Suamiku Penjahat Wanita

Suamiku Penjahat Wanita
Ungkap


__ADS_3

"Kali ini perjalanan terasa begitu cepat...." Lirih Nara. Dalam hati kecilnya sudah merasa resah seolah sudah merasakan akan ada hal besar nantinya. Baru saja turun dari bus, Nara sudah di sambut seorang laki laki yang tidak lain adalah Hans. Sejak satu jam sebelum Nara datang Hans lebih dulu sampai di terminal.


Dari kajauhan bus yang biasa di naiki Nara datang. "Mereka pasti naik bus itu" Mengamati setiap orang keluar dari dalam bus satu persatu.


"Ayo nak kita turun...." Nara membangunkan Aska yang tertidur pulas.


Perlahan Aska membuka mata "Sudah sampai mana buk" Melihat sekeliling terminal dan banyaknya orang turun satu persatu.


"Kita sudah sampai terminal, sayang. Turun yuk...." Merangkul pundak si bungsu seraya berjalan ke luar.


"Sini biar mas bantu bawakan" Meraih tas jinjing di tangan Nara. Tentu saja Nara terkejut saat melihat Hans merampas tas miliknya. Posisi Hans barada di samping pintu bus dan langsung meraih tas otomatis Nara terkejut di sangkanya maling mau membawa lari tasnya.


"Mas Hans? kok sampean bisa di sini"


"Kebetulan Mas tadi ada urusan di sekitar sini jadi sekalian nunggu kalian saja" Dusta Hans.


"Aska, sini sama pakde" Menjulurkan tangan, langsung di sambut Aska.


"Mas Hans tau dari siapa kalau aku pulang hari ini?" Nara masih terheran melihat sang kakak tidak bersikap seperti biasa. Dari guratan pitis di dahi sang kakak, Nara mulai curiga sesuatu telah terjadi. Hans terus berjalan sampai ke parkiran motor. Di sana Hans menata barang bawaan Nara di motor matic "Kalian mau langsung pulang atau mau istirahat dulu sebentar?" Tanya Hans.


" Aska mau duduk sebentar pakde masih capek" Ucap Aska polos.


"Oke, kita duduk dulu" Mengusap ujung kepala Aska.


"Mas...." Lirih Nara sembari menatap wajah sang kakak. Meski berulang kali Hans terlihat membuang muka tetap saja dia merasa ada yang aneh pada sikap Hans saat ini.


"Hem...." Tanpa melihat wajah Nara.


Beralih pandang pada Aska yang tengah duduk berpangku tangan seolah terlihat lelah "Aska kenapa, capek banget ya?"


"Aska mau beli minum dulu pakde, haus" sembari mengusap leher.


Hans tersenyum "Kalau begitu biar pakde belikan dulu, kamu mau minum apa?" Berjongkok di hadapan Aska.


"Terserah pakde saja" mengkerdikan bahu.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu kamu mau minum apa?" tanya Hans pada Nara.


"Apa saja mas"


Hans langsung berjalan menuju lapak di sekitar terminal. Membeli dua botol minuman rasa dan sebungkus roti "Nih kalian makan dulu buat ganjal perut" memberikan roti pada Nara.


"Bentar lagi sampai rumah makan di rumah saja lah, mas. Pasti mbak Tuti juga sudah masak, kan?"


"Dari terminal ke rumah itu masih jauh, mending kalian makan roti dulu supaya ada tenaga" Menyodorkan sebungkus roti sembari terlihat mengiba.


Sembari menerima Nara sempat berpikir heran (Kenapa aku merasa ada yang aneh sama mas Hans saat ini. Tapi apa ya?)


"Makasih ya mas. Aska makan dulu ya nak?" Membuka bungkus roti lalu memberikan pada sang putra.


"Aska makan yang banyak ya supaya cepet gede kaya pakds ini..."


"Oh iya, makasih ya mas sudah mau repot jemput kami. Harusnya tadi sampean nggak usah jemput kan ada mas Bagus di rumah"


Ucapan Nara membuat Hans langsung menatapnya dalam. Dari tatapan itu terselib rasa iba terpendam yang mana Hans tidak mampu mengatakan apa yang sudah terjadi selama Nara tidak di rumah.


"Maaf pakde Aska tidak sengaja menjatuhkan minumannya...." Minuman tumpah mengenai sandal Hans.


