Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Nara tidak tau harus berkata apa kepada lelaki yang berada di hadapannya saat ini. Mulut serasa kaku, lidah seolah terkunci rapat. "Kenapa menatapku seperti itu? aku masih Prasetya yang lama, yang kamu campakkan dulu" Ujar Prasetya seraya melebarkan senyum. Perawakan gagah tinggi besar berbalut jas abu dan senyum tipis. Melihat lelaki itu kembali membuat Nara menunduk malu. Kalau waktu bisa di tukar dengan uang, saat ini juga dia akan melakukan hal itu. Tak perduli seberapa banyak jumlah uang yang harus di keluarkan, asal dunia bisa kembali di masa lamlau. Kembali di masa remaja dan menukar pilihan hidup. Mungkin kalau dulu dia memilih menikah dengan Prasetya, cerita hidupnya tidak akan tragis seperti sekarang ini. Namun, semua tinggal penyesalan. Hidup terus berjalan seiring waktu.


Sebelum menyesal di kemudian hari, alangkah baiknya kenali terlebih dulu bagaimana sikap calon suami anda, timang lebih dulu apa benar dia orang yang tepat atau justu iblis berwujud manusia. Jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari. Demi mendapatkan rekan hidup yang tepat, jangan terburu buru, siapkan dulu mental kalian dan kenali dulu apa benar dia tulang rusuk kalian, atau hanya sebatas tulang rawan.


Menikah bukan perkara yang mudah. Harus bisa menyatukan dua hati menjadi satu kesatuan. Pernikahan bukan akhir sebuah kisah, tapi awal sebuah kehidupan baru. Pernikahan itu ibarat sebuah ladang gersang, yang mana dua orang harus berjuang bersama menyatukan pemikiran, berjuang bersama, dan menumbuhkan sebuah bibit berkualitas tinggi supaya tumbuh kehidupan yang di impikan.


"Hey...." Mendongakkan kepala Nara yang masih tertunduk lesu sedari tadi "Apa kamu lupa padaku? aku masih orang yang sama. Kenapa setelah lama kita tidak bertemu, kita serasa seperti orang asing? Aku tau kalau memang aku jauh lebih tampan dsri sebelumnya, lebih mapan sekarang, lebih gagah segagah burung garuda. Tapi, kamu tidak perlu memperlihatkan kekecewaan kamu itu. Nanti aku ngiranya kamu nyesel nggak milih aku....hehehe"Berusaha mencairkan kebungkaman mereka. Tapi, Nara masih tenggelam dalam lautan kesedihan. Tatapan Nara beralih menjadi derai air mata "Tidak lucu tau..." Meski bibir berusaha tersenyum tapi mata berkata lain.


"Kamu itu jauh lebih jelek kalau lagi nangis kaya gini. Wes elek tambah elek tenan...." Ujar Prasetya.


Memukul pelan lengan Pras "Nggak usah ngelawak deh. Sejak kapan kamu memanggilku cantik?" Seraya menyeka air mata.


Dalam hati paling dalam ingin sekali Pras memeluknya, mengusap air mata, dan menguatkan dia atas apa yang terjadi dalam rumah tangga Nara. Prasetya sudah mendengar kabar perselingkuhan Bagus di laman media sosial. Hampir semua orang tau bahwa Bagus berselingkuh dengan tetangga depan rumah.


Prasetya menyibakkan rambut basah Nara, menyisipkan di belakang telinga "Meski sudah berumur tapi kamu masih oke juga ya. Nggak ada garis keriput sama sekali? pake susuk apa sih?" Itulah sikap Prasetya. Suka menggoda, tapi masih dalam batas kewajaran, tidak terlalu melewati batas. Hanya sekedar bualan semata.


Tuk...


Nara menyentil pelan dahi Prasetya seraya mengusap air mata "Dasar kamu ya nggak berubah sama sekali. Susuk apa yang kamu maksud? susuk konde atau susuk kb?"


Sontak Pras tertawa ngakak "Sorry ya aku nggak kenal susuk kb" Keduanya langsung tertawa dan tiba tiba.


Duar....


Suara petir menggelegar kencang. Seketika saja Nara langsung memeluk Prasetya, begitu juga Prasetya langsung memeluk Nara erat. Payung yang tadi meneduhi badan mereka terlempar jauh di terpa angin. (Astaga....jantung ini masih berdetak kencang sekali. Apakah rasa itu masih tersimpan di hati ku? atau aku terlalu sulit move on darinya. Ya Tuhan perasaan macam apa ini) Prasetya langsung mengeratkan pelukan. "Rasanya masih sama. Nggak ada isinya rata kaya lapangan sepak bola" Bisik Prasetya seraya menyeringai.


Segera Nara tersadar lalu memundurkan langkah"Apaan sih...." Melepaskan diri kemudian hendak berbalik.

