Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Kehancuran Merry


__ADS_3

Melihat Bagus pergi begiti saja seolah mengacuhkan dirinya, tentu saja Merry merasa sakit hati. Harapan untuk bisa hidup bahagia dengan Bagus kini sirna sudah. Harapan tinggal sebuah kata. Yang di inginkan justru tidak sesuai yang di harapkan. Dalam angan ia berharap Bagus mengahampirinya, mengajaknya pergi, dan mereka menitih hidup baru berdua. Sayang, semua tinggal angan semata.


"Aku kira kamu akan melindungi ku dan membawa ku pergi. Tapi, ternyata......" seraya melihat badan Bagus perlahan menghilang di ujung jalan.


Hidup bahagia penuh cinta bergelimang harta yang sempat ia impikan dulu seketika sirna. Selama ini Bagus banyak menjanjikan kata bermandikan bahagia. Tapi, Merry lupa gemerlap harta itu berasal dari siapa. Hidup Bagus tidak akan menjadi seperti impiannya selama ini, sebab harta yang di punya Bagus bersumber dari kerja keras Nara. Kalau Bagus berpisah dengan Nara lalu memilih hidup dengannya, tentu akan beda cerita.


"Aku menyesal telah mencintai kamu..." Lirihnya seraya berderai air mata. Seberapa besar penyesalan itu tidak akan membalikkan kenyataan. Sesuatu baru kita sesali jika tidak sesuai harapan. Maka dari itu sebelum melangkah terllau jauh, pikirkan lebih dulu. Sebab, penyesalan datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran.


"Kau sempat janjikan bahagia atas cinta. Tapi, ternyata semua palsu...." Menunduk lemas.


Tidak semua hal yang terlihat sempurna akan berakhir serupa saat bersama kita. Jika seseorang merenggut hak milik orang lain, maka Tuhan tidak akan menjamin bahagia bersama mu. Memang benar kepunyaan orang terlihat lebih segalanya, tetapi itu tidak menjamin saat bersama mu akan sama seperti harapanmu.


Bahagia bersamanya bisa jadi musibah denganmu. Dalam hidup inintidak ada yang namanya bahagia di atas derita, yang ada derita di atas sandiwara.


"Semua berakhir bagaikan debu. Nikmatnya tidak sebanding dengan malu yang harus ku tanggung" Di sepanjang jalan, Bagus terus berpikir akibat dari perselingkuhannya. Tidak hanya terbuang dari kelaurga, tapi juga dari hadapan masyarakat. Dahulu Bagus di kenal sebagai sosok alim, berwibawa, dan ramah. Sekarang di anggap tidak lebih baik dari sebuah sampah.


Drt.....


Tiba tiba Bagus menghentikan laju kendaraan. Menggapai ponsel di saku celana. Ketika ia melihat nama Luna di layar ponsel segera ia mengepakkan tangan. Ia lupa kalau masih ada satu wanita lagi dalam perselingkuhan ini."Mau apa dia..."


"Kamu mau kemana, sayang? malam begini kok keluar sih" Tanya Luna. Kebetulan dia melihat Bagus mengendarai motor lewat depan rumahnya.


Bagus terdiam sesaat seraya melihat kiri kanan "Ngapain sih malam begini telepon? aku sudah minta padamu untuk tidak menghubungi ku dulu. Kamu tau kan kindisinya seperti apa? jadi jangan tambah masalah lagi"


"Aku kangen...." Lirih Luna. Suara menja menggeliat di telinga sampai membuat Bagus memejamkan mata. Dari suara saja ia merasakan gemburan hasrat maha dasyat, apa lagi kalau dekat sudah langsung di lahap. "Kapan dong kita bisa ketemu lagi? aku kangen sayang" Ucap Luna.


"Kamu tau kan bagaimana kondisi aku saat ini. Please, mengertilah sedikit saja. Sebagai pengganti nanti aku kirim uang untuk kamu jalan jalan besok..." Menutup telepon. "Runyam. Semua Runyam...." menggeleng kepala seraya kembali fokus ke jalan raya.


Luna berjingkrak senang. Memang ini yang dia mau. Uang, uang, dan uang. "Nah gitu dong. Dari tadi kek...."


"Argghhhhh...." Kesal Merry seraya memungut koper. "Tengah malam seperti ini aku harus pergi ke mana?" Perlahan langkah demi langkah mengayun dari tempat semula. Air mata terus menemani malamnya saat ini. Berulang kali menoleh, menatap ke arah pintu berharap Bustomi kembali keluar lalu memintanya untuk tinggal. Namun, semua tidak seperti yang ia harapkan.

__ADS_1


"Semua ini salahmu sendiri. Ini bukan mau ku, tapi mau mu sendiri. Aku di paksa hati untuk membuangmu bagaikan sampah. Kamu yang telah menyakiti ku. Terima akibatnya...." Lirih Bustomi dari celah pintu. Sedari tadi dia masih berdiri di belakang pintu melihat Merry yang perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Biar bagaimana pun Bustomi masih menaruh cinta untuk sang istri. Meski dengan kejam di hempaskan bagai bedu jalanan. Di tinggalkan bagai rongsokan. Di gunjingkan demi kepuasan. Akhirnya Bustomi memilih mengundurkan langkah dari bahtera rumah tangga ini.


