Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Modus Semangkuk Bubur Kacang Hijau


__ADS_3

Usai memergoki perselingkuhan Bagus, fajri(Pemuda tadi) mencium uang yang Bagus berikan padanya sebagai tutup mulut "Makasih ya pak buat hari ini...lumayan bisa buat beli rokok" Fajri langsung meninggalkan Gubuk asmara. Puas hati Fajri memergoki perselingkuhan mereka, di tambah lagi dengan adanya bukti itu dia bisa dengan mudah mendapat kucuran dana. Di kampung Bagus terkenal royal. Banyak membantu warga sekitar, misalnya saja ada orang nggak ada duit langsung dia kasih. Tapi aslinya Bagus itu egois. Di depan orang lain sok baik giliran depan anak bini jahatnya minta ampun.


Apalah arti bagus di luar busuk di dalam. Kalau cari pasangan itu jangan model alpukat di luarnya aja mulus kadang dalamnya busuk, cari pasangan itu model kaya durian tajem di luar nikmat di dalam.


"Sialan gue di kadalin sama anak bau kencur..." Kesal Bagus seraya memukul kosong.


Merry menyandarkan kepala di bahu Bagus "Aku takut kalau video kita tersebar luas."


"Percaya sama aku sayang, dia nggak akan berani macam macam sama kita."


"Gimana bro elu udah nangkap basah mereka? kalau gitu kita panggil pak lurah sekarang aja, biar mereka langsung di sidang" Ujar Hendrik (Pemuda bermotor)


Fajri langsung menghentikan niat Hendrik seraya mengeluarkan uang dua ratus ribu. "Jangan gegabah dulu bro....kita bisa manfaatkan mereka, dengan begitu kita nggak perlu susah cari duit. Pak Bagus kan orangnya royal, cocok buat ladang duit kita kali ini bro...." Rencana licik Fajri menghasilkan uang dari video itu di setujui Hendrik. "Widih keren bos ku, mantap" ucap Hendrik girang.


"Untung elu gercep kasih kabar ke gue, kalau nggak kita bisa kehilangan mesin duit"


"Hahaha iya juga ya, kita porotin dulu duitnya...." Mereka tertawa lepas.


"Eh, ngomong ngomong gue mau lihat dong video mereka kaya apa jadi penasaran nih"


Fajri memperlihatakn video keduanya ketika sedang berciuman di gubuk tua bekas pabrik batu bata. "Anjay....udah pada tua kelakuannya bejat begitu. Wah ini kalau pak Bustomi tau bisa di penggal hidup hidup deh Pak Bagus itu...." Bustomi terkenal kejam di lingkungan sekitar. Tidak hanya di kenal sebagai preman kampung tapi juga di kenal sebagai orang bayaran.


"Biarin saja lah bro kalau mereka nggak selingkuh kita nggak dapet duit. Nih gue kasih buat beli bensin itung itung tanda terima kasih karena berita dari elu, gue jadi punya atm berjalan..." Selembar uang seratus ribu di berikan Fajri kepada Hendrik, selaku orang pertama yang melihat perselingkuhan itu.


"Oke deh sip. Kalau bukan karena nggak enak sama pak Bagus udah gue grebek mereka tadi, tapi gue nggak enak hati sama dia. Selama ini dia udah banyak bantu bapak gue, dan lagi rumah dia dekat sama rumah gue...." jelas Hendrik.


"Bagaimana kalau Fajri kasih tau mas Bustomi kalau kita ada main di belakang dia? bisa mati kita" Merry nampak ketakutan. Sosok Bustomi ini sangatlah pemarah. Dia paling tidak suka kalau ada orang mengambil haknya, mengusik saja bakal babak belur.


"Nggak mungkin Fajri bilang sama Bustomi. Aku kenal siapa Fajri itu, dia pemuda mata duitan. Dengan uang dia bungkam" Sebenarnya Bagus juga takut jika suatu hari nanti Fajri membongkar keburukan mereka di depan Nara. Karena selama ini hidup Bagus banyak bergantung dari sang istri. Kehidupan keluarga Bagus juga terjamin. Setiap bulan Nara mengirim uang bulanan untuk ibu kandung Bagus sebesar satu juta, belum lagi paket sembako yang ia kirimkan lewat pak kurir.


