas. Kalau mau makan aku sudah masak kesukaan kamu. Sayur asam sama sambal terasi" Mneyentuh pundak Bustomi.


Plak....


Menepis dengan kuat.


Merry menunduk kepala "Sampai kapan kamu diam seperti ini, mas? bicara sama aku. Aku nggak kuat di giniin terus" Isak tangis Merry mengundang simpati Bustomi. Ia menatap penuh kebencian. Ujung bibir atasnya menyebir (Dasar wanita nggak tau malu. Udah tau salah masih aja sok perhatian) Tanpa kata sedikit pun Bustomi langsung meninggalkan dia.


Sudah hampir seminggu Bustomi tidak lagi makan masakannya atau sekedar minum air saja sangat jarang. Mereka satu rumah tapi bagai hidup dengan orang asing. Berkali kali di ajak bicara tapi Bustomi semakin acuh.


"Dengan kamu diam seperti ini, maka semakin kejam pula hukuman mu pada ku, mas" Untuk saat ini Merry baru sadar kalau dia sudah kehilangan cinta Bustomi.


Seketika air mata Merry terurai "Harus bagaimana lagi cara membuat mu memaafkan aku" Dampak dari perselingkuhan tidak hanya menghancurkan rumah tangga, melainkan juga harga diri pribadi itu sendiri.


"Cape juga sih diam terus kaya gini. Pengennya sih gue hajar dia (Merry) sampai mati. Tapi benar juga saran Fajri kalau gue main hakim pada mereka berdua, yang ada malah gue sendiri masuk sel. Mending ikutin kata Fajri saja. Bisa menguntungkan" Di belakang sana sudah ada siasat tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2