Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Terjawab Sudah


__ADS_3

"Ngapain kamu, Gus? masih mau macam macam sama dia" Lirih Hans seraya melihat Bagus tengah mengintip dari jendela, kebetulan Merry sedang menyapu halaman. Hans memperingati Bagus sebelum Nara masuk ke dalam rumah.


Bagus yang tadi mengintip dari balik jendela langsung menutup tirai jendala "Nggak mas, aku cuma mau lihat Nara "


"Nara cepat masuk" Hans tidak lagi perduli dengan seribu alasan pun.


"Mas Bagus...." Terkejut melihat sosok Bagus berdiri di samping pintu.


Wajah Bagus terlihat pucah pasih dengan senyum hambar "Kamu kaget ya..."


"Jelas aku kaget. Ngapain sih berdiri samping pintu begitu, untung nih jantung masih normal, kalau nggak....."Nara melihat ada yang aneh dengan pak suami, ia memicingkan mata seraya berkata "Mas dari mana kok masih pake jaket dan...." Melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, terlihat suaminya itu sehabis pulang dari suatu tempat atau malah baru mau berangkat kemana gitu. "Sepatu masih nempel di kaki, mau kemana kamu, mas? terus motor kamu di mana?" Di depan runah tidak ada motor Bagus, sebab motor terparkir di halaman belakang rumah. Bagus masih takut kalau nanti Bustomi kembali menghanjarnya. Bukan takut kena tinju tapi malunya itu lho sampai ke tulang iga.


"Tadi aku minta Bagus beli obat herbal buat Emak. Obatnya habis tadi pagi..." jelas Tuti seraya berjalan menghampiri adik iparnya.


"Oh....terus motor kamu mana, mas?" Nara langsung berjalan melewati Bagus lalu duduk sebentar di ruang tamu. Bagus merasa canggung kalau dia harus bersikap seperti biasa pada mereka.


"Emmm....motor ada kok di belakang rumah"


Sontak Nara kembali terheran "Kok di belakang rumah?"


Bagus kelabakan harus beralasan apa pada sang istri. Dia hanya diam dengan terus menunduk kebingungan.


Hans dan Tuti saling bertatap muka "Tadi itu di depan rumah kebetulan ada mobil parkir, jadi motor Bagus di taruh di belakang saja. Oh iya Ra kamu mau minum apa, biar mbak mu ini buatkan?" Tuti menyela pembahasan mereka supaya tidak berkelanjutan.


Sembari menyandarkan kepala "Makasih mbak tadi aku udah minum kok."


"Pasti capek banget ya Ra" Tuti si kakak ipar langsung berjalan ke belakang kursi seraya memijat pelan bahu Nara. "Kasihan sekali adik ku ini, di sana cari duit masih meluangkan waktu demi orang terkasih" Nada bicara Tuti sedikit menyindir Bagus karena tatapan mata tidak lepas darinya. Siapa tidak geram melihat seorang kepala rumah tangga yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga malah menjadi aib.


"Tumben mbak ku ini baik sekali, ada apa ini? Biasnaya kalau udah kaya gini ada maunya" Ucap Nara sembari melihat wajah Tuti.


"Nggak kok....hehehe"


"Ngapain berdiri kaya patung, sini duduk" Tegur Hans.


Nara menoleh ke arah Bagus "Mau jadi patung selamat datang kali mas..." sembari mengulas senyum canda. Awalnya hanya ingin bercanda seperti biasa kala mereka kumpul bersama. Tapi, Bagus terlihat menunduk loyo. "Kamu kenapa, mas? apa ucapankan mengenai hati mu? aku cuma bercanda " Nara hendak bangkit namun di hentikan oleh Tuti dengan menekan bahunya . "Halah udah nggak usah sok manja begitu, udah kaya sama orang asing saja." Dengan nada sedikit menyindir.

__ADS_1


(Ada apa ini sebenarnya? kenapa aku merasa semua orang di rumah ini tidak sedang baik baik saja. Di tambah dengan sikap mas Bagus yang tidak seperti biasanya, mbak Tuti dengan nada bicaranya, mas Hans dengan tatapan tajamnya. Ya Allah, apa arti semua ini) Nara masih mencoba mencari inti perkara yang sebenarnya. Sikap semua orang membuat Nara curiga.


"Duduk saja Gus..." Titah Ibu Sumiati yang baru saja keluar dari kamar dengan menggunakan sebuah tongkat kayu sebagai penyangga tangan. Dengan bantuan tongkat kayu itu beliau bisa lebih mudah berjalan dari pada tanpa bantuan apa pun malah akan mempersulit langkah beliau.


"Iya mak" Bagus menghampiri beliau seraya membantu beliau duduk di sofa.


"Emak mau tak pijitin..." Berjongkok di samping sang ibu mertua.


