
"Permisi...." Seorang wanita berdiri di samping etalase. Warung terlihat sepi karena masih sekitar jam delapan pagi. Warung baru akan ramai sekitar jam sepuluh sampai jam makan siang. kebetulan saat itu tidak ada orang yang makan atau pun mengantri seperti biasanya, kedua penjual pun tidak terlihat wira wiri di luar, mungkin mereka masih sibuk memasak.
Keluarlah Eca sembari membawa senampan gorengan hangat "Eh ibu Tantri silahkan masuk buk. Mau bungkus nasi apa makan di sini buk?" Tanya Eca seraya membuka tirai etalase
"Emm....buatin teh hangat dulu saja mbak, saya tak sarapan gorengan dulu" Mengambil satu gorengan lalu memakannya.
Segera Eca membuatkan teh hangat pesanannya. "Silahkan di minum buk"
Clingak Clinguk melihat seperti tengah mencari sesuatu "Mbak Naranya ada? saya mau pesan nasi kotak dong"
"Ada buk sebentar ya saya panggilkan dulu...."
"Iya, terima kasih"
"Mbak, di luar ada ibu Tantri katanya mau pesan nasi kotak" Ujar Eca. Kala itu Nara masih sibuk masak di dapur.
"Oh iya sebentar saya cuci tangan dulu. Tolong kamu lanjutin masak ya biar saya ke depan dulu. Jangan lupa sayurnya belum di beri bumbu sama sekali" Ucap Nara memberi arahan.
Eca mengambil alih tempat Nara di dapur "Baik buk" sembari mengaduk sayur di wajan.
Usai mencuci tangan lantas Nara pun keluar.
"Eh ibu Tantri sudah lama nggak mampir ke sini, saya kirain sudah lupa sama saya" Ucap Nara berbasa basi.
"Iya nih mbak saya jadi jarang ke sini ya. Maklum mbak sekarang rumah saya jauh..."Sebenarnya Tantri bukan hanya pelanggan setia tapi dia juga ibu dari teman putra bungsunya. Mereka sering bertemu waktu amtar jemput anak anak, dari sejak itu keduanya semakin dekat.
__ADS_1
"Katanya sudah beli rumah ya buk, di mana? biar kapan kapan saya main ke rumah ibu deh kalau pas lagi libur.."
"Agak jauh sih mbak dari sini sekitar satu jam lah kira kira..."
Nara mengusap lengan Tantri "Wafuh jauh nuga ya buk, kapan kapan deh saya sepatin waktu main ke rumah." Mereka sudah seperti teman sendiri.
"Harus dong, mbak Nara harus ke rumah saya. Nanti kira bisa ngerumpi manja..."
"Palingan juga ngegosib suami masing masing...."
Tiba tiba saja Tantri terdiam sejenak, ia teringat sesuatu. Bererapa bulan lalu dia sempat melihat suami Nara berada di hotel yang sama tempat dia dan suami menginap kala itu. Karena pada saat itu rumah mereka masih di perbaiki jadi mereka menginap di hotel untuk beberapa hari.
"Sekarang enak ya punya rumah sendiri" Ucapan Nara membuyarkan lamunan Tantri.
"Alhamdulillah, mbak sekarang sudah nggak ngontrak lagi. Oh iya mbak maksud kedatangan saya ke sini itu untuk dua hal. Pertama, saya mau pesan nasi kotak lima puluh kotak di ambil besok sekitar jam enam pagi, terus hari minggu saya pesan nasi kotak tujuh puluh sama nasi tumpeng satu paket komplit tapi saya mau nasi tumpengnya pake nasi kuning ya mbak, soalnya mau buat hajatan adik saya. Bisa kan, Mbak?" Jelas Tantri.