__ADS_1


"Harum parfummu itu lho, cil. Harumnya rata biasa saja gitu" Ucil panggilan sayang Prasetya dulu kala mereka masih duduk di bangku sekolah. Prasetya melepas jas yang ia kenakan lalu memakaikan di badan Nara yang sudah menggigil kedinginan. "Lekuk tubuhmu bisa mengundang dosa. Membuat jantung ku berdebar debar tidak karuan..."


"Pras...."kesal Nara.


"Nah gitu dong galaknya keluar. Kalau gitu kan nggak jelek lagi, udah rada cantik, dikit." Mencoel dagu Nara.


Senyum Nara mengembang "Kamu ini...."hendak memukul lengan Pras, namun tiba tiba kaki Nara terpeleset. Sigap Prasetya menangkapnya. Tatapan mereka saling bertemu. Untuk beberapa waktu mereka terdiam dengan pandangan mendalam. Di bawah guyuran air hujan, Nara mampu menggetarkan hati Prasetya.


Sejak beberapa tahun lalu, saat lamaran Pras di tolak, sudah jarang terdengar kabar tentang keberadaan Pras. Ia menghilang tanpa kabar. Atas penolakan itu Pras marasa tidak bisa jika harus melihat wanita yang paling di cintai bersanding dengan lelaki lain. Hingga ia memilih mengasingkan diri di kota jauh dari kampung halaman. Namun, siapa sangka kalau sampai saat ini Pras belum menikah atau pun memiliki kekasih. Rasa kecewa teramat besar membuat Pras enggan bercinta. Hati seolah tertutup rapat. Tidak ada satu wanita pun yang mampu mengisi hati. Bukan tidak ada wanita mendekat, hanya saja Pras terlalu menutup hati untuk orang lain. Selama bertahun tahun, ia masih menjaga cintanya utuh hanya untuk Niara Ramadhani Seorang, Atau lebih di kenal Nara.


Tiba tiba kilasan masa lalu kembali teelintas di benak mereka. Cinta Pras kandas di tangan Nara. Saat itu mereka menjalin kasih dua tahun lebih. Namun, akibat himpitam ekonomi Pras harus pergi merantau ke luar kota. Demi memghidupi keeua orangbtua beserta adik adiknya. Awalnya mudah menjalani hubungan jarak jauh, hingga suatu ketika Nara merasa bosan harus menjalin kisah seperti itu. Pada akhirnya tanpa di sengaja dia kembali jatuh cinta dengan sosok Bagus. Pertemuan mereka di landasi unsur ketidak sengajaan. Di malam pesta pernikahan salah satu temannya, Nara di kenalkan dengan sosok Bagus ini. Yang menarik lagi saat itu ponsel Pras hilang di curi orang. Jadi selama beberapa bulan tidak bisa menghubungi Nara. Karena komunikasi yang terputus membuat Nara mengambil kesimpulan bahwa Pras telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Nara sempat mengira bahwa Pras sudah menemukan wanita lebih darinya. Perlahan Nara pun bisa hidup tanpa Pras. Jari demi hari mulai di isi dengan kisah cinta baru. Nara menjalin cinta dengan Bagus.


Beberapa tahun kemudian Pras kembali pulang ke kampung halaman. Dengan perasaan bahagia, dia langsung mengajak kedua orang tua mendatangi keluarga Nara, untuk menyampaikan niat baik. Namun, betapa terkejutnya Pras kala sampai di depan rumah Nara. Di dalam rumah terlihat ada banyak orang tengah duduk bersila, menyaksikan seorang lelaki menyematkan sebuah cincin di jari manis wanita. Langkah kaki mulai melemah kala Pras tau siapa wanita yang tengah tersenyum bahagia di hadapan lelaki itu. Ya, dia adalan Nara. Saat itu pula lamaran Pras seolah di tolak mentah mentah. Betapa sakit dan terpukulnya hati Pras kala melihat wanita pujaan hati sudah jatuh di tangan lelaki lain. Dunia seraya berhenti berputar. Hidup tapi mati. Tidak ada harapan lagi terkecuali hanya bisa menjalani.


"Pras...." Tanpa sengaja Nara menoleh dan melihat Prasetya berdiri tepat di depan pintu beserta para rombongan. Nampak kedua tangan membawa barang hantaran. Semua orang bingung atas dasar apa seorang lelaki datang membawa hantaran beserta rombongan, sedang si wanita tengah melangsungkan pertunangan.


Sebuah cincin yang ada di saku jasnya masih bersembunyi sampai saat ini.


Semua warga beserta anggota keluarga kedua belah pihak sedikit heran. Bagaimana mereka datang hanya sekedar menyaksikan pertunangan itu, kalau barang hantaran terlihat seolah hendak melamar seseorang.


Setelah kedatangan Prasetya, Nara menjadi pendiam. Wajah ayu menunduk seketika. Rasa bersalah menghantui diri. Tapi semua sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur.


"Lho ini bagaimana ceritanya? kami itu datang untuk melamar mbak Niara, tapi malah menjadi tamu undangan semata. Nagiaman sih ini...." Salah seorang kerabat dekat Pras mengungkap kedatangan mereka ke rumah Nara saat itu.