"Sayang....kok kamu diam saja sih" Menggelendot di bahu Bagus.

__ADS_1


"Begini saja sayang, mulai hari ini kita harus jaga jarak dulu supaya orang nggak pada curiga. Semisal ada kesempatan langsung aja kita ambil. Sejujurnya saja aku tidak bisa jauh dari kamu sayang ku" membelai wajah Merry seraya mencium ujung kepala Merry.


"Iya deh sayang aku ikut apa kata kamu saja"


Setelah beberapa lama kemudian keduanya berpisah.


Esok harinya Bagus tidak lagi main ke rumah Merry. Dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah, melatih ibu Sumiati berjalan. Sedikit demi sedikit beliau bisa berjalan. "Alhamdulillah Gus emak bisa jalan lagi" betapa senangnya hati Emak saat ini. Dia tidak lagi bergantung pada kursi roda tapi dia bisa berjalan sedikit demi sedikit.


"Bagus juga senang akhirnya emak bisa jalan lagi. Kalau begitu emak istirahat dulu, duduk dan minum tehnya" Mendudukkan ibu Sumiati lalu ia pun ikut duduk di sebelah beliau. Dari samping rumah Bagus melihat ke rumah Merry. (Kok dia nggak ada keluar hari ini) Sejak pagi dia belum melihat kekasih gelapnya itu keluar dari rumah.


Tak berapa lama keluarlah Merry dengan membawa mangkuk.


"Semoga dia suka..." Merry menuju rumah Bagus "Mak saya buatkan bubur kacang hijau kesukaan emak" Memberikan semangkuk bubur lalu duduk di sebelah Bagus.


(Sejak kapak aku suka kacang hijau? setau ku yang suka bubur kacang hijau itu Bagus bukan aku) Ibu Sumiati merasa ada maksud lain dari semangkuk bubur ini.


"Terima kasih banyak nak, Merry."


"Mau dong kelihatannya saja enak banget..."


"Makan saja Gus Emak sudah kenyang. Lagian Emak tidak suka bubur kacang hijau"


"Lho emak nggak suka kacang hijau? tak kirain emak suka. Kalau begitu kamu makan saja mas mubazir kalau nggak di makan" Sembari tersenyum senyum.


"Nanti aku makan soalnya baru saja sarapan. Oh iya Mer kalau boleh tolong dong bawa buburnya ke dapur, taruh di kulkas"


Merry pun bangkit "Iya mas" Memberi kode mata.


Tak lama setelah itu "Bagus mau ambil hp delu ya mak. Takut Nara telepon"


Sebenarnya ibu Sumiati tau niat busuk mereka. Tapi, dia harus pura pura tidak tau.

__ADS_1


"Hem..." Jawab beliau.


Bagus langsung masuk ke dalam rumah. Entah berapa lama mereka di dalam rumah sampai ibu Sumiati mulai resah. Ingin berusaha melihat keadaan di dalam tapi kakinya terlalu lelah.


"Gus, Bagus, kamu kemana Emak mau ke kamar mandi" teriak beliau.


"Aduh emak ngapain sih pake ganggu segala" Lirihnya.


Merry yang sudah berada dalam pelukan Bagus tiba tiba langsung mepalas pelukan itu "Ya sudah mas kita keluar yuk nanti emak curiga sama kita"


"Aku masih kangen sayang" ujarnya sembari membisikkan kalimat kurang pantas.


"Ih....nakal deh kamu. Nanti malam saja kamu ke rumah, mas Bustomi kerja malam"


"Bagus...."Kembali belaiu memanggil namanya.


"Ya sudah aku keluar dulu ya, kamu belakangan" Bagus pun keluar.


"Ada apa mak?"


"Bantu Emak berdiri, emak kebelet mau ke kamar mandi" Bagus langsung membantu beliau.


"Kalau begitu aku pulang dulu mak." Ujar Merry yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Iya, iya, cepat pulang emak mau istirahat" Ucapan beliau seolah mengusir Merry dari rumahnya.


Sontak Bagus mengerutkan kedua alis "Lha tadi katanya mau ke kamar mandi..."


"Maksud emak setelah dari kamar mandi terus mau istirahat"


"Ya sudah mas aku pulang dulu ya..." Merry segera meninggalkan rumah Bagus.

__ADS_1


__ADS_2