"Tak apa. Lain kali hati hati ya..." Mengusap pipi Aska seraya memejamkan mata sejenak. Hans tidak hanya memikirkan perasan Nara saja melainkan juga perasaan Aska. (Kuatkan kedua ponakan ku ini Ya Allah. Jadikan mereka pribadi kuat, yang suatu hari nanti bisa menjunjung tinggi derajat sang ibu. Jadikan mereka tembok bahagia di masa mendatang bagi adik tersayangku ini. Semoga kalian bisa menjadi kekutan ibu kalian selama sisa hidupnya) Tatapan Hans berlaih kepada Nara. Kebetulan Nara sedari tadi menatap tingkah sang kakak yang mencurigakan.


"Mas Hans tidak sedang menyembunyikan sesuatu, bukan?" Tatapan penuh selidik terpancar dari mata Nara.


"Sesuatu apa? nggak ada kok" Berusaha menampik kenyataan. Jantung Hans berdetak kencang kala tatapan Nara terus menyudutkannya.


"Mak....kalau nanti Nara sampai rumah tolong jangan bilang tentang perselingkuhan Bagus, biar Mas Hans yang jelaskan pada Nara." Ucap Tuti memperingati.


Ibu Sumiati tengah duduk di samping rumah sehabis terapi jalan. "Emak nggak tega kalau harus menyampaikan semua pada Nara. Semua terjadi karena salah emak, emak tidak bisa menjaga Bagus dengan baik" menunduk lesu.


Mengusap lengan Beliau "Kenapa emak harus merasa bersalah? Toh yang melakukan zina saja nggak ngerasa bersalah, malah yang satu kabur yang satu nggak punya muka malu. Emak nggak tau apa pun jadi nggak usah merasa bersalah. Emak nggak usah mikir yang aneh aneh, fokus sama kesehatan saja biar cepat pulih kaya dulu lagi, masalah yang lain biar di selesaikan sama kami saja" Hans sudah berjanji dia akan selalu mendampingi Nara dalam kondisi sesulit apa pun.


Tak lama kemudian datanglah Bagus dengan memakai jaket hitam, memakai masker hitam, kaca mata dan helm hitam. Pokoknya serba hitam sehitam kehidupannya saat ini.

__ADS_1


"Datang juga dia..." Mencebirkan bibir bawah seraya perpaling muka.


Bagus langsung berlari ke arah Ibu Sumiati, namun beliau meminta Tuti mengantarnya masuk "Mak tunggu..." Menghampiri mereka sampai ke dalam rumah.


Tiba tiba saja Bagus berlutut di hadapan beliau seraya menyentuh ujung jari "Bagus mohon ampun, mak. Bagus sangat menyesal"


"Heleh sok menyesal nanti di ulang lagi....cih emang dasar mantu nggak tau di untung" Lirih Tuti.


Ibu Sumiati terlihat terdiam diri sejenak sebelum air mata membasahi pipi "Kenapa kamu tega menyakiti Nara? apa kurang cinta yang dia berikan untuk mu, sampai kamu berlain hati?"


"Bagus khilaf, mak. Tolong maaafkan Bagus, ampuni kesalahan Bagus...." Air mata buaya tertumpah di hadapan ibu mertua. Biar pun Bagus menangis darah sekali pun tidak akan membuat orang lain iba.


"Bukan Emak yang patut kamu mintai permohonan maaf, tapi Nara anak ku. Kamu telah melukai perasaannya" Jelas Ibu Sumiati.


"Tut....antarkan emak ke kamar, mak mau istirahat"


"Baik, mak" Tuti pun membawa beliau masuk ke dalam kamar.


Bagus masih bersimpuh di tempatnya.


Tak berapa lama terdengar suara motor di depan rumah. Segera ia bangkit lalu mengintip dari celan jendela.


"Mari mbak...." Nara menundukkan kepala kala melihat Merry tengah menyapu halaman rumah. Kali ini Merry tidak seperti biasa dia hanya menatap tanpa berucap.


"Ngapin sih kamu pake nyapa dia segala? mulai sekarang nggak usah nyapa dia lagi" Tutur Hans.


Nara turun dari motor "Memang kenapa, mas?"


Setelah menurunkan barang bawaan Nara, Hans tidak membuka kata sedikit pun.


"Aska sayang bukain pintunya, nak"


Dari saat itu Nara mulai mencium adanya masalah. Tatapannya beralih kepada Merry, dan tiba tiba saja Merry langsung membuang muka "Ini ada apa sebenarnya...." Nara masih bingung dengan semua ini.


"Nara ayo masuk...." Panggil Hans.

__ADS_1


"Mungkin hanya pemikiran ku sama" Menggeleng kepala lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


__ADS_2