
"Dek Nara...." Maimunah menyentuh bahu kanan Nara, membuatnya menoleh seketika. Kesedihan dari dalam mata tak dapat lagi bersembunyi. Dia tidak perduli orang akan berpikir seperti apa, karena malu tidak sebanding atas sakit di hatinya saat ini.
Maimunah membantu Nara berdiri "Ya Allah dek kamu kenapa? ada apa ini? Itu si Askamau dibawa kemana?" Maimunah masih belum mengerti arti dari air mata Nara. Melihat Aska yang di bawa Bagus dan menangis memanggil nama sang ibu. Dia hanya bisa mengira kalau Aska di bawa pergi oleh Bagus.
"Maaf, bukan kami mau ikut campur sama rumah tangga sampean ya dek, tapi kalau ingin cerita sama kami silahkan saja. Kami tidak keberatan sama sekali. Sedikit cerita akan mengurangi beban di hati kamu itu. Kalau kamu pendam sendiri hanya akan menjadi penyakit" Sambung pak Bejo.
Tidak tunggu lama Nara pun langsung memeluk Maimunah. Saat ini dia butuh seseorang untuk meluapkan semua kesakitan dalam hati. Air mata tumpah tak terbendung. "Apa kurang aku sebagai istri Bude? kenapa dia setega itu sama aku. Padahal selama ini aku sudah menganggap Si Lo*t* itu seperti kakak sendiri, ternyata dia menusuk ku dari belakang. Sakit sekali rasanya" Mengeratkan pelukan. Tergambar jelas di benar Nara kala memejemkan mata bayangan Bagus dan Merry kala mereka tersenyum berdua. Di tambah lagi bayangan kala mereka berdua tengah bercinta.
"Semua orang juga tidak ada yang menduga kalau mereka berbuat sampai sejauh ini. Semua warga menganggap mereka sebatas tetangga biasa saja, tetapi di belakang ternyata mereka berhubungan badan. Kamu yang sabar ya dek, insya Allah kamu segara mendapatkan hidupan yang jauh lebih layak dari ini" Mengusap punggunga Nara.
Nara tidak bisa berkata kata lagi, hanya air mata yang mewakili hati.
"Menangislah, luapkan segala isi hati mu...."
Bejo menyentuh pundak Mainumah "Buk, lebih baik kita bawa dek Nara duduk di sana" Menunjuk sebuah gubuk kecil di sebrang jalan. Gubuk tempat dulunya Bagus dan Merry memadu kasih.
Mereka pun berjalan ke arah gubuk.
"Sini dek kamu duduk dulu"
Nara masih terlarut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Kamu nggak usah khawatir dek masalah Aska biar mas Bejo nanti bantu urus. Kamu harus kuat, tegar, jangan sampai lemah"Maimunah mengusap air mata Nara. Sebagai sesama wanita pasti dia tau bagaimana sakitnya kalau di selingkuhi suami.
"Tenangkan dulu hatimu. Semua ujian ada hikmahnya. Jangan sampai kamu tenggelem dalam lautan kesedihan. Nggak pantas kamu berduka terlalu dalam untuk lelaki macam Bagus itu. Masalah Aska biar nanti aku sama Mas mu yang tangani" Ucap Bejo seraya duduk di samping Mainumah. Sebagai tetangga dia juga merasa geram atas sikap Bagus.
"Benar kata mas Bejo. Kamu harus kuat, di balik semua ujian pasti ada hikmah di dalamnya. Yang terpenting saat ini kamu harus kuat. Kalau kamu lemah bagaimana cara menghadapi kenyataan." Sebisa mungkin Maimunah menguatkan hati Nara. Meski tidak bisa menyembuhkan luka tapi setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa sakit.
"Bagaimana aku bisa kuat kalau dia memisahkan ku dengan Aska. Aku nggak terima dia mengambil anak anak dari ku. Tidak masalah kalau dia pergi dengan wanita lain aku nggak perduli. Tapi, aku tidak rela kalau dia membawa anak anak. Aku nggak terima itu....." Ucap Nara penuh derai air mata.