"Tidak, tidak perlu. Kamu duduk saja" Jawab Ibu Sumiati


Nara langsung mendekati sang ibu, mencium tangan lalu memeluknya "Emak gimana kabarnya, sehat?"


"Emak sudah sembuh Ra, sudah bisa jalan sendiri."


"Alhamdulillah....semua berkat mas Bagus yang membantu Emak."


Seketika semua orang diam tak bersua.


"Mas, antar aku belanja sayur yuk buat makan malam nanti" Tuti memecah keheningan semua orang.


"Nggak usah beli sayur mbak nanti kita beli lauk matang saja, yang penting buat makan sekarang masih ada, kan?"


"Gimana kalau kita makan dulu mbak, aku lapar nih"


"Sama mas juga lapar" Sambung Hans.


Setelah beberapa saat semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Semua nampak biasa seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Bagus juga masih diam membisu, tidak mampu mengungkap semua. Sebelumnya Hans sudah mengirim pesan untuk Bagus supaya dia segera mengatakan kebenarannya di depan Nara setelah selesai makan. Namun Bagus masih diam tidak punya keberanian besar untuk itu.


"Mak, setelah ini Nara mau ke rumah bulek Siti dulu ya, kemarin anaknya titip uang padaku" Ucap Nara seraya menyuapi sang ibu. Ibu Sumiati lantas menatap Tuti dan Hans secara bergantian. Tatapan mata itu seolah berkata Jangan biarkan Nara keluar sendiri. Tuti langsung tanggap dengan maksud beliau "Biar aku saja yang antar ke sana. Kamu istirahat saja dulu pasti kamu capek sekali"


"Bukan nggak percaya sama sampean ya mbak, tapi ini tentang amanah. Kalau aku sampai tidak mengantarnya sendiri nanti di kira orang aku ini nggak amanah. Berat lho kalau sudah menyangkut amanah..." Ujar Nara.


"Benar itu, yang mananya amanah iti harus di jaga bukan di sepelekan" Lagi lagi Tuti melontarkan sindiran keras.


Uhuk....uhuk...

__ADS_1


"Nih mas cepat minum..." Nara menuangkan air mineral ke dalam gelas kosong lalu menyodorkan pada Bagus. Segera Bagus meminumnya.


Memutar bola mata seolah jengah "Makanya kalau makan itu pelan pelan saja"


Hans menyenggol lengan Tuti sehingga membuatnya kembali diam.


"Aku ke kamar mandi dulu sebentar..." Bagus langsung pergi begitu mendengar ucapan Tuti.


Usai makan Nara dan Tuti segera menuju rumah Bulek Siti.


"Wah... geger geden iki" Ujar salah satu warga yang melihat kedatangan Nara dari jauh.


"Loh mbak orang di sini pada kenapa sih? lihat aku kaya lihat hantu saja. Tadi Mbah Wit sekarang mbah Tarno, sebenarnya ada apa sih?" Seorang tadi yang melihat Nara langsung berlari seolah takut pada sesuatu. Tentu saja Nara terheran atas sikap beberapa warga sekitar.


"Nggak tau. Udah nggak usah pikiran mereka, mending kita lanjut jalan saja keburu sore" Mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Bulek Siti karena jarak rumah mereka tidak begitu jauh hanya sekitar seratus meter saja dari rumah.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam" Keluarlah seorang wnaita paruh baya, usia berkisar lima puluh tahun lebih."Eh Nara kapan pulang?" Beliau langsung memeluk Nara "Yang sabar ya nduk, memang dalam setiap rumah tangga pasti ada saja ujiannya. Saat ini memang kamu lagi di uji sama gusti Allah. Yang sabar ya nduk..."


Deg...


Nara hanya masih terdiam sembari mencerna maksud ucapan beliau.


"Dulu bulek juga pernah di selingkuhi tapi Bulek yakin di balik semua itu ada sebuah jalan yang manis" Melepaskan pelukan sembari menatap dalam mata Nara.


Tuti menepuk dahi "Aduh....kenapa bulek langsung bicara masalah itu"


Nara masih terdiam tanpa kata, mulutnya seolah bungkam, kaki terasa lemas dan jantung berdetak kencang.


Bulek siti langsung membelai rambut Nara "Sudah Bulek peringatkan sama kamu supaya meminta Bagus jangan terlalu dekat sama Merry, alhasil benar kan suami kamu itu kecantol sama wanita itu"


Bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Tanpa kata Nara langsung berlari sekuat tenaga. Air matanya langsung jatuh terurai luka.


"Aduh, bulek ini kok malah bicara kaya begitu sih. kami itu belum bahas masalah in sama dia" Ucap Tuti Panik.

__ADS_1


"Ya ampun, maaf Tut. Bulek nggak tau kalau Nara belum tau masalah ini" Bukek Siti teelihat ikut panik karena gara gara ucapannya Nara jadi tau kebenarannya.


"Nara....tunggu" Tuti langsung berlari mengejar sang adik ipar.


__ADS_2