
Sehari sebelum pernikahan Mutia di gelar. Nara dan Bagus harus berpura pura baik baik saja di depan keluarga besar. Sejujurnya Nara tidak bisa melupakan begitu saja apa yang telah terjadi, tapi Nara harus mengesampingkan Egonya demi kelangsungan pernikahan Mutia. Nara tidak mau jika nanti pertengkaran mereka berbuntut panjang.
Malam ini di rumah Tuti ada acara doa bersama demi kelancaran esok hari.
"Dek, Dek Nara...." Seseorang memanggil nama Nara dari luar.
Nara baru saja selesai mandi "Aska tolong ibu ya, lihat ada siapa di luar..."
"Iya buk" Bergegas dari sofa, berjalan membuka pintu "Tante Merry, tante cari ibu ya?"
"Iya, ibu kamu ada, kan?" Melihat ke arah dalam. Tanpa sengaja Bagus yang baru saja keluar dari kamar langsung tersenyum. Mendengar suara Merry tentu jiwa kadal Bagus tergugah.
"Ada tan, ibu lagi mau ganti baju" Ucap Aska polos. Dari belakang Bagus sudah memberi kedipan mata sehingga membuat Merry tersenyum senyum sendiri.
"Tante kenapa kok senyum senyum sendiri?" Menatap heran.
"Emmm.....itu, tadi tante teringat kisah lucu. Tadi itu tante baru saja nonton kartun sinderella" Dusta Merry.
"Oh Aska kirain tante kenapa" Ketika Aska berbalik badan, betapa terkejutnya dia kala melihat Bagus berdiri tegak di belakangnya sembari mengacungkan jempol.
"Kenapa pak?"
"Itu tangan bapak tadi kena jarum sakit sekali" Ujar Bagus meringis kesakitan.
"Apa yang sakit mas?" Tanya Nara yang baru saja keluar dari kamar. Dia sudah berdandan rapih dengan mengenakan baju batik.
"Itu lho buk tadi kata bapak tangannya ketusuk jarum" Jelas Aska seraya berjalan menuju sofa tempatnya duduk tadi.
"Benar begitu mas?"
Bagus terlihat panik "Itu.....tadi pas aku mau jahit kancing baju yang lepas terus nggak sengaja jari ku kena jarum" Sembari melebarkan senyum tanggung.
__ADS_1
Nara mengernyitkan dahi "Sejak kapan kamu bisa menjahit baju, mas? nggak biasanya lho kamu jahit baju sendiri" Ujar Nara dengan nada si diran. Pertanyaan Nara seolah menekan Bagus terus menerus sampai Bagus semakin panik.
"Aduh ya sudah lah ya nggak usah ribut soal jarum, mending kita berangkat sekarang yuk dek (Melihat jam melingkar di pergelangan tangan) udah jam segini keburu telat" Tanpa rasa bersalah merry menggandeng lengan Nara lalu memarik Nara keluar.
"Mas kami berangkat dulu ya" Ujar Merry seraya melambaikan tangan.
Nara terheran, berani sekali sikap Merry ini pada suaminya. (Sikap macam apa ini?) Dalam hati terdalam Nara sudah menaruh curiga pada mereka. Namun, tanpa ada bukti kuat Nara tidak berani langsung menilai seseorang hanya dari kaca matanya sendiri. Terkadang saja bukti nyata masih bisa berkelit apa lagi hanya sekedar kecurigaan, pasti dengan seribu cara Bagus akan menyangkal.
"Iya, iya, hati hati di jalan" Jawab Bagus membalas lambaian tangan.
Acara malam ini di selenggaran dua kali, pertama setelah shalat magrib (Acara ibu ibu) yang kedua setelah isya (Acara bapak bapak). Nara di bonceng Merry menuju rumah Tuti. Di jalan mereka bertemu tetangga lain tengah berjalan kaki menuju tempat yang sama.
"Mari buk saya duluan" Santun Nara pada gerombolan ibu ibu.
"Iya mari mbak Nara" Jawab mereka serempak.