"Ternyata ujung dari perselingkuhan sangatlah menyakitkan......" Lirih Merry. Air mata terurai lepas dari teluk. Setiap langkah menambah pukulan rasa sakit di hati.


Di banding kesedihan itu lebih sakit dan sedih hati Bustomi selama ini. Dia tidak hanya memelihara dosa di dalam mahligai rumah tangga. Sedari dulu ia percaya pada Bagus atas istrinya. Dia sudah menganggap Bagus layaknya saudara sendiri, bercanda gurau ia anggap biasa, hingga terjadilah sebuah dosa besar anatara mereka.


"Mas....sepertinya dia di usir dari rumah" Ujar Maimunah kepada Bejo. Mereka tengah mengintip di samping rumah kerena mendengar pertengkaran dati dalam runah Bustomi.


"Sepsrtinya begitu, buk. Biarkan saja itu akibat berselingkuh" Sambung Bejo.


"Iya, ya pak. Ngenes banger hidup Merry sekarang. Dulu minta apa pun di kasih. Selalu di bela, selalu di percaya. Hingga pada akhirnya Bustomi melihat dengan kedua matanya sendiri."


"Stttt...pelankan suara mu"


Di saat Merry menoleh ke arah mereka buru buru mereka berlari masuk ke dalam rumah.


"Senang kalian melihat ku di buang bagai sampah seperti ini? Kalian berhasil membuangku dari keluarga kalian" Lirih Merry seraya terus berlajan.


"Apaan sih, pak. Lepaskan....." Meronta kala tangan di seret paksa naik ke atas motor. Pak Bambang membawa Merry pergi dari sana. "Kamu mau bawa aku kemana?" Memukul keras punggung Pak Bambang. Kesal dengan sikap Merry. Pak Bambang menghentikan motor di dekat semak belukar. Dia menyeret Merry menuju sebuah semak lalu pak Bambang melakukan hal kotor padanya.


Merry menangis meratapi nasibnya. "Tolobg jangan lakukan itu..." Memberontak sekuat apa pun tetap kalah dengan tenaga seorang lelaki.


"Eh ada apa itu?" Ada dua orang pengendara motor berhenti mendengar teriakan Merry. Segera mereka mencari asal suara. Dan betapa terkrjutnya dia kala senter mengarah pada kedua manusia saling tumpang tindih di semak belukar. "Wah, wah, lagi pada ngapin ini" Salah seorang tadi langsung menghampiri mereka.


"Lho kamu to bang" Ketika Pak Bambang menoleh, mereka mengenalinya.


"Sini bro kita main bareng" Pak Bambang menyeringai. Mereka berdua saling melempar pandang. "Oke, kita mainkan" Mereka langsung ikut nimburung bersama Pak Bambang.


"Ampun, tolong jangan lakukan itu" Merintih tak mau di sentuh oleh mereka. Sekarang sudah tidak ada bedanya antara sampah dan dirinya. Ketiga lelaki menggarap paksa sampai Merry terus memohon ampun.


Tak berapa lama kemudian. Bagus masih mencari keberadaan Nara ke berbagai tempat. Tapi, tak ada sedikit pun jejak keberadaan Nara.

__ADS_1


"Kamana dia sebanarnya...." Laju motor terhenti di titik pertigaan yang Hans katakan.


Malam semakin larut, sunti mulai menusuk, dingin menyeruak masuk pori pori "Selepas hujan hawa dingin menusuk" Ujarnya seraya meraih telepon genggam.


"Mas....aku sudah mencari ke berbagai tempat, tapi Nara tidak ada di sini"


Ucapan Bagus langsung membuat Hans tersentak. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada Nara.


"Loh mas mau kemana?" Tanya Tuti.


Seraya mengambil jaket di lemari "Aku harus mencari Nara"


Tuti melihat jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. "Tengah malam begini mau cari kemana, mas? mungkin dia sudah pulang"


"Baru saja Bagus telepon ternyata Nara belum juga pulang. Aku harus mencari adik ku..." Segera Hans keluar kamar.


"Hati hati di jalan, mas. Segera kabari kalau sudah ketemu sama Nara"


"Iya...." Sahutnya dari luar kamar.


"Ya Allah masalah apa lagi ini..." Tuti berdecak heran atas masalah yang menimpa keluarga Nara akhir akhir ini.


Baru saja hendak menyalakan motor, tiba tiba ponselnya berdering "Nomor siapa ini?" Tengah malam seperti ini ada telepon dari orang tidak di kanal. Hatinya gusar seraya mengangkat telepon dari orang itu "Halo, ini dengan siapa?"


Prasetya berdiri di samping Nara seraya menelepon Hans selaku kakak kandung Nara "Halo mas, aku Prasetya. Maaf malam begini mengganggu sampean sama keluarga, cuma aku mau ngabari kalau Nara ada di rumah sakit Krida Husada"


Sontak saja Hans terkejut. Pikirannya mulai kemana mana "Ya Allah....memang Nara kenapa?"


Belum sempat mengatakan sesuatu ponsel Pras sudah mati. Batrenya habis "Astaga pake mati segala..."


"Halo, halo...." Hans semakin panik. Segera ia mengendarai motor menuju rumah sakit yang di katakan Prasetya barusan. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku sangat merasa bersalah"

__ADS_1


Sedari tadi Nara belum sadarkan diri. Dengan setia Prasetya menjaganya. "Kamu harus bangun" Mengusap langan kanan Nara.


__ADS_2