Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Mulut Berdusta Hati Terluka


__ADS_3

"Ternyata hati tidak bisa berbohong?" Lirih Nara seraya bersandar pada pintu kayu. Sesampainya di kamar, Nara pun meluapkan air mata. Berusaha bersikap biasa saja tapi nyatanya semakin membuatnya sakit. Nara tidak pernah menyangka apa yang di rasa selama ini benar adanya. Sudah jelak lama Nara menyimpan ciriga pada hubungan Merry dan Bagus, hingga akhirnya kecurigaan itu burbuah pahit. Memang dia belum melihat secara langsung bukti perselingkuhan itu, yang namanya hati tetap bisa merasakan.


"Tente Nara...." Siapa sangka di dalam kamar itu ternyata ada Mutia yang baru saja kekuar dari kamar mandi. Sontak Nara mengusap air mata sembari berjalan ke arah Mutia.


"Kamu sedang apa di sini? bukankah kamu masih di rias?"


Mutia melihat air mata di wajah Nara "Tente, kenapa tante menangis? apa semua baik baik saja?"Mutia bisa melihat dsri tatapan mata Nara bahwa saat ini dia sedang tidak baik baik saja.


Menggeleng kepal "Tidak, tante tidak menangis, tante hanya terharu akhirnya keponakan tante ini sudah bertemu jodohnya." menyentuh pipi Mutia.


Mutia langsung memeluk Nara "Mutia juga sangat bahagia tan, akhirnya bisa melepas masa lajang di usia semuda ini"


Click....


Terdengar seseorang membuka pintu kamar. Keduanya sontak melihat ke arah pintu "Mutia kamu di panggil sama ibu mu" Ucap Hans selaku ayah dari Mutia.


Mutia melepas pelukan Nara "Mutia keluar sebentar tante"


Hans melihat gelagat tidak enak dari adik kandunganya "Kamu kenapa?" seraya menghampiri sang adik yang saat itu tengah duduk di tepi ranjang. Wajah Nara tertunduk lesu dengan beberapa kali terlihat sedang mengusap sesuatu di wajahnya. Beberapa kali juga teelihat Nara meremas tengannya sendiri yang berarti dia ada banyak masalah.


"Kamu kenapa mengais?" Duduk di samping Nara.


Nara masih belum berani menatap wajah sang kakak "Aku baik kok mas. Hanya saja tadi mataku kelilipan" Dusta Nara seraya terus menunduk.


Hans lalu meraih wajah Nara "Jangan berbohong padaku. Aku ini kakak kandungmu, sepandai apa pun kamu menyembunyikan masalah pasti aku tau kalau adik ku ini sedang tidak baik baik saja"


Air mata Nara tidak terbengdung lagi, ia tumpahkan semua sakit itu di depan sang kakak. "Aku tidak kuat menahan semua ini mas, aku terlalu lelah. Sampai kapan aku di uji sekejam ini? aku hanya wanita biasa." Seketika Nara langsung memeluk Hans.

__ADS_1


Sebelum Nara bicara sendiri Hans tidak mau membuka kata. Sejujurnya dia tau bahwa Nata tidak akan menangis kalau hatinya tidak terluka. Hans sendiri juga sudah mendengar isu yang beredar tentang perselingkuhan Bagus. Baru beberapa hari pulang dari kota, Tuti(Istri) langsung memberitahu kalau di kampung tengah heboh dengan perselingkuhan antara Bagus dan Merry. Tuti menyampaikan pendapat untuk Hans turun langsung dalam masalah itu, menurutnya(Tuti) wajib hukumnya seorang kakak menjadi pelindung adik adik mereka. Tapi, Hans tidak akan ikut campur sebelum Nara mimintanya turun tangan. Dalam etika rumah tangga entah siapa pun iti tidak di perbolehkan memasuki zona rumah tangga orang lain meski itu adalah keluarga sendiri. Namun kalau seseorang itu sudah menceritakan keluh kesahnya berarti masalah itu tidak sepela, barulah pihak lain boleh masuk. Seorang adik sekali pun tidak akan menceritakan perihal masalah rumah tangga kalau dia mampu menghadapinya sendiri, dan saat ini hati seorang adik tidak mampu lagi menahannya.