Mengusap lengan Nara seraya memeluknya "Kasihan sekali nasib kamu ini dek. Andai dulu kamu memilih Prasetya anak almarhum bu Sukini, mungkin hidup mu nggak akan sengsara kaya gini" celetuk Maimunah.
Bejo mencubit Maimunah "Apaan sih buk kok jadi ngelantur omongannya. Semua sudah berlalu nggak usah di ungkit kembali. Kasihan dek Nara. Bukannya mengurangi kesedihan tapi malah semakin menambah masalah"
"Lah emang benar kan, pak? Di banding Bagus Prasetya jauh lebih baik darinya. Coba lihat sekarang dia semakin sukses, ganteng, baik pula. Udah dek kamu balikan saja sama dia" Ucap Mainumah.
Bajo menyenggol lengan Maimunah "Kamu sih buk, lihat kan dia jadi kesel sama kita."
"Abisnya ibu kebawa emosi pak kalau udah bicara masalah si Bagus itu. Apa lagi sekarang si Bustomi malah bawa balik lagi si wanita jala** itu. Nggapin juga pake di bawa pulang, harusnya biarin saja dia jadi gelandangan. Biar tau rasa dia" Sehari sebelumnya Bustomi mendapati Merry di tepi jalan tengah menangis dengan baju robek tengah duduk layaknya pengemis. Awalnya Bustomi tidak mau tau tapi Merry tiba tiba jatuh pingsan dan sampai saat ini Merry masih demam tinggi. Biar bagaima Merry masih menjadi istri sah Bustomi. Dia masih berkewajiban atas diri Merry. Pak kades serta perangkat lain juga meminta Bustomi untuk tidak berti dak gegabah sebelum palu pengadilan di putuskan hakim.
"Sudahlah buk, biarin saja mereka mau bagaimana. Toh bukan kita ini. Ya udah yuk kita pulang saja..."
Tin.....
__ADS_1
Nara tertabrak motor Fajri. "Maaf bu, maaf" Fajri turun dari motor lalu membantu Nara berdiri. Begitu mendnsgar suara irang jatuh, Mainumah beserta Bejo langsung menghampiri mereka "Ya Allah, dek Nara kamu baik baik saja, kan? ada yang sakit tidak? kita ke rumah sakit yuk" Maimunah panik.
"Kamu ini bagaimana sih, naik motor tu lihat kiri kanan. Ada orang main tabrak saja" Ketus Bejo.
"Aku nggak tau pakde kalau Bu Nara ini tiba tiba keluar dari gubuk. Tak kirain nggak ada orang lewat, main tancap gas malah nggak sengaja nyenpet dikit. Tapi sampean ada yang luka tidak bu? atau kita langsung ke rumah sakit saja" Fajri melihat bagian lutut sedikit lecet sebab terjatuh ke aspal.
"Tidak perlu. Semua karena salah ku sendiri tidak berhati hati. Kalau boleh antar aku pukang ya Jri" Pinta Nara.
"Tapi ini kaki ibu lecet lho, lebih baik kita ke puskesmas dulu saja buk. Biar di obati sama bu bindan"
Nara terus menolak karena memang lukanya hanya lecet sedikut saja.
"Antar saja aku pulang. Nanti di rumah biar ku obati sendiri"
"Ya sudah Jri kamu antara Nara pulang sekarang. Awas kalau kamu nggak hati hati lagi" Maki Pak Bejo. Fajri sendiri terkenal pemuda yang suka kebut kebutan motor dan pengangguran akut.
"Siap pakde" Segara Fajri mengantar Nara pulang. Jarak rumah dari gubuk tua iru tidak begitu jauh hanya sekitar seratus meter saja. Tak lama mereka sampai di depan rumah.
"Nara? kamu kenapa, nak" Ibu Sumiati panik saat Nara turun dari motor tapi jalannya sedikit teetatih.
"Tadi nggak sengaja kesenggol motor ku, mbah" Jawab Fajri seraya turun dari motor.
__ADS_1
"Gusti...kamu ini lho naik motor tidak pake mata, sampe anak ku jadi kaya begini. Tanggung jawab kamu" Maki Ibu Sumiati.
"Aku nggak apa apa, mak. Bukan Fajri yang salah tapi semua ini salah ku"