Sontak saja semua orang terkejut "Tunggu dulu, ini maksudnya bagaimana? siapa mau melamar siapa? dan siapa menjadi tamu siapa?" Ayah kandung Nara merasa bingung apa yang di maksud orang itu.


Di saat itu pula Prasetya mengutaran niatan yang terlambat itu. Semua orang terkejut mendengar niatan Pras kala itu. Bagaimana tidak, di saat hari pertunangan ada seorang lelaki datang membawa kabar mengejutkan. Dengan terpaksan lamaran itu di tolak mentah. Sebuah cincin terlanjur melingkar di jari manis Nara. Pertanda dia sudah di ikat seseorang untuk segwra di halalkan. Dengan penuh kekecewaan Pras beserta rombongan segera pamit pulang.

__ADS_1


Pada waktu itu tidak hanya hati Pras saja yang sakit tapi hati Nara juga begitu. Setelah kemunculan kembali Pras di kampung halaman, membuatnya merasa tidak enak hati. Setelah beberapa hari mencoba mencari informasi tentang keberadaan Pras, dan akhirnya Nara menemukan alamar baru Pras.


Mereka berdua duduk di taman dekat rumah Pras. "Selamat ya atas pertunangan kamu waktu itu..." Mengulurkan tangan "Maaf, di saat itu aku belum sempat mengucapkan selamat padamu." Senyum penuh kepura puraan itu menggambarkan kekecewaan mendalam.


Tiba tiba saja Nara langsung memeluknya. Isak tangis terdengar sampai menusuk relung hati paling dalam.


(Akan ku lepas kau dengan ikhlas. Meski takdir kita harus berpisah seperti ini) Pras hanya diam.


"Sejak saat kamu memutuskan komunikasi, sejak saat itu pula aku mengira kamu telah mendapatkan wanita lain yang jauh lebih dari aku" Ujar Nara di dalam pelukan luka sore itu. Di bawah sinar jingga mereka berpelukan melepas ikatan dulu. Saksi bisu atas perpisahan mereka


"Bukan sengaja aku memutus komunikasi dengan mu. Tapi, saat itu ponsel ku hilang di curi orang. Aku bingung mencari kontak mu. Tidak ada yang bisa ku mintai nomor mu pada saat itu. Semua data pribadi lenyap begitu saja." Tiba tiba Pras melepas pelukan Nara "Dan....aku kira kamu masih menungguku, tapi ternyata kamu sudah berlabuh di hati lelaki lain"


Hati Nara semakin di lundung pilu. Masih ada cinta tersisa untuk Pras kala itu. Namun, semua hanya tinggal nama. Hidupnys sudah terikat dengan hubungan lain yang jauh lebih serius.


"Maafkan aku, terlalu cepat mencari pengganti mu" Air mata Nara tumpah di hadapan Pras.


Menyeka air mata Nara seraya tersenyum "Sudahlah, tidak ada yang harus di sesali. Semua terlanjur terjadi. Jalani takdir kita masing masing, mulai sekarang dan sampai nanti"


"Maafkan aku...." Meraih kedua tangan Pras lalu mendekapnya hangat. Kalau saja waktu masih bisa kembali di masa lalu, ingin sekali ia kembali. Setelah sekian lama ternyata cinta untuk Prasetya masih membara di hati Nara. Semua baru ia sadari setelah Takdir berkata lain. Kisah mereka hafus terpisah oleh Takdir yang maha kuasa. Sampai Tuhan kembali memutar Takdir keduanya.


Pras manatap penuh derai air mata, begitu pula dengan Nara "Aku tidak mau menjadi belenggu dalam hati mu. Maka dari itu mulai sekarang ku lepas kau dengan ikhlas. Semoga kedepannya kita bisa menjadi teman." Pembebasan belenggu sidah Prasetya laksanakan.


"Jujur aku merasa....." Tiba tiba mulut Nara di bungkan dengan sebuah ciuman. Kedua mata Pras terpejam, namun air mata menetes tidak terbendung. Sedangkan Nara hanya bisa berdiam diri seraya pasrah atas apa yang Pras lakukan.


"Ini ciuman perpisahan kita...."Tersenyum untuk menutupi luka. "Maaf tidak bisa menepati janji ku" Prasetya pun berusaha kuat kemudian beranjak dari kursi yang mereka duduki. Menoleh seraya mengusap air mata "Oke, kalau begitu selamat menjalani hidup baru (Menarik nafas dalam dalam) Aku pun akan berjuang melupakan kamu dan kenangan kita." Ketika baru berjalan beberapa langkah. Tiba tiba Nara memeluknya dari belakang "Maaf, maaf, maaf." Kalimat itu menutup kisah mereka.


Hati Pras hancur bagai debu. Terpaksa dia harus menelan kepahitan dalam bercinta. Seraya melepas tangan Nara ia berkata "Jika suatu hari Takdir mempertemukan kita, di saat itu jalan takdir kita sudah berbeda. Tetap tersenyum, selalu bahagia, dan aku tunggu kabar baiknya"

__ADS_1


__ADS_2