"Eh bu (mencolek lengan salah seorang) kok mau ya si Nara itu di bonceng sama pelakor suminya sendiri, kalau aku sih nggak sudi" kecam salah seorang .
"Duh kasihan ya mbak Nara itu. Dia kerja banting tulang malah suaminya enak enak mancangkul sawah tetangga..." Celetuk salah seorang lagi.
"Emang ya si Bagus itu nggak punya malu, udah hidup numpang bini, makan enak, nggak punya duit tinggal bilang, kok masih bisa bisanya dia selingkuh sama orang lain." Siapa saja pasti gemas atas perlakuan Bagus terhadap Nara.
"Namanya saja jambu mete ya gitu deh hidupnya modal numpang sama bini. Kepala rumah tangga kok di bawah, nggak guna banget jadi laki" Tanpa sadar kalimat kotor keluar dari mulut para tetangga. "Ya Allah nih mulut kelepasan terus deh. Remnya blong...." Dia memukul pelan mulutnya sendiri.
"Hahaha....dasar kamu ini kalau rem blong ya jangan main gas aja nanti nabrak monyong tuh mulut" Kisah perselingkuhan Bagus menjadi bahan candaan para warga setempat.
"Sudah, sudah, kita ini mau berangkat mencari amal apa mau gibah? pahalanya kepotong setengah deh" Mereka pun langsung menuju rumah Tuti.
"Halo calon pengantin gimana nih rasanya besok mau jadi ratu sehari?" Tanya Nara para mutia.
Mutia tersipu malu "Deg degan banget tan, rasanya itu kaya nggak nyangka besok Mutia menikah"
__ADS_1
"Banyakin doa jangan banyak memikirkan malam pertama saja" Canda Nara seraya mengusap tangan sang ponakan.
"Ih tante Nara bisa saja"
"Assalamualaikum...." Seorang wanita cantik tiba tiba masuk mengejutkan semua orang di sana. Dia menyalami semua tamu yang hadit termasuk Nara. "Halo mbak Nara apa kabar?" cipika cipiki lalu duduk di samping Nara.
"Baik, kamu sendiri apa kabar Mbak Luna? dengar dari tetangga katanya mbak Luna udah lama nggak pulang, ya?"
Luna melebarkan senyum "Kabar baik. Saya iru sekarang bekerja di kota mbak, maklum lah saya ini kan janda nggak ada yang nyariin duit."
"Nggak usah kerja saja duit udah ngakir ngapain pake kerja segala" Ketus Merry.
"Di pikir saya pelihara tuyul gitu?"
"Siapa tau ada tuyul kepala hitam, bisa merangkak nggak cuma lari" Merry memutar bola mata merasa jengah melihat sikap Luna saat ini. Entah kenapa sejak dulu mereka tidak pernah hidup rukun.
Nara berada di tengah pertengkaran mereka sampai metasa pusing sendiri "Ini kok malah bahas tuyul segala sih. Tujuan kita di sini untuk mendoakan kelancaran Mutia esok hari, tapi kalian malah ribut tidak jelas kaya gini"
(Sialan Merry berani sekali mengatai aku seperti itu di depan Nata. Tunggu pembalasan ku)
Mutia mendengan nada bicara antara mereka membuat semua tidak nyaman.
"Tante ikut Mutia masuk dulu yuk ada yang mau Mutia bahas sama tante" Mutai pun mengajak Nara masuk ke dalam kamarnya. Sekarang tersisa Merry dan Luna. Mereka duduk berjauhan sembari membuang muka.
Luna tidak mau kalah, dia mengirimkan sebuah pesan pada Merry bahwa dia tau hubungannya dengan Bagus.
Merry langsung menoleh "Apaan sih ngawur kalau bicara" Lirih Merry.
(Aku pegang kartu as kamu Merry) Senyum Luna melebar.
"Kok dia bisa tau sih sama hubungan gue" Kesal Merry. Meras tidak nyaman Merry pun langgsung pindah tempat duduk.
__ADS_1