Isak tangsi Nara membuat hati Hans sakit. Berukang kali memejamkan mata merasakan betapa sakit hati sang adik yang di selingkuhi suaminya.


"Tenangkan dulu diri kamu. Apa pun masalah itu serahkan semua pada sang pencipta. Sebaik baik penolong hanyalah Tuhanmu." Mengusap kepala Nara seraya mengingat adik wanita yang paling di sayangi tengah menangis di pelukannnya, sama seperti saat dahulu semasa dia kecil.


"Mas, tidakkah kamu ingin tau kenapa aku menangis seperti ini?" Mendongak melihat wajah Hans dengan penuh derai air mata.


Hans tersenyum "Bukankah adik ku wanit kuat? Aku yakin adik ku ini pasti bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sendiri. Keculai kamu meminta ku turun tangan dalam masalah ini."


Semakin mengeratkan tangan "Saat ini aku tidak tahan lagi, mas."


"Kalau kamu mau cerita silahkan, mas mau mendengar semuanya"


Nara melepas pelukan "Banyak rumor beredar di masyarakat luar kalau suamiku selingkuh sama Merry. Apa itu benar, mas?"


"Aku mau tanya sama Mas Hans, apa kamu percaya pada isu yang beredar?"


Hans tidak bisa menjawab.


"Kenapa kamu diam saja mas? Diamnya kamu berarti kamu juga percaya kan" Menghuyung tubuh Hans.


"Tidak, aku tidak percaya kalau belum melihat buktinya"


Nara mengeluarkan sesuatu dari saku celana "Kamu lihat ini mas" Memperlihatkan sebuah foto.


"Siapa wanita di sebelah suami mu itu?"

__ADS_1


"Aku pun tidak tau mas, tapi di lihat dari cara mereka aku yakin ada sesuatu. Meski bukti sudah ada tetap saja mas Bagus tidak mengakuinya"


"Foto ini tidak bisa membuktikan kalau suami kamu itu selingkuh. Siapa tau kalau dia(Wanita) hanya rekan kerjanya saja" Hans tidak mau semakin membuat perasaan Nara hancur. Sebisa mungkin Hans tidak menambah keresahan di hati sang adik.


"Tapi mas...." Nara bangkit dan terlihat kesal.


"Mas tau kamu terluka dengan semua ini. Kalau boleh mas sarankan jangan langsung menelan semua gosib yang beredar. Selidiki dulu lebih dalam kalau bisa kamu cari bukti yang kuat, dengan bukti kuat kamu bisa membungkam mulut Bagus. Baru setalah itu terserah kamu mau bagaimana..."


Tok....tok....tok...


Pintu kamar kembali terbuka.


"Mas acara segera di mulai" Ujar Tuti.


"Kalau begitu mas keluar dulu ya. Ingat, serahkan semuanya kepada sang maha Kuasa" Hans pun pergi dari sana.


(Aku Ttau mas sebenarnya kamu juga curiga dengan foto ini tapi kamu berusaha tenang supaya tidak membuatku semakin terluka)


Hans mengepalkan kedua tangan (Aku tidak terima adik ku di hianati seperti ini. Awas saja kamu Bagus kalau bukti sudah ku dapatkan habis kamu)


Melihat wajah sang suami terlibat murka Tuti langsung menggandenga lengannnya sedaya berbisik "Jaga emosi kamu, mas. Hari ini hari pernikahan putri kita. Jangan perlihatkan amarah di wajah kamu itu"


Hans menoleh "Siapa tidak marah kalau adiknya di selingkuhi. Tadi Nara juga me unjukkan foto Bagus sedang bersama wanita lain di sebuha hotel, apa itu namanya kalau bukan selingkuh."


"Ya sudahlah jangan bawa masalah Nara dalam pernikahan anak kita. Aku tidak mau merusak hari bahagia Mutia"


"Baiklah, maafkan aku. Sebisa mungkin aku akan bersikap biasa saja"

__ADS_1


__ADS_2