Tantri mengeluarkan uang dari dalam tas "Ini saya bayar uang muka dulu ya mbak, besok saya lunasi sekalian ambil nasi kotaknya"
Dengan senang hati Nara menerima uang tersebut "Terima kasih buk atas kepercayaannya kepada kami. Insya Allah kami amanah..." Senyum Nara melebar.
"Aduh Mbak Nara ini kaya lagi sama siapa saja, saya percaya kok sama Mbak Nara. Pokoknya kalau masalah masak memasak emang mbak Nara juaranya, top markotop." Mengacungkan kedua jempol.
"Alhamdulillah kalau sampean cocok sama masakan saya" Seorang pedagang lebih mengutamakan rasa dari pada keuntungan. Insya Allah dari rasa rekeji akan mengalir dengan sendirinya. Bahan baku yang di gunakan di warung Nara tidak sembarangan, hanya kualitas bagus yang ia beli. Beras yang di gunakan juga bermutu tinggi.
Kembali mata Tantri seolah mencari sesuatu "Mbak Nara sendirian? tumben pak Bagus nggak kelihatan dari tadi"
__ADS_1
"Mas Bagus sudah lama di kampung buk, soalnya emak saya lagi sakit."
"Lho emangnya sakit apa mbak?"
Menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan "Emak saya lumpuh mbak, tapi alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan lagi sedikit demi sedikit. Semua berkat mas Bagus..."
(Ya Allah, bagaimana ya perasaan Mbak Nara kalau dia tau suaminya main belakang sama wanita lain, apa dia masih bisa membangga banggakan suaminya itu? mau kasih tau tapi kok nggak tega ya, tapi kalau nggak di kasih tau kok ya gimana gitu) Setelah pergulatan batin akhirnya Tantri memutuskan untuk memberi tahu Nara yang sesungguhnya.
"Mbak sebenarnya saya mau kasih tau sesuatu sama mbak" Membuka ponsel lalu memperlihatkan sebuah foto "Apa ini benar Pak Bagus?"
Betapa terkejutnya Nara kala melihat foto suaminya tengah menggandeng seorang wanita. "Jaket itu...." Mengingat jaket yang di kenakan laki laki itu memang benar jaket milik suaminya.
"Ibu melihat suami saya di mana? dan siapa wanita di samping suami saya itu?" Sayangnya di foto itu tidak memperlihatkan wajah si wanita karena wanita itu memakai masker, kaca mata hitam,dan kerudung hitam. Nara suit mengenali wajah wanita tersebut.
"Saya juga kurang tau mbak smpak Bagus sedang bersama siapa. Waktu itu nggak sengaja saya sama suami lihat mereka keluar dari hotel, awalnya sih suami saya melarang untuk kasih tau ini sama mbak Nara, tapi saya merasa bersalah kalau nanti saya berpikir macam macam tentang pak Bagus, sebagai teman baik anda lebih baik saya kasih tau bukti ini."
Deg...
Seolah dunia runtuh seketika. (Ya Allah, sekarang bukti apa lagi ini) Ketika air mata hendak lolos tiba tiba saja sebuah tisu tersuguh di depan matanya "Ah maaf saya jadi cmkelihatan cengeng ya" Segera menyeka air mata. Nara berusaha sekuat mungkin menyembunyikan lukanya. "Mungkin itu hanya teman mas Bagus saja..."
(Aku tau saat ini Mbak Nara sedang tidak baik baik saja. Kasihan sekali dia, sudah mencari nafkah dati pagi sampai malam malah suaminya kaya negitu) gumam Tantri.
"Bisa jadi sih mbak. Em....kalau begitu saya pamit pulang dulu ya mbak."
Nara menjabat tangan Tantri seraya mengembangkan senyum "Hati hatu di jalan. Terima kasih juga sudah pesan di warung saya ini"
__ADS_1
"Iya, sama sama mbak" Tantri pun segera pergi.
Nara masih memaku di depan pintu. Pandangannya terlihat kosong. Perlahan buliran air menetes "Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari ku